<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506</id><updated>2011-12-23T22:47:11.814-08:00</updated><title type='text'>Irfan Anshory Berbagi Ilmu</title><subtitle type='html'>"Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu di antaramu beberapa derajat" (Al-Qur'an, Surat Mujadilah 11). Sebagian artikel-artikel ini pernah dimuat di Harian "Pikiran Rakyat" Bandung, Majalah "Suara Muhammadiyah" Yogyakarta, Majalah "Tabligh" PP Muhammadiyah Jakarta, Majalah berbahasa Sunda "Cupumanik" Bandung dan Harian "Lampung Post" Bandarlampung. Ada pula artikel-artikel mengenai adat dan budaya Lampung, serta beberapa artikel sejarah dari Nia Kurnia Sholihat Irfan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-1677480146034991976</id><published>2011-01-25T19:07:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T19:29:40.428-08:00</updated><title type='text'>Tahun Sebelas dalam Sejarah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PERISTIWA PENTING PADA TAHUN  . . 11 &lt;br /&gt;SEPANJANG SEJARAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihimpun oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1911 (100 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Sarekat Islam didirikan oleh Hadji Samanhudi (1868-1956) di Surakarta. Meskipun tiga tahun lebih muda dari Budi Utomo, organisasi Sarekat Islam inilah yang layak disebut sebagai Pelopor Kebangkitan Nasional. Jika Budi Utomo bersifat lokal kejawaan dan dianggap “anak manis” oleh pemerintah kolonial Belanda, maka Sarekat Islam dengan semboyan &lt;em&gt;‘kerso, kuwoso, mardiko’ &lt;/em&gt;dalam kongresnya di Bandung tahun 1916 telah menyuarakan “kemerdekaan Hindia” dan para aktivisnya berasal dari berbagai suku di Nusantara, seperti Hadji Omar Said Tjokroaminoto (Jawa), Hadji Agus Salim (Minangkabau), Arudji Kartawinata (Sunda), dan Abdul Muttalib Sangadji (Maluku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Revolusi di Cina mengakhiri Dinasti Manchu (1644-1911), dan Cina untuk pertama kalinya menjadi Republik, setelah sejak zaman purba berbagai dinasti silih berganti menegakkan monarki di Daratan Cina. Dr. Sun Yat-sen (1866-1925) yang terpilih sebagai presiden pertama Republik Cina mengajarkan doktrin &lt;em&gt;San Min Chu I&lt;/em&gt; (Tiga Asas Rakyat): &lt;em&gt;Min Tsu &lt;/em&gt;(kebangsaan), &lt;em&gt;Min Chuan &lt;/em&gt;(demokrasi), dan &lt;em&gt;Min Sheng &lt;/em&gt;(kesejahteraan sosial), yang ikut mempengaruhi pemikiran Bung Karno dalam merumuskan Pancasila pada tahun 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Roald Amundsen (1872-1928) dari Norwegia (beserta empat kawannya dan 17 anjingnya) merupakan manusia pertama yang mencapai Kutub Selatan di Benua Antartika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Ernest Rutherford (1871-1937), orang Selandia Baru yang berhijrah ke Inggris, mengemukakan Teori Atom Modern: “Atom tersusun dari inti atom yang bermuatan positif dan dikelilingi elektron-elektron yang bermuatan negatif.” Dua tahun kemudian, teori ini disempurnakan oleh Niels Henrik David Bohr (1885-1962) dari Denmark yang menerangkan tingkat-tingkat energi dalam atom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Marie Sklodowska Curie (1867-1934), orang Polandia yang berhijrah ke Perancis, memperoleh Hadiah Nobel bidang kimia untuk penemuan unsur polonium (Po) dan radium (Ra), setelah pada tahun 1903 bersama suaminya Pierre Curie (1859-1906) dan Antoine Henri Becquerel (1852-1908) memperoleh Hadiah Nobel bidang fisika untuk penemuan keradioaktifan. Luar biasa Marie Curie ini: mendapat Nobel dua kali !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1811 (200 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Inggris mulai menguasai Indonesia meskipun hanya lima tahun (1811-1816), dengan Thomas Stamford Raffles (1781-1826) sebagai Letnan-Gubernur (dia tidak memakai istilah ‘Gubernur Jenderal’). Peninggalan Raffles yang patut dikenang adalah penemuan kembali Candi Borobudur, pembangunan Kebun Raya di Bogor, pembakuan sistem lalu lintas jalur kiri (padahal di Belanda jalur kanan), dan buku karya Raffles yang menjadi klasik, &lt;em&gt;The History of Java &lt;/em&gt;(2 vols).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Amedeo Avogadro (1776-1856) dari Italia menemukan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama gas-gas yang bervolume sama ternyata mengandung jumlah molekul yang sama. Inilah yang dikenal sebagai Hipotesis Avogadro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1711 (300 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Suku-suku bangsa Persia yang bermazhab Sunni menyatakan identitas sendiri dengan nama AFGHANI dan negeri mereka &lt;em&gt;Afghanistan&lt;/em&gt; (bahasa Persia: &lt;em&gt;stan&lt;/em&gt; = negeri), supaya dibedakan dari suku-suku bangsa Persia yang bermazhab Syi’ah, yang pada tahun 1935 menyatakan diri dengan nama &lt;em&gt;Iran.&lt;/em&gt; Jadi Iran dan Afghanistan adalah sesama bangsa Persia, seperti Indonesia dan Malaysia yang sesama bangsa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1611 (400 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (bertahta 1607-1636) dari Aceh mulai mengadakan ekspansi wilayah ke Semenanjung Malaka, dengan menaklukkan kesultanan Kedah, Pahang dan Johor. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh muncul sebagai kekuatan besar, kekuasaannya meliputi separoh Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau sekarang). Augustin de Beaulieu, musafir Perancis tahun 1664, melaporkan bahwa Aceh mempelajari pembuatan meriam dan pengolahan mesiu dari Turki serta armada Aceh meliputi ratusan kapal besar, sepertiganya lebih besar dari kapal-kapal Eropa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● VOC (&lt;em&gt;Vereenigde Oost-Indische Compagnie&lt;/em&gt;), persatuan kompeni Belanda di Hindia Timur yang berpusat di Ambon, memperoleh izin dari penguasa Jayakarta (Jakarta), Pangeran Wijayakrama, untuk mendirikan benteng di pelabuhan Jayakarta. Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir dari Banten, sebagai atasan Wijayakrama, tidak menyetujui hal ini, sehingga timbul ketegangan antara Banten dan Jakarta. Situasi ini dimanfaatkan oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, untuk merebut Jayakarta (Jakarta)pada tanggal 30 Mei 1619 dan mengubah nama kota itu menjadi Batavia (oleh lidah pribumi disebut ‘Betawi’). Nama ‘Batavia’ ini eksis selama 323 tahun, dan baru lenyap pada tanggal 9 Desember 1942 ketika Pemerintah Pendudukan Jepang mengembalikan lagi nama asli ‘Jakarta’. Tapi anehnya, masyarakat Jakarta sekarang senang sekali mengaku ‘anak Betawi’, padahal Betawi (Batavia) adalah nama kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Alkitab (&lt;em&gt;The Bible&lt;/em&gt;) &lt;em&gt;King James Version &lt;/em&gt;resmi diterbitkan oleh Kerajaan Inggris setelah tujuh tahun digarap dan disempurnakan terjemahannya oleh para ahli bahasa, termasuk William Shakespeare. Alkitab KJV ini merupakan rujukan standar bagi terjemahan Alkitab di seluruh dunia, termasuk Alkitab terbitan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1511 (500 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Armada Portugis dipimpin Afonso de Albuquerque menaklukkan pelabuhan Malaka, pusat perdagangan Asia Tenggara masa itu. Berakhirlah riwayat Kesultanan Malaka setelah eksis sejak tahun 1400. Malaka direbut oleh Belanda dari Portugis tahun 1641, lalu pada tahun 1818 Malaka ditukarkan dengan Bengkulu oleh Belanda kepada Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1311 (700 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Pemberontakan demi pemberontakan mulai terjadi di Kerajaan Majapahit terhadap Raja Jayanagara (bertahta 1309-1328), sebab para pembesar Jawa banyak yang tidak rela “anak wong sabrang” menjadi raja. Jayanagara adalah putra Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) dari Dara Petak putri Malayu. Istri-istri Raden Wijaya yang lain, yaitu putri-putri Kertanagara raja terakhir Singhasari, berputra perempuan atau tidak berputra. Pemberontakan Ranggalawe (1311), Sora (1313) dan Nambi (1316) dapat ditumpas, tapi pemberontakan Kuti (1319) sempat membuat Jayanagara mengungsi. Di sinilah mulai bersinar karier Kepala Bhayangkari (pengawal raja) yang bernama Gajah Mada (1300-1364).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Katedral Notre Dame di Perancis yang termasyhur diresmikan pemakaiannya setelah 99 tahun pembangunan (mulai 1212).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1211 (800 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Jenghiz Khan (bertahta 1206-1227) pemimpin Mongol mulai mengadakan ekspansi wilayah ke empat penjuru, dimulai dengan penaklukan Cina (1211-1215). Cucunya Jenghiz Khan yang bernama Kubilai Khan (bertahta 1260-1294) menegakkan Dinasti Yuan di Cina (1260-1368), kemudian digantikan Dinasti Ming (1368-1644). Kubilai Khan mengirimkan utusan Meng Ki ke Singhasari tahun 1276, meminta agar Raja Kertanagara (bertahta 1268-1292) mengakui kedaulatan Mongol. Sudah tentu permohonan ini ditolak Kartanagara, bahkan Meng Ki diberi tanda pada dahinya dan disuruh pulang ke Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Giovanni Francesco yang lebih dikenal dengan nama Francis of Assisi (1182-1226) mulai mempraktekkan bernyanyi di gereja sebagai bagian dari ibadah di samping khutbah, misa, sakramen, dsb. Pada mulanya kegiatan bernyanyi di gereja ini banyak yang menentang, sebab dianggap mencampuradukkan ibadah dengan hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1111 (900 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1058-1111), ulama dan ahli filsafat termasyhur, meninggal dunia. Di Eropa dia dikenal dengan nama ‘Algazel’. Buku-bukunya banyak yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, misalnya &lt;em&gt;Ihya’ `Ulumuddin &lt;/em&gt;(Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama), &lt;em&gt;Al-Munqid min al-Dhalal &lt;/em&gt;(Penyelamat dari Kesesatan), &lt;em&gt;Ya Ayyuha l-Walad &lt;/em&gt;(Wahai Anak), &lt;em&gt;Kimiya` as-Sa`adah &lt;/em&gt;(Kimia Kebahagiaan), &lt;em&gt;Misykat al-Anwar &lt;/em&gt;(Lentera Cahaya), dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1011 (1000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Wales ditaklukkan dan dipersatukan dengan England. Perlu diketahui bahwa Pulau Great Britain dihuni tiga etnis: England, Scotland, Wales, dengan bahasa dan adat-istiadat berbeda-beda. Great Britain dengan Irlandia Utara membentuk United Kingdom. (Bahasa Indonesia rancu dalam hal ini: England = Inggris; Britain = Inggris; United Kingdom = Inggris). Untuk menegaskan bahwa Wales adalah milik England, sejak saat itu putra mahkota England selalu disebut Prince(ss) of Wales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;911 (1100 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Abdurrahman III (bertahta 911-961) dari Dinasti Bani Umayyah di Cordova (Spanyol) memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah, menyaingi Khalifah Al-Muqtadir (bertahta 908-932) dari Dinasti Bani Abbas di Baghdad (Irak). Dengan demikian terdapat dua kekhalifahan di Dunia Islam: Kekhalifahan Barat (&lt;em&gt;West Caliphate&lt;/em&gt;) di Cordova dan Kekhalifahan Timur (&lt;em&gt;East Caliphate&lt;/em&gt;) di Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;811 (1200 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Charlemagne atau Charles The Great (bertahta 771-814), raja Frank, menaklukkan Jerman dan mendirikan kota Hamburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;711 (1300 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Thariq ibn Ziyad, panglima Islam, diperintahkan Khalifah Walid ibn Abdil-Malik (bertahta 705-715) dari Dinasti Bani Umayyah di Damaskus untuk menaklukkan Spanyol. Hanya empat tahun (711-715) waktu yang diperlukan untuk menguasai seluruh Semenanjung Iberia itu. Bukit tempat Thariq mendarat diberi nama ‘Jabal Thariq’ (Bukit Thariq), yang oleh lidah Eropa diucapkan ‘Gibraltar’. Delapan abad lamanya (711-1492) Spanyol di bawah kekuasaan Islam, di mana kota-kota Qurthubah (Cordova), Isybiliyah (Sevilla), Gharnathah (Granada), Barsyalunah (Barcelona), dsb. menjadi tempat para mahasiswa Eropa menuntut berbagai macam ilmu pengetahuan. Berkat pembelajaran dari universitas-universitas Islam di Spanyol, Eropa bangkit dari masa kegelapan (&lt;em&gt;Dark Ages&lt;/em&gt;) menuju masa Kelahiran Kembali (&lt;em&gt;Renaissance&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;611 (1400 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;● Nabi Muhammad s.a.w. (571-632) belum setahun menjadi Nabi dan Rasul (beliau menerima wahyu yang pertama pada 6 Agustus 610). Pada tahun 611, beliau baru memperoleh pengikut empat orang. Di samping Rasulullah s.a.w. sendiri, yang memeluk agama Islam adalah Khadijah (istri Nabi), Ali ibn Abi Thalib (sepupu Nabi), Zaid ibn Haritsah (anak angkat Nabi), dan Abu Bakar Shiddiq (teman akrab Nabi).&lt;br /&gt;Sekarang, tahun 2011, umat Islam menempati peringkat kedua terbanyak di muka bumi sesudah umat Nasrani. Ada baiknya kita simak baik-baik analisis dari majalah terkemuka &lt;em&gt;The Economist &lt;/em&gt;edisi 19 December 2007, dalam artikel berjudul “The Bible v the Qur’an: The Battle of the Books” :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The Christians entered the 21st century with a big head start. There are 2 billion of them in the world compared with 1.5 billion Muslims. But Islam had a better 20th century than Christianity. The world's Muslim population grew from 200m in 1900 to its current levels. Christianity has shrivelled in Christendom's European heart. Islam is resurgent across the Muslim world. Many Christian scholars predict that Islam will overtake Christianity as the world's largest religion by 2050.&lt;br /&gt; &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-1677480146034991976?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/1677480146034991976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=1677480146034991976' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1677480146034991976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1677480146034991976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2011/01/tahun-sebelas-dalam-sejarah.html' title='Tahun Sebelas dalam Sejarah'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-1607094033081580520</id><published>2010-12-28T19:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-28T19:41:37.265-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Sepekan Tujuh Hari ?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;NAMA-NAMA HARI DALAM SEPEKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN  ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PADA ZAMAN PURBA, sebelum ilmu astronomi modern berkembang, ada tujuh benda langit yang dianggap beredar mengelilingi bumi. Posisi ketujuh benda langit ini selalu berpindah-pindah, berbeda dengan bintang-bintang yang dianggap tetap tempatnya (&lt;em&gt;fixed stars&lt;/em&gt;). Ketujuh benda langit tersebut adalah Matahari, Bulan, dan lima planet yang namanya diambil dari nama dewa-dewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Romawi menamai lima planet itu Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, dan Saturnus. Orang Yunani memberi nama Ares, Hermes, Zeus, Aphrodite, dan Cronus. Orang Jerman menamai mereka Diens, Woden, Donner, Frigg, dan Saturne. Orang Anglo-Saxon seperti Inggris memakai nama Tiw, Woden, Thor, Frigg, dan Saturne. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh benda langit di atas sudah diamati oleh masyarakat purba sejak zaman Mesopotamia, antara lain untuk mengetahui perhitungan waktu dan musim yang sangat diperlukan para petani. Karena kehadiran benda-benda langit itu dirasakan berpengaruh kepada keadaan di bumi dan kehidupan manusia, maka tujuh benda langit itu mengesankan kemahakuasaan, dan lalu dianggap sebagai “tuhan” yang disembah dan dipuja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah muncul konsep “tujuh hari” dalam satu pekan (week), sebagai akibat praktek menyembah “satu tuhan satu hari”. Nama-nama hari yang tujuh langsung diambil dari nama tujuh benda langit: Hari Matahari (&lt;em&gt;Dies Solis&lt;/em&gt;), Hari Bulan (&lt;em&gt;Dies Lunae&lt;/em&gt;), Hari Mars (&lt;em&gt;Dies Martis&lt;/em&gt;), Hari Merkurius (&lt;em&gt;Dies Mercurii&lt;/em&gt;), Hari Jupiter (&lt;em&gt;Dies Jovis&lt;/em&gt;), Hari Venus (&lt;em&gt;Dies Veneris&lt;/em&gt;), dan Hari Saturnus (&lt;em&gt;Dies Saturni&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan nama-nama hari dalam beberapa bahasa Eropa, yang tercantum dalam tabel di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Inggris: Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday.&lt;br /&gt;Belanda: Zondag, Maandag, Dinsdag, Woensdag, Donderdag, Vrijdag, Zaterdag.&lt;br /&gt;Jerman: Sonntag, Montag, Dienstag, Mittwoch, Donnerstag, Freitag, Samstag.&lt;br /&gt;Perancis: dimanche, lundi, mardi, mercredi, jeudi, vendredi, samedi.&lt;br /&gt;Italia: domenica, lunedi, martedi, mercoledi, giovedi, venerdi, sabato.&lt;br /&gt;Spanyol: domingo, lunes, martes, miercoles, jueves, viernes, sabado.&lt;br /&gt;Portugis: deominggo, segundafeira, terçafeira, quartafeira, qiuntafeira, sextafeira, sabado.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda langit yang paling dominan tentu matahari. Itulah sebabnya penyembahan matahari paling utama, sehingga nama hari pertama selalu berarti “Hari Matahari” atau “Hari Tuhan” (dari nama “Sunday” sampai nama “deominggo”), dan hari pertama ini dianggap sakral oleh masyarakat Eropa. Kata “&lt;em&gt;orientation&lt;/em&gt;” dalam bahasa Inggris bermakna “menghadap ke timur” yang dulunya berhubungan dengan upacara penyembahan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak zaman purba, peribadatan orang-orang Eropa kepada Tuhan mereka selalu dilaksanakan pada hari pertama. Ketika bangsa-bangsa Eropa memeluk agama Kristen, ibadah pada hari pertama ini mereka lestarikan. Demikian juga tanggal 25 Desember, yang diyakini sebagai hari lahir Mithra dewa matahari Romawi, dijadikan hari lahir Nabi Isa Al-Masih a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Ibrani dan bangsa Arab juga menganut sistem tujuh hari sepekan (sebab mereka keturunan Nabi Ibrahim a.s. orang Mesopotamia), tetapi mereka menamai hari dengan angka-angka tanpa dikaitkan dengan benda langit. Dalam bahasa Ibrani, nama-nama hari adalah &lt;em&gt;Yom Rishon &lt;/em&gt;(hari pemula), &lt;em&gt;Yom Sheni &lt;/em&gt;(hari ke-2), &lt;em&gt;Yom Silishi &lt;/em&gt;(hari ke-3), &lt;em&gt;Yom Rebii &lt;/em&gt;(hari ke-4), &lt;em&gt;Yom Hamishi &lt;/em&gt;(hari ke-5), &lt;em&gt;Yom Shishi &lt;/em&gt;(hari ke-6), dan &lt;em&gt;Yom Shabbat &lt;/em&gt;(hari istirahat). Bahasa Arab yang serumpun dengan bahasa Ibrani memiliki nama-nama yang mirip: &lt;em&gt;Yaum Ahad&lt;/em&gt; (hari pertama), &lt;em&gt;Yaum Itsnain &lt;/em&gt;(hari ke-2), &lt;em&gt;Yaum Tsulatsa &lt;/em&gt;(hari ke-3), &lt;em&gt;Yaum Arbi`a&lt;/em&gt; (hari ke-4), &lt;em&gt;Yaum Khamis &lt;/em&gt;(hari ke-5), &lt;em&gt;Yaum Jumu`ah &lt;/em&gt;(hari berkumpul), dan &lt;em&gt;Yaum Sabt &lt;/em&gt;(hari ke-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia sebelum Islam memakai nama-nama hari dalam bahasa Sansekerta: &lt;em&gt;Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra, Sanaiscara&lt;/em&gt;. Tetapi setelah Islam datang, nama-nama hari kita ambil dari bahasa Arab: &lt;em&gt;Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu.&lt;/em&gt; Hari &lt;em&gt;Ahad&lt;/em&gt; mempunyai sinonim &lt;em&gt;Minggu&lt;/em&gt;, yang berasal dari bahasa Portugis &lt;em&gt;deominggo&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Hari Minggu” sebenarnya &lt;em&gt;redundant&lt;/em&gt;, sebab “minggu” artinya “hari”.  Tapi karena terlanjur populer, apa boleh buat. Sama seperti “Gurun Sahara” dan “Danau Ranau” yang juga redundant. Dalam bahasa Arab “sahara” artinya “gurun”, dan dalam bahasa Lampung “ranau” artinya “danau”. Kita tidak usah mempersoalkan mana yang lebih tepat: Ahad atau Minggu, sebab kedua-duanya sinonim dan merupakan kekayaan bahasa kita.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-1607094033081580520?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/1607094033081580520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=1607094033081580520' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1607094033081580520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1607094033081580520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/12/mengapa-sepekan-tujuh-hari.html' title='Mengapa Sepekan Tujuh Hari ?'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-2845524568862136332</id><published>2010-11-23T20:31:00.001-08:00</published><updated>2010-11-24T05:37:25.209-08:00</updated><title type='text'>Asian Games</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ASIAN GAMES DARI MASA KE MASA&lt;br /&gt;(Peringkat 1-5, perolehan medali dan posisi Indonesia)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES I (New Delhi, 1951)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (24-20-16)&lt;br /&gt;2. India (15-16-21)&lt;br /&gt;3. I r a n (8-7-1)&lt;br /&gt;4. Singapura (5-6-2)&lt;br /&gt;5. Filipina (4-6-8)&lt;br /&gt;7. Indonesia (0-0-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES II (Manila, 1954)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (38-34-23)&lt;br /&gt;2. Filipina (14-11-12)&lt;br /&gt;3. Korsel (8-5-5)&lt;br /&gt;4. Pakistan (5-6-2)&lt;br /&gt;5. India (5-4-8)&lt;br /&gt;11. Indonesia (0-0-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES III (Tokyo, 1958)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (67-41-30)&lt;br /&gt;2. Filipina (8-19-22)&lt;br /&gt;3. Korsel (8-7-12)&lt;br /&gt;4. I r a n (7-14-11)&lt;br /&gt;5. Taiwan (6-11-17)&lt;br /&gt;14. Indonesia (0-0-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES IV (Jakarta, 1962)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (73-55-24)&lt;br /&gt;2. Indonesia (11-12-28)&lt;br /&gt;3. India (10-13-11)&lt;br /&gt;4. Pakistan (8-11-8)&lt;br /&gt;5. Filipina (7-6-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES V (Bangkok, 1966)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (78-53-33)&lt;br /&gt;2. Korsel (12-18-21)&lt;br /&gt;3. Thailand (12-14-11)&lt;br /&gt;4. Malaysia (7-5-6)&lt;br /&gt;5. India (7-3-11)&lt;br /&gt;7.  Indonesia (5-5-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES VI (Bangkok, 1970)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (74-47-23)&lt;br /&gt;2. Korsel (18-13-23)&lt;br /&gt;3. Thailand (9-17-13)&lt;br /&gt;4. I r a n (9-7-7)&lt;br /&gt;5. India (6-9-10)&lt;br /&gt;9. Indonesia (2-5-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES VII (Tehran, 1974)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (75-50-51)&lt;br /&gt;2. I r a n (36-28-17)&lt;br /&gt;3. C i n a (33-45-28)&lt;br /&gt;4. Korsel (16-26-15)&lt;br /&gt;5. Korut (15-14-17)&lt;br /&gt;9. Indonesia (3-4-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES VIII (Bangkok, 1978)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jepang (70-59-49)&lt;br /&gt;2. C i n a (51-54-46)&lt;br /&gt;3. Korsel (18-20-31)&lt;br /&gt;4. Korut (15-13-15)&lt;br /&gt;5. Thailand (11-12-19)&lt;br /&gt;7.  Indonesia (8-7-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES IX (New Delhi, 1982)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (61-51-41)&lt;br /&gt;2. Jepang (57-52-44)&lt;br /&gt;3. Korsel (28-28-37)&lt;br /&gt;4. Korut (17-19-20)&lt;br /&gt;5. India (13-19-25)&lt;br /&gt;6. Indonesia (4-4-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES X (Seoul, 1986)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (94-82-46)&lt;br /&gt;2. Korsel (93-55-76)&lt;br /&gt;3. Jepang (58-76-77)&lt;br /&gt;4. I r a n (6-6-10)&lt;br /&gt;5. India (5-9-23)&lt;br /&gt;9. Indonesia (1-5-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XI (Beijing, 1990)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (175-103-51)&lt;br /&gt;2. Korsel (52-51-72)&lt;br /&gt;3. Jepang (38-59-75)&lt;br /&gt;4. Korut (12-30-38)&lt;br /&gt;5. Pakistan (4-1-7)&lt;br /&gt;7. Indonesia (3-5-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XII (Hiroshima, 1994)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (137-92-60)&lt;br /&gt;2. Korsel (63-53-63)&lt;br /&gt;3. Jepang (59-68-80)&lt;br /&gt;4. Kazakhstan (25-26-26)&lt;br /&gt;5. Uzbekistan (10-11-19)&lt;br /&gt;11. Indonesia (3-12-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XIII (Bangkok, 1998)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (129-77-68)&lt;br /&gt;2. Korsel (65-47-52)&lt;br /&gt;3. Jepang (52-61-68)&lt;br /&gt;4. Thailand (24-26-40)&lt;br /&gt;5. Kazakhstan (24-24-30)&lt;br /&gt;11. Indonesia (6-10-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XIV (Busan, 2002)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (150-84-74)&lt;br /&gt;2. Korsel (96-80-84)&lt;br /&gt;3. Jepang (44-74-72)&lt;br /&gt;4. Kazakhstan (20-26-30)&lt;br /&gt;5. Uzbekistan (15-12-24)&lt;br /&gt;14. Indonesia (4-7-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XV (Doha, 2006)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. C i n a (165-88-63)&lt;br /&gt;2. Korsel (58-53-82)&lt;br /&gt;3. Jepang (50-71-77)&lt;br /&gt;4. Kazakhstan (23-19-43)&lt;br /&gt;5. Thailand (13-15-26)&lt;br /&gt;22. Indonesia (2-3-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASIAN GAMES XVI (Guangzhou, 2010)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-2845524568862136332?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/2845524568862136332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=2845524568862136332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2845524568862136332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2845524568862136332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/11/asian-games.html' title='Asian Games'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-2057570445129904544</id><published>2010-10-30T18:47:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T18:57:42.417-07:00</updated><title type='text'>Modernisasi dan Integrasi Nusantara</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MODERNISASI DAN INTEGRASI NUSANTARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;Irfan Anshory&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESKIPUN agama Islam telah datang ke Indonesia sejak abad ke-7 atau ke-8, penyebaran Islam di tanah air kita yang sangat luas ini berlangsung secara berangsur-angsur. Dalam naskah &lt;em&gt;Suma Oriental &lt;/em&gt;(Catatan Dunia Timur) yang ditulis Tome Pires, musafir Portugis yang berdiam di Malaka tahun 1512-1515, terdapat keterangan bahwa pada masa itu Islam baru tersebar di daerah jalur niaga: Semenanjung Malaka, pantai timur Sumatera dari Aceh sampai Palembang, pantai utara Jawa dari Cirebon sampai Surabaya, pantai utara Kalimantan di sekitar Brunai, dan Kepulauan Maluku. Dijelaskan oleh Tome Pires bahwa nama &lt;em&gt;Maluku&lt;/em&gt; berasal dari &lt;em&gt;Jazirat al-Muluk &lt;/em&gt;(Kepulauan Raja-Raja), istilah yang digunakan para pedagang Muslim. Daerah-daerah Nusantara selebihnya, kata Tome Pires, belum mengenal Islam, meskipun terdengar berita bahwa penduduk Minangkabau di Sumatera serta penduduk Sunda di Jawa sudah banyak yang tertarik kepada agama Muhammad. Lihat: Armando Cortesao (Ed.), &lt;em&gt;The Suma Oriental of Tome Pires. An Account of the East, written in Malacca 1512-1515,&lt;/em&gt; translated from Portuguese, The Hakluyt Society, London, 1944.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Uraian Tome Pires di atas menunjukkan bahwa sampai akhir abad ke-15 penyebaran Islam di Nusantara sebagian besar berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan. Sejak abad ke-16 peranan para ulama menjadi lebih dominan dalam penyebaran Islam, dengan ditunjang kekuasaan politik dari kesultanan-kesultanan Demak (1481-1561), Banten (1552-1812), dan Aceh (1514-1910). Dari pusat-pusat Islam di Jawa dan Sumatera, Islam disebarkan ke seluruh Nusantara. Abad ke-16 boleh dikatakan sebagai Era Islamisasi Paripurna, sehingga pada abad ke-17 Islam telah menjadi kekuatan yang sangat dominan di tanah air kita. Lihat: Merle Calvin Ricklefs, &lt;em&gt;A History of Modern Indonesia&lt;/em&gt;, Palgrave, London, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Modernisasi Nusantara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebarnya Islam di Nusantara membawa getaran dinamika baru yang belum pernah ada pada masa pra-Islam. Daerah-daerah yang pada zaman Hindu-Buddha masih merupakan &lt;em&gt;terra incognita &lt;/em&gt;(wilayah tak dikenal) kini mulai memasuki era peradaban dan budaya modern dengan munculnya kota-kota Muslim yang kosmopolitan. Dinamika kota-kota Muslim di Nusantara digambarkan oleh Prof.Dr. Anthony Reid dari Australia dalam buku (kumpulan karangan) &lt;em&gt;Indonesia: Australian Perspectives&lt;/em&gt;, Australian National University, Canberra, 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota Aceh, Banten dan Makassar pada awal abad ke-17 merupakan pusat perdagangan yang ramai dengan memiliki sekitar 100.000 penduduk, sementara penduduk London, Amsterdam dan Lissabon kurang dari 50.000. Di antara kota-kota di Eropa saat itu, hanya Paris dan Napoli yang berpenduduk di atas 100.000 jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan-kesultanan di Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan kesultanan-kesultanan Usmani (Turki), Safawi (Persia) dan Mughal (India). Aceh dan Ternate mempelajari cara pembuatan meriam dan pengolahan mesiu dari Turki. Augustin de Beaulieu, musafir Perancis tahun 1664, melaporkan bahwa armada Aceh meliputi ratusan kapal besar, sepertiganya lebih besar dari kapal-kapal Eropa, sehingga Aceh dipandang sebagai ancaman terus-menerus bagi Portugis. Sir Francis Drake, orang Inggris pertama mengelilingi bumi yang singgah di Ternate tahun 1579, bercerita bahwa semua kapal Ternate dilengkapi mesiu “produksi dalam negeri”. Ludovico Varthema, pengembara Venesia akhir abad ke-16, juga menulis tentang pelayarannya dari Banjarmasin ke Tuban menumpang kapal Banten yang sudah menggunakan kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alexander de Rhodes yang berkunjung ke Makassar tahun 1658 menceritakan bahwa penguasa Makassar Karaeng Pattingaloang (mertua Sultan Hasanuddin) ternyata ahli matematika, memiliki peta dunia (&lt;em&gt;mappa mundi&lt;/em&gt;) dengan deskripsi bahasa Latin, mengoleksi buku-buku berbahasa Spanyol, dan mahir berbahasa Portugis “sefasih orang Lissabon sendiri”. Sebuah teleskop yang diimpor dari Italia tiba di Makassar tahun 1654, hanya 45 tahun sesudah Galileo mengembangkan teropong jauh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fakta-fakta di atas membuktikan bahwa Islam membawa masyarakat Nusantara memasuki era modernisasi dan globalisasi. Akan tetapi yang paling signifikan adalah penanaman benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Integrasi Nusantara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. Fatahillah dari Pasai menjadi panglima balatentara Demak, lalu mendirikan kota Jakarta. Ki Geding Suro dari Demak mendirikan Kesultanan Palembang. Syaikh Yusuf dari Makassar menjadi mufti Kesultanan Banten. Beberapa sultan Aceh adalah orang suku Melayu dan suku Bugis, bahkan ada yang keturunan Arab! Masih banyak lagi contoh yang lain. Pada zaman sebelum Islam hal ini belum pernah terjadi, sebab belum ada rasa persaudaraan antar suku. Itulah sebabnya mengapa di Bandung ada Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung, tapi tidak kita jumpai Jalan Gajah Mada! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad-abad sebelum lahir faham nasionalisme, jiwa dan rasa satu bangsa pertama kali ditanamkan oleh Islam! Perhatikan saja nama ulama-ulama termasyhur kita zaman dahulu: Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (Pansur), Syaikh Abdussamad al-Jawi al-Falimbani (Palembang), Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Arsyad al-Jawi al-Banjari (Banjar), Syaikh Syamsuddin al-Jawi as-Sumbawi (Sumbawa), Syaikh Yusuf al-Jawi al-Maqashshari (Makassar), Syaikh Abdulkamil al-Jawi at-Tiduri (Tidore), dan lain-lain. Semua mengaku &lt;em&gt;Jawi&lt;/em&gt; (‘bangsa Jawa’), dari suku mana pun dia berasal.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Berabad-abad sebelum istilah ‘Indonesia’ diciptakan oleh ahli geografi James Richardson Logan tahun 1850, nenek moyang kita menamakan diri ‘bangsa Jawa’, sebab orang Arab sejak zaman purba menyebut kepulauan kita &lt;em&gt;Jaza’ir al-Jawa &lt;/em&gt;(Kepulauan Jawa). Sampai hari ini, jemaah haji kita masing sering dipanggil ‘Jawa’ oleh orang Arab. “&lt;em&gt;Samathrah, Sundah, Sholibis, kulluh Jawi&lt;/em&gt;!” demikian kata seorang pedagang di Pasar Seng, Makkah. “Sumatera, Sunda, Sulawesi, semuanya Jawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sangat menarik apa yang pernah dikemukakan Prof.Dr. Hamka sebagai berikut: &lt;em&gt;Sudah beratus-ratus tahun lebih dahulu sebelum gerakan kebangsaan, orang Islam yang naik haji ke Mekkah, seketika ditanyai siapa nama dan apa bangsa, mereka telah menjawab nama saya si Fulan dan saya bangsa Jawa! Terus datang pertanyaan lagi: Jawa apa? Baru dijawab Jawa Padang, Jawa Sunda, Jawa Bugis, Jawa Banjar, dan suku Jawa sendiri disebut Jawa Meriki. Padahal orang-orang berpendidikan Belanda, kalau datang ke Negeri Belanda, tidaklah dapat memberikan jawaban setegas itu. Sampai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang ada baru Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan berbagai macam Jong. Marilah kita bersaksi kepada sejarah, mari kita buka kartu sekarang: siapakah yang terlebih dahulu menyadari rasa kebangsaan, kalau bukan bangsa Indonesia yang beragama Islam?&lt;/em&gt; (Rubrik “Dari Hati ke Hati”, majalah &lt;em&gt;Pandji Masjarakat&lt;/em&gt;, No.4, 20 November 1966).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum Islam datang ke Indonesia, bahasa Melayu hanya dipakai di Sumatera dan Semenanjung Malaka. Bahasa Melayu baru tersebar di Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam. Para ulama, di samping memperkenalkan agama baru, juga memperkenalkan bahasa baru sebagai bahasa persatuan. Sebagai huruf persatuan digunakan &lt;em&gt;Huruf Arab-Melayu&lt;/em&gt;, yang dilengkapi tanda-tanda bunyi yang tidak ada dalam huruf Arab aslinya. Huruf &lt;em&gt;`ain &lt;/em&gt;diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nga&lt;/em&gt;; huruf &lt;em&gt;nun&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;; huruf &lt;em&gt;jim&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;ca&lt;/em&gt;; dan huruf &lt;em&gt;kaf &lt;/em&gt;diberi satu titik menjadi &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;. Alhasil, masyarakat dari Aceh sampai Ternate berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Melayu juga dipakai dalam berkomunikasi dengan bangsa asing. Surat Sultan Baabullah dari Ternate kepada raja Portugal tahun 1570, surat Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh kepada Ratu Elizabeth I di Inggris tahun 1601, dan surat Pangeran Aria Ranamanggala dari Banten kepada Gubernur-Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen tahun 1619, semuanya memakai bahasa Melayu. Itulah sebabnya  Jan Huygen van Linschoten, dalam bukunya &lt;em&gt;Itinerario&lt;/em&gt; tahun 1595, wanti-wanti berpesan agar orang Eropa yang ingin datang ke Kepulauan Hindia harus tahu bahasa Melayu, sebab di setiap pelabuhan bahasa itu yang dipakai. Kata van Linschoten, seseorang yang tidak berbahasa Melayu tidak akan diterima oleh penduduk Hindia sebagai bagian dari komunitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh data dan fakta yang telah kita bahas, jelas sekali betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DISKUSI / TANYA JAWAB DI MASJID SALMAN ITB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertanyaan/Sanggahan (dari tiga hadirin)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Saudara mengatakan di zaman Hindu/Buddha belum ada benih-benih persatuan Indonesia. Bukankah Majapahit pernah mempersatukan Nusantara? &lt;br /&gt;(2) Istilah &lt;em&gt;Nusantara &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Bhinneka Tunggal Ika &lt;/em&gt;yang sekarang kita pakai adalah warisan Majapahit. &lt;br /&gt;(3) Adityawarman panglima Majapahit berasal dari Sumatera. Jadi Majapahit pun sudah menanamkan benih persatuan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jawab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Berita bahwa Majapahit pernah mempersatukan Indonesia hanya ada pada naskah &lt;em&gt;Nagarakretagama&lt;/em&gt; karangan pujangga Prapanca, yang menulis dengan maksud memuji-muji rajanya, Hayam Wuruk. Itulah sebabnya para ahli sejarah banyak yang meragukan, apa betul keterangan Prapanca bahwa Majapahit pernah mempersatukan Indonesia. Faktanya, tidak ada satu prasasti pun atau sumber sejarah lain mengatakan begitu. Prasasti-prasasti zaman Majapahit serta naskah &lt;em&gt;Pararaton&lt;/em&gt; yang sezaman dengan &lt;em&gt;Nagarakretagama&lt;/em&gt; mengatakan bahwa kekuasaan Majapahit hanya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. Jawa Barat (Sunda) tidak disebut-sebut sebagai wilayah Majapahit, apalagi luar Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Istilah “Nusantara” di zaman Majapahit berbeda sekali artinya dengan “Nusantara” yang kita pakai sekarang. Yang disebut &lt;em&gt;Nusantara&lt;/em&gt; oleh orang-orang Majapahit adalah “pulau-pulau di luar Jawa”. Bahasa Sansekerta: &lt;em&gt;nusa &lt;/em&gt;= pulau; &lt;em&gt;antara&lt;/em&gt; = luar, seberang. Jadi pada zaman Majapahit, Pulau Jawa bukan Nusantara! Nusantara adalah ‘daerah seberang’ yang ingin dikalahkan oleh Majapahit. Kita tentu ingat ucapan Gajah Mada dalam kitab Pararaton: &lt;em&gt;Lamun huwus kalah Nusantara, isun amukti palapa&lt;/em&gt; (“Jika telah kalah pulau-pulau seberang, saya baru akan istirahat”).&lt;br /&gt;Pada tahun 1920-an Ernest Douwes Dekker atau Dr. Setiabudi mempopulerkan kata &lt;em&gt;Nusantara &lt;/em&gt;sebagai alternatif dari istilah Hindia-Belanda (&lt;em&gt;Nederlandsch-Indie&lt;/em&gt;). Istilah &lt;em&gt;Nusantara&lt;/em&gt; itu diberi arti baru, yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudera”, yang berbeda artinya dengan &lt;em&gt;Nusantara&lt;/em&gt; zaman Majapahit. Jadi yang kita pakai sekarang "antara" bahasa Melayu, bukan "antara" bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;Istilah &lt;em&gt;Bhinneka Tunggal Ika &lt;/em&gt;(“Berbeda itu, satu itu”) memang kita ambil dari Majapahit, tapi pengertiannya jauh berbeda. Pada masa Majapahit, istilah itu berarti persatuan Hindu dan Buddha (sinkretisme agama), sedangkan kita sekarang mengartikannya persatuan suku bangsa. Istilah-istilah &lt;em&gt;sembahyang, puasa, surga, neraka, pahala, dosa,&lt;/em&gt; dsb. juga kita warisi dari masa pra-Islam, tapi sekarang kita beri pengertian baru yang islami dan tentu sangat jauh berbeda. Sekali lagi, yang kita pinjam hanya kata-katanya, sedangkan konsepnya sudah tidak lagi sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Menurut &lt;em&gt;Pararaton&lt;/em&gt;, Adiyawarman adalah sepupu Jayanagara raja Majapahit. Ibunya Adiyawarman bernama Dara Jingga, saudara kandung Dara Petak, ibunya Jayanagara. Kalau tidak ada hubungan famili, jangan harap “orang seberang” menjadi pejabat di Majapahit! Memang kita-kita ini bersaudara setelah memeluk agama Islam.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-2057570445129904544?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/2057570445129904544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=2057570445129904544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2057570445129904544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2057570445129904544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/10/modernisasi-dan-integrasi-nusantara.html' title='Modernisasi dan Integrasi Nusantara'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-7664235456337792687</id><published>2010-09-26T21:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-26T22:21:46.568-07:00</updated><title type='text'>Tafsir Surat Ath-Thariq</title><content type='html'>&lt;strong&gt;AIR MEMANG TURUN DARI LANGIT&lt;br /&gt;(TAFSIR SURAT ATH-THAARIQ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SURAT ATH-THAARIQ&lt;/em&gt;, yang dalam mushaf Al-Qur’an merupakan Surat ke-86 dan terdiri dari 17 ayat, diwahyukan di Makkah pada tahun kedelapan masa kenabian, yaitu sekitar tahun 618 Masehi, sesudah &lt;em&gt;Surat Qaaf &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Surat al-Balad&lt;/em&gt;. Pada saat itu kaum musyrikin sedang frustrasi melihat perkembangan Islam yang makin pesat. Berbagai teror dan intimidasi tidaklah menggoyahkan iman kaum Muslimin yang dari hari ke hari makin banyak jumlahnya. Maka orang-orang Quraisy di Makkah merancang rekayasa jahat terhadap Nabi Muhammad s.a.w. beserta para shahabat beliau berupa pengucilan dan pemboikotan dari segala aktivitas. Para pembesar Quraisy melarang penduduk Makkah untuk melakukan transaksi apapun dengan kaum Muslimin, termasuk kegiatan jual beli dan pernikahan. Dalam situasi demikian inilah &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq&lt;/em&gt; diwahyukan oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perbedaan antara Surat-surat &lt;em&gt;Makkiyah&lt;/em&gt; (yang diwahyukan di Makkah) dan Surat-surat &lt;em&gt;Madaniyah&lt;/em&gt; (yang diwahyukan di Madinah) adalah bahwa pada Surat-surat Makkiyah Allah sering bersumpah dengan berbagai fenomena alam ciptaan-Nya, agar manusia benar-benar memperhatikan atau menalari secara serius hal-hal yang disumpahkan Allah itu. Kalimat sumpah itu diawali oleh kata &lt;em&gt;wa &lt;/em&gt;(“demi”) yang terdapat pada 17 Surat (37, 51, 52, 53, 68, 74, 77, 79, 85, 86, 89, 91, 92, 93, 95, 100, 103), dan kata &lt;em&gt;laa uqsimu &lt;/em&gt;(“tidak, Aku bersumpah”) yang terdapat pada tujuh Surat (56, 69, 70, 75, 81, 84, 90). Selain dengan fenomena alam, Allah juga bersumpah dengan Kitab Al-Qur’an pada lima Surat (36, 38, 43, 44, 50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wa s-samaa’i wa th-thaariq &lt;/strong&gt;(ayat 1). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Demi langit, demi ath-thaariq.&lt;/em&gt;” Allah SWT bersumpah dengan langit (&lt;em&gt;as-samaa’&lt;/em&gt;) serta dengan suatu benda langit yang disebut &lt;em&gt;ath-thaariq&lt;/em&gt;. Istilah ini berasal dari kata kerja &lt;em&gt;tharaqa&lt;/em&gt; yang artinya “mengetuk”, satu akar kata dengan &lt;em&gt;thariiq&lt;/em&gt; (“jalan; tempat kaki mengetuk”) dan &lt;em&gt;mithraq&lt;/em&gt; (“palu; alat pengetuk”). Dalam bahasa Arab sehari-hari, istilah &lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt; digunakan untuk menyebut tamu yang jarang muncul dan tiba-tiba datang di malam hari, atau seperti kata Prof. Dr. Hamka dalam &lt;em&gt;Tafsir Al-Azhar &lt;/em&gt;Juz 30, “&lt;em&gt;orang yang mengetuk pintu tengah malam agak keras, supaya yang empunya rumah lekas bangun, karena dia membawa berita penting&lt;/em&gt;”, atau seperti penjelasan Prof. Dr. Muhammad Asad dari Austria dalam buku tafsirnya &lt;em&gt;The Message of the Qur’an &lt;/em&gt;(“Pesan Al-Qur’an”), “&lt;em&gt;a person who comes to a house by night to knock at the door&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa &lt;em&gt;ath-thaariq &lt;/em&gt;dalam ayat ini adalah benda langit yang langka kehadirannya. Tidak setiap malam kita dapat menyaksikannya di langit, sebab dia datang sewaktu-waktu atau secara periodik. Benda langit yang seperti itu tiada lain adalah &lt;strong&gt;komet&lt;/strong&gt;, yang oleh nenek moyang kita disebut “bintang berekor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammed Marmaduke Pickthall, ulama Muslim berkebangsaan Inggris, dalam terjemahan Al-Qur’an &lt;em&gt;The Meaning of the Glorious Koran&lt;/em&gt;, ketika membahas Surat at-Thaariq mengatakan: &lt;em&gt;Some have thought that it refers to a comet which alarmed the East about the time of the Prophet’s call. Others believe that this and other introductory verses, hard to elucidate, hide scientific facts unimagined at the period of revelation &lt;/em&gt;(“Beberapa penafsir berpendapat bahwa at-thaariq merujuk kepada sebuah komet yang menggemparkan Dunia Timur semasa dakwah Nabi. Para penafsir lain meyakini bahwa ayat ini dan beberapa ayat pembuka dalam Surat lainnya, yang sukar untuk dijelaskan, menyembunyikan fakta-fakta ilmiah yang tidak terbayangkan pada periode turunnya wahyu”).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wa maa adraaka maa th-thaariq?&lt;/strong&gt; (ayat 2). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Dan apakah yang membuatmu tahu tentang ath-thaariq&lt;/em&gt;?”. Sering juga diterjemahkan secara bebas: “&lt;em&gt;Tahukah kamu apakah ath-thaariq itu&lt;/em&gt;?” Allah menggunakan kalimat &lt;em&gt;wa maa adraaka &lt;/em&gt;(“tahukah kamu”) hanya dalam 10 Surat (69, 74, 77, 82, 83, 86, 90, 97, 101, 104) untuk mempertegas istilah-istilah yang unik. Biasanya &lt;em&gt;wa maa adraaka &lt;/em&gt;digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan hari kiamat (&lt;em&gt;yaumud-diin, yaumul-fashl, haqqah, qaari`ah&lt;/em&gt;) atau azab neraka (&lt;em&gt;saqar, sijjiin, haawiyah, huthamah&lt;/em&gt;) atau sesuatu yang misteri seperti &lt;em&gt;lailatul-qadr&lt;/em&gt;. Satu-satunya benda langit yang dijelaskan dengan &lt;em&gt;wa maa adraaka &lt;/em&gt;hanyalah &lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt;. Hal ini memperkuat penalaran kita bahwa &lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt; adalah benda langit yang “tidak biasa” atau “jarang datang”, yaitu komet yang muncul sekali dalam puluhan atau ratusan tahun. Benda-benda langit yang lain, seperti matahari (&lt;em&gt;syams&lt;/em&gt;), bulan (&lt;em&gt;qamar&lt;/em&gt;), bintang (&lt;em&gt;najm&lt;/em&gt;), gugus bintang (&lt;em&gt;buruuj&lt;/em&gt;) dan planet (&lt;em&gt;kaukab&lt;/em&gt;), tidak pernah diterangkan dengan &lt;em&gt;wa maa adraaka &lt;/em&gt;sebab istilah-istilah itu memang sudah jelas maknanya dan bendanya dapat kita saksikan setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi benda langit &lt;em&gt;thaariq &lt;/em&gt;dengan "komet" ditunjang oleh data astronomi. Ketika &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq &lt;/em&gt;diwahyukan Allah pada tahun kedelapan kenabian atau tahun 618 Masehi, pada tahun itu muncul komet besar yang termasyhur dalam sejarah, yaitu apa yang sekarang kita namakan &lt;em&gt;Komet Halley&lt;/em&gt;. Periode kedatangan komet ini pertama kali diteliti oleh ahli astronomi Inggris, Edmond Halley (1656–1742). Komet Halley datang rata-rata 76 tahun sekali, dan tahun kedatangannya ternyata dicatat oleh berbagai bangsa sepanjang zaman. Data astronomi telah merekam kehadirannya mulai tahun 390 sampai 1986 Masehi. Inilah tahun-tahun kedatangan Komet Halley: 390, 467, 542, 618 (zaman Nabi), 695, 772, 847, 923, 998, 1074, 1151, 1226, 1302, 1379, 1456, 1531, 1607, 1682 (zaman Halley), 1758, 1835, 1910, 1986 (mungkin Anda menyaksikannya), dan Insya Allah kelak akan muncul kembali tahun 2061 atau 2062.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;An-najmu ts-tsaaqib &lt;/strong&gt;(ayat 3). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Benda langit yang melubangi&lt;/em&gt;.” Benda-benda langit selain matahari dan bulan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah umum &lt;em&gt;najm &lt;/em&gt;(jamak atau pluralnya &lt;em&gt;nujuum&lt;/em&gt;), berasal dari kata kerja &lt;em&gt;najama&lt;/em&gt; yang artinya “muncul kecil-kecil secara berserakan”. Itulah sebabnya istilah &lt;em&gt;najm&lt;/em&gt; dapat juga berarti “rerumputan” yang berserakan di permukaan bumi, seperti pada &lt;em&gt;Surat ar-Rahmaan&lt;/em&gt; ayat 6: &lt;em&gt;wa n-najmu wa  sy-syajaru yasjudaan &lt;/em&gt;(“Rerumputan dan pepohonan kedua-duanya bersujud kepada Allah”). Dalam kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an, kata &lt;em&gt;najm &lt;/em&gt;tepat diterjemahkan “bintang”, tetapi dalam &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq&lt;/em&gt; ini kita terjemahkan dengan istilah umum “benda langit”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kata &lt;em&gt;tsaaqib&lt;/em&gt; berasal dari kata kerja &lt;em&gt;tsaqaba&lt;/em&gt; yang artinya “melubangi”, satu akar kata dengan &lt;em&gt;tsuqbah&lt;/em&gt; (“lubang”), &lt;em&gt;mitsqab &lt;/em&gt;(“bor, alat melubangi”) dan &lt;em&gt;tsaaqibaat&lt;/em&gt; (“hewan pelubang” atau ordo Rodentia dalam biologi). Jadi &lt;em&gt;tsaaqib&lt;/em&gt; berarti “sesuatu yang melubangi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Allah dalam ayat 3 ini makin memperkuat penafsiran kita bahwa &lt;em&gt;ath-thaariq &lt;/em&gt;memang ternyata komet. Sebagaimana dipelajari dalam ilmu astronomi, komet adalah benda langit yang diameternya puluhan kilometer, tersusun dari campuran es (air padat) yang meliputi lima perenam bagian dan sisanya kotoran debu. Itulah sebabnya komet-komet dijuluki &lt;em&gt;dirty snowballs&lt;/em&gt;. Mereka mengelilingi matahari seperti planet-planet tetapi orbitnya berbentuk ellips yang sangat jauh, sehingga komet-komet ini muncul sekali dalam puluhan atau ratusan tahun. Ketika sebuah komet mendekati matahari, panas matahari mencairkan dan menguapkan material es, membentuk “ekor” atau “rambut” berukuran ribuan kilometer yang tampak dari bumi. Itulah sebabnya benda langit ini dinamai &lt;em&gt;komet&lt;/em&gt;, berasal dari kata Yunani, &lt;em&gt;koma&lt;/em&gt;, yang berarti “rambut”. (Tanda baca ‘koma’ adalah ‘titik yang diberi rambut’). Kini diketahui bahwa pada tapal batas tatasurya di seberang planet Pluto terdapat “sarang komet” yang disebut &lt;em&gt;Oort Cloud&lt;/em&gt;, dari nama astronom Belanda Jan Hendrik Oort (1900–1992), dan diperkirakan mengandung ribuan komet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada proses pembentukan tatasurya (&lt;em&gt;solar system&lt;/em&gt;), komet-komet membombardir atau melubangi permukaan planet-planet bertanah (&lt;em&gt;terrestrial planets&lt;/em&gt;) yang dekat dengan matahari, termasuk bumi, menyumbangkan air yang merupakan syarat mutlak adanya kehidupan. Di antara planet-planet penerima air itu, hanya planet bumi yang mampu menjaga air dalam wujud &lt;em&gt;cairan&lt;/em&gt;. Venus terlalu panas sehingga air menguap, sedangkan Mars terlalu dingin sehingga air membeku. Tanpa proses pelubangan dari komet-komet, bumi kita tidak mempunyai air! Sungguh Maha Benar Allah yang berulangkali menegaskan dalam Al-Qur’an &lt;em&gt;nazzalnaa mina s-samaa’i maa’ &lt;/em&gt;(“Kami telah menurunkan air dari langit”), sebab air di bumi ini memang berasal dari langit, yaitu sumbangan dari komet (&lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt;) yang merupakan “benda langit yang melubangi” (&lt;em&gt;an-najmu ts-tsaaqib&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian terhadap spektrum-spektrum yang dipancarkan oleh Komet Halley (1986), Komet Shoemaker-Levy (1994), Komet Hyakutake (1996), Komet Hale-Bopp (1997) Komet Wild-2 (2000) dan Komet Borrelly (2001) menunjukkan bahwa perbandingan isotop hidrogen dan deuterium pada H2O air laut ternyata sama persis dengan pada H2O komet-komet tersebut. Fakta ini merupakan bukti kimiawi bahwa air di bumi memang berasal dari komet! Jadi komet-komet dikirimkan Allah SWT untuk membawa materi paling berharga sebagai syarat kehidupan kepada planet bumi, yaitu air. Adanya air menyebabkan bumi merupakan satu-satunya komponen tatasurya yang layak untuk tempat berkembangnya makhluk hidup. Tanpa adanya air, kehidupan di muka bumi mustahil terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Molly Bloomfield, dalam bukunya &lt;em&gt;Chemistry and the Living Organism &lt;/em&gt;(John Wiley &amp; Sons, New York, 1996, hal. 270), menerangkan: &lt;em&gt;Over 100,000 comets had collided with the Earth during its first billion years, brought water to the Earth’s surface&lt;/em&gt;. (“Lebih dari 100.000 komet telah berbenturan dengan Bumi selama semiliar tahun pertamanya, membawa air ke permukaan Bumi”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Isaac Asimov, dalam bukunya &lt;em&gt;Frontiers: New Discoveries about Man and His Planet, Outer Space and the Universe &lt;/em&gt;(Mandarin Paperbacks, London, 1991, hal.219), mengatakan: &lt;em&gt;In the early times of the solar system, there were a large number of collisions between comets and the planetary bodies. The Earth was hot and dry to begin with, and cometary collisions have supplied us with much of our ocean and atmosphere. All this we can now reason out as a result of the close study of Halley’s comet in 1986&lt;/em&gt;. (“Pada masa-masa dini tatasurya, terdapat sejumlah besar perbenturan antara komet-komet dan planet-planet. Bumi panas dan kering pada mulanya, dan perbenturan-perbenturan dengan komet telah menyuplai kita dengan sebagian besar samudera dan atmosfer. Semua ini baru sekarang dapat kita kemukakan sebagai hasil dari studi jarak dekat terhadap komet Halley pada tahun 1986”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Timothy Ferris, dalam bukunya &lt;em&gt;The Whole Shebang: A State-of-the-Universe Report&lt;/em&gt; (Simon and Schuster, New York, 1997, hal.176 dan 179),  menegaskan: &lt;em&gt;We owe our existence to Earth’s bombardment by the icy comets abounded in the infant solar system. Primordial comets have formed the oceans and rained down the amino acids from which life originated here. Evidence for cometary cornucopias of life-brewing water and amino acids may be found in the spectra of modern comets ....  Had comets not ferried ice to Earth, we might have had no oceans. And without organic molecules contributed by the comets, Earth might have remained devoid of life. &lt;/em&gt;(“Kita berhutang eksistensi kita kepada pembombardiran Bumi oleh komet-komet es yang berlimpah ketika tatasurya masih dalam usia muda. Komet-komet purba telah membentuk samudera-samudera dan mencurahkan asam-asam amino yang mengawali kehidupan di sini. Bukti bahwa air dan asam-asam amino pembuat kehidupan bersumber pada komet dapat ditemukan pada berbagai spektrum komet-komet modern .… Seandainya komet-komet tidak mengangkut es ke Bumi, mungkin kita tidak mempunyai samudera. Dan tanpa molekul-molekul organik yang disumbangkan komet-komet, Bumi mungkin tetap kosong dari kehidupan”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;In kullu nafsin lammaa `alaihaa haafizh &lt;/strong&gt;(ayat 4). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Tiada setiap jiwa tanpa ada atasnya pemelihara&lt;/em&gt;”. Setiap makhluk hidup (&lt;em&gt;kullu nafsin&lt;/em&gt;) tanpa kecuali memperoleh pemeliharaan dari Allah SWT, dengan tersedianya air di bumi yang membentuk kehidupan serta membuat bumi ini nyaman sentosa bagi berlangsungnya kehidupan. Allah menegaskan bahwa setiap makhluk hidup tercipta dari air, sebagaimana tercantum dalam &lt;em&gt;Surat al-Anbiyaa’ &lt;/em&gt;ayat 30: &lt;em&gt;wa ja`alnaa mina l-maa’i kulla syai’in hayy&lt;/em&gt; (“Dan Kami menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup”), serta &lt;em&gt;Surat an-Nahl &lt;/em&gt;ayat 65: &lt;em&gt;wa l-Laahu anzala mina s-samaa’i maa’an fa ahyaa bihi l-ardha ba`da mautihaa&lt;/em&gt; (“Dan Allah menurunkan dari langit air, maka hiduplah dengan air itu bumi sesudah matinya”).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak makhluk hidup yang tidak memerlukan oksigen atau udara, tetapi tidak ada kehidupan yang bisa survive tanpa air. Sekitar 70% berat tubuh kita tersusun dari air, dan tanpa adanya air metabolisme pada tubuh makhluk hidup tidak mungkin berlangsung. Tidak ada benda lain yang lebih berharga dari air. Di samping untuk metabolisme tubuh, kita memerlukan air untuk mandi, bersuci, memasak, mencuci, menyirami tanaman, dan mengairi lahan pertanian. Air juga berfungsi sebagai sarana olah raga dan rekreasi, serta merupakan salah satu sumber energi baik energi uap maupun energi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur molekul air yang unik, dengan atom pusat oksigen yang mengikat dua atom hidrogen, menyebabkan keistimewaan sifat-sifat fisika dan kimia yang tidak dimiliki oleh materi yang lain. Perbedaan &lt;em&gt;keelektronegatifan&lt;/em&gt; (kemampuan menarik elektron) yang sangat besar antara hidrogen dan oksigen menyebabkan ikatan O—H pada molekul air sangat &lt;em&gt;polar&lt;/em&gt;, sehingga air merupakan pelarut yang sangat baik untuk berbagai jenis zat padat, cairan, dan gas. Hal ini menyebabkan air mampu membawa zat-zat makanan melalui jaringan dan organ makhluk hidup serta menjadi zat pembersih yang ampuh. Air mempunyai &lt;em&gt;viskositas&lt;/em&gt; yang sangat rendah, sehingga air mudah mengalir, cepat meluncur turun, dan mudah dipompa ke atas. Dengan demikian air sangat mudah diambil dan segera dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mempunyai &lt;em&gt;kalor penguapan &lt;/em&gt;yang sangat tinggi. Hal ini sangat penting bagi tubuh kita, sebab sejumlah besar dari panas tubuh dapat dihilangkan dengan penguapan hanya sejumlah kecil air melalui kulit. Dengan demikian suhu tubuh kita selalu terjaga secara optimal. Penyerapan energi ketika air diuapkan oleh sinar matahari serta pembebasan energi itu ketika uap air berkondensasi menjadi hujan yang kembali ke bumi sangat berperan dalam mendistribusikan energi dari matahari ke seluruh permukaan bumi. Air juga mempunyai &lt;em&gt;kapasitas kalor &lt;/em&gt;(kemampuan menyimpan panas) yang sangat tinggi, sehingga air memanas dan mendingin lebih lambat daripada kebanyakan zat lain. Hal ini akan melindungi makhluk hidup dari malapetaka apabila suhu mendadak berubah. Jumlah air yang berlimpah di permukaan bumi bertindak sebagai termostat raksasa yang mengatur suhu bumi sehari-hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ikatan hidrogen &lt;/em&gt;yang ada di antara molekul-molekul air menyebabkan air berekspansi atau membesar volumenya ketika membeku (padahal zat-zat lain ketika membeku justru menyusut), sehingga es memiliki kerapatan yang lebih kecil dari air. Akibatnya es mengambang di atas permukaan air. Hal ini menyebabkan ikan dan hewan air lainnya dapat bertahan hidup pada musim salju. Sungguh beraneka ragam pemeliharaan yang dianugerahkan Allah SWT terhadap makhluk hidup melalui kegunaan dan sifat-sifat air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Falyanzhuri l-insaanu mimma khuliq. Khuliqa min maa’in daafiq. Yakhruju min baini sh-shulbi wa t-taraa’ib &lt;/strong&gt;(ayat 5–7). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Maka hendaklah manusia menalari dari apa dia tercipta. Tercipta dari air yang memancar. Keluar dari antara shulb dan taraa’ib&lt;/em&gt;”. Para penafsir umumnya berpendapat “air yang memancar” itu adalah sperma laki-laki. Seandainya yang dimaksudkan sperma, tentu Allah SWT menggunakan kata &lt;em&gt;madfuuq&lt;/em&gt; (bentuk pasif yang berarti “terpancar”), sebab sperma tidak dapat memancar dengan sendirinya. Kenyataannya Allah memakai kata &lt;em&gt;daafiq &lt;/em&gt;(bentuk aktif “memancar”) yang biasanya digunakan untuk air yang keluar dari sumbernya dalam tanah. Sudah tentu ayat 5—7 ini merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari ayat-ayat sebelumnya. Oleh karena komet (&lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt;) bertindak sebagai benda langit yang melubangi permukaan bumi (&lt;em&gt;an-najmu ts-tsaaqib&lt;/em&gt;), air yang dibawanya terperangkap dalam lapisan kulit bumi, lalu air itu memancar kembali ke permukaan untuk menjadi sarana reaksi-reaksi kimia pembentuk kehidupan, yang harus melibatkan air baik sebagai bahan baku (reaksi-reaksi hidrolisis) maupun sebagai pelarut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kulit bumi tempat air memancar itu tersusun dari bebatuan yang keras (&lt;em&gt;shulb&lt;/em&gt;) dan tanah atau debu yang lembut (&lt;em&gt;taraa’ib&lt;/em&gt;). Kata &lt;em&gt;shulb&lt;/em&gt; berarti “sesuatu yang keras”, berasal dari kata kerja &lt;em&gt;shaluba &lt;/em&gt;(“mengeras”), dan satu akar kata dengan &lt;em&gt;shaliib&lt;/em&gt; (“kayu yang keras”) dan &lt;em&gt;tashallub &lt;/em&gt;(“kekerasan benda” atau &lt;em&gt;hardness&lt;/em&gt;). Kata &lt;em&gt;taraa’ib&lt;/em&gt; berarti “sesuatu yang berdebu”, dari kata kerja &lt;em&gt;tariba &lt;/em&gt;(“menjadi debu”), dan satu akar kata dengan &lt;em&gt;turab&lt;/em&gt; (“debu tanah”) dan &lt;em&gt;matrabah&lt;/em&gt; (“tunawisma yang tidur di tanah”). Dalam masyarakat Arab dahulu, anak-anak sebaya sering bermain debu padang pasir, sehingga “teman sebaya” disebut &lt;em&gt;tirb&lt;/em&gt; (jamak atau pluralnya &lt;em&gt;atraab&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir para ulama abad pertengahan bahwa ayat-ayat ini menerangkan “sperma yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada” sudah saatnya kita tinggalkan, sebab sperma tidak dikeluarkan dari sana! Allah SWT menakdirkan bahwa benih dari laki-laki itu diproduksi pada dua butir testis yang terdapat dalam &lt;em&gt;skrotum&lt;/em&gt; (“kantong” di sela-sela paha). Sel-sel sperma berukuran 5 mikrometer (0,005 milimeter), terdiri dari kepala dan ekor, diproduksi dalam jumlah sekitar 10 juta butir setiap hari setelah seorang laki-laki memasuki masa pubertas. Sel-sel sperma ini dikeluarkan dari &lt;em&gt;testis&lt;/em&gt; melalui &lt;em&gt;epididimis&lt;/em&gt;, masuk ke saluran &lt;em&gt;vas deferens &lt;/em&gt;untuk dibawa menuju kelenjar &lt;em&gt;prostat&lt;/em&gt;. Kelenjar prostat memproduksi cairan kental &lt;em&gt;semen &lt;/em&gt;yang memberi sel-sel sperma energi agar tetap lincah bergerak. Dari kelenjar prostat sel-sel sperma, melalui saluran &lt;em&gt;uretra&lt;/em&gt; pada &lt;em&gt;penis&lt;/em&gt;, dipancarkan keluar tubuh pada saat ejakulasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pembentukannya sampai pengeluarannya, sperma tidak berhubungan dengan tulang punggung dan tulang dada. Jelas sekali bahwa ayat 5—7 &lt;em&gt;Surat at-Thaariq &lt;/em&gt;bukanlah bercerita tentang sperma, tulang punggung dan tulang dada seperti penafsiran ulama-ulama zaman pra-modern, melainkan bercerita tentang air yang memancar dari antara bebatuan keras (&lt;em&gt;shulb&lt;/em&gt;) dan tanah lembut (&lt;em&gt;taraa’ib&lt;/em&gt;) pada kulit bumi. Penafsiran ayat-ayat ini tidak boleh kita lepaskan dari konteks ayat-ayat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Innahuu `alaa raj`ihii la qaadir.  Yauma tublaa s-saraa’ir.  Fa maa lahuu min quwwatin wa laa naashir &lt;/strong&gt;(ayat 8–10). Terjemahan harfiahnya:  “&lt;em&gt;Sesungguhnya atas pengembaliannya Dia benar-benar kuasa. Pada Hari diverifikasi segala rahasia. Maka tiada baginya kekuatan dan tiada pembela&lt;/em&gt;”. Ketika Rasulullah s.a.w. mendakwahkan bahwa manusia akan dihidupkan kembali pada Hari Akhirat untuk dimintai pertanggungjawaban dan menerima ganjaran, orang-orang musyrik di Makkah menertawakan dan mengejek beliau. Dalam &lt;em&gt;Surat Qaaf &lt;/em&gt;yang diwahyukan sebelum &lt;em&gt;Surat at-Thaariq&lt;/em&gt;, Allah SWT merekam ejekan tersebut: &lt;em&gt;A idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban? Dzaalika raj`un ba`iid&lt;/em&gt; (“Apakah ketika kami telah mati dan kami telah jadi debu? Itu adalah pengembalian yang jauh”). Maka Allah menegaskan bahwa Dia benar-benar kuasa untuk mengembalikan manusia hidup di Hari Akhirat nanti, lalu manusia yang tiada kekuatan dan tiada pembela itu akan menghadapi Pengadilan Agung, di mana segala rahasia kejahatan manusia (yang mungkin tidak sempat terbongkar di dunia fana) akan mengalami verifikasi dan balasan yang setimpal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ayat 8—10 ini kita hubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka hanya orang-orang tidak berilmu yang meragukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia. Orang-orang berilmu akan menjadi saksi bahwa bumi ini asalnya memang tidak mempunyai kehidupan, lalu Allah mengirimkan air melalui komet-komet ke Bumi untuk memungkinkan terciptanya makhluk-makhluk hidup termasuk manusia. Bagi Allah yang memiliki sifat &lt;em&gt;yubdi’u wa yu`iid &lt;/em&gt;(Maha Memulai dan Maha Mengembalikan) seperti tercantum dalam &lt;em&gt;Surat al-Buruuj &lt;/em&gt;ayat 13, mengembalikan manusia kepada kehidupan di Akhirat nanti sama mudahnya dengan mengembalikan komet-komet mengunjungi Bumi. Maha Benar Allah dalam firman-Nya pada &lt;em&gt;Surat Aali `Imraan &lt;/em&gt;ayat 18: &lt;em&gt;syahida l-Laahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wa l-malaa’ikatu wa ulu l-`ilmi&lt;/em&gt; (“Bersaksi Allah bahwa tiada Tuhan melainkan Dia, serta juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wa s-samaa’i dzaati r-raj`i&lt;/strong&gt; (ayat 11). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Demi langit yang mempunyai sesuatu yang kembali&lt;/em&gt;”. Berdasarkan konteks ayat-ayat awal dari &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq &lt;/em&gt;ini, ada dua kemungkinan tafsiran mengenai &lt;em&gt;ar-raj`i&lt;/em&gt; (“sesuatu yang kembali”). Mungkin dia adalah komet (&lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt;), yang memang selalu kembali mengunjungi bumi dalam periode tertentu. Mungkin pula dia adalah air (&lt;em&gt;maa’&lt;/em&gt;), yang selalu “pergi dan kembali” dalam siklus hidrologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Air menutupi 70% permukaan bumi, dan 97% dari seluruh air di bumi berada pada samudera. Setiap hari sekitar sepertiga dari jumlah energi sinar matahari yang sampai ke bumi dipergunakan untuk menguapkan kira-kira 1000 km kubik (satu triliun meter kubik) air samudera, sungai, danau dan telaga. Uap air lalu menyebar di lapisan atmosfer untuk mengatur kelembaban dan suhu. Kemudian uap air itu mengalami kondensasi dan turun ke permukaan bumi berupa hujan atau salju. Akhirnya air yang terkumpul di darat mengalir dalam bentuk sungai-sungai untuk kembali menuju samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wa l-ardhi dzaati sh-shad`i&lt;/strong&gt; (ayat 12). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Demi bumi yang mempunyai belahan&lt;/em&gt;”. Di lingkungan tatasurya kita, Bumi merupakan planet bertanah (&lt;em&gt;terrestrial planet&lt;/em&gt;) yang paling besar. Empat planet yang lebih besar dari bumi (Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus), dan juga matahari, tersusun dari gas-gas hidrogen dan helium. Sebagai “dunia non-gas” yang terbesar, Bumi memiliki suhu internal paling tinggi dibandingkan dengan planet-planet lain, sehingga Bumi mempunyai kulit yang paling tipis dengan kedalaman cuma sekitar 50 km. Suhu internal yang tinggi menyebabkan kulit tipis itu terbelah menjadi enam atau tujuh belahan besar (dan beberapa belahan lebih kecil) yang disebut &lt;em&gt;lempeng&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;plate&lt;/strong&gt;). Lempeng-lempeng ini menyetel secara pas seakan-akan dilekatkan oleh seorang tukang kayu yang piawai. Itulah sebabnya mereka dinamai &lt;em&gt;lempeng-lempeng tektonik &lt;/em&gt;(bahasa Yunani, &lt;em&gt;tektones&lt;/em&gt;, berarti “tukang kayu”). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan di bawah kulit bumi memiliki suhu cukup panas sehingga mampu bergerak, dan gerakan ini mendorong lempeng-lempeng kesana kemari. Akibatnya terjadilah pembentukan benua dan pulau-pulau serta pembentukan palung (&lt;em&gt;basin&lt;/em&gt;) yang merupakan wadah bagi samudera. Meskipun pergeseran lempeng-lempeng tektonik yang dinamis ini sering menimbulkan gempa bumi, bahkan mungkin gelombang tsunami, janganlah kita melupakan kenyataan bahwa lempeng-lempeng itu merupakan kurnia Allah yang patut kita syukuri! Seandainya bumi tidak mempunyai belahan berupa lempeng-lempeng tektonik, tentu &lt;em&gt;ocean basin &lt;/em&gt;tidak terbentuk sehingga air akan menutupi seluruh permukaan bumi, dan makhluk yang hidup di darat termasuk manusia tidaklah terbayangkan adanya. Sungguh Maha Pengasih Allah yang telah menyediakan segala fasilitas untuk manusia, meskipun manusia terlalu sering tidak tahu diri (&lt;em&gt;kanuud&lt;/em&gt;) kepada Khaliqnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Innahuu la qaulun fashl, wa maa huwa bi l-hazl &lt;/strong&gt;(ayat 13–14). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Sesungguhnya dia benar-benar kata keputusan, dan bukanlah dia sesuatu yang main-main&lt;/em&gt;”. Segala yang difirmankan oleh Allah, mulai dari komet (&lt;em&gt;thaariq&lt;/em&gt;) yang mengirimkan air (&lt;em&gt;maa’&lt;/em&gt;) sampai kepada belahan (&lt;em&gt;shada`&lt;/em&gt;) yang dimiliki bumi untuk menampung air sebagai sumber kehidupan, serta kehidupan kita di dunia fana ini akan dikembalikan Allah kepada kehidupan akhirat yang abadi, semuanya itu merupakan “kata keputusan” (&lt;em&gt;qaulun fashl&lt;/em&gt;) yang tegas-tandas dan sama sekali bukanlah sesuatu yang &lt;em&gt;hazl&lt;/em&gt;, kalimat senda gurau atau main-main. Ejekan dan rongrongan dari kaum musyrikin kepada kaum Muslimin hanyalah ibarat gonggongan anjing kepada kafilah yang sedang berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Innahum yakiiduuna kaidaa, wa akiidu kaidaa. Fa mahhili l-kaafiriina  amhilhum ruwaidaa &lt;/strong&gt;(ayat 15–17). Terjemahan harfiahnya: “&lt;em&gt;Sesungguhnya mereka merencanakan suatu rencana, dan Aku pun merencanakan suatu rencana. Maka beri tangguhlah orang-orang kafir itu, penangguhan mereka sebentar saja&lt;/em&gt;”. Inilah ‘gong akhir’ dari seluruh rangkaian firman Allah dalam &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq&lt;/em&gt;. Seperti telah kita bahas pada bagian awal, Surat ini diwahyukan ketika kaum Muslimin sedang mengalami pemboikotan oleh kaum musyrikin Quraisy. Allah menegaskan bahwa rencana jahat mereka akan sia-sia, karena Allah sendiri mempunyai Rencana Agung untuk menyempurnakan cahaya agama ini sampai akhir zaman. Penangguhan kekalahan kaum musyrikin itu ternyata memang cuma sebentar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun sesudah &lt;em&gt;Surat ath-Thaariq &lt;/em&gt;turun, Rasulullah s.a.w. beserta para shahabat hijrah ke Madinah (622 M), dan delapan tahun kemudian (630 M) kota Makkah ditaklukkan Rasulullah s.a.w. tanpa pertumpahan darah. Ketika Rasulullah s.a.w. wafat tahun 632, seluruh penduduk Semenanjung Arabia telah memeluk Islam. Hanya satu abad sesudah Rasulullah wafat, kekuasaan Islam membentang dari Spanyol sampai Xinjiang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat khalifah Islam di Baghdad dihancurkan oleh bangsa Mongol tahun 1258, tetapi siapa menyangka bahwa laskar penakluk itu berduyun-duyun masuk Islam dan menyebarkan agama Allah di kawasan Kaukasus dan Laut Kaspia, lalu anak cucu mereka menegakkan kesultanan Mongol (Moghul) di India dari abad ke-16 sampai abad ke-19. Kekuasaan Islam selama delapan abad di Spanyol (711–1492) memang hilang, tetapi sebagai gantinya muncul kesultanan Turki Usmani yang tahun 1453 menaklukkan Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi, lalu menguasai seluruh Semenanjung Balkan sampai awal abad ke-20. Bahkan ketika hegemoni politik kaum Muslimin mulai redup pada abad ke-17, Islam melalui jalur perdagangan tersebar luas di Asia Tenggara dan Afrika Timur. Sejarah telah membuktikan kebenaran Rencana Allah!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Lothrop Stoddard, seorang orientalis terkemuka dari Universitas Harvard, dalam bukunya, &lt;em&gt;The Rising Tide of Color&lt;/em&gt;, London, 1926, hal.65, mengomentari perkembangan Islam sebagai berikut: &lt;em&gt;The proselyting power of Islam is extraordinary, and its hold upon its votaries is even more remarkable. Throughout history there has been no single instance where a people, once become Muslim, has abandoned the faith. Extirpated they may have been, but extirpation is not apostacy. This extreme tenacity of Islam, this ability to keep its hold once it has got a footing, must be borne in mind when considering the future of regions where Islam is today advancing &lt;/em&gt;(“Kekuatan Islam dalam mengubah kepercayaan manusia sungguh luar biasa, dan daya ikatnya di kalangan pemeluk-pemeluknya bahkan lebih hebat lagi. Sepanjang sejarah tidak pernah ada satu contoh pun di mana suatu masyarakat, sekali menjadi Muslim, telah meninggalkan agama ini. Mereka mungkin pernah dimusnahkan, tetapi pemusnahan bukanlah kemurtadan. Keteguhan Islam yang berlebihan ini, kemampuan untuk menjaga daya ikatnya sekali ia memperoleh tempat berpijak, haruslah diperhatikan sungguh-sungguh ketika mewacanakan masa depan kawasan-kawasan di mana Islam sekarang berkembang.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;em&gt;Islamic Horizons &lt;/em&gt;edisi Juli-Agustus 1990, yang diterbitkan oleh &lt;em&gt;Islamic Society of North America &lt;/em&gt;(ISNA) di Amerika Serikat, mengutip hasil penelitian dari &lt;em&gt;Worldwide Church of God&lt;/em&gt;, badan misionari Nasrani yang berpusat di California, terhadap tiga &lt;em&gt;Abrahamic religions &lt;/em&gt;(“agama-agama Ibrahim”) yang dipublikasikan oleh majalah mereka, &lt;em&gt;The Plain Truth&lt;/em&gt;. Menurut hasil penelitian itu, dalam kurun waktu 50 tahun (1934-1984) pemeluk agama Yahudi hanya meningkat 4 persen, sementara pemeluk Nasrani meningkat 47 persen, sedangkan pemeluk Islam meningkat 235 persen!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun Islam merupakan agama universal yang paling muda usianya, kini Islam menempati peringkat kedua terbanyak jumlah pemeluknya sesudah Nasrani. Dari seluruh penduduk bumi yang pada tahun 2005 mencapai 6,300 miliar, umat Islam berjumlah 1,550 miliar (24 %), di bawah umat Nasrani (Katolik, Protestan, Ortodoks, Anglikan, Kibti, Maroni, Advent, Mormon, dll.) yang berjumlah 2,220 miliar (35 %). Di benua Asia dan benua Afrika, Islam menempati peringkat pertama, masing-masing 1,058 miliar (27 %) dan 422 juta (52 %). Angka-angka ini tercantum dalam buku &lt;em&gt;TIME Almanac 2005 with Information Please&lt;/em&gt; (Houghton Mifflin, Massachusetts).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benua Eropa, Islam merupakan agama kedua terbesar meskipun pemeluknya hanya 50 juta. Sekitar 16 juta umat Islam berdiam di Rusia, 21 juta di Eropa Timur, sedangkan 13 juta lagi berdiam di Eropa Barat, terutama di Perancis, Jerman, dan Inggris. Majalah &lt;em&gt;Newsweek&lt;/em&gt;, 29 Mei 1995, dengan artikel berjudul "Muslim Europe”, melaporkan bahwa &lt;em&gt;Muslims outnumbered both Protestants and Jews in the predominantly Roman Catholic countries of Belgium, France, Italy and Spain&lt;/em&gt;. (“Jumlah umat Islam melampaui umat Protestan dan Yahudi pada negara-negara yang umat Katoliknya sangat dominan, yaitu Belgia, Perancis, Italia dan Spanyol”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benua Amerika, umat Islam masih sedikit, sekitar delapan juta jiwa, sebab Islam di kawasan ini merupakan agama yang relatif baru. Menurut buku &lt;em&gt;The World Almanac 2005&lt;/em&gt;, terdapat enam juta umat Islam di Amerika Serikat, 600 ribu di Kanada, 200 ribu di Meksiko, dan satu juta di kawasan Amerika Selatan: Brazil, Suriname, Trinidad-Tobago dan Guyana. Demikian pula di Australia dan kawasan Pasifik, jumlah umat Islam baru berkisar antara 500 ribu sampai satu juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.John L.Esposito, editor buku &lt;em&gt;The Oxford History of Islam &lt;/em&gt;(Oxford University Press, London, 1999), dalam Bab “Introduction”, mengatakan: &lt;em&gt;Although Islam is the youngest of the major world religion, Islam is the second largest and fastest-growing religion in the world. To speak of the world of Islam today is to refer not only to countries that stretch from North Africa to Southeast Asia but also to Muslim communities that exist across the globe&lt;/em&gt; (“Meskipun Islam termuda di antara agama besar dunia, Islam merupakan agama terbesar kedua dan paling cepat pertumbuhannya di dunia. Pembicaraan tentang Dunia Islam hari ini merujuk bukan hanya kepada negeri-negeri yang membentang dari Afrika Utara ke Asia Tenggara tetapi juga kepada komunitas-komunitas Muslim yang ada di seluruh penjuru bumi”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;em&gt;National Geographic &lt;/em&gt;bulan Januari 2002, dalam artikel “The World of Islam”, mengemukakan: &lt;em&gt;Some 1.3 billion human beings, a fifth of mankind, embracing Islam that make it the fastest growing on Earth, with 80 percent of believers now outside the Arab world &lt;/em&gt;(“Sekitar 1,3 miliar jiwa, seperlima umat manusia, memeluk Islam yang menjadikannya agama yang paling cepat pertumbuhannya di Bumi, dengan 80 persen orang-orang beriman sekarang berada di luar dunia Arab”). Majalah termasyhur itu juga melaporkan bahwa umat Islam di Amerika Serikat pada tahun 2001 mencapai enam juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majalah &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, edisi 13 September 2003, terdapat hasil survei “Islam and the West” yang menyatakan bahwa umat Islam di muka bumi berjumlah 1,5 miliar jiwa (“&lt;em&gt;Around one in four of the people in the world are Muslims&lt;/em&gt;”), antara lain 196,3 juta di Indonesia (“&lt;em&gt;the world’s most populous Muslim country&lt;/em&gt;”), 133,1 juta di Cina, 26,7 juta di Rusia, dan 10,4 juta di belahan benua Amerika. “&lt;em&gt;It is indeed the world’s fastest-growing religion&lt;/em&gt;,” demikian komentar &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Majalah &lt;em&gt;Time&lt;/em&gt;, edisi 23 Mei 1988, dengan artikel berjudul “American Facing Toward Mecca”, mencatat jumlah 4.644.000 umat Islam pada saat itu serta lebih dari 600 buah &lt;em&gt;Islamic Center &lt;/em&gt;di seluruh Amerika Serikat. Lalu majalah terkemuka itu memperkirakan: &lt;em&gt;US Muslim are expected to surpass Jews in number and, in less than 30 years, become the country’s second largest  religious community after Christians &lt;/em&gt;(“Muslim Amerika Serikat diperkirakan akan melampaui umat Yahudi dalam jumlah penganut dan, dalam waktu kurang dari 30 tahun, menjadi komunitas agama terbesar kedua di negeri ini sesudah umat Nasrani”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan majalah &lt;em&gt;Time&lt;/em&gt; di atas kini makin mendekati kenyataan. Hal ini diakui oleh majalah Nasrani terbesar di Amerika Serikat, &lt;em&gt;Christianity Today&lt;/em&gt;, edisi bulan Maret 2005: &lt;em&gt;Words unfamiliar to most Americans are now heard daily on the evening news: jihad, Islam, Allah, Quran, fatwa, imam, ummah, Ramadan. Today, there are approximately seven million Muslims and more than 13000 mosques in North America. Now the Muslims are our neighbors  &lt;/em&gt;(“Kata-kata yang asing bagi kebanyakan orang Amerika kini terdengar setiap hari pada berita petang: jihad, Islam, Allah, Qur’an, fatwa, imam, ummah, Ramadhan. Hari ini, terdapat sekitar tujuh juta Muslim dan lebih dari 13000 masjid di Amerika Utara. Sekarang orang-orang Muslim merupakan para tetangga kita”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Shadaqa l-Laahu l-`azhiim.&lt;br /&gt;Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya&lt;/strong&gt;.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-7664235456337792687?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/7664235456337792687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=7664235456337792687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7664235456337792687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7664235456337792687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/09/tafsir-surat-ath-thariq.html' title='Tafsir Surat Ath-Thariq'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-7732379776453421497</id><published>2010-08-26T23:35:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T23:43:17.483-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENGENAL  AL-QUR’AN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN  ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Al-Qur’an berarti “bacaan” (dari kata &lt;em&gt;qara’a&lt;/em&gt;, “membaca”) dan juga berarti “kumpulan” (dari kata &lt;em&gt;qarana&lt;/em&gt;, “mengumpulkan”). &lt;br /&gt;Jadi Al-Qur’an adalah bacaan atau kumpulan wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui malaikat Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an tersusun dari 30 juz, 114 surat, 554 ruku` (`ain), 6236 ayat, 77.439 kata, 325.345 huruf. &lt;br /&gt;Huruf terbanyak: &lt;em&gt;alif&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;nun&lt;/em&gt;; huruf paling sedikit: &lt;em&gt;zha&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ghin&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;Surat terpanjang: Al-Baqarah (286 ayat). &lt;br /&gt;Ayat terpanjang: Al-Baqarah 282 (128 kata). &lt;br /&gt;Kata terpanjang: &lt;em&gt;fasqaynaakumuuh&lt;/em&gt; pada Al-Hijr 22 (10 huruf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga fungsi Al-Qur’an (2:185):&lt;br /&gt;(a) &lt;em&gt;Hudan li n-Naas &lt;/em&gt;(petunjuk hidup bagi manusia)&lt;br /&gt;(b) &lt;em&gt;Bayyinaat&lt;/em&gt; (keterangan, sumber informasi)&lt;br /&gt;(c) &lt;em&gt;Furqaan&lt;/em&gt; (pembeda, alat identifikasi benar dan salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu pertama: Surat al-`Alaq 1 – 5, diturunkan di Gua Hira’ pada malam Senin 17 Ramadhan 13 SH (Sebelum Hijrah) atau 6 Agustus 610 M.&lt;br /&gt;Wahyu terakhir: Surat al-Ma’idah 3, diturunkan di Arafah pada hari Jumat 9 Dzulhijjah 10 H atau 6 Maret 632 M.&lt;br /&gt;Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari menurut tarikh qamariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 6236 ayat Al-Qur’an, 4780 merupakan ayat-ayat Makkiyah (turun di Makkah), dan 1456 ayat-ayat Madaniyah (turun di Madinah). &lt;br /&gt;Dari 114 Surat dalam Al-Qur’an, 90 Surat turun di Makkah, dan hanya 24 Surat turun di Madinah yaitu Surat 2-5, 8, 9, 22, 24, 33, 47-49, 57-66, 98, 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat yang paling awal adalah: Al-`Alaq 1-5; Al-Qalam 1-4; Al-Mudatstsir 1-7; Al-Muzammil 1-5; Al-Fatihah (pertama turun lengkap satu Surat); Adh-Dhuha; Alam Nasyrah; Al-Fil; Quraisy; Wal-`Ashri. Inilah urutan sepuluh wahyu yang pertama turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas Surat-Surat Makkiyah: pendek, sangat berirama, berisikan ajaran tauhid dan akhlaq, memakai seruan &lt;em&gt;Yaa Ayyuhan-naas &lt;/em&gt;(“Wahai manusia”).&lt;br /&gt;Surat-surat yang mengandung ayat-ayat sumpah Allah, ayat-ayat sajdah, ayat-ayat &lt;em&gt;wa maa adraaka&lt;/em&gt; serta &lt;em&gt;kallaa&lt;/em&gt;, semuanya Makkiyah. &lt;br /&gt;Hampir semua Surat yang diawali huruf &lt;em&gt;muqatta`ah &lt;/em&gt;diwahyukan di Makkah kecuali Al-Baqarah dan Ali Imran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas Surat-Surat Madaniyah: panjang, menjurus ke prosa, berisikan ajaran syariah (hukum dan peraturan), memakai seruan &lt;em&gt;Yaa Ayyuhal-ladziina aamanuu &lt;/em&gt;(“Wahai orang-orang yang beriman”).&lt;br /&gt;Surat-surat yang menceritakan puasa, haji, pernikahan, warisan, peperangan, kaum munafiq dan ahlul-kitab (Yahudi dan Nasrani), semuanya Madaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh ayat Al-Qur’an yang diwahyukan Allah &lt;em&gt;dihafalkan&lt;/em&gt; oleh para shahabat dan &lt;em&gt;dicatat &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;dituliskan&lt;/em&gt;) pada kulit hewan, pelepah kurma, tulang, batu tipis, serta papan kayu. Dengan demikian, ayat-ayat Al-Qur’an &lt;em&gt;tidak ada yang terlupa atau hilang&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;tidak mungkin dipalsukan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632, Al-Qur’an masih tersebar dalam hafalan dan catatan para shahabat. Baru pada tahun berikutnya, di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Shiddiq (632-634), Al-Qur’an mulai dikumpulkan dalam satu bundel (&lt;em&gt;mus-haf&lt;/em&gt;). Lalu pada tahun 650, di masa Khalifah Utsman ibn Affan (644-656), penulisan Al-Qur’an dibakukan (termasuk cara membacanya dalam logat Quraisy berupa tajwid) dan dikenal sebagai &lt;em&gt;Mus-haf Utsmani&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian tanda &lt;em&gt;syakal&lt;/em&gt; (pembeda vokal dan huruf mati) kepada tulisan Al-Qur’an dilakukan oleh Abul-Aswad ad-Du’ali pada tahun 675 atas perintah gubernur Basrah, Ziyad ibn Samiyah, di masa Khalifah Mu`awiyah ibn Abi Sufyan (661-680).&lt;br /&gt;Pemberian tanda &lt;em&gt;i’jam &lt;/em&gt;(titik pembeda huruf) dilakukan oleh Nashir ibn Ashim pada tahun 696 atas perintah gubernur Irak, Hajjaj ibn Yusuf, di masa Khalifah Abdul-Malik ibn Marwan (685-705).&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 718 (100 H) Al-Qur’an dibagi menjadi 30 Juz atas perintah Khalifah Umar ibn Abdil-Aziz (717-721), agar dapat ditamatkan pembacaannya pas satu bulan selama Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an yang digunakan mayoritas umat Islam, termasuk kita di Indonesia, memakai qira’at &lt;em&gt;HAFSH &lt;/em&gt;ibn Sulaiman al-Kufi (709-796) dari Ashim ibn Abunnujud al-Asadi (671-745), yang memperoleh bacaan itu dari 80-an tabi`in (generasi sesudah shahabat) yang belajar kepada para shahabat, antara lain Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas`ud, dan Zaid ibn Tsabit.&lt;br /&gt;Umat Islam di kawasan Afrika Utara dan Afrika Barat memakai qira’at &lt;em&gt;WARSY&lt;/em&gt; ibn Sa`id al-Mishri (727-812) dari Nafi` ibn Abdurrahman al-Madani (689-785), yang memperoleh bacaan itu dari 70-an tabi`in yang belajar kepada para shahabat, antara lain Umar ibn Khattab, Abdullah ibn Abbas, Abu Hurairah, dan Ubayy ibn Ka`b.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-7732379776453421497?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/7732379776453421497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=7732379776453421497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7732379776453421497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7732379776453421497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/08/mengenal-al-quran.html' title='Mengenal Al-Qur&apos;an'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-5312154034365272090</id><published>2010-07-30T05:04:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T05:13:25.133-07:00</updated><title type='text'>Hisab dan Ru'yah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEMAHAMI METODE HISAB DAN RU’YAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ADA DUA MACAM METODE yang dipakai umat Islam dalam penetapan awal Ramadhan (memulai ibadah puasa) dan awal Syawwal (merayakan Idulfitri). &lt;br /&gt;Pertama, metode &lt;strong&gt;hisab&lt;/strong&gt;, yaitu &lt;em&gt;menghitung&lt;/em&gt; munculnya hilal secara ilmiah (perhitungan astronomis), dan menetapkan tanggal satu ketika hilal sudah “di atas ufuk” meskipun belum dapat terlihat oleh mata. &lt;br /&gt;Kedua, metode &lt;strong&gt;ru’yah&lt;/strong&gt;, yaitu &lt;em&gt;melihat&lt;/em&gt; langsung hilal dengan mata, dan menetapkan tanggal satu ketika hilal sudah “dapat terlihat oleh mata”. Jika hilal belum terlihat, meskipun sudah di atas ufuk, bulan yang sedang berjalan digenapkan 30 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun berbeda metode, umat Islam pada umumnya memulai ibadah puasa dan merayakan Idulfitri pada hari yang sama, sebab biasanya hilal sudah di atas ufuk dan juga sudah terlihat oleh mata. Akan tetapi, ada masa-masa tertentu di mana hilal menurut perhitungan ilmiah &lt;em&gt;sudah&lt;/em&gt; di atas ufuk, tetapi posisinya masih rendah sehingga &lt;em&gt;belum&lt;/em&gt; dapat terlihat oleh mata. Jika terjadi keadaan seperti ini, maka para pengguna metoda hisab akan memulai ibadah puasa atau merayakan Idulfitri &lt;strong&gt;sehari lebih dahulu &lt;/strong&gt;dari saudara-saudaranya para pengguna metode ru’yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman modern sekarang di mana pengetahuan astronomi sudah sangat maju sehingga peredaran bumi, bulan dan matahari dapat dihitung secara ilmiah dan sampai hitungan detik tidak mungkin salah, sudah sewajarnya kita menggunakan metode hisab! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda: &lt;em&gt;Shuumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatih. Fa in ghubiya `alaikum, fa akmiluu `iddata sya`baana tsalaatsiin&lt;/em&gt; (“Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu karena melihatnya. Jika tertutup bagi kamu, sempurnakanlah bilangan Sya`ban 30 hari”). Tetapi &lt;em&gt;`illat &lt;/em&gt;(alasan) beliau menyuruh demikian adalah karena ru’yah itulah sarana yang mudah dan praktis pada saat itu. Ilmu astronomi pada zaman Rasulullah s.a.w. belum secanggih sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sekarang menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal dengan metode hisab, bukan berarti kita tidak mengikuti Hadits Nabi. Kita tetap melaksanakan ru’yah, cuma bukan ru’yah dengan mata melainkan &lt;strong&gt;ru’yah dengan ilmu!&lt;/strong&gt; Kata kerja &lt;em&gt;ra’aa, yaraa &lt;/em&gt;dalam bahasa Arab bukan hanya berarti ‘melihat’, tetapi juga dapat berarti ‘memperhatikan, menyelidiki, meneliti’. Selain menurunkan kata &lt;em&gt;ru’yah&lt;/em&gt;, kata kerja &lt;em&gt;ra’aa&lt;/em&gt; juga menurunkan kata &lt;em&gt;ra’yu&lt;/em&gt; yang berarti ‘pemikiran, opini’.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metode hisab merupakan aplikasi Firman Allah dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia menetapkan tahap peredaran bagi bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab (perhitungan). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaum yang berpengetahuan&lt;/em&gt;” (Yunus 5).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Tidaklah mungkin matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya&lt;/em&gt;” (Yasin 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “&lt;em&gt;Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan&lt;/em&gt;” (Ar-Rahman 5).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, metode ru’yah hanya dipakai untuk menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal saja. Dalam penentuan awal bulan-bulan yang lain (Muharram, Shafar, dst.), tidak pernah ada yang mengintip hilal. Jika konsekuen memakai metode ru’yah, mustahil kita membuat kalender, sebab setiap menjelang awal bulan harus melihat hilal terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalender Hijriyah yang kita pakai setiap tahun dibuat dengan metode hisab! Menteri Agama tidak pernah mengundang para ulama mengadakan sidang &lt;em&gt;itsbat&lt;/em&gt; (konfirmasi) untuk membahas kapan waktunya Tahun Baru Hijriyah, sebab tanggal 1 Muharram (juga 1 Shafar, 1 Rabi`ul-Awwal, dst.) dapat dihitung secara ilmiah jauh-jauh hari sebelumnya tanpa harus melihat hilal. Demikian pula waktu sholat kita setiap hari (awal zhuhur, asar, magrib, isya, shubuh) ditentukan dengan metode hisab dan dibuat untuk jadwal sholat satu tahun tanpa harus melihat matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut metode hisab, konjungsi (&lt;em&gt;ijtima`&lt;/em&gt;) terjadi Selasa 10 Agustus 2010 pukul 10.09 WIB. Saat matahari terbenam hilal sudah lebih dari dua derajat di atas ufuk, sehingga dapat terlihat jelas oleh mata. Jadi baik menurut metode hisab maupun metode ru’yah, &lt;strong&gt;1 Ramadhan jatuh pada Rabu 11 Agustus 2010&lt;/strong&gt;. Jadi malam Rabu sudah mulai shalat tarawih sebab sudah masuk bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konjungsi berikutnya terjadi Rabu 8 September 2010 pukul 17.31 WIB. Saat matahari terbenam hilal belum wujud (masih di bawah ufuk), sehingga Kamis 9 September merupakan hari terakhir bulan Ramadhan. Posisi hilal pada Kamis petang sudah cukup tinggi, sehingga terlihat mata. Jadi &lt;strong&gt;1 Syawwal (Idulfitri) jatuh pada Jumat 10 September 2010&lt;/strong&gt; baik menurut metode hisab maupun metode ru’yah.*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BULAN, APA BETUL KAU SULIT DILIHAT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;TAUFIQ ISMAIL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;dibacakan di Masjid Salman ITB pada Ramadhan 1429&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatan tak kelihatan&lt;br /&gt;Bulan terus meluncur di garis pelayangan&lt;br /&gt;Berabad-abad dalam peredaran&lt;br /&gt;Sangat patuhnya tak ada penyimpangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlayar di angkasa berdua dengan matahari&lt;br /&gt;Jadwal tanpa selisih sepersepuluh detik pun selama ini&lt;br /&gt;Yang satu menyiramkan cahaya, yang lain membuat indah bumi&lt;br /&gt;Bergilir siang dan malam tanpa saling mendahului&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlayar di angkasa berziliun dengan bintang galaksi raya&lt;br /&gt;Lihat mereka tawaf sangat teratur di alam semesta&lt;br /&gt;Beredar amat cantiknya dengan logika matematika&lt;br /&gt;Dalam disiplin dingin dan jelasnya ritma&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak tiga belas tahun di bulan Sya`ban&lt;br /&gt;Menjelang suatu magrib berseru kepada bulan&lt;br /&gt;“Rembulan, adakah lagi teka-teki yang akan kau suguhkan&lt;br /&gt;Tentang hari apa gerangan, awal dan akhir Ramadhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu memasang teleskop ketika rembulan melihat ke bumi&lt;br /&gt;Di kalbunya sedang tumbuh iman, di otaknya ilmu astronomi&lt;br /&gt;“Anak muda, saya tak pernah suka berteka-teki&lt;br /&gt;Saya dapat perintah berlayar, arah sampai detikku sangat pasti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatan tak kelihatan&lt;br /&gt;Bulan terus meluncur di garis pelayangan&lt;br /&gt;Berpuluh abad dalam peredaran&lt;br /&gt;Sangat patuhnya tak ada penyimpangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu mengatur lensa lalu mengintip bintang-gemintang&lt;br /&gt;Kemudian dengan bulan terus berdiskusi&lt;br /&gt;“Rembulan, kenapa ketika harus terbit sebagai sabit&lt;br /&gt;Kamu sesekali tak nampak, apakah bersembunyi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan tertawa di atas sana, hampir saja nampak giginya&lt;br /&gt;“Di langit kok sembunyi, bagaimana ini&lt;br /&gt;Setiap tanggal satu saya selalu melapor tepat di tempat&lt;br /&gt;Dan swear, melanggar perintah saya takut sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatan tak kelihatan&lt;br /&gt;Bulan terus meluncur di garis pelayangan&lt;br /&gt;Beratus abad dalam peredaran&lt;br /&gt;Sangat patuhnya tak ada penyimpangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak mengamati catatannya, angka-angka astronomi&lt;br /&gt;Melalui lensa ruang angkasa malam hari dia amati&lt;br /&gt;“Tapi kenapa terkadang bentuk sabitmu tak kelihatan&lt;br /&gt;Wahai rembulan yang dinanti-nantikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecil sekali bentukku sebagai sabit, terbit di kaki langit&lt;br /&gt;Sudutnya sangat rendah dan bila langit tak cerah&lt;br /&gt;Misalkan ada kabut selayang dan awan secercah&lt;br /&gt;Wajah sabitku saat itu jadi tertutuplah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatan tak kelihatan&lt;br /&gt;Bulan terus meluncur di garis pelayangan&lt;br /&gt;Beribu abad dalam peredaran&lt;br /&gt;Sangat patuhnya tak ada penyimpangan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Al-Biruni kecil tetap saja penasaran&lt;br /&gt;Dia masih juga mengajukan pertanyaan&lt;br /&gt;“Apakah terdapat perbedaan situasi&lt;br /&gt;Cakrawala empat belas abad lalu dengan kini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja keadaannya berbeda sekali&lt;br /&gt;Dahulu langit sangat jernih tak ada cemar polusi&lt;br /&gt;Seimbang luar biasa secara fisika dan kimiawi&lt;br /&gt;Paling-paling sesekali awan dan kabut tebal melapisi&lt;br /&gt;Kini berjuta pabrik dan kendaraan memuntahkan emisi&lt;br /&gt;Ratusan jenis gas limbah jadi tabir menghalangi&lt;br /&gt;Terapung-apung di atas kulit bumi&lt;br /&gt;Kaki langit tidak sebersih dahulu lagi&lt;br /&gt;Seperti ada selaput tipis menabiri&lt;br /&gt;Sehingga terhalang pandang bulan sabit pertama hari&lt;br /&gt;Itulah yang kamu kira saya tak menampakkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatan tak kelihatan&lt;br /&gt;Bulan terus meluncur di garis pelayangan&lt;br /&gt;Berpuluh ribu abad dalam peredaran&lt;br /&gt;Sangat patuhnya tak ada penyimpangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih rembulan, menarik benar diskusi ini,”&lt;br /&gt;Ujar sang cendekia muda di ujung teropong bintangnya&lt;br /&gt;“Banyak soal jadi jelas sekarang bagi saya, makasih ya&lt;br /&gt;Sekarang apa rencanamu, wahai rembulanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan yang bijak itu tersenyum kini&lt;br /&gt;“Wah, kamu meledek saya, anak bumi&lt;br /&gt;Tentu saja saya terus melayang tak henti-henti&lt;br /&gt;Berdua dengan sejoli saya sang matahari&lt;br /&gt;Berziliun dengan gemintang raya di galaksi&lt;br /&gt;Di garis edar yang ditentukan Maha Pencipta Semesta ini&lt;br /&gt;Di setiap titik ruang angkasa jadwal kami sudah pasti&lt;br /&gt;Bermilyar kilometer berjuta tahun cahaya kami jalani&lt;br /&gt;Tidak ada kosakata berhenti bagi kami&lt;br /&gt;Kecuali bila datang perintah dari Yang Maha Tinggi&lt;br /&gt;‘Berhenti!’&lt;br /&gt;Dan kiamat pun jadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Rembulan! Tunggu!&lt;br /&gt;Jadi kalau kiamat nanti&lt;br /&gt;Kamu tidak ada lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada, anak bumi, tidak ada lagi&lt;br /&gt;Masa dinas saya selesai sudah, kita tak ketemu lagi&lt;br /&gt;Karena itu, puas-puaskan melihat wajah saya ini&lt;br /&gt;Tulislah agak sebaris puisi&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dah-daah&lt;/em&gt;, anak bumi!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-5312154034365272090?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/5312154034365272090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=5312154034365272090' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5312154034365272090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5312154034365272090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/07/hisab-dan-ruyah.html' title='Hisab dan Ru&apos;yah'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-5808463027067268042</id><published>2010-06-10T19:39:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T18:57:31.605-07:00</updated><title type='text'>Piala Dunia FIFA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PIALA DUNIA FIFA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  I&lt;/strong&gt; (Uruguay, 13 – 30 Juli 1930)&lt;br /&gt;13 negara peserta: Belgia, Perancis, Rumania, Yugoslavia, Amerika Serikat, Argentina, Bolivia, Brasil, Chile, Meksiko, Paraguay, Peru, Uruguay.&lt;br /&gt;Semifinal:  Uruguay – Yugoslavia  6 – 1;  Argentina – Amerika Serikat   6 – 1 &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Final:  Uruguay – Argentina  4 – 2 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  II &lt;/strong&gt;(Italia, 27 Mei – 10 Juni 1934)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Austria, Belanda, Belgia, Cekoslowakia, Hongaria, Italia, Jerman, Perancis, Rumania, Spanyol, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Mesir.&lt;br /&gt;Semifinal:  Italia – Austria  1 – 0;  Cekoslowakia – Jerman   3 – 1 &lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Jerman – Austria  3 – 2; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Italia – Cekoslowakia  2 – 1 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  III &lt;/strong&gt;(Perancis, 4 – 19 Juni 1938)&lt;br /&gt;15 negara peserta: Belanda, Belgia, Cekoslowakia, Hongaria, Italia, Jerman, Norwegia, Perancis, Polandia, Rumania, Swedia, Swiss, Brasil, Kuba, Indonesia (Hindia Belanda).&lt;br /&gt;Seharusnya 16 negara, tapi Austria tidak jadi ikut karena dicaplok Hitler!&lt;br /&gt;Semifinal:  Italia – Brasil  2 – 1;  Hongaria – Swedia  5 – 1 &lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Brasil – Swedia  4 – 2; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Italia – Hongaria  4 – 2 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  IV &lt;/strong&gt;(Brasil, 24 Juni – 16 Juli 1950)&lt;br /&gt;13 negara peserta: Inggris, Italia, Spanyol, Swedia, Swiss, Yugoalavia, Amerika Serikat, Bolivia, Brasil, Chile, Meksiko, Paraguay, Uruguay.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Final:  Uruguay – Brasil  2 – 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  V&lt;/strong&gt; (Swiss, 16 Juni – 4 Juli 1954)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Austria, Belgia, Cekoslowakia, Hongaria, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Skotlandia, Swiss, Turki, Yugoslavia, Brasil, Meksiko, Uruguay, Korea Selatan&lt;br /&gt;Semifinal:  Jerman – Austria  6 – 1;  Hongaria – Uruguay  4 – 2 &lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Austria – Uruguay  3 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final: Jerman – Hongaria  3 – 2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  VI &lt;/strong&gt;(Swedia, 6 – 29 Juni 1958)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Austria, Cekoslowakia, Hongaria, Inggris, Irlandia Utara, Jerman, Perancis, Skotlandia, Swedia, Uni Soviet, Wales, Yugoslavia, Argentina, Brasil, Meksiko, Paraguay.&lt;br /&gt;Semifinal:  Brasil – Perancis  5 – 2;  Swedia – Jerman  3 – 1&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Perancis – Jerman  6 – 3; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Brasil – Swedia  5 – 2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  VII &lt;/strong&gt;(Chile, 31 Mei – 19 Juni 1962)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Bulgaria, Cekoslowakia, Hongaria, Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Swiss, Uni Soviet, Yugoslavia, Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Uruguay.&lt;br /&gt;Semifinal:  Brasil – Chile  4 – 2;   Cekoslowakia – Yugoslavia  3 – 1&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Chile – Yugoslavia  1 – 0; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Brasil – Cekoslowakia  3 – 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  VIII &lt;/strong&gt;(Inggris, 11 – 30 Juli 1966)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Bulgaria, Hongaria, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Portugal, Spanyol, Swiss, Uni Soviet, Argentina, Brasil, Chile, Meksiko, Uruguay, Korea Utara.&lt;br /&gt;Semifinal:  Inggris – Portugal  2 – 1;  Jerman – Uni Soviet  2 – 1&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Portugal – Uni Soviet  2 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Inggris – Jerman  4 – 2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  IX &lt;/strong&gt;(Meksiko, 31 Mei – 21 Juni 1970)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Inggris, Italia, Jerman, Rumania, Swedia, Uni Soviet, Brasil, Elsalvador, Meksiko, Peru, Uruguay, Maroko, Israel.&lt;br /&gt;Semifinal:  Brasil – Uruguay  3 – 1;  Italia – Jerman  4 – 3&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Jerman – Uruguay  1 – 0; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Brasil – Italia  4 – 1 &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  X&lt;/strong&gt; (Jerman, 13 Juni – 7 Juli 1974)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Belanda, Bulgaria, Italia, Jerman, Jerman Timur, Polandia, Skotlandia, Swedia, Yugoslavia, Argentina, Brasil, Chile, Haiti, Uruguay, Zaire, Australia&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Polandia – Brasil  1 – 0; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Jerman – Belanda  2 – 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XI &lt;/strong&gt;(Argentina, 1 – 25 Juni 1978)&lt;br /&gt;16 negara peserta: Austria, Belanda, Hongaria, Italia, Jerman, Perancis, Polandia, Skotlandia, Spanyol, Swedia, Argentina, Brasil, Meksiko, Peru, Tunisia, Iran.&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Brasil – Italia  2 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Argentina – Belanda  3 – 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XII &lt;/strong&gt;(Spanyol, 13 Juni – 11 Juli 1982)&lt;br /&gt;24 negara peserta: Austria, Belgia, Cekoslowakia, Hongaria, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Perancis, Polandia, Skotlandia, Spanyol, Uni Soviet, Yugoslavia, Argentina, Brasil, Chile, Elsalvador, Honduras, Peru, Aljazair, Kamerun, Kuwait, Selandia Baru.&lt;br /&gt;Semifinal:  Italia – Polandia  2 – 0;  Jerman – Perancis  3 – 3 (8 – 7)&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Polandia – Perancis  3 – 2; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Italia – Jerman  3 – 1&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XIII &lt;/strong&gt;(Meksiko, 31 Mei – 29 Juni 1986)&lt;br /&gt;24 negara peserta: Belgia, Bulgaria, Denmark, Hongaria, Inggris, Irlandia Utara, Italia, Jerman, Perancis, Polandia, Portugal, Skotlandia, Spanyol, Uni Soviet, Argentina, Brasil, Kanada, Meksiko, Paraguay, Uruguay, Aljazair, Maroko, Irak, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Argentina – Belgia  2 – 0;  Jerman – Perancis  2 – 0&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Perancis – Belgia  4 – 2; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Argentina – Jerman  3 – 2 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XIV &lt;/strong&gt;(Italia, 8 Juni – 8 Juli 1990)&lt;br /&gt;24 negara peserta: Austria, Belanda, Belgia, Cekoslowakia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Rumania, Skotlandia, Spanyol, Swedia, Uni Soviet, Yugoslavia, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Kolombia, Kosta Rika, Uruguay, Kamerun, Mesir, Emirat Arab, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Jerman – Inggris  4 – 3;  Argentina – Italia  4 – 3&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Italia – Inggris  2 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Jerman – Argentina  1 – 0&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XV &lt;/strong&gt;(Amerika Serikat, 17 Juni – 17 Juli 1994)&lt;br /&gt;24 negara peserta: Belanda, Belgia, Bulgaria, Irlandia, Italia, Jerman, Norwegia, Rumania, Rusia, Spanyol, Swedia, Swiss, Yunani, Amerika Serikat, Argentina, Bolivia, Brasil, Kolombia, Meksiko, Kamerun, Maroko, Nigeria, Arab Saudi, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Brasil – Swedia  1 – 0;  Italia – Bulgaria  2 – 1&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Swedia – Bulgaria  4 – 0; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Brasil – Italia  0 – 0 (3 – 2)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XVI &lt;/strong&gt;(Perancis, 10 Juni – 12 Juli 1998)&lt;br /&gt;32 negara peserta: Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Denmark, Inggris, Italia, Jerman, Kroasia, Norwegia, Perancis, Rumania, Yugoslavia, Skotlandia, Spanyol, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Chile, Jamaika, Kolombia, Meksiko, Paraguay, Afrika Selatan, Kamerun, Maroko, Nigeria, Tunisia, Arab Saudi, Iran, Jepang, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Perancis – Kroasia  2 – 1;  Brasil – Belanda  1 – 1 (4 – 2)&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Kroasia – Belanda  2 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Perancis – Brasil  3 – 0&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XVII &lt;/strong&gt;(Korea-Jepang, 31 Mei – 30 Juni 2002)&lt;br /&gt;32 negara peserta: Belgia, Denmark, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Kroasia, Perancis, Polandia, Portugal, Rusia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Turki, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Ekuador, Kosta Rika, Meksiko, Paraguay, Uruguay, Afrika Selatan, Kamerun, Nigeria, Senegal, Tunisia, Arab Saudi, China, Jepang, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Brasil – Turki  1 – 0;  Jerman – Korea Selatan  1 – 0&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Turki – Korea Selatan  3 – 2; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:  Brasil – Jerman  2 – 0 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XVIII &lt;/strong&gt;(Jerman, 9 Juni – 10 Juli 2006)&lt;br /&gt;32 negara peserta: Belanda, Ceska, Inggris, Italia, Jerman, Kroasia, Perancis, Polandia, Portugal, Serbia, Spanyol, Swedia, Swiss, Ukraina, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Ekuador, Kosta Rika, Meksiko, Paraguay, Trinidad-Tobago, Angola, Ghana, Pantai Gading, Togo, Tunisia, Arab Saudi, Australia, Iran, Jepang, Korea Selatan.&lt;br /&gt;Semifinal:  Italia – Jerman  2 – 0;  Perancis – Portugal  1 – 0&lt;br /&gt;Tempat ketiga:  Jerman – Portugal  3 – 1; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Final:&lt;/strong&gt;  &lt;strong&gt;Italia – Perancis  1 – 1 (5 – 3)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XIX &lt;/strong&gt;(Afrika Selatan, 11 Juni – 11 Juli 2010)&lt;br /&gt;32 negara peserta: Belanda, Denmark, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Portugal, Serbia, Slovenia, Slowakia, Spanyol, Swiss, Yunani, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Chile, Honduras, Meksiko, Paraguay, Uruguay, Afrika Selatan, Aljazair, Ghana, Kamerun, Nigeria, Pantai Gading, Australia, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Selandia Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PIALA DUNIA  XX &lt;/strong&gt;(Brasil, 2014)       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA DATA PIALA DUNIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NEGARA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbanyak ikut Piala Dunia: Brasil (19 kali; satu-satunya yang tidak pernah absen)&lt;br /&gt;Terbanyak jadi juara: Brasil (5 kali, yaitu 1958, 1962, 1970, 1994, 2002)&lt;br /&gt;Terbanyak jadi finalis (dua besar): Brasil dan Jerman (7 kali)&lt;br /&gt;Terbanyak mencapai semifinal (empat besar): Jerman (11 kali)&lt;br /&gt;Terbanyak bertemu: Brasil-Swedia (1938, 1950, 1958, 1978, 1990, dua kali pada 1994)&lt;br /&gt;Terbanyak menang: Brasil (64 kali)&lt;br /&gt;Terbanyak membuat gol: Brasil (201 gol)&lt;br /&gt;Terbanyak kebobolan gol: Elsalvador (dikalahkan Hongaria 10-1 pada 1982)&lt;br /&gt;Terbanyak kebobolan gol dua belah pihak: Austria-Swiss (12 gol, skor 7-5 pada 1954)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INDIVIDU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terbanyak ikut Piala Dunia: Antonio Carbajal dari Mexico (1950, 1954, 1958, 1962, 1966) dan Lothar Matthaus dari Jerman (1982, 1986, 1990, 1994, 1998)&lt;br /&gt;Terbanyak ikut pertandingan: Lothar Matthaus dari Jerman (25 kali)&lt;br /&gt;Terbanyak ikut merebut Piala Dunia: Pele dari Brasil (1958, 1962, 1970)&lt;br /&gt;Terbanyak membuat gol: Ronaldo dari Brasil (15 gol total pada 1998, 2002, 2006)&lt;br /&gt;Terbanyak membuat gol pada sekali Piala Dunia: Just Fontaine dari Perancis (13 gol pada 1958)&lt;br /&gt;Terbanyak membuat gol pada sekali pertandingan: Oleg Salenko dari Rusia (5 gol ke gawang Kamerun pada 1994)&lt;br /&gt;Pencetak gol tercepat: Hakan Sukur dari Turki (11 detik, ketika melawan Korea tanggal 29 Juni 2002)&lt;br /&gt;Pencetak gol tercepat di final: Johan Neeskens dari Belanda (90 detik, ketika melawan Jerman di final tanggal 7 Juli 1974)&lt;br /&gt;Pencetak gol termuda: Pele dari Brasil (17 tahun) pada 1958&lt;br /&gt;Pencetak gol tertua: Roger Milla dari Kamerun (42 tahun) pada 1994&lt;br /&gt;Gol pertama Piala Dunia: Lucien Laurent dari Perancis ke gawang Meksiko pada 1930&lt;br /&gt;Gol ke-1000: Robbie Rensenbrink dari Belanda ke gawang Skotlandia pada 1978&lt;br /&gt;Gol ke-2000: Marcus Allback dari Swedia ke gawang Inggris pada 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INDONESIA DI PIALA DUNIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang agak sukar dipercaya, ternyata Indonesia pernah mewakili Asia di Piala Dunia III tahun 1938 di Perancis. Waktu itu Indonesia sedang dijajah Belanda, sehingga nama resmi negara kita di arena Piala Dunia adalah Dutch East Indies. Tetapi PSSI (Persatoean Sepakbola Seloeroeh Indonesia, didirikan tahun 1930) ikut menentukan susunan pemain yang dikirimkan ke Perancis, bersama-sama dengan NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie), badan resmi pemerintah kolonial yang mengurus sepakbola.&lt;br /&gt;Pada Piala Dunia III itu berlangsung sistem gugur: tim yang kalah langsung tersingkir. Indonesia kebagian main di hari pertama tanggal 4 Juni 1938. Sesudah acara pembukaan di pagi hari, sore harinya berlangsung dua partai: Swiss melawan Jerman di kota Paris, dan Hongaria melawan Indonesia di kota Reims.&lt;br /&gt;Para pemain Hongaria terdiri atas Hada (kiper), Koranyi, Biro, Lazar, Turai, Balogh, Sas, Zsengeller, Sarosi, Toldi, dan Kohut.&lt;br /&gt;Para pemain Indonesia terdiri atas Bing Mo Heng (kiper), Hu Kon, Samuels, Nawir, Meeng, Anwar Soetan, Hang Djin, Soedarmadji, Sommers, Pattiwael, dan Taihutti.&lt;br /&gt;Pertandingan yang dipimpin wasit Conrie dari Perancis itu berlangsung tidak seimbang, karena Hongaria sudah menjadi raksasa sepakbola saat itu. Indonesia disikat 6 – 0 (4 – 0 di babak awal), sehingga langsung tersingkir di hari pertama. Tetapi data sejarah ini jangan terlupakan: Indonesia pernah mewakili Asia di Piala Dunia, dan tidaklah mustahil sejarah akan berulang kembali!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-5808463027067268042?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/5808463027067268042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=5808463027067268042' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5808463027067268042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5808463027067268042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/06/piala-dunia-fifa.html' title='Piala Dunia FIFA'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-1113297481883026352</id><published>2010-05-20T05:43:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T21:10:17.499-07:00</updated><title type='text'>Renungan 20 Mei</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ISLAM MELAHIRKAN KESATUAN BANGSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DALAM AL-QUR’AN Surat Ibrahim ayat 34, Allah SWT berfirman: &lt;em&gt;wa in ta`udduu ni`mata l-Laahi laa tuhshuuhaa&lt;/em&gt; (“Dan jika sekiranya engkau hendak menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah engkau mampu menghinggakannya”). Di antara nikmat Allah yang tak terhingga banyaknya itu, nikmat yang paling besar bagi kita bangsa Indonesia adalah masuknya agama Islam ke tanah air kita beberapa abad yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tersebarnya Islam di tanah air kita tidaklah terjadi dengan kekerasan, melainkan secara damai, disebarkan oleh para pedagang dan para ulama yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Islam membawa gelombang modernisasi ke dalam masyarakat kita yang saat itu masih terkungkung dalam kepercayaan animisme dan politeisme, serta terhambat oleh stagnasi feodalisme dengan struktur kasta-kasta yang diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari ini bangsa Indonesia merupakan bangsa yang jumlah umat Islamnya paling banyak di permukaan planet ini. Dengan bangga kita katakan bahwa ajaran Islamlah yang mula-mula menanamkan rasa kesatuan kebangsaan yang ada sekarang. Islamlah yang pertama kali mempersatukan suku-suku bangsa yang berserak tersebar di seluruh Nusantara, 500 tahun sebelum dikumandangkannya Sumpah Pemuda tahun 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berkali-kali sejarah menunjukkan bahwa orang Islam dari suatu daerah dapat menjadi orang besar di daerah lain, meskipun pada masa itu paham “nasionalisme Indonesia” belum dikenal. Ajaran Islam menekankan bahwa kehidupan adalah iman dan amal saleh didasari takwa kepada Allah. Kepada orang tidaklah dipersoalkan apa bangsa dan sukunya, yang diperhatikan lebih dahulu adalah amal baktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kerajaan Islam yang pertama di Jawa adalah Kesultanan Demak. Di zaman Sultan Trenggono, datanglah seorang ulama dan ahli perang dari Aceh. Itulah Fatahillah, yang diangkat menjadi panglima perang Demak, menggempur armada Portugis di Sunda Kalapa, lalu mendirikan kota Jakarta. Ini baru satu contoh bahwa benih-benih persatuan bangsa telah ditanamkan Islam sejak abad ke-16! Tidak usah heran jika Ki Geding Suro, bangsawan Demak yang pergi ke Palembang, diterima dan diangkat menjadi raja pertama dari Kesultanan Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati Unus (sebutan Portugis untuk Adipati Yunus) dari Demak mengirimkan angkatan lautnya untuk mengusir Portugis yang telah menaklukkan Malaka. Sayang sekali balabantuan itu gagal karena kedudukan Portugis sudah terlalu kuat. Sekalipun demikian, pengharapan akan bantuan dari saudara-saudaranya di Jawa tetaplah tinggal dalam jiwa anak Melayu, sehingga timbul dari bibir mereka sebuah pantun: &lt;em&gt;Jika jatuh kota Melaka, mari di Jawa kita dirikan, jika sungguh bagai dikata, badan dan nyawa saya serahkan&lt;/em&gt;. Pantun ini telah beratus tahun menjadi dendang anak Melayu sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebaliknya orang-orang Melayu yang terpaksa meninggalkan negerinya yang diduduki Portugis mengembara sampai ke Kalimantan dan Sulawesi sambil menyebarkan agama Islam. Mereka dihormati sebagai saudara sesama Muslim. Demikian juga setelah Kerajaan Goa dan Tallo di Sulawesi Selatan menerima Islam pada awal abad ke-17, ulama-ulama Minangkabau dan Jawa Timur diterima dengan tangan terbuka. Mereka tidak dipandang sebagai pendatang, karena yang mereka bawa adalah cahaya Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika pengaruh Belanda masuk di Kerajaan Mataram, memberontaklah Trunojoyo, pahlawan dari Madura, terhadap Sunan Amangkurat I. Datang Karaeng Galesong dari Makassar menggabungkan diri dengan Trunojoyo untuk melawan Belanda. Tidak dikaji lagi apakah dia orang Madura atau Makassar, karena mereka telah diikat oleh akidah yang sama. Meskipun bahasa Madura lain dengan bahasa Makassar, mereka bertemu dalam bahasa Melayu yang telah berkembang pada saat itu sebagai bahasa persatuan di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syekh Yusuf Tajul-Khalwati ulama Makassar mengembara ke Banten, diangkat oleh Sultan Ageng Tirtayasa menjadi mufti kesultanan, dan bersama-sama berjuang melawan Belanda. Si Untung diberi gelar Surapati oleh Sultan Cirebon dan diberi gelar Wironegoro oleh Sultan Mataram, padahal dia asalnya budak dari Bali, tetapi karena dia telah Islam dan berjuang melawan Belanda, dia diterima menjadi bangsawan Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala usai Perang Diponegoro di Jawa, Belanda mengirim Sentot Ali Basyah ke Minangkabau untuk memerangi kaum Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Sesampainya di Minangkabau Sentot segera berbalik arah dan bersekutu dengan kaum Paderi, demi dilihatnya yang dihadapinya adalah saudara-saudaranya seagama. Lalu tokoh-tokoh GAM sekarang yang mungkin belum sepenuh hati bergabung ke pangkuan Republik Indonesia hendaklah ingat bahwa beberapa sultan Aceh ada yang berdarah Melayu atau Bugis, bahkan ada juga yang keturunan Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang kita uraikan ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, tetapi fakta-fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Karena Islam memang tidak membedakan apakah seseorang itu sultan dari Aceh ataukah budak dari Bali ataukah penjelajah lautan dari Bugis. Yang dihitung bukan darah dan keturunannya, tetapi bakti, takwa dan tujuan hidupnya. &lt;em&gt;Inna akramakum `inda l-Laahi atqaakum&lt;/em&gt;. “Sesungguhnya yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah yang paling takwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setiap sukubangsa mempunyai bahasa dan aksara sendiri-sendiri, mereka memakai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sebagai aksara persatuan, mereka mengambil huruf Arab. Karena huruf Arab tidak memiliki fonem &lt;em&gt;nga, nya, ca &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;, maka &lt;em&gt;`ain &lt;/em&gt;diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nga&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;nun&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;jim&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;ca;&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kaf&lt;/em&gt; diberi satu titik menjadi &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;. Dengan demikian, seluruh sukubangsa dari Aceh sampai Papua berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama. Cuma sayangnya, huruf yang pernah menjadi huruf persatuan Nusantara itu sekarang tidak terpelihara lagi. Di Malaysia huruf itu disebut huruf Jawi, tetapi di Jawa disebut huruf Melayu. Rupanya orang Melayu lempar ke Jawa, orang Jawa lempar ke Melayu, akhirnya tenggelam di Selat Malaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, ajaran Islam juga telah menanamkan modal yang paling besar dalam menentang imperialisme dan kolonialisme. Kekuatan jiwa untuk melawan penjajah, meskipun kekuatan senjata kadang-kadang tidak seimbang, disemangati oleh ajaran iman dan tauhid. Hampir semua pahlawan-pahlawan besar dalam sejarah perjuangan bangsa kita dibangkitkan oleh Islam. Jika kita susun nama-nama pahlawan, baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, niscaya Islamlah dasar perjuangan sebagian besar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Agung Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Aceh, Sultan Hasanuddin Makassar, Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, Sultan Khairun dan Babullah Ternate, dan lain-lain. Tidak ada semangat lain yang mendorong mereka berjuang melawan penjajah melainkan &lt;em&gt;Jihad Fi Sabilillah &lt;/em&gt;(Berjuang di Jalan Allah). Kemudian deretkanlah nama-nama yang kita agung-agungkan: Pangeran Abdulhamid Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Raden Intan, Teuku Umar Johan Pahlawan, Teuku Cik di Tiro, Kyai Mojo, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, Kyai Tapa, Ratu Bagus Buang, Panglima Polim, srikandi-srikandi Cut Nyak Din dan Cut Meutia, dan lain-lain. Masih banyak lagi para syuhada’ yang kekurangan tempat kalau disebutkan semuanya. Ternyata cahaya imanlah yang memancar dari lubuk sanubari mereka sehingga rela tampil melawan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah dengan pahlawan Pattimura dari Maluku yang beragama Kristen? Kalau orang membicarakan Pattimura, orang tidak dapat menghapus nama Sayid Parintah, ulama Islam dan guru dari Pattimura. Dialah yang mengobarkan semangat Pattimura melawan penjajah, sehingga kedua-duanya sama-sama naik tiang gantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tanah Batak kita mengenal pahlawan Si Singamangaraja XII. Beliau seorang Muslim, dikhitan dengan upacara adat di istana Bakkara, cap kerajaannya yang masih tersimpan bertuliskan huruf Batak dan huruf Arab yang bertarikh 1304 Hijriyah. Pada pertengahan abad ke-19 Belanda membuka pintu selebar-lebarnya bagi zending dan missi untuk berusaha mengkristenkan Tanah Batak, supaya terpecah dua kekuatan Islam di Sumatera, yaitu Aceh dan Minangkabau. Tahun 1865 pendeta Nommensen berhasil membaptis Raja Pontas Lumbantobing di Silindung. Maka pada tahun 1872 Raja Si Singamangaraja XII melancarkan jihad terhadap Belanda dan sekutu-sekutu lokalnya, sampai beliau syahid tahun 1907.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau kita tinjau kebangkitan nasional awal abad ke-20, sebenarnya tidaklah tepat kalau dikatakan dimulai dari organisasi Budi Utomo, yang bersifat lokal kejawaan dan dianggap “anak manis” oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemimpin nasional yang pertama-tama disambut oleh masyarakat di seluruh tanah air bukanlah Dr.Wahidin Sudirohusodo, melainkan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Syarikat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Syarikat Islam inilah, dengan semboyan “&lt;em&gt;kerso, kuwoso, mardiko&lt;/em&gt;”, yang pantas disebut pelopor kebangkitan nasional, sebab dalam kongresnya di Bandung tahun 1916 telah menyuarakan “kemerdekaan Hindia” dan para aktivisnya berasal dari berbagai suku, seperti Haji Agus Salim dari Minangkabau, Aruji Kartawinata dari Sunda, dan Abdul Muttalib Sangaji dari Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan kita yang masih muda, ajaran Islamlah yang mengobarkan jiwa seorang aktivis Pemuda Muhammadiyah memimpin angkatan perang Republik Indonesia melakukan perang gerilya. Itulah Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman yang tidak mengenal menyerah, sekalipun Presiden Sukarno sendiri sudah mengangkat bendera putih kepada Belanda. Kemudian kalimah takbir Allahu Akbar yang dikumandangkan oleh Bung Tomo melalui siaran radionya, itulah yang menggerakkan rakyat berbondong-bondong datang ke Surabaya untuk bertempur melawan Inggris dan NICA pada tanggal 10 November 1945, yang setiap tahun kita peringati sebagai Hari Pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era Orde Baru kita pernah merasakan adanya usaha-usaha yang mencoba untuk mengesampingkan peranan Islam dalam negara ini, agar orang Islam lupa akan sejarahnya sendiri. Kalaulah ada yang berusaha menonjol-nonjolkan Islam, maka datanglah tuduhan: ekstrim kanan! Supaya umat Islam tidak perlu lagi menyebut-nyebut Demak dan Walisongo. Yang perlu diingat ialah Mahapatih Gajah Mada. Lalu dihidupkan kembali suasana jahiliyah, mistik, primbon, wangsit, dan dikatakan inilah kepribadian asli Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era reformasi sekarang sekali-sekali masih terdengar juga wacana aneh yang mencoba mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan. Masih ada saja suara usil yang mengatakan bahwa pelaksanaan syariat Islam bertentangan dengan Pancasila dan dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal ajaran Islamlah yang paling besar sahamnya dalam mewujudkan kesatuan bangsa ini sejak berabad-abad sebelum “Sumpah Pemuda”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah lupa bahwa istilah “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang merupakan sila pertama dalam Pancasila kita merupakan usulan Ketua Umum Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo, ketika rumusan Pancasila difinalkan pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi. Sudah tentu Ki Bagus Hadikusumo bukan mendapatkannya dari yang lain-lain, tetapi dari akidah Islam &lt;em&gt;La ilaha illa llah &lt;/em&gt;(Tiada Tuhan melainkan Allah) dan &lt;em&gt;Qul huwa llahu ahad &lt;/em&gt;(Katakanlah: Dia Allah Yang Maha Esa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak sadar, dalam menyusun perlengkapan negara ini kita banyak mengambil dari perbendaharaan istilah Islam, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Masyarakat Adil Makmur, dan sebagainya. Mana kata yang bukan bahasa Al-Qur’an? Cuma imbuhannya saja yang asli bahasa nenek-moyang. Kelihatannya ini hal yang sepele. Tetapi mengapa kita memakai istilah-istilah ini? Karena itulah yang sesuai dengan selera bangsa Indonesia. Kapankah selera itu tertanam? Masya Allah, bukan kemarin, bukan sejak 17 Agustus 1945 atau 28 Oktober 1928, tetapi sudah beratus-ratus tahun jiwa Islam itu sudah tertanam dalam tubuh sebagian besar bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita resapkan dalam-dalam bunyi alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-1113297481883026352?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/1113297481883026352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=1113297481883026352' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1113297481883026352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1113297481883026352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/05/renungan-20-mei.html' title='Renungan 20 Mei'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-8293872113447282826</id><published>2010-04-25T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T05:24:17.241-07:00</updated><title type='text'>Asal-Usul Kehidupan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;EVOLUSI KIMIAWI DAN ASAL-MULA KEHIDUPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN  ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Dia mengeluarkan makhluk hidup dari benda mati dan mengeluarkan benda mati dari makhluk hidup. Itulah Allah! Mengapa kamu berpaling?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Al-Qur’an, Surat Al-An`am 95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BARANGKALI aspek yang paling menarik dari evolusi kehidupan di muka bumi adalah bahwa hal itu terjadi relatif cepat. Berbagai metode isotop radioaktif dalam menghitung usia batu-batu meteorit semuanya memberikan hasil yang sama: 4,6 miliar tahun. Oleh karena matahari, planet, asteroid, meteorit, komet dan benda langit lainnya dalam tatasurya terbentuk dari awan debu primordial yang sama pada waktu yang sama, maka 4,6 miliar tahun juga merupakan usia bumi kita. Batuan sedimen tertua di muka bumi yang diketahui adalah deposit &lt;em&gt;Fig Tree &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Onverwacht&lt;/em&gt; di Afrika Selatan, masing-masing berusia 3,6 dan 3,8 miliar tahun. Kedua deposit itu mengandung mikrofosil yang menyerupai bakteri. Jadi, kehidupan purba telah muncul di planet kita hanya lebih-kurang satu miliar tahun setelah pembentukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali lebih lama waktu yang diperlukan sebelum munculnya eukaryota (makhluk hidup yang selnya memiliki inti) dan makhluk hidup yang multiselular (bersel banyak). Proses-proses yang disebut terakhir ini mudah dipahami, sebab bukti-bukti fosil banyak terdapat. Adapun satu miliar halaman awal dalam buku sejarah bumi hampir hilang sama sekali. Kita harus menulis ulang tentang itu dari informasi pada halaman-halaman berikutnya dan kita harus beralih dari biologi ke ilmu kimia. Artikel ini akan menguraikan rekonstruksi tentang evolusi kehidupan selama semiliar tahun pertama yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagaimanakah kehidupan muncul di bumi? Seperti apakah wujud planet ini ketika proses itu bermula? Satu hal yang jelas: udara belum mengandung gas oksigen, sebab gas oksigen di udara sekarang ini merupakan hasil fotosintesis makhluk hidup yang berklorofil. Material-material organik yang harus terakumulasi sebagai bahan baku makhluk hidup tidak mungkin stabil dan segera mengalami pelapukan atau pembusukan dalam udara yang beroksigen. Kita yang sehari-hari menghirup oksigen dari udara cenderung lupa bahwa oksigen adalah gas beracun dan korosif, sehingga manusia dan makhluk hidup yang lain harus dilindungi oleh berbagai mekanisme kimiawi dalam tubuh mereka. Kebanyakan makhluk hidup ‘membakar’ makanan mereka dengan oksigen, sebab proses ini menghasilkan jauh lebih banyak energi daripada proses fermentasi anaerobik (tanpa oksigen) yang sederhana. Enzim-enzim seperti katalase, peroksidase dan superoksida-dismutase harus tersedia untuk melindungi makhluk hidup pengguna oksigen dari efek-efek samping yang berbahaya. Bakteri-bakteri anaerobik tidak mempunyai sistem perlindungan semacam ini, sehingga bagi mereka gas oksigen tidaklah berguna, bahkan justru mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Burdon Sanderson Haldane (1892-1964) dari Inggris merupakan ilmuwan pertama yang mengemukakan bahwa suatu &lt;em&gt;reducing atmosphere &lt;/em&gt;(udara tanpa oksigen) adalah keniscayaan bagi evolusi terbentuknya makhluk hidup. Ketika di udara belum ada gas oksigen, tentu belum ada juga lapisan ozon (molekul oksigen beratom tiga) di bagian atas atmosfer yang membendung radiasi ultraviolet dari matahari seperti sekarang ini. Radiasi ultraviolet yang menghujani permukaan bumi menyediakan energi untuk sintesis senyawa-senyawa organik dari molekul-molekul anorganik. Oleh karena di udara tidak ada gas oksigen yang dapat merusak mereka, senyawa-senyawa organik itu terakumulasi di samudera dengan aman sentosa sampai akhirnya, dalam kata-kata Haldane sendiri, “&lt;em&gt;the primitive oceans reached the consistency of hot dilute soup&lt;/em&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Haldane dipublikasikan dalam majalah ilmiah &lt;em&gt;Rationalist Annual &lt;/em&gt;tahun 1929, tetapi tidak ada ilmuwan lain yang menghiraukannya. Harold Clayton Urey (1893-1981) dari Amerika Serikat tahun 1953 menghidupkan kembali tesis Haldane. Urey dan mahasiswanya yang bernama Stanley Lloyd Miller (lahir 1930) melakukan eksperimen di Universitas Chicago untuk meneliti apakah energi yang tersedia tatkala bumi masih ‘bayi’ memungkinkan sintesis senyawa-senyawa organik dari gas-gas pada udara purba. Mereka berdua membuktikan bahwa bunga api listrik, simulasi laboratorium untuk kilat alamiah, dalam campuran hidrogen (H2), metana (CH4), amonia (NH3) dan air (H2O) ternyata menghasilkan senyawa-senyawa aldehida (RCHO), asam-asam karboksilat (RCOOH) dan asam-asam amino (RCHNH2COOH). Eksperimen-eksperimen itu, dan bermulanya eksplorasi ruang angkasa tahun 1960-an, membangkitkan kembali minat para ilmuwan terhadap asal-mula kehidupan serta kemungkinan eksistensi kehidupan di luar bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membagi masalah evolusi terbentuknya makhluk hidup dalam lima tahap: (1) pembentukan planet bumi, dengan gas-gas di udara yang merupakan bahan baku untuk kehidupan; (2) sintesis monomer-monomer (molekul-molekul dasar) seperti asam-asam amino, gula ribosa dan basa-basa organik; (3) penggabungan monomer-monomer tersebut menjadi rantai-rantai polimer seperti protein dan asam nukleat; (4) pemencilan tetesan-tetesan sup Haldane (&lt;em&gt;droplets of Haldane soup&lt;/em&gt;) yang memiliki identitas dan sistem kimianya sendiri; (5) pengembangan sistem regenerasi yang memastikan sel-sel turunan memiliki kapabilitas kimiawi dan metabolisme dari sel-sel induk. Ringkasnya, masalah tersebut meliputi bahan baku, monomer, polimer, isolasi dan reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAM SEMESTA secara keseluruhan tersusun atas hidrogen (92,8 persen) dan helium (7,1 persen), dengan sedikit sekali oksigen, karbon, nitrogen dan seluruh unsur-unsur lain. Dua fakta penting patut dicatat: kelimpahan suatu unsur umumnya berkurang dengan meningkatnya nomor atom (jumlah proton dalam inti atom), dan unsur yang bernomor atom genap umumnya lebih berlimpah daripada unsur tetangganya yang bernomor atom ganjil. Hal ini menunjukkan bahwa unsur yang lebih berat disintesis dari unsur yang lebih ringan, dan sintesis ini umumnya melibatkan penangkapan partikel alfa (inti helium) yang memiliki dua proton. Unsur-unsur yang bernomor atom genap lebih berlimpah karena terletak pada arus utama (&lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;) sintesis, dan unsur-unsur yang bernomor atom ganjil kurang berlimpah sebab mereka tersintesis oleh reaksi-reaksi sampingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besi dalam darah kita, kalsium dalam tulang dan gigi kita, serta oksigen yang memenuhi paru-paru setiap kali kita bernafas—pokoknya semua unsur selain hidrogen dan helium tercipta dalam bintang-bintang dan dihamburkan ke ruang angkasa ketika bintang-bintang itu menjadi ‘tua’ dan akhirnya musnah karena kehabisan bahan bakar hidrogen. Begitulah nasib matahari kita nanti sebagai salah satu bintang kecil di jagad raya! Tidaklah terlalu salah kalau ada manusia yang mengaku ‘keturunan langit’, sebab semua unsur penyusun tubuh kita memang dibuat di sana sebelum tatasurya kita muncul. Seperti kata ilmuwan-penulis Carl Sagan (1934-1996), “&lt;em&gt;We are stardust made flesh and were literally made in heaven&lt;/em&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari dan planet-planet tatasurya terbentuk dari awan gas dan partikel debu puing-puing bintang purba yang menjadi rapat akibat rotasi. Sebagian besar awan gas itu membentuk ‘calon matahari’ atau inti yang terkonsentrasi di pusat, dan awan-awan yang lebih kecil pada jarak yang bervariasi dari pusat menjadi titik-titik agregasi untuk pembentukan planet-planet. Planet-planet luar yang besar—Jupiter, Saturnus, Uranus and Neptunus—merupakan sampel dari komposisi awan asli yang membentuk tatasurya. Mereka tersusun dari hidrogen, helium, metana, amonia dan air. Planet-planet dalam yang kecil—Merkurius, Venus, Bumi dan Mars—lebih kaya dengan unsur-unsur berat dan miskin dengan gas-gas seperti helium dan neon, yang mudah melepaskan diri dari tarikan gravitasi planet-planet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi gravitasi yang rendah dan suhu yang tinggi menyebabkan hilangnya sebagian besar gas-gas dari bumi ke ruang angkasa segera setelah planet kita terbentuk. Untunglah oksigen segera terperangkap dalam bentuk mineral-mineral silikat yang tidak menguap, sehingga oksigen merupakan unsur penyusun kulit bumi yang paling berlimpah. Pada mulanya bumi kita sangat panas dan kering kerontang, tetapi benturan komet-komet segera menyuplai bumi dengan benda yang paling berharga, yaitu air. Permukaan bumi awalnya terlalu panas bagi air untuk berwujud cairan, tetapi lama-kelamaan suhu menurun sehingga uap air dapat berkondensasi membentuk samudera-samudera purba. Berbagai proses dalam kulit bumi seperti vulkanisme dan penguraian mineral-mineral menyebabkan pembebasan gas-gas yang membentuk atmosfer purba: nitrogen, hidrogen, uap air, metana, karbon dioksida, amonia, dan hidrogen sulfida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBENTUKAN MONOMER-MONOMER (molekul-molekul dasar) dari gas-gas di udara purba tidaklah diperdebatkan lagi oleh para ilmuwan, sebab reaksi-reaksinya dapat disimulasi di laboratorium. Stanley Miller membuat atmosfer buatan yang tersusun dari gas-gas hidrogen, metana, amonia dan air. Gas-gas ini disirkulasikan melalui bunga api listrik dan kemajuan proses dipantau dengan mengambil sampel dari wadah untuk dianalisis. Ternyata zat-zat hasil reaksi mencakup beberapa asam amino dan molekul-molekul lain yang merupakan penyusun makhluk hidup. Berbagai variasi eksperimen telah dicoba oleh para ilmuwan, seperti substitusi karbon dioksida untuk metana, nitrogen untuk amonia, dan radiasi ultraviolet untuk bunga api listrik. Semua eksperimen membuktikan bahwa asam-asam amino yang dimiliki makhluk hidup sekarang ini disintesis dari gas-gas pada udara purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ikuti tahap-tahap sintesis beberapa asam amino oleh bunga api listrik atau radiasi ultraviolet. Dengan mengikuti muncul dan hilangnya zat-zat selama eksperimen, Miller mengamati bahwa konsentrasi amonia segera berkurang dan atom-atom nitrogennya muncul kembali dalam wujud hidrogen sianida (HCN) dan sianogen (C2N2). Konsentrasi metana dan air juga berkurang lalu muncul senyawa-senyawa aldehida (RCHO). Kemudian asam amino disintesis dari aldehida melalui mekanisme yang dikenal oleh para ahli kimia sebagai ‘sintesis Strecker’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldehida mula-mula mengikat amonia dan melepaskan air untuk membentuk imina (RCH=NH); imina lalu mengikat hidrogen sianida membentuk aminonitril (RCHNO2CN). Asam-asam amino (RCHNH2COOH) kemudian dibentuk dari hidrolisis aminonitril, dengan penambahan dua molekul air dan pelepasan amonia. Pada zaman bumi purba, aminonitril disintesis di udara lalu terlarut dan dihidrolisis di samudera. Asam-asam hidroksi juga terbentuk oleh sintesis Strecker. Formaldehida (HCHO) diubah menjadi asam glikolat (HCHOHCOOH) dan glisin (HCHNH2COOH); asetaldehida (CH3CHO) diubah menjadi asam laktat (CH3CHOHCOOH) dan alanin (CH3CHNH2COOH). Serin (CH2OHCHNH2COOH) disintesis dengan kondensasi dua molekul formaldehida diikuti oleh sintesis Strecker. Jalur-jalur reaksi untuk sintesis 20 jenis asam amino dalam protein makhluk hidup telah diketahui dengan jelas oleh para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang menarik untuk direnungkan. Simulasi laboratorium tidak hanya menghasilkan asam-asam amino yang dikandung protein makhluk hidup, melainkan juga asam-asam amino yang tidak terdapat. Sebagai contoh, eksperimen Miller mensintesis tiga isomer asam amino dengan rumus C3H7NO2: alanin, beta-alanin dan sarkosin. Tetapi kenyataannya cuma alanin yang terdapat dalam protein makhluk hidup. Dari tiga isomer asam amino dengan rumus C5H11NO2: valin, isovalin dan norvalin, hanya valin yang muncul dalam protein sekarang. Tujuh isomer asam amino dengan rumus C4H9NO2 terbentuk pada eksperimen, tetapi tidak satu pun terpilih sebagai penyusun protein. Pertanyaan yang  menggoda: mengapa yang terpilih oleh kode genetika sebagai penyusun protein cuma 20 jenis asam amino yang sekarang, dan bukan asam-asam amino yang lain? Mungkinkah dahulu pernah ada alternatif yang lain, dengan kode genetika yang memberikan set asam-asam amino yang berbeda, lalu kemudian musnah tanpa jejak karena kalah berkompetisi dengan set asam-asam amino yang kini unggul? Inilah salah satu takdir Sang Pencipta yang agaknya di luar jangkauan ilmu pengetahuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik adalah bahwa simulasi laboratorium menghasilkan jumlah yang sama dari dua bentuk molekul asam amino yang‘optis-aktif’: molekul-molekul yang memutar cahaya terpolarisasi dalam arah berbeda dan selalu muncul dalam dua konfigurasi yang merupakan bayangan cermin antara satu sama lain. Masing-masing molekul ditandai dengan awalan D atau L, singkatan dari &lt;em&gt;dextro &lt;/em&gt;(kanan) dan &lt;em&gt;levo&lt;/em&gt; (kiri), yang menunjukkan arah rotasi dari cahaya terpolarisasi. Kenyataannya, seluruh makhluk hidup sekarang ini hanya memakai asam-asam L-amino, dan tidak pernah menggunakan asam-asam D-amino sebagai penyusun protein. Jadi jika pada tubuh seseorang ditemukan asam amino dalam bentuk D, orang itu patut dicurigai sebagai makhluk dari angkasa luar! Sekali lagi, pemilihan asam-asam amino bentuk L merupakan grand design dari Sang Pencipta yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhluk-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sintesis asam-asam nukleat, kita harus mempunyai monomer-monomer dua macam gula (ribosa untuk RNA dan deoksiribosa untuk DNA), fosfat dan dua macam basa organik (purin dan pirimidin). Gula ribosa disintesis di udara purba melalui beberapa tahap, tetapi reaksi totalnya sangat sederhana: lima molekul formaldehida (HCHO) bergabung untuk membentuk satu molekul ribosa (C5H10O5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara basa-basa organik, adenin (salah satu turunan purin) paling siap untuk disintesis di udara purba. Lima molekul hidrogen sianida (HCN) bergabung membentuk adenin (C5H5N5). Mula-mula empat molekul HCN membentuk diaminomaleonitril (CNNH2C=CNH2CN), zat antara untuk membentuk basa-basa organik yang lain, kemudian zat ini menambah satu HCN lagi menjadi adenin. Pada jalur reaksi yang berbeda, diaminomaleonitril mengalami hidrolisis, lalu dengan sianogen membentuk guanin, turunan purin lainnya. Para ilmuwan juga telah memahami sintesis basa-basa organik turunan pirimidin: urasil, timin (metil urasil) dan sitosin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika adenin bergabung dengan ribosa, hasilnya adalah adenosin. Dengan penambahan tiga gugus fosfat, terbentuklah adenosin trifosfat (ATP), molekul yang berfungsi sebagai ‘mata uang’ dalam pertukaran energi pada seluruh makhluk hidup.             ATP merupakan molekul pembawa energi yang efisien sebab reaksi hidrolisisnya menjadi adenosin difosfat (ADP) dan gugus fosfat akan membebaskan energi yang sangat besar. Menarik juga untuk direnungkan bahwa basa organik yang ditakdirkan Allah sebagai penyimpan energi adalah adenin. Mengapa bukan guanin, misalnya, yang bergabung dengan ribosa di udara purba dahulu, sehingga molekul penyimpan energi adalah guanosin trifosfat (GTP)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANAKAH POLIMER-POLIMER (molekul-molekul besar) terbentuk untuk pertama kalinya? Kita harus mampu memahami betapa suatu reaksi kimia yang memerlukan energi dan melepaskan air justru harus terjadi di lingkungan samudera! Setiap penggabungan monomer-monomer untuk memperpanjang rantai polimer selalu disertai pelepasan komponen air (H dan OH) dari ujung-ujung monomer yang bergabung. Oleh karena reaksi itu reversibel, lingkungan air akan mendorong reaksi ke kiri, lebih mengarah kepada hidrolisis daripada polimerisasi. Lebih jauh lagi, reaksi ke kiri membebaskan energi sehingga bersifat spontan, sedangkan reaksi polimerisasi justru memerlukan energi dan harus didorong ‘mendaki’ ke kanan. Ada dua cara untuk mendorong reaksi polimerisasi yang dikehendaki: memperbesar konsentrasi monomer-monomer atau memasangkan (&lt;em&gt;coupling&lt;/em&gt;) reaksi itu dengan reaksi lain yang membebaskan energi sehingga reaksi akan terdorong ke arah kanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi untuk mendorong reaksi-reaksi polimerisasi dalam tubuh makhluk hidup sekarang disediakan oleh molekul-molekul ATP. Pemasangan reaksi polimerisasi dengan reaksi yang membebaskan energi dilaksanakan oleh enzim-enzim. Pada samudera purba, sebelum enzim ada, senyawa polifosfat (polimer fosfat yang rantainya panjang) ternyata berperan dalam evolusi kehidupan, sebab hidrolisis polifosfat menjadi fosfat-fosfat akan membebaskan sejumlah besar energi. ATP sekarang pada hakikatnya adalah polifosfat kecil dengan ‘label’ adenin supaya dapat dikenali oleh enzim-enzim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Glikolisis (fermentasi anaerobik) merupakan cara paling tua dan paling universal untuk memperoleh energi yang kita jumpai pada kehidupan sekarang. Fungsinya adalah untuk memecah glukosa atau molekul sejenis dan menyimpan energi dalam bentuk ATP. Cara glikolisis pertama kali mungkin muncul sebagai respons atas makin terbatasnya polifosfat di alam, tatkala populasi organisme primitif makin berkembang melampaui ketersediaan polifosfat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar reaksi polimerisasi berlangsung, konsentrasi monomer-monomer harus diperbesar. Di pantai-pantai samudera purba, mekanisme ini melibatkan penyerapan molekul-molekul pada permukaan mineral tanah lempung (&lt;em&gt;clay&lt;/em&gt;). Tanah lempung tersusun dari lembaran-lembaran silikat bermuatan negatif yang diikat oleh ion-ion aluminium bermuatan positif, dengan lapisan-lapisan molekul air di antara lembaran-lembaran tersebut. Lapisan air ini memungkinkan molekul-molekul monomer untuk berdifusi ke dalam tanah lempung. Muatan-muatan positif dan negatif pada tanah lempung bukan hanya mengikat monomer-monomer yang datang, melainkan juga berfungsi sebagai katalis bagi reaksi polimerisasi dari monomer-monomer tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mekanisme di atas, asam-asam amino sebagai monomer-monomer mampu berikatan satu sama lain, sambung-menyambung menjadi suatu polimer yang kita sebut protein. Protein-protein purba yang baru terbentuk ini berakumulasi dalam tanah lempung selama bereon-eon dan akhirnya lambat laun lepas melumer lagi ke dalam larutan samudera, siap untuk mengalami reaksi lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polimerisasi pembentukan asam-asam nukleat lebih rumit dari pembentukan protein. Setiap molekul ribosa memiliki empat gugus hidroksil (-OH) yang dapat terlibat dalam pengikatan basa purin atau pirimidin serta dengan gugus fosfat yang menjembatani. Ikatan yang paling mudah terbentuk secara kimiawi adalah antara 5`-hidroksil pada suatu ribosa dengan 2`-hidroksil pada ribosa berikutnya. Tetapi kenyataannya semua asam nukleat (DNA dan RNA) sekarang memiliki ikatan 5`-3`, bukan 5`-2`! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan 5`-3` ternyata memiliki keunggulan signifikan terhadap ikatan 5`-2` untuk terpilih sebagai penyimpan informasi genetika, meskipun kurang favorit dari segi reaksi kimia. Di laboratorium para ilmuwan telah mencoba mengkonstruksi DNA dengan ikatan 5`-2`, tetapi ternyata tidak stabil dibandingkan dengan ikatan 5`-3`. Cara untuk menjamin agar ikatan 5`-2` tidak terbentuk adalah menghilangkan gugus 2`-hidroksi, dan inilah yang membuat DNA berbeda dengan RNA! Dengan demikian, ditinjau dari alasan kimiawi, besar kemungkinan DNA lebih tua atau lebih dahulu terbentuk dari RNA, dan RNA baru muncul setelah berkembangnya enzim-enzim yang mencegah hubungan terhadap gugus 2`-hidroksil.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU MAKHLUK HIDUP harus mengisolasi diri dari lingkungannya dengan semacam bidang permukaan yang menjadi batas luar dari tubuhnya. Segregasi materi dalam larutan menjadi tetesan-tetesan (&lt;em&gt;droplets&lt;/em&gt;) telah dipelajari oleh Alexander Ivanovich Oparin (1894-1980) dari Rusia. Dia meneliti kecenderungan suatu polimer dalam larutan untuk memisah secara spontan dalam wujud koaservat, yaitu tetesan-tetesan koloidal yang kaya akan polimer dan tersuspensi dalam lingkungan air. &lt;br /&gt;Oparin menemukan bahwa ketika dia menambahkan enzim fosforilase, enzim itu akan terkonsentrasi dalam tetesan-tetesan koaservat. Jika glukosa-1-fosfat ditambahkan ke dalam medium air, zat itu segera berdifusi ke dalam tetesan dan mengalami polimerisasi menjadi amilum dengan bantuan enzim sebagai katalis. Energi           untuk polimerisasi datang dari ikatan fosfat pada glukosa-1-fosfat. Senyawa fosfat anorganik dibebaskan kembali ke luar tetesan sebagai hasil buangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tetesan-tetesan koaservat tumbuh terlalu besar, mereka cenderung membelah secara spontan menjadi tetesan-tetesan baru, yang juga ikut tumbuh apabila menerima enzim fosforilase serta ‘makanan’ glukosa-1-fosfat. Jika enzim fosforilase dan enzim amilase sama-sama ditambahkan, kedua enzim ini terakumulasi dalam tetesan-tetesan. Glukosa-1-fosfat berdifusi ke dalam tetesan dan dipolimerisasikan menjadi amilum oleh fosforilase, kemudian amilase menguraikan amilum tersebut menjadi maltosa dan glukosa. Tetesan-tetesan itu terus berkembang dan membuahkan tetesan-tetesan baru selama ‘makanan’ ditambahkan secara kontinyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membayangkan bahwa sebelum sel-sel hidup muncul samudera purba dipenuhi oleh ‘tetesan-tetesan’ yang memiliki sifat-sifat kimia tertentu. Lambat laun dalam masa bereon-eon terjadilah suatu seleksi kimiawi yang memunculkan apa yang disebut Oparin dengan protobion, yaitu tetesan-tetesan yang berkemampuan mengambil molekul-molekul dan energi dari lingkungan mereka dan mengubahnya menjadi senyawa-senyawa yang menjamin kelestarian. Hal yang belum tersedia pada protobion adalah sistem reproduksi yang memungkinkan tetesan-tetesan baru mewarisi kemampuan biokimia yang sama dengan tetesan-tetesan induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENZIM yang pertama kali eksis mungkin sekali adalah rantai polimer itu sendiri. Beberapa reaksi polimerisasi memang cenderung bersifat autokatalitik: polimer yang dihasilkan akan mendorong terbentuknya polimer yang sama secara lebih banyak lagi. Asam nukleat pada mulanya bertindak sebagai ‘protoenzim’ sekaligus wadah (&lt;em&gt;template&lt;/em&gt;) bagi polimerisasi rantai protein, lalu protein yang terbentuk bertindak sebagai kulit (&lt;em&gt;skin&lt;/em&gt;) pelindung bagi koaservat asam nukleat. Jadi interaksi yang kooperatif antara protein dan asam nukleat telah berlangsung sejak asal mula kehidupan. Protein memainkan peranan struktural dan proteksi, sedangkan asam nukleat memainkan peranan katalis dan pengarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama antara protein dan asam nukleat ini lambat laun menghasilkan suatu mekanisme transkripsi (penyalinan) dan translasi (penerjemahan) genetika yang memungkinkan suatu protobion mampu mewariskan kemampuan biokimianya kepada keturunannya. Dan lahirlah untuk pertama kalinya suatu sel hidup yang memiliki kemampuan reproduksi. Pesan-pesan genetika ini pada gilirannya dapat mengalami perubahan akibat akumulasi kesalahan dalam penyalinan dan penerjemahan serta hasil mutasi langsung oleh radiasi dan zat-zat kimiawi pada lingkungan, sehingga suatu sel bukan hanya mampu melestarikan jenisnya melalui cara reproduksi, tetapi juga dapat berubah menjadi sel jenis lain dengan pesan genetika yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHAP-TAHAP yang telah kita uraikan mungkin dapat menjelaskan munculnya makhluk hidup yang pertama di muka bumi. Mereka adalah organisme bersel tunggal yang memiliki perlengkapan genetika komplit tetapi masih tergantung kepada molekul kaya-energi yang terbentuk oleh radiasi ultraviolet. Makhluk-makhluk hidup yang pertama ini sepenuhnya adalah konsumen zat-zat organik, dan bukan produsen. Sudah tentu lama-kelamaan persediaan makanan di alam lingkungan makin menipis, sehingga lambat laun akhirnya tercipta proses fotosintesis, yang memungkinkan makhluk-makhluk hidup tertentu mampu menangkap energi sinar matahari untuk membuat molekul-molekul kaya-energi. Organisme yang melakukan fotosintesis kini bertindak sebagai produsen zat-zat organik, bukan hanya sebagai konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotosintesis yang mula-mula tercipta menggunakan hidrogen sulfida (H2S) sebagai sumber atom hidrogen untuk mereduksi gas karbon dioksida yang berlimpah di udara purba. Proses ini sampai sekarang masih dilakukan oleh beberapa jenis bakteri. Pada saat bumi masih muda, hidrogen sulfida cukup banyak tersedia untuk bertindak sebagai zat reduktor yang ‘siap pakai’. Akan tetapi air (H2O) jauh lebih berlimpah, sehingga banyak organisme yang beralih menggunakan air sebagai sumber atom hidrogen dalam proses fotosintesis. Mereka berhasil menangkap energi sinar matahari untuk memecahkan molekul air dan atom hidrogennya dipakai untuk mereduksi karbon dioksida menjadi glukosa. Atom oksigen dari air dibuang ke udara dalam bentuk molekul gas oksigen (O2) sebagai hasil sampingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada proses fotosintesis, oksigen selalu terikat dalam bentuk senyawa, terutama dalam wujud senyawa air dan mineral-mineral pada kulit bumi. Sekali gas oksigen muncul sebagai unsur bebas, gas pendatang baru ini mengubah udara planet bumi dan memusnahkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya kehidupan dari bahan-bahan organik yang tidak hidup. Dengan kehadiran oksigen bebas (O2), baik sebagai gas di udara maupun terlarut dalam air, bahan-bahan organik akan cepat rusak atau terurai melalui proses oksidasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini uraian kita sampai kepada cyanobacteria, yang fosil nenek moyangnya terdapat pada sedimen di Afrika dengan usia sekurang-kurangnya 3,6 miliar tahun. Dua miliar tahun berikutnya berlangsung perubahan besar pada udara planet bumi: dari &lt;em&gt;reducing atmosphere&lt;/em&gt; yang tidak mengandung gas oksigen menjadi &lt;em&gt;oxydizing atmosphere&lt;/em&gt; di mana satu dari lima molekul di udara adalah gas oksigen. Salah satu konsekuensinya adalah terbentuknya lapisan ozon (O3) di bagian atas atmosfer yang secara drastis membendung radiasi ultraviolet ke permukaan bumi. Hal ini menyebabkan berakhirnya sintesis zat-zat organik melalui proses non-biologis. Selesailah sudah tahap evolusi kimiawi dalam pembentukan makhluk hidup. Pola kehidupan yang bersumber pada energi matahari muncul secara permanen di planet bumi, dan makin banyak makhluk hidup yang memanfaatkan gas oksigen untuk memperoleh energi melalui proses respirasi yang lebih efisien. Selanjutnya, evolusi kimiawi segera diambil alih dan diteruskan oleh evolusi biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allah menurunkan air dari langit, maka hiduplah dengan itu bumi sesudah matinya. Sungguh, pada hal itu terdapat ayat-ayat bagi mereka yang mendengarkan &lt;/em&gt;(Al-Qur’an, Surat An-Nahl 65). &lt;em&gt;Tiada satu pun organisme di bumi melainkan Allah yang menanggung rezekinya. Dia mengetahui lingkungan dan konservasinya. Semuanya tercantum dalam Kitab yang nyata&lt;/em&gt; (Al-Qur’an, Surat Hud 6).***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-8293872113447282826?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/8293872113447282826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=8293872113447282826' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8293872113447282826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8293872113447282826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/04/asal-usul-kehidupan.html' title='Asal-Usul Kehidupan'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-1890930036138932561</id><published>2010-03-25T19:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T19:29:34.612-07:00</updated><title type='text'>Obama in Indonesia</title><content type='html'>From TIME Magazine:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;What Obama's Visit to Indonesia Means for Asia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;By HANNAH BEECH / JAKARTA &lt;br /&gt;Monday, Mar. 29, 2010&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The bronze statue of a 10-year-old Barack Obama, shod in sneakers and holding aloft a butterfly, quickly turned into a tourist attraction. Foreigners flocked to the public park in Jakarta to honor the U.S. President, who lived four years of his childhood in the Indonesian capital. Locals visited, too, but they weren't as pleased. "Indonesians mostly came to protest," says park groundskeeper Yunus. "They didn't want the statue here." Less than three months after a local Obama fan club raised $10,000 for the monument, it was quietly moved in February to a nearby school where Obama had studied. "I'm not against Obama," says Protus Tanuhandaru, one of the Indonesian founders of a Facebook page that collected nearly 60,000 fans calling for the figure's removal. "But it's wrong to have a statue in a public park of someone who has contributed nothing to Indonesia."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;For a man who calls himself "America's first Pacific President," Obama's planned visit to Indonesia is being heralded as a homecoming. Millions of Indonesians consider Barry Soetoro, as he was once known by his Indonesian stepfather's surname, an honorary citizen. But even as Obama takes a trip down memory lane (followed by a visit to Australia), the fate of his boyhood likeness underscores his, and America's, growing image problem across Asia. Soon after Jakarta city workers used the cover of darkness to relocate the young Barry's statue, top U.S. diplomatic envoys were in Beijing to repair foundering relations with the world's third largest economy. Meanwhile, Japan, the world's No. 2 economy, has been calling for a more "equal" (read: less submissive) relationship with the U.S. That's because the Democratic Party of Japan, which came to power last year for only the second time in half a century, won votes by pledging to break with past governments that hewed too closely to American foreign policy.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A New Asia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia's increasingly assertive leaders are demanding that the U.S. recognize the continent's growing economic and geopolitical clout. Many feel that Obama, despite his personal ties to Asia, isn't giving the region the respect it feels it merits. An editorial in the Bangkok Post — the leading English-language daily in Thailand, a nation that is usually dependably pro-American — summed up the prevailing sentiment: "Mr. Obama's promises about restoring U.S. interest in Asia ... have proved so far to be more talk than substance."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asia matters for America. China is the third biggest consumer of American goods, after Canada and Mexico. The No. 4 spot belongs to the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), the 10-nation bloc that was founded, with American prodding, as a bulwark against communism in the 1960s. China's economic resilience (8.7% GDP growth in 2009) helped the U.S. and other developed nations avoid even worse pain from the global financial crisis. The only other major economies that posted decent growth in an otherwise dismal year? India and Indonesia. Asia, in other words, thinks it is shoring up the global economy — and it wants its efforts appreciated.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Obama has spoken persuasively about Asia's significance. Last November, on his first visit to the continent as President, Obama vowed to address a perception that the George W. Bush Administration had overlooked Washington's Pacific allies. "I want every American to know that we have a stake in the future of this region," Obama said in Tokyo, "because what happens here has a direct effect on our lives at home." But since then the Obama Administration has dropped the ball on promoting U.S.-Asia trade, neglecting to implement regional free-trade pacts. "We do hope that [Obama's Asia visit] will not be like Santa Claus coming and just giving a few gifts and then flying away," says Thailand's Deputy Commerce Minister Alongkorn Ponlaboot, who has criticized what many Asians perceive as American protectionism. "Because what we need from America is conviction and sincerity that translate into real action."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Why Indonesia Matters&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia deserves just that. Obama's trip is crucial for introducing Americans to a country that may not evoke much beyond earthquakes and tsunamis but is nevertheless key to U.S. interests. A 17,000-island archipelago, Indonesia boasts the world's biggest Muslim population. It is also the world's third largest democracy (after India and the U.S.), proving that Islam need not be the enemy of political freedom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back when Obama lived in Jakarta, where his American mother was an anthropologist and aid worker, Indonesia was ruled by a dictator and mired in poverty. Today, it is a proud member of the G-20 club of wealthiest economies. While much of Indonesia is still poor (18% live under the poverty line), the country is finally using the profits from its plentiful natural resources, such as natural gas and a horde of minerals, to lift up its citizens. "Foreigners used to think of Indonesia as a place of natural disasters," says Gita Wirjawan, the head of the nation's investment board, who earlier this year traveled to the U.S. to drum up interest in his homeland. "But now they realize that this is a $550 billion economy that's on an upward trajectory."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;That's partly because Indonesia has done well fighting terrorism. Most Indonesians practice a syncretic, moderate form of Islam. Yet a small band of homegrown extremists is waging a bloody jihad. A string of bombing campaigns, striking everywhere from Jakarta to the holiday isle of Bali, has claimed hundreds of foreign and local lives over the past eight years. Just weeks before Obama was due in Indonesia, police shot dead at an Internet café outside Jakarta a man believed to have orchestrated the 2002 bombings of two Bali nightclubs. Indonesia's efforts to counter its terror threat — so far it has had impressive success in netting hundreds of suspected extremists and re-educating youths susceptible to the call of militant clerics — can provide the world lessons on how to excise the cancer of religiously inspired violence from the Islamic faith.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;There's no question that orthodox dogma is gaining sway in Indonesia, like elsewhere in the Muslim world. In Jakarta, for instance, the number of women wearing headscarves has increased dramatically compared to a decade ago. As local governments have gained more autonomy, some have implemented a variety of Islamic-based legislation — ranging from enforced Koran literacy for Muslim children to the as-yet-unenforced stoning to death for adultery — despite the fact that Indonesia is officially a secular nation. At Menteng Elementary School where Obama once studied, the principal and many teachers wear veils. The Muslim prayer room in the public school is much larger than it was when Obama attended classes there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nevertheless, just around the corner from the school is a Protestant church, as well as a Starbucks and a Dunkin' Donuts. For all its recent conservative leanings, Indonesia is hardly in danger of turning into a theocratic state, and the nation's pluralistic underpinnings are something Obama will doubtless celebrate during his visit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predictably, some hard-line Islamic groups have already gathered across the nation to thrust their fists in the air and chant anti-American slogans. But their numbers, so far, have been limited. What reigns in Indonesia, instead, is waning optimism for Obama's efforts to re-engage with the global Islamic community, something he has managed to do with some success in Afghanistan and Pakistan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Last year, a local Muslim organization called Muhammadiyah urged its 29 million members to study Obama's Cairo speech when he called for a new beginning with followers of Islam. But since that historic address, Muhammadiyah's chairman Din Syamsuddin has felt his hopes deflate. "Obama indicated in his speech that there would be mutual understanding and mutual respect between America and the Muslim world," he says. "But one year later, we have not seen those dreams realized and tensions still continue." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;More Hope Than Change&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course, global expectations were always going to be tough for Obama to meet. When he was elected President, much of the world, including Asia, considered Obama their leader too. From climate change to a détente with Islamic nations, Asians hoped Obama would somehow solve a multitude of global problems. But there was no magic wand, nor has Obama's connection to Asia translated into significantly closer ties. "Even though he grew up in Indonesia, Obama's strength is as a local community activist, not as a foreign policy expert," says Bara Hasibuan, foreign policy chief for the National Mandate Party, a member of Indonesia's governing coalition. "So far, America's policy of benign neglect toward Asia has continued."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;For decades, many Asian countries — from Japan and South Korea to Thailand and the Philippines — were used to counting on an American big brother for everything from economic sustenance to military security. Now there's a new top dog in town: China. Last year, Japanese Foreign Minister Katsuya Okada proclaimed that this "will be the age of Asia and in that context it is important for Japan to have its own stance, to play its own role in the region" — a role separate from that of the U.S. It's no coincidence that such a sentiment was expressed precisely as China had overtaken the U.S. as Japan's largest trading partner.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Further south, China has surpassed the U.S. as ASEAN's third largest partner in commerce after the E.U. and Japan. The Southeast Asian club has signed trade pacts with Japan, India, South Korea and, most importantly, China, paving the way for a regional economic bloc that could rival the E.U. Note that the U.S. isn't involved. "If we are closer to China now, it is only because the U.S. has neglected us," says Kavi Chongkittavorn, a Thai columnist who writes about foreign affairs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirjawan, the head of the Indonesian investment board, jokes that, "If I want to get Americans going, all I have to say is China's interested in a deal and they don't worry about the sanctity of contracts or other legal niceties." The creation of an Asian trade alliance could place American big business at a disadvantage. Though U.S. companies have historically invested far more in ASEAN than China, the pace of investment has slowed in recent years as the U.S. is squeezed by Asian competition.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;If Obama's trip is meant to reassert American influence in the region, the President will also be mindful of Beijing's mood. China was one of the few nations where Bush was genuinely popular, and Obama has had a tough time matching his predecessor's success. In recent weeks China has attacked Obama for approving arms sales to Taiwan, which China considers a renegade province, and meeting with the Dalai Lama, whom Beijing accuses of masterminding a secessionist movement in Tibet. "The responsibility for the serious disruption in U.S.-China ties does not lie with China but with the U.S.," snapped Chinese Premier Wen Jiabao during a March 14 press conference in Beijing. Days before, high-level U.S. diplomats had flown to the Chinese capital to address a wide range of issues, and over the past year American officials have taken pains to underscore just how vital China is to the U.S. But there's a fine line between a show of respect and a full kowtow. "In many ways this helps give China an inflated sense of empowerment," says Stephanie Kleine-Ahlbrandt, Northeast Asia project director for the International Crisis Group. During Obama's first year, "America has played Mr. Nice Guy. China follows a different set of rules." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Better Grades&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At least, at his Alma Mater in Jakarta, the Menteng school, the American President can be assured of an unreserved welcome. Two weeks before Obama was due to arrive in the Indonesian capital, batik-clad students practiced a traditional Indonesian gamelan-orchestra performance they hope to play for him. School principal Hasimah is proud of the school's connection to Obama, showing off a class photo of a young Barry standing among a crowd of Indonesian students. "His story provides a huge motivation to our students," she says. "It means that no matter what your background is, you can succeed if you are a good person with a democratic spirit."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The lessons of the school resonate in other ways. Annisa Luthpia, a 10-year-old pupil, giggles in confusion when asked what religion Obama is. She doesn't know — and doesn't care. Says the Muslim girl of the Christian American President: "He seems like a very nice man." Obama's challenge is to persuade Asians that he is more than just that.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;— &lt;em&gt;with reporting by Robert Horn /Bangkok, Austin Ramzy / Beijing and Jason Tedjasukmana / Jakarta&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-1890930036138932561?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/1890930036138932561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=1890930036138932561' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1890930036138932561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1890930036138932561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/03/obama-in-indonesia.html' title='Obama in Indonesia'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-2197116980354437221</id><published>2010-02-02T04:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T23:11:38.510-08:00</updated><title type='text'>Hadiah Sastera Rancage 2010</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KEPUTUSAN HADIAH SASTERA “RANCAGÉ”  2010&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Alhamdulillah pada tahun ini untuk ke-22 kalinya Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan untuk sastera bahasa Sunda, yang ke-17 kalinya untuk sastera bahasa Jawa, yang ke-14 kalinya untuk sastera bahasa Bali dan yang kedua kalinya untuk sastera bahasa Lampung. Untuk sastera bahasa Sunda dan bahasa Bali diberikan setiap tahun tanpa putus. Untuk sastera Jawa pernah hadiah untuk karya tidak diberikan pada tahun 1995 karena tidak ada buku sastera yang terbit tahun 1994. Dan untuk bahasa Lampung setelah diberikan sekali (2008), tahun berikutnya tidak diberikan karena tak ada karya sastera yang terbit dalam bahasa tersebut tahun 2008. Seperti diketahui hadiah untuk karya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku yang terbit tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Dalam tahun 2010, Hadiah Sastera "Rancagé" insya Allah akan diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali dan Lampung. Meskipun masih merupakan  kegiatan rumahan, belum menjadi industri yang sesungguhnya, penerbitan buku bahasa Sunda, Jawa dan Bali secara tetap setiap tahun masih berjalan, selalu ada buku karya sastera baik baru maupun cétak ulang yang terbit. Adanya cétak ulang merupakan pertanda bahwa masyarakat menyerap buku tersebut. Sayang dalam kasus bahasa Sunda, buku cetak ulang terutama merupakan buku-buku lama terbitan sebelum perang. Hal itu menunjukkan bahwa pembaca buku bahasa Sunda terutama masih orang-orang lama yang ingin membaca lagi buku yang pernah dibacanya sekian waktu yang lampau. Tapi dengan begitu maka buku-buku lama juga dibaca oléh anak-anak muda untuk pertama kali. Dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk mengenal buku-buku yang terbit sebelum meréka lahir sehingga meréka dapat mengikuti perkembangan sastera bahasa ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk sastera Sunda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 2009, buku bahasa Sunda yang terbit, baik asli maupun terjemahan, baik baru maupun cétak ulang, semuanya ada 30 judul, termasuk 4 judul buku bacaan anak-anak. Namun buku baru hanya 13 judul dan yang bukan terjemahan atau kumpulan karya bersama hanya 4 judul. Di samping itu ada 4 judul buku baru bacaan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cétak ulang ada yang asli (&lt;em&gt;Pangéran Kornél &lt;/em&gt;karya R. Méméd Sastrahadiprawira, &lt;em&gt;Perang Bubat&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Pamanah Rasa&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Putri Subanglarang&lt;/em&gt;,  dan &lt;em&gt;Prabu Anom Jayadéwata &lt;/em&gt;karya Yoséph Iskandar, &lt;em&gt;Ménak Baheula &lt;/em&gt;karya Caraka, &lt;em&gt;Kalepatan Putra Dosana Ibu-rama &lt;/em&gt;karangan Joehana, &lt;em&gt;Wawacan Panji Wulung&lt;/em&gt; karya Moh. Musa, &lt;em&gt;Rasiah Geulang Rantay &lt;/em&gt;karya Nanie Sudarma, &lt;em&gt;Onom jeung Rawa Lakbok &lt;/em&gt;karya R.A. Danadibrata dan &lt;em&gt;Ngalanglang Kasusastran Sunda&lt;/em&gt; karya Ajip Rosidi) dan ada juga yang terjemahan (&lt;em&gt;Pependeman Nabi Sulaéman&lt;/em&gt; karya Moh. Ambri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga buku baru, ada yang asli (&lt;em&gt;Néléngnéngkung&lt;/em&gt; karya Wahyu Wibisana, &lt;em&gt;Di Nagri Katumbiri&lt;/em&gt; karya Dédy Windyagiri, &lt;em&gt;Salawé Sesebitan Hariring&lt;/em&gt; karya Apung S.W., &lt;em&gt;Sanggeus Umur Tunggang Gunung&lt;/em&gt; karya H. Usép Romli H.M., &lt;em&gt;Sastra Sunda Pinilih&lt;/em&gt; kumpulan karya pemenang Hadiah Sastera LBSS 2006-2008, &lt;em&gt;Sajak Sunda&lt;/em&gt; suntingan Aan Merdéka Permana karya 10 orang penyair, &lt;em&gt;Carita Kriminal&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Carita Mistéri &lt;/em&gt;karya Aan Permana Merdéka, &lt;em&gt;Dangdanggula Sirna Rasa&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kinanti Kulu-kulu&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sinom Barangtaning Rasa&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sinom Wawarian &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Asmarandana nu Kami&lt;/em&gt;, kelimanya guguritan karya Haji Hasan Mustapa yang diusahakan oléh Ajip Rosidi) dan ada juga terjemahan  (&lt;em&gt;Al Hikmah, terjemahan Qur’an basa Sunda&lt;/em&gt; oléh H. Maryati Sastrawijaya).&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;Néléngnéngkung&lt;/em&gt;, Wahyu Wibisana mencoba menghidupkan kembali kenang-kenangannya semasa kecil. Judulnya adalah lagu yang sering dinyanyikan para ibu ketika menimang anaknya yang masih bayi. Karena dia dilahirkan dan menjadi besar di kampung, maka yang dikisahkannya adalah kehidupan kampung Sunda di kaki gunung Galunggung, Tasikmalaya. Akhirnya dia meninggalkan kampungnya itu karena bekerja sebagai guru di berbagai tempat dan akhirnya menetap di Bandung, kota yang disebut dalam nyanyian “Néléngnéngkung”. Meski ia mencoba bercerita sebagai anak kecil yang dikisahkannya, namun dalam berbagai hal dia lebih menampilkan imajinasinya setelah menjadi tua (pada waktu menulisnya) misalnya ketika menceritakan bulan puasa.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Di Nagri Katumbiri &lt;/em&gt;merupakan kumpulan sajak dan guguritan (puisi tradisi yang bentuknya terikat sebagai pengaruh dari macapat Jawa). Sebelumnya Dédy  menerbitkan kumpulan guguritan yang pertama dalam bahasa Sunda berjudul &lt;em&gt;Jamparing Hariring&lt;/em&gt; (1991) dan kumpulan sajak &lt;em&gt;Di Lembur Bulan Dikubur &lt;/em&gt;(1992). Dalam sajak-sajaknya apalagi dalam guguritannya, Dédy senang sekali bermain-main dengan bunyi kata-kata yang merupakan purwakanti. Mungkin karena itu para juru tembang Cianjuran memuji guguritan Dédy sebab bagus kalau dinyanyikan. Tetapi purwakanti itu sayang sekali hanya indah bunyinya saja, tidak mengandung bobot isi yang bernas, karena hanya seputar hubungan perasaan lelaki terhadap perempuan. Juga sajak-sajak dan guguritan yang dimuat dalam &lt;em&gt;Di Nagri Katumbiri&lt;/em&gt; terasa mengambang dalam permainan kata.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Apung menulis semacam mémoar yang bertalian dengan dunia Tembang Sunda. Dia mémang dikenal sebagai juru tembang Cianjuran terkemuka dan sering menulis pandangan-pandangannya – di samping menulis guguritan untuk tembang. Guguritan yang dia tulis diterbitkan dalam &lt;em&gt;Lagu Liwung Urang Bandung &lt;/em&gt;(2006). Dalam &lt;em&gt;Salawé Sesebitan Hariring &lt;/em&gt;(Duapuluh lima Carik Senandung) dimuat 25 buah karangan berupa pandangan dan pengalamannya selama aktif dalam dunia Tembang Sunda. Caranya menulis menarik dan lancar, isinya pun banyak memberikan informasi baru dan menimbulkan bahan pikiran bagi meréka yang berminat terhadap Tembang Sunda – yang sering tidak terpikir oléh orang lain.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Sanggeus Umur Tunggang Gunung &lt;/em&gt;(Setelah Usia Lanjut) adalah kumpulan cerita péndék H. Usép Romli. Sebelumnya Usép menerbitkan &lt;em&gt;Ceurik Santri &lt;/em&gt;(1985), &lt;em&gt;Jiad Ajengan &lt;/em&gt;(1993), dan &lt;em&gt;Paguneman jeung Fir’aon &lt;/em&gt;(2006), ketiganya kumpulan cerita péndék. Tapi ia juga menulis sajak, antaranya terbit dalam dua kumpulan &lt;em&gt;Sabelas Taun &lt;/em&gt;(1979) dan &lt;em&gt;Nu Lunta Jauh &lt;/em&gt;(1992). Roman pun dia tulis, yaitu &lt;em&gt;Nganteurkeun &lt;/em&gt;(1986) dan &lt;em&gt;Béntang Pasantrén&lt;/em&gt;. Dia pun banyak menulis cerita bacaan anak-anak. Selain dalam bahasa Sunda Usép banyak menerbitkan buku dalam bahasa Indonésia.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Ada sembilan cerita péndék yang dimuat dalam &lt;em&gt;Sanggeus Umur Tunggang Gunung&lt;/em&gt;, melukiskan berbagai masalah yang dihadapi oléh orang Sunda di perkampungan yang dilanda oléh “pembangunan” sehingga oléh tokoh-tokohnya yang sudah “tunggang gunung” (menjelang usia senja) dibandingkan dengan keadaan masa kecil meréka ketika perkampungan masih “utuh”. Bukan hanya alam dan lingkungan saja yang berubah tapi alam pikiran dan kehidupan pun sudah berbéda. Téma yang digarap dalam kumpulan ini sebenarnya tak banyak berbéda dengan yang sudah ditulis Usép dalam karya-karyanya yang lebih dahulu, tetapi lebih matang dan dengan cara yang lebih inovatif. Misalnya yang berjudul “Néangan Pajaratan” (Mencari Makam) adalah kisah yang disampaikan oléh orang pertama. Tetapi sejak awal sampai akhir tidak ada satu kata “kuring” atau pun padanannya tertulis di dalamnya. Usép memanfaatkan secara maksimal sifat bahasa Sunda yang dapat membentuk kalimat tanpa subyék. Hal yang pernah dilakukan oléh Moh. Ambri dalam &lt;em&gt;Numbuk di Sué &lt;/em&gt;(1932).&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Nada dasar Islam yang menjadi téma umum karya-karya Usép, dalam beberapa cerita dalam &lt;em&gt;Sanggeus Umur Tunggang Gunung &lt;/em&gt;dikemukakan secara tidak langsung. Dalam “Lauk Cimanuk” dengan mempertentangkan orang yang berhasil memancing ikan besar dari Cimanuk tapi terpaksa meninggalkan salat sehari suntuk. Dalam “Tawuran” digambarkan kiai dan ustad yang hendak merundingkan jalan pemecahan mengatasi tawuran antar kampung, malah lupa daratan menghadapi hidangan makanan énak. Dalam “Tower” dengan melukiskan keikhlasan orang yang memberikan uang simpanan untuk menunaikan ibadah haji kepada tetangga yang lebih memerlukannya. Dalam “Ahli Waris” turunan dukun termashur meninggalkan “pekerjaan warisan” nénékmoyangnya karena melihat perubahan zaman yang tidak cocok lagi dengan perdukunan yang mengandalkan asap kemenyan. Sebaliknya seorang kemenakannya berhasil menjalankan tugas melayani keinginan orang yang datang meminta tolong dengan aktif dalam dunia periklanan. Dan dalam “Kasaktén Abah Suma”, Usép seakan memberikan konfirmasi terhadap ma’unah yang diberikan Tuhan kepada orang tertentu yang benar-benar ikhlas dan benar-benar merasa sama sekali tak berdaya kecuali atas izin Tuhan.           &lt;br /&gt;Dan semuanya diceritakan Usép dengan lancar secara wajar sehingga terciptalah dunia imajinasi yang khas sebagai sastera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian buku sastera Sunda yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat karya adalah&lt;br /&gt;                                     &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Sanggeus Umur Tunggang Gunung                                   &lt;br /&gt;Karya H. Usép Romli H.M.                                   &lt;br /&gt;Terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung             &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kepada H. Usép Romli H.M., akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Sedangkan yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat jasa karena besar jasanya dalam memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik adalah&lt;br /&gt;                                   &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Karno Kartadibrata                                    &lt;br /&gt;(lahir di Garut 10 Fébruari, 1945)&lt;br /&gt;  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebagai redaktur (kemudian Wakil Pemimpin Redaksi) mingguan bahasa Sunda &lt;em&gt;Manglé&lt;/em&gt; setiap pekan Karno menuliskan pandangannya tentang situasi masyarakat, terutama masyarakat Sunda, sejak tahun 1977. Dia mencoba mengajak pembaca untuk melihat situasi kelilingnya dengan kritis serta menghubungkannya dengan masa yang lampau atau dengan apa yang terjadi di luar masarakat Sunda.  Dengan tulisan-tulisannya itu Karno memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik, sehingga dapat menjadi bukti bahwa bahasa Sunda tidak hanya dapat digunakan untuk menulis sajak dan cerita péndék saja. Meskipun kadang-kadang terjadi pengulangan atau seperti yang kehilangan arah, namun menulis secara tetap dari pekan ke pekan selama puluhan tahun merupakan préstasi tersendiri.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Sebelum bekerja di majalah &lt;em&gt;Manglé&lt;/em&gt;, Karno aktif dalam pérs bahasa Indonésia. Dia pernah bekerja a.l. sebagai wartawan sk. &lt;em&gt;Harapan Rakyat&lt;/em&gt;, lalu pindah ke mingguan &lt;em&gt;Mimbar Démokrasi&lt;/em&gt;, koréspondén &lt;em&gt;Harian Kami&lt;/em&gt;, redaktur &lt;em&gt;Prima&lt;/em&gt;. Dia juga menulis sajak dalam bahasa Indonésia dan terbit dengan judul &lt;em&gt;Lipstick &lt;/em&gt;(1981) dan &lt;em&gt;Parfum&lt;/em&gt; ( (1997). Pernah menjadi Sékertaris PP-SS (1979) dan ketua bidang pendidikan LBSS (1994—1998). Menjadi pemrakarsa Pésta Sastera Sunda yang sempat berlangsung tiga tahun.           &lt;br /&gt;Kepada Karno Kartadibrata akan disampaikan  Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat  jasa  berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat sastera Jawa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 2009, buku bahasa Jawa yang terbit ada 12 judul, terdiri dari kumpulan guritan yaitu sajak (&lt;em&gt;Gurit Panuwuning Urip &lt;/em&gt;karya David Hariyono, &lt;em&gt;Gurit Abang Branang&lt;/em&gt; karya Rachmat Djoko Pradopo, &lt;em&gt;Layang Panantang&lt;/em&gt; karya Sumono Sandy Asmoro dan &lt;em&gt;Wong Agung: Gurit Punjul Rong Puluh&lt;/em&gt; karya Budi Palopo); sebuah kumpulan cerita péndék (&lt;em&gt;Tembangé Wong Kangen&lt;/em&gt; karya Sumono Sandy Asmoro) dan sejumlah roman (&lt;em&gt;Trétes Tintrim&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kunarpa Tan Bisa Kandha&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Garuda Putih&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Ser! Randha Cocak &lt;/em&gt;karya Suparto Brata; &lt;em&gt;Mis, Koncoku Sinarawedi &lt;/em&gt;karya Rahmat Ali dan &lt;em&gt;Carang-carang Garing &lt;/em&gt;karya Tiwiek SA).&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Penerbitan kedua belas buku itu mengisyaratkan beberapa fénoména penting: (1) ternyata yang menulis dalam bahasa Jawa tidak hanya meréka yang tinggal di Jawa Tengah dan Timur saja, melainkan juga di Jakarta yaitu Rahmat Ali yang mengawani Dyah Hadaning yang tinggal di Dépok. (2) Kebanyakan buku ternyata terbit di Yogyakarta, walaupun ada yang terbit di berbagai kota lain (Semarang, Surabaya, Malang). (3) Buku yang terbit ternyata kebanyakan karya pengarang Jawa Timur: Suparto Brata (Surabaya, 4 judul), David Hariyanto (Malang, 1 judul), Sumono Sandy Asmoro (Ponorogo, 2 judul). (4) Muncul karya dua orang pengarang yang telah dikenal menulis dalam bahasa Indonésia, yaitu Rachmat Djoko Pradopo dan Rahmat Ali dalam bahasa Jawa untuk pertama kali.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Hal itu membuktikan bahwa sastera Jawa tak perlu ditakutkan punah karena pendukungnya berada di berbagai daérah dan berbagai kalangan. Pengarang seperti Suparto Brata sangat produktif, setiap tahun niscaya ada bukunya yang terbit dan tidak hanya satu judul dan buku-buku itu yang berupa cerita detéktif digemari pembaca. Roman Rahmat Ali &lt;em&gt;Mis, Kancaku Sinarawedi  &lt;/em&gt;mempertentangkan watak kawannya yang ketika kecil bandel, licik tapi segar dan ceria penuh keakraban dengan keadaannya  ketika  kelihatan sangat tua, sakit, miskin dan rapuh. Penggunaan dialék Jawa Timuran dalam keutuhan cerita terasa mengganggu pemahaman pembaca.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Dalam romannya &lt;em&gt;Carang-carang Garing&lt;/em&gt;, Tiwiek SA mengisahkan pengayuh bécak yang membunuh kemenakannya sendiri agar hidup anaknya dalam keluarga adik iparnya tidak terganggu. Sayang ceritanya tidak fokus karena munculnya alur tentang anaknya yang lari dari rumah. Ada kesan ditulis dengan tergesa-gesa.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Cerita-cerita péndék dalam &lt;em&gt;Tembangé Wong Kangen &lt;/em&gt;karya Sumono Sandy Asmoro ditulis ketika penulisnya masih muda, bersuasana romantis dan melukiskan dunia kaum muda yang terbatas problim dan kedalaman pemikirannya.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Membaca keempat kumpulan guritan yang terbit tahun 2009, timbul keasyikan yang bervariasi. Dalam &lt;em&gt;Gurit Panuwuning Urip&lt;/em&gt;, penyairnya mencari bentuk éksprési untuk setiap gagasan. Misalnya “Aku Iki” adalah pencarian jati diri pemuda yang sedang mencari idéntitas. Dalam pemilihan imaji penyair perlu mempertimbangkan dengan bening. Bentuk éksprésinya yang panjang-panjang sering mubadzir karena mengaburkan ésénsi. Meskipun demikian ada beberapa guritan yang bagus seperti “Gurit Panuwuning Urip”, “Hanaa Sira”, “Isih kaya Biyén, Jiwamu” dan “Wisa”. &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Geguritan Abang Branang &lt;/em&gt;adalah karya penyair bahasa Indonésia yang menjadi gurubesar sastera di UGM. Guritan yang dimuat dalam kumpulan itu, ditulis sejak 1960-an sampai 2008. Dengan gaya yang ringan, dia mengemukakan kesan dan kritik terhadap kehidupan yang kompléks. Secara keseluruhan guritan dalam kumpulan ini énak dibaca, terutama yang péndék-péndék seperti “Nyekar”, “Yén Srangéngé Ngangkat Segara” dan “Ibu Kondur”.  Tetapi kadang-kadang muncul juga kata-kata bahasa Indonésia bahkan Inggris.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;Layang Panantang&lt;/em&gt;, penyairnya menunjukkan keberanian memilih dan merambah pengalaman berbagai jiwa dengan téknik éksprési yang tepat, sering dalam bentuk épigram (“Épigram Kacu Wungu”, “Épigram Jingga”, Épigram Ésuk”) atau dengan latar yang sangat Jawa (“Sokalima 2006”, “Pupuh Pamitan”, “Kembar Mayang”, “Pupuh Palaran”). Semuanya dengan kasadaran bahwa keindahan harus selaras dengan bobot pikirannya. Sejumlah guritan menggunakan tipografi, tata ruang, tata larik yang sengaja dibuat simétris untuk mengajak pembaca “masuk” ke ruang pikiran penggurit dan memberinya makna sendiri. &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Secara keseluruhan &lt;em&gt;Wong Agung: Gurit Punjul Rong Puluh&lt;/em&gt; digarap dengan dasar oralitas perpuisian Jawa yang kuat sehingga sebagian besar indah dibaca dan beréfék mantera. Namun banyak kata yang digunakan amat individual sehingga menimbulkan “kegelapan” dalam penafsiran. Misalnya guritan “Suluk Pagunungan”, “Sastera Géndra” dan beberapa lagi. Namun ada guritan yang sangat menarik, misalnya “Kembang Geni”, “Trumpah Lars”,  “Srengéngé”, “Sun Tulup Biruné Langit”,  dan  “Wiji Thukul”. &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Setelah dipertimbangkan dengan saksama, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010  sastera Jawa untuk karya, diberikan kepada &lt;br /&gt;                                    &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Layang Panantang                                    &lt;br /&gt;Karya Sumono Sandi Asmoro                                    &lt;br /&gt;(Terbitan Balai Bahasa Surabaya)  &lt;/em&gt;               &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Jawa untuk jasa diberikan kepada &lt;br /&gt;                                    &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Bonari Nabobenar                                    &lt;br /&gt;(lahir di Trenggalék, 1 Januari 1964)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Bonari sejak duduk di bangku sekolah punya perhatian besar terhadap sastera. Dia lulusan IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) jurusan Bahasa dan Sastera Indonésia. Dia aktif dalam diskusi-diskusi baik tentang sastera Jawa maupun sastera Indonésia, di kampus maupun di luarnya. Dia aktif dalam Sanggar Triwida. Setelah lulus dia mengembangkan sastra Jawa di daérah kelahirannya, Trenggalék, Jawa Timur. Dalam tahun 1993—1994 bersama beberapa orang kawannya dia melakukan gerakan kesasteraan dengan bendéra “Révitalisasi Sastera Pedalaman”.           &lt;br /&gt;Sebagai lulusan IKIP, dia pernah menjadi guru SLTP swasta, tapi minatnya lebih condong ke dunia sastera dan jurnalistik, antaranya menjadi redaktur &lt;em&gt;Jawa Anyar &lt;/em&gt;(Solo). Sekarang dia menjadi redaktur &lt;em&gt;X-file&lt;/em&gt;.           &lt;br /&gt;Mula-mula dia menulis sajak (guritan), cerita péndék maupun ésai yang dimuat dalam berbagai média bahasa Jawa seperti &lt;em&gt;Jaya Baya&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Panjebar Semangat&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Mekar Sari &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Jaka Lodang&lt;/em&gt;. Sementara itu karya-karyanya yang berbahasa Indonésia dimuat dalam &lt;em&gt;Surabaya Post&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Suara Indonésia&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Wawasan&lt;/em&gt;, Horison, dll.           &lt;br /&gt;Sekarang Bonari menjadi Ketua PPJPS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) dan dalam beberapa tahun terakhir menjadi fasilisator penulisan kréatif tenaga kerja wanita Indonésia di Hongkong. Hasilnya telah terbit beberapa karya fiksi pengarang wanita muda dari komunitas TKI di Hongkong. Bonari juga menjadi penggerak penyelenggaraan Kongrés Sastra Jawa I (2001) di Solo dan Kongrés Sastra Jawa II (2006) di Semarang, menjadi penyelenggara  Féstival Sastra Jawa dan désa (2009), dll.           &lt;br /&gt;Maka kepada Bonari Nabobenar akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010  sastera Jawa untuk jasa, berupa piagam dan uang (Rp,. 5 juta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah sastera “Rancagé”  2010 untuk sastera Bali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2009, dalam bahasa Bali terbit sembilan buku karya sastera, yaitu sebuah kumpulan puisi (&lt;em&gt;Gerip Maurip Ngridip Mekedip&lt;/em&gt; karya I Nyoman Manda), sebuah roman saduran (&lt;em&gt;Cokorda Darma &lt;/em&gt;karya I Gusti Putu Antara), tujuh kumpulan cerita péndék (&lt;em&gt;Cor&lt;/em&gt; karya I Wayan Paing, &lt;em&gt;Da Nakonang Adan Tiange &lt;/em&gt;karya Agung Wiyat S. Ardhi, &lt;em&gt;Jangkrik Maenci &lt;/em&gt;karya I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, &lt;em&gt;Bli Kadek &lt;/em&gt;karya Putu Nopi Suardani, &lt;em&gt;Dasa Tali Dogén &lt;/em&gt;karya I Gdé Darma, &lt;em&gt;Léak Pemoroan &lt;/em&gt;karya I Wayan Sandha dan &lt;em&gt;Warisan Jagal&lt;/em&gt; karya IBW Keniten).&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Kumpulan puisi I Nyoman Manda sangat istiméwa, terdiri dari 4 jilid, jilid I-III  tebalnya masing-masing lebih dari 1000 (seribu) halaman, sedang jilid IV kurang dari 1000 halaman. Keseluruhannya lebih dari 3500 halaman. Baik dalam bahasa Bali modéren maupun dalam bahasa Indonésia tidak pernah ada kumpulan sajak seorang penyair yang setebal itu. I Nyoman Manda mémang pengarang yang sangat produktif dalam bahasa Bali. Dia menulis sajak, roman, drama dan cerita péndék, pernah mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” tiga kali, satu untuk jasa (1998) dan dua untuk karya (2003 dan 2008).  Dia juga menjadi redaktur dua majalah dalam bahasa Bali yaitu &lt;em&gt;Canangsari&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Satua&lt;/em&gt; yang belakangan menjadi dwibahasa (dengan bahasa Indonésia).&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Gerip Maurip Ngridip Mekedip &lt;/em&gt;jilid III khusus memuat terjemahan Manda dari para penyair Indonésia mulai dari Sanusi Pané dan Amir Hamzah, sampai Afrisal Malna dan Oka Rukmini dan penyair dari berbagai negara melalui terjemahan bahasa Indonésia al. dari Jerman, Australia, Afrika Selatan, dan Malaysia. Tapi jilid I dan II hanya memuat karya Manda sendiri. Artinya lebih dari 2000 sajak. Témanya sangat beragam terutama berdasarkan kenyataan sehari-hari, mulai dari komérsialisasi budaya akibat industri pariwisata, korupsi, kampanye pemilu, démo anarkis, narkoba, sinétron, banjir, kenaikan harga BBM,  &lt;em&gt;illegal loging&lt;/em&gt;, kasus  Prita Mulyasari, Tukul Arwana, dll. Juga topik hangat dunia menjadi sajak di tangan  Nyoman Manda seperti perang jalur Gaza, kekerasan Tien An-men Béijing, insidén George Bush dilémpari sepatu, Obama menghadapi krisis dunia, dll.  Manda banyak mengambil inspirasi dari berita hangat dalam média massa. Kualitasnya sebagai puisi tidak merata. Ada yang kuat penuh renungan dan sinisme yang tajam, tapi banyak yang mirip catatan pojok koran.&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;Roman &lt;em&gt;Cokorda Darna &lt;/em&gt;adalah saduran dari &lt;em&gt;Don Quixote &lt;/em&gt;karya Cervantes yang sudah menjadi klasik dunia. Jarang ada roman saduran dari bahasa asing ke dalam bahasa Bali, maka roman ini merupakan pembuka jalan. Sayang alur ceritanya rumit dan penuh lubang, sehingga sulit diikuti.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Tidak pernah ada pembuktian tentang adanya léak, tetapi orang Bali pada umumnya percaya bahwa mémang ada manusia sakti yang bisa menjelma menjadi léak (berbentuk bola api, monyét, babi, anjing, rangda, barong dan apa saja) dan suka menyakiti orang lain. Para pengarang Bali seakan meneguhkan kepercayaan itu léwat karya-karyanya yang bercerita tentang léak, tetapi menegaskan bahwa léak sebagai lambang ilmu hitam yang jahat itu pasti bisa dikalahkan oléh kebaikan. Dalam tujuh kumpulan cerita-péndék terbitan  2009 itu, banyak cérita tentang léak. Isi &lt;em&gt;Jangkrik Maenci &lt;/em&gt;karya I Gusti Putu Samar Gantang, sebagian besar cerita léak. Demikian juga &lt;em&gt;Léak Pemoronan &lt;/em&gt;karya I Wayan Sandha dan &lt;em&gt;Da Nakonang Adan Tiange &lt;/em&gt;karya Agung Wiyat memuat cerita panjang tentang léak.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Kelemahan umum ketujuh buku itu ialah karena kualitas setiap céritanya tidak  merata. Dalam &lt;em&gt;Dasa Tali Dogén &lt;/em&gt;karya I Gdé Darma misalnya yang memuat 15 buah cerita, hanya ada dua buah cerita yang bagus dan kuat, sedang sisanya tanpa konflik dan tidak utuh sebagai cerita. Banyak yang seperti ésai atau artikel. Yang istiméwa penerbitan buku ini disertai dengan CD yang berisi rekaman pembacaan cerita-cerita itu oléh pengarangnya sendiri.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Begitu juga cerita-cerita yang dimuat dalam &lt;em&gt;Cor&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Bli Kadek &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Warisan Jagal &lt;/em&gt;tidak ada yang menawarkan kedalaman, meski kisahnya menarik tetapi selesai sebelum berakhir. Mungkin karena ditulis tergesa-gesa untuk surat kabar.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Yang menonjol adalah &lt;em&gt;Léak Pemoroan &lt;/em&gt;(Sétan Pemoroan) karya I Wayan Sandha yang memuat 41 cerita yang ditulis sebagai skétsa kehidupan tetapi unsur naratif dan konfliknya terjaga kuat. Témanya beragam. Ada kisah léak, ada kehidupan pelacur, korban pasca-pariwisata massa, tentang kepercayaan yang berlebihan terhadap dukun, penipuan sampai fénoména &lt;em&gt;multilevel marketing &lt;/em&gt;(MLM).  &lt;em&gt;Léak Pemoroan &lt;/em&gt;menuturkan ketabahan penyuluh (pencari belut dengan obor malam hari) menghadapi gangguan sétan. Dia tidak takut menghadapi manusia jadi-jadian dan menyerangnya sampai mati. Lukisan suasana malam dan perang melawan sétan ditulis dengan déskripsi yang kuat. Bahasa yang digunakan nylenéh namun mampu menggali masalah dan menggambarkan watak tokoh cerita. Kritik pedas pun dilontarkan dengan bahasa yang jernih. Dalam “Wisian Bank Dunia” dikritiknya MLM sambil menyentil “&lt;em&gt;Ah, gara-gara Bank Dunia iraga nepukin soroh jelema dot sugih kuala tusing bani ngetélang peluh.&lt;/em&gt;” (Ah, gara-gara Bank Dunia aku menemukan kelompok manusia yang ingin kaya tetapi tidak berani menétéskan peluh). Pemakaian perumpamaan atau kiasan juga tepat sehingga membuat skétsa kehidupan ini memiliki aroma sastera yang kental.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Bali untuk karya diberikan kepada &lt;br /&gt;                                    &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Léak Pemoroan                                     &lt;br /&gt;Karya I Wayan Sadha                                   &lt;br /&gt;(terbitan Balai Bahasa Dénpasar)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Sedangkan yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Bali untuk jasa, ialah&lt;br /&gt;                                     &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Agung Wiyat S. Ardhi                                   &lt;br /&gt;(lahir di Gianjar, 3 Fébruari, 1946)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Kegiatan Agung Wiyat meliputi dua bidang, yaitu pertama sebagai penulis kréatif yang mencipta karya sastera baik bahasa Bali tradisional maupun bahasa Bali modéren. Kedua, aktif dalam pembinaan bahasa, aksara dan sastera Bali. Dia mulai menulis dalam bahasa Bali modéren tahun 1976 dan terus aktif sampai sekarang. Sejak tahun 1991 karyanya sering menjadi juara lomba penulisan puisi atau cerita péndék di Bali. Tahun 1997 kumpulan ceritanya &lt;em&gt;Bogolan&lt;/em&gt; menjadi juara pertama. Tahun 2001 kumpulan cerita péndéknya &lt;em&gt;Gending Girang Sisi Pekerisan &lt;/em&gt;mendapat Hadiah Sastera “Rancagé”. Karyanya yang lain adalah kumpulan naskah drama &lt;em&gt;Bogolan&lt;/em&gt; termasuk  &lt;em&gt;Mandor Bawah  &lt;/em&gt;(2002), &lt;em&gt;Bukit Buung Bukit Mentik &lt;/em&gt;(2004) dan &lt;em&gt;Da Nakonang Adan Tiange &lt;/em&gt;(2009).           &lt;br /&gt;Di bidang sastera Bali tradisional, Agung Wiyat banyak menyalin dan menguraikan arti bagian-bagian épos Mahabharata dan Ramayana serta cerita-cerita Tantri. Yang sudah dia salin adalah &lt;em&gt;Prastanika Parwa &lt;/em&gt;(2004), &lt;em&gt;Swarga Rohana Parwa &lt;/em&gt;(2004), &lt;em&gt;Wirata Parwa &lt;/em&gt;(2006) dan &lt;em&gt;Uttara Kanda &lt;/em&gt;(2008). Semuanya diterbitkan sebagai buku dengan aksara Bali, sehingga menjadi sarana bagi para peminat  untuk  menikmati karya sastera dalam aksara Bali atau mempelajarinya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Sejak 2000 Agung Wiyat aktif dalam berbagai tim pembina bahasa, sastera dan aksara Bali yang memberikan penyuluhan kepada kelompok para guru, pelajar, dan ibu-ibu PKK. Agung Wiyat juga  aktif dalam pembinaan kelompok mabebasan  atau pesantian (menyanyikan dan menguraikan arti puisi tradisional termasuk gaguritan, kidung, dan kakawin). Di samping itu ia juga duduk dalam tim yang menyeléksi dan menyiapkan tim mabebasan kabupatén (Gianyar) untuk perlombaan tingkat provinsi yang diselenggarakan dalam Pésta Kesenian Bali yang berlangsung  setiap tahun.           &lt;br /&gt;Dengan demikian maka Hadiah Sastera “Rancagé’ 2010 sastera Bali untuk jasa diberikan kepada Agung Wiyat S. Ardhi berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk sastera Lampung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah sastera “Rancagé” untuk karya pernah diberikan untuk sastera Lampung pada tahun 2008 karena ada buku karya sastera dalam bahasa Lampung terbit pada tahun 2007. Tapi pada tahun 2008 tak ada yang terbit, sehingga tahun yl. tak ada Hadiah “Rancagé” untuk sastera Lampung. Tahun 2009 terbit dua buku dalam bahasa Lampung, sehingga akan  diberikan  Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk karya dalam bahasa Lampung.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Kedua buku itu satu berupa kumpulan sajak (&lt;em&gt;Di Lawok Nyak Nélépon Pelabuhan &lt;/em&gt;karya Oky Sanjaya), yang satu lagi kumpulan cerita péndék (&lt;em&gt;Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong&lt;/em&gt; karya Asarpin Aslami).&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Di Lawok Nyak Nélépon Pelabuhan &lt;/em&gt;(Di Laut Aku Menélépon Pelabuhan) memuat 57 buah sajak yang ditulis oléh mahasiswa Universitas Lampung jurusan Fisika ini berupaya membangun imajinasi tentang hal-hal yang bersahaja: lantai, asap, sarung, lesung, dll. Hal-hal sepélé itu diolahnya menjadi métafora yang menarik. Peristiwa sehari-hari diréfléksikan Oky dengan kata-kata sederhana, tapi mampu merangsang pembaca untuk merasakan hal yang sebenarnya, misalnya sajak “Hinjang Bak” (Sarung Ayah). Akan tetapi secara keseluruhan sajak-sajak Oky masih mentah, jauh daripada sajak-sajak Udo Z. Karzi peraih Hadiah  Sastera “Rancagé” 2008.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong &lt;/em&gt;(Cerita-cerita dari Bandar Negeri Semuong) memuat 17 cerita péndék yang melukiskan berbagai kebiasaan, tatacara, adat-istiadat, perilaku dan polah masyarakat di Bandar Negeri Semuong, sebuah kecamatan di Kabupatén Tanggamus, Lampung. Asarpin yang lulusan IAIN Radén Intan ini mampu mendéskripsikan budaya tradisional dalam cerita péndék yang ditulisnya seperti kebiasaan &lt;em&gt;kajaruwan&lt;/em&gt; (mengumpulkan kayu bakar) yang dilakukan ibu-ibu di kampung, atau kebiasaan &lt;em&gt;siahan&lt;/em&gt; (berbisik di balik dinding rumah yang dilakukan para pemuda kepada gadis pujaannya). Ada pula yang mengolah  &lt;em&gt;warahan &lt;/em&gt;(salah satu bentuk sastera lisan) ke dalam cerita péndék modéren.  Meskipun kisah yang diceritakannya berbéda-béda tetapi ada tempat yang menjadi bingkai yang menghubungkan cerita-cerita itu satu  sama lain. Sayang ada beberapa uraian yang terasa bukan cerita péndék, seperti “Badok” (Bergelar) yang hanya menguraikan tentang upacara pemberian gelar adat ketika orang menikah.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Tak dapat disangkal bahwa buku Asarpin ini merupakan kumpulan cerita péndék modéren pertama dalam bahasa Lampung yang banyak mengandung nilai-nilai tradisional dan modéren. Dengan pertimbangan itu, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Lampung untuk karya diberikan kepada&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;em&gt;Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong                       &lt;br /&gt;Karya Asarpin Aslami                        &lt;br /&gt;(terbitan B.E. Press, Bandar Lampung)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah “Samsudi” 2010 untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 2009, terbit 4 judul buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda yang semuanya merupakan dongéng sasakala, yaitu &lt;em&gt;Sasakala Cadas Pangéran&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sasakala Candi Cangkuang&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sasakala Karajaan Arcamanik &lt;/em&gt;dan  &lt;em&gt;Sasakala Pajajaran&lt;/em&gt;. Semuanya ditulis oléh Aan Merdéka Permana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasakala adalah semacam legénda yang bertalian dengan asal-usul nama tempat, gunung, telaga, sungai atau  makhluk dan lain sebagainya. Dalam  masyarakat Sunda misalnya ada dongéng sasakala Sang Kuriang bertalian dengan terjadinya Danau Bandung dan gunung Tangkuban Perahu, dongéng sasakala tentang terjadinya gunung Tampomas di Sumedang, atau tentang sebabnya gagak berbulu hitam padahal asalnya putih. Namanya dongéng, tak dapat dianggap sejarah karena  hanya berdasarkan imajinasi dan fantasi manusia saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam sasakala yang ditulis oléh Aan Merdéka Permana itu sering disebut  dengan pasti titimangsa berupa tahun yang tidak jelas sumbernya seakan-akan kejadian yang diceritakannya itu kebenaran sejarah sehingga dapat menimbulkan salah persépsi anak-anak yang membacanya. Padahal apa yang ditulis oléh Aan itu tidak selalu sejalan dengan kenyataan sejarah. Misalnya pemberian  gelar “kolonél” oléh Gubernur Jendéral  Baron van (der) Capéllen diceritakan dalam Sasakala Cadas Pangéran  berdasarkan jasa-jasanya mengamankan Sumedang yang konon tidak aman karena banyak gangguan orang jahat. Padahal menurut sejarah pangkat “kolonél” itu diberikan kepada Pangéran Kusumahdinata karena beliau diangkat menjadi komandan pasukan berbagai kabupatén  Tatar Sunda untuk menghadapi pemberontakan Pangéran Diponegoro. Karena mendapat pangkat “kolonél” itulah maka Pangéran Kusumahdinata disebut rakyat sebagai “Pangéran Kornél”.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Memasukkan unsur sejarah ketika menulis cerita  yang disebutnya sasakala pada satu pihak seakan hendak mengesankan  bahwa ceritanya itu benar-benar sesuai dengan sejarah, tapi pada pihak lain kalau ada yang mempertanyakan data-data sejarah yang digunakannya, dia akan mengélak karena yang ditulisnya adalah sasakala.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;          Dengan demikian untuk tahun 2010 ini Hadiah “Samsudi” tidak diberikan.&lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010, insya Allah akan dilaksanakan atas kerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta bertempat di Kampus UNY Yogyakarta pada bulan Méi 2010.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pabélan, 31 Januari, 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Kebudayaan “Rancagé”   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ajip Rosidi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketua Déwan Pembina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-2197116980354437221?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/2197116980354437221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=2197116980354437221' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2197116980354437221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2197116980354437221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/02/hadiah-sastera-rancage-2010.html' title='Hadiah Sastera Rancage 2010'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-8371894905790769026</id><published>2010-01-20T06:31:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T04:16:38.612-08:00</updated><title type='text'>Kabeungharan Basa Sunda</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KABEUNGHARAN BASA SUNDA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(A)&lt;/strong&gt; Mama Wangsa nanya ka anakna, “Maman, aya nangka walanda asak? Abah palay. Wayahna ala, mawa gantar panjang.” Maman cat kana tangkal nangka. &lt;br /&gt;Aya lalay ngalayang nabrak Maman. Maman ngalawan, ngan kawalahan. Blak Maman ragrag ka handap, nangkarak kana catang nangka. Rada parah, katambah-tambah nangka atah ragrag kana tarangna. &lt;br /&gt;Mama Wangsa datang, ngaragap tarang Maman, “Jajaka anak Abah, nyaah ka ramana. Dasar awak taya bagja, kalah ka ragrag.” &lt;br /&gt;Aya randa, Ma Salamah ngaranna, datang mawa dagangan kadaharan: kacang bawang, bakakak hayam atawa panggangna. &lt;br /&gt;“Mangga bapa-bapa, palay mah nyarandak, mayarna mah gampang.” &lt;br /&gt;“Ah, da Mama Wangsa mah sanajan lapar tara kana ngadahar hayam-hayaman, matak panas padaharan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(I)&lt;/strong&gt; Nini Iti niis di sisi bilik giribig, nilik-nilik Nyi Icih nyisig di pipir. “Icih, cing pilih-pilih siki kicipir, siksik sing nyiripit ipis. Ngiripik, Icih!” &lt;br /&gt;Ti hilir Si Didi gijig-gijig, mimiti ngintip, isin bilih ditilik, cir pipis di sisi bilik. &lt;br /&gt;Nini Iti nyirintil, “Si Cilimit! Icih, jiwir Si Didi!” &lt;br /&gt;Si Didi ngincid indit, inggis diciwit pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(U)&lt;/strong&gt; Subuh-subuh Uyut Ucup tuturubun, nyukur gundul bulu lutung nu buntung buntut. Lutung ujug-ujug turun nurugtug nyusul kukupu lucu nu muluk mumbul luhur pucuk kucubung. Uyut Ucup kukulutus, “Lutung nurustunjung!” &lt;br /&gt;Lutung tuluy mulung suluh hurung, pluk nutug buuk Dudung nu nuju ngudud surutu tujuh puluh tujuh kuntung wungkul. &lt;br /&gt;Gurubug Dudung, “Duh Uyut, buuk Dudung hurung. Tuluuung!” &lt;br /&gt;Buru-buru Uyut Ucup nuyun Dudung muru sumur, tuluy mulung buyung, cur.. cur. Dudung kuyumut, nguyung, murungkud bulu kuduk, murukusunu, tuluy pundung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(O)&lt;/strong&gt; Dodo norojol, oho-oho gohgoy, ngolomoh dodol. &lt;br /&gt;Nongol Yoyo, “Tong ngolomoh dodol, Dodo. Sok kolomoh oncom.” &lt;br /&gt;Dodo molotot, “Ngolomoh dodol rocop tonggong, komo ngolomoh oncom, ontohod!” &lt;br /&gt;Yoyo morongos, nonjok Dodo. Dodo dongko, gorolong moncor jongko toko borondong Sosro. &lt;br /&gt;Sosro gorowok cowong, “Hooy, tong kos bolon, Dodo, Yoyo. Komo tos kolot ompong. Sok gotong tolombong lontong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(EU)&lt;/strong&gt; Ceuceu ngeukeuweuk seuseuheun seueur. &lt;br /&gt;Reureuh nyeuseuh, Ceuceu leuseuh, beungeut beureum, meureun euweuh leueuteun. &lt;br /&gt;“Euleuh, euleuh, peuteuy yeuh!” ceuk Ceuceu. &lt;br /&gt;Neuleu seuneu, Ceuceu meuleum peuteuy. Ceuceu neureuy peuteuy teu eureun-eureun. Beuteung Ceuceu seubeuh, beuheung ngeureuleu. Reup peureum, Ceuceu weureu peuteuy leuweung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(É)&lt;/strong&gt; Émén réhé, ngélékéték kélék Nénéng. &lt;br /&gt;Pépén mépéndé, “Répéh Néng, ké Pépén méré Nénéng lélépén. Pépén rék mékprék Émén.”&lt;br /&gt; Émén nyéréngéh ngécé, “Dédéngé téh rék mékprék déwék? Pék!” &lt;br /&gt;Pépén éléh géléng, gégétrét mémblé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(E)&lt;/strong&gt; Tegep besekel kereng telenges, seneng beberengkes sedep kededemes. &lt;br /&gt;Pesen pecel, lelemper genep, belewek-belewek kesemek sepet, nelen bebek pedes, nyenyekel kepeng wedel. &lt;br /&gt;Bener-bener gemes, sebel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAWALA SARWA ‘A’&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cépot: “Dawala! Dawala!”&lt;br /&gt;Dawala: “Kah!”&lt;br /&gt;“Di mana silaing?”&lt;br /&gt;“Aya ‘na tangkal kalapa.”&lt;br /&gt;“Turun, euy, aya picaritaeun.”&lt;br /&gt;“Kapalang, Ka, acan kaala sadaya.”&lt;br /&gt;“Ka dieu heula.”&lt;br /&gt;“Nya mangga. Aya kapalay, Ka?”&lt;br /&gt;“Dédéngéan ti tadi silaing ngomong maké ‘A’ wungkul. Éling henteu silaing téh?”&lt;br /&gt;“Sadar, Ka, lantaran ngarah paham tatabasa. Apan basa mah tandana bangsa.”&lt;br /&gt;“Teu maké i, u,e, é, eu atawa o?”&lt;br /&gt;“Kagak! Hanya ‘A’ sajah!”&lt;br /&gt;“Kawas enyaan bisa silaing sarwa A. Cik diuji ku déwék. Ngaran bapa urang saha?”&lt;br /&gt;“Badranaya.”&lt;br /&gt;“Ari ngaran déwék?”&lt;br /&gt;“Kaka Astra.”&lt;br /&gt;“Da déwék mah lengkepna Astrajingga. Ari jinggana mana?”&lt;br /&gt;“Astrawarnatambaga.”&lt;br /&gt;“Ari Juragan Dipati Arjuna?”&lt;br /&gt;“Lalanang Jagad.”&lt;br /&gt;“Ari Kangjeng Prabu Yudistira?”&lt;br /&gt;“Raja sabar darana.”&lt;br /&gt;“Ari Juragan Bima?”&lt;br /&gt;“Agan Badag.”&lt;br /&gt;“Ari putrana, Anom Gatotgaca?”&lt;br /&gt;“Jalma gagah ngaangkasa.”&lt;br /&gt;“Ieu mah pasti moal bisa. Ari Dén Nakula jeung Dén Sadewa naon cing?”&lt;br /&gt;“Jajaka babarna samangsa.”&lt;br /&gt;“Bisaan, euy. Ari nyebutkeun suuk kumaha?”&lt;br /&gt;“Kacang.”&lt;br /&gt;“Ari karéta api?”&lt;br /&gt;“Kandaraan panjang.”&lt;br /&gt;“Bisul?”&lt;br /&gt;“Jarawat badag.”&lt;br /&gt;“Jangkrik?”&lt;br /&gt;“Baraya gaang.”&lt;br /&gt;“Coba ayeuna nu panjang. Kieu: déwék maca artikel ‘Sura-seuri Sunda’, seuseurian sorangan, ti dinya ngadahar pakel nepi ka nyeri beuteung, buru-buru ka cai.”&lt;br /&gt;“Kaka Astra maca layang ‘Barakatak Jawabarat’, ngahahah taya sasaha, lantas ngadahar mangga asak kapalang tangka panas padaharan, gancang ka jamban. Kawasna kababayan!”&lt;br /&gt;“Ké, ké, nu pandeuri mah asana teu kungsi diomongkeun ku déwék.”&lt;br /&gt;“Tambahna, Ka, ngarah katangar wasa ngaraksa basa!”***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-8371894905790769026?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/8371894905790769026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=8371894905790769026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8371894905790769026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8371894905790769026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/01/kabeungharan-basa-sunda.html' title='Kabeungharan Basa Sunda'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-6640691997822474273</id><published>2010-01-01T23:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T07:08:23.439-08:00</updated><title type='text'>Peristiwa Bersejarah Tahun ....10</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PERISTIWA BERSEJARAH &lt;br /&gt;DALAM TAHUN   .…10&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1910 (100 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Pemerintah kolonial Hindia Belanda berhasil menguasai kepulauan tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Kata Prof. Ricklefs, "&lt;em&gt;By 1910 the boundaries of the present state of Indonesia had been drawn by colonial armed forces&lt;/em&gt;." (Merle Calvin Ricklefs, &lt;em&gt;A History of Modern Indonesia&lt;/em&gt;, Third Edition, 2001, h.189). &lt;br /&gt;Jadi tidaklah benar kita dijajah tiga setengah abad. Justru Belanda yang memerlukan waktu tiga setengah abad untuk menguasai Indonesia!&lt;br /&gt;● Jepang mulai menjajah Korea dan mengubah namanya menjadi Chosen.&lt;br /&gt;● Raja Inggris, Edward VII, wafat dan digantikan anaknya, George V (kakeknya Ratu Elizabeth sekarang).&lt;br /&gt;● Raja Manuel di Portugal digulingkan rakyat, dan Portugal menjadi republik.&lt;br /&gt;● Karl May menulis buku &lt;em&gt;Winnetou&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;● Komet Halley datang kembali (76 tahun sekali, terakhir datang tahun 1986).&lt;br /&gt;● Paul Ehrlich dari Jerman mensintesis salvarsan, obat sifilis.&lt;br /&gt;● Thomas Morgan dari Amerika Serikat menemukan gen dalam kromosom, dan menjelaskan peranan kromosom dalam pewarisan sifat makhluk hidup.&lt;br /&gt;● Georges Claude dari Perancis menciptakan lampu neon.&lt;br /&gt;● Tokoh termasyhur yang wafat tahun 1910, antara lain: Henri Dunant (pendiri palang merah dari Swiss); Robert Koch (ahli bakteriologi Jerman); Florence Nightingale (perawat Inggris); Mark Twain (pengarang Amerika); Leo Tolstoy (pengarang Rusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1810 (200 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Napoleon Bonaparte menduduki kota-kota Hanover, Bremen dan Hamburg di Jerman, serta menyatukan Belanda ke dalam negara Perancis.&lt;br /&gt;● Argentina dan Meksiko merdeka dari kekuasaan Spanyol.&lt;br /&gt;● John Dalton dari Inggris menerbitkan buku &lt;em&gt;New System of Chemical Philosophy&lt;/em&gt;, yang menjelaskan teori atom dan dasar-dasar ilmu kimia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1610 (400 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Galileo Galilei dari Italia menemukan cincin planet Saturnus dan empat buah bulan planet Jupiter (Ganymede, Callisto, Io, Europa).&lt;br /&gt;● Michelangelo, pelukis Italia, wafat.&lt;br /&gt;● Untuk pertama kalinya bangsa-bangsa Eropa mengenal teh, yang dibawa para pedagang bangsa Belanda dari Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1510 (500 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Armada Portugis di bawah Afonso de Albuquerque menduduki pelabuhan Goa di India, yang memulai era kolonialisme Eropa di benua Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1410 (600 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Cheng Ho, laksamana Muslim dari Dinasti Ming di Cina memulai pelayaran muhibbahnya yang kedua, mengunjungi Campa, Jawa, Malaka, Sumatera, Srilanka, dan Kalikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1210 (800 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Genghis Khan dari Mongol mulai bergerak menyerbu Cina. Kekuasaan Mongol di Cina (Dinasti Yuan) berlangsung sampai abad ke-14 lalu digantikan Dinasti Ming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1010 (1000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Abul-Hasan ibn Haitsam (Alhazen) dari Mesir menulis &lt;em&gt;Kitab al-Manazhir&lt;/em&gt;, buku ilmiah tertua mengenai optik.&lt;br /&gt;● Firdausi, pujangga Persia, merampungkan karya sejarahnya, &lt;em&gt;Shah-Namah&lt;/em&gt;, yang ditulisnya selama 35 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;810 (1200 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi dari Persia menulis &lt;em&gt;Kitab al-Jabar wa Muqabalah&lt;/em&gt;, buku matematika pertama di dunia. Dari judul buku ini, bangsa-bangsa Eropa memperoleh kata ‘&lt;em&gt;algebra&lt;/em&gt;’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;710 (1300 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Kekuasaan Islam membentang dari Maroko di Afrika Utara sampai Xinjiang di Cina. Tahun berikutnya, 711, Islam memasuki Spanyol dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;610 (1400 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Pada malam Senin 6 Agustus 610, bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 13 SH (Sebelum Hijrah), Muhammad ibn Abdullah s.a.w. di Gua Hira`, Bukit Jabal Nur, Makkah, menerima wahyu Allah yang pertama kalinya. Dengan peristiwa &lt;em&gt;Nuzul al-Qur’an &lt;/em&gt;ini, Muhammad s.a.w. diangkat menjadi Nabi dan Rasul, serta Agama Islam lahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;410 (1600 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;● Tujuh pemuda pengikut ajaran Nabi Isa al-Masih a.s. dibangkitkan Allah dari tidur mereka selama 300 tahun. Mereka dikenal sebagai &lt;em&gt;The Seven Sleepers &lt;/em&gt;oleh umat Nasrani dan sebagai &lt;em&gt;Ashhabul-Kahfi &lt;/em&gt;oleh umat Islam. Mereka mulai tertidur tahun 110 (masa Kaisar Trajanus) dan terbangun tahun 410 (masa Kaisar Theodosius II).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HANDBOOK 2010&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;HEALTH&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;01. Drink plenty of water.&lt;br /&gt;02. Eat breakfast like a king, lunch like a prince, and dinner like a beggar.&lt;br /&gt;03. Live with the 3 E's--Energy, Enthusiasm &amp; Empathy.&lt;br /&gt;04. Make time to pray.&lt;br /&gt;05. Play more games.&lt;br /&gt;06. Read more books than you did in 2009.&lt;br /&gt;07. Sit in silence for at least 10 minutes each day.&lt;br /&gt;08. Sleep for 7 hours.&lt;br /&gt;09. Take a 10-30 minutes walk daily. And while you walk, smile.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;em&gt;PERSONALITY&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;10. Don't over do. Keep your limits.&lt;br /&gt;11. Don't take yourself so seriously. No one else does.&lt;br /&gt;12. Don't waste your precious energy on gossip.&lt;br /&gt;13. Dream more while you are awake.&lt;br /&gt;14. Envy is a waste of time. You already have all you need.&lt;br /&gt;15. Forget issues of the past.  Don't remind your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.&lt;br /&gt;16. Life is too short to waste time hating anyone. Don't hate others.&lt;br /&gt;17. Make peace with your past so it won't spoil the present.&lt;br /&gt;18. No one is in charge of your happiness except you.&lt;br /&gt;19. Smile and laugh more.&lt;br /&gt;20. You don't have to win every argument. Agree to disagree.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;SOCIETY:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;21. Call your family often.&lt;br /&gt;22. Each day give something good to others.&lt;br /&gt;23. Forgive everyone for everything.&lt;br /&gt;24. Spend time with people over the age of 70 &amp; under the age of 6.&lt;br /&gt;25. Try to make at least 3 people smile each day.&lt;br /&gt;26. What other people think of you is none of your business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;LIFE&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;27. Do the right thing!&lt;br /&gt;28. God heals everything.&lt;br /&gt;29. However good/bad a situation is, it will change.&lt;br /&gt;30. No matter how you feel, get up, dress up and show up.&lt;br /&gt;31. The best is yet to come.&lt;br /&gt;32. When awake in the morning, thank God for it.&lt;br /&gt;33. Your innermost is always happy. So, be happy in the future!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-6640691997822474273?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/6640691997822474273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=6640691997822474273' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6640691997822474273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6640691997822474273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/01/peristiwa-bersejarah-tahun-10.html' title='Peristiwa Bersejarah Tahun ....10'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-7985694348462911111</id><published>2010-01-01T15:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T07:13:44.577-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Berbagai Jenis Kalender</title><content type='html'>&lt;strong&gt;TAHUN  BERAPAKAH  SEKARANG ?&lt;br /&gt;(Bagian Pertama: Kalender Masehi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o l e h&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DENGAN TIDAK TERASA kita memasuki tahun 2010. Tetapi tidaklah salah jika ada yang mengatakan sekarang tahun 1388, 1431, 1931, 1943, 1946, 2553, 2560, 2670, atau 5769. Dalam tulisan yang terdiri atas tiga bagian, kita akan membahas berbagai jenis kalender yang dipakai oleh para penghuni planet bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jenis-jenis kalender&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan mengelilingi bumi dalam 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik atau 29,5306 hari (satu bulan). Jika dikalikan dua belas, hasilnya adalah 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari. Inilah waktu satu tahun bagi kalender berdasarkan bulan (&lt;em&gt;lunar&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;qamariyah&lt;/em&gt;). Ada pula kalender berdasarkan matahari (&lt;em&gt;solar&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;syamsiyah&lt;/em&gt;), yang waktu satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh karena jumlah hari dalam setahun tidak bulat, maka tidak ada kalender yang sempurna. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu menurut perjanjian yang dibuat sehari lebih panjang (&lt;em&gt;tahun kabisat &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;leap year&lt;/em&gt;). Kalender lunar memiliki tahun normal 354 hari dan tahun kabisat 355 hari, sedangkan bagi kalender solar masing-masing 365 dan 366 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di samping kalender lunar dan kalender solar, ada juga kalender &lt;em&gt;lunisolar&lt;/em&gt;, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat, maka kalender lunisolar dalam setiap tiga tahun memiliki &lt;em&gt;bulan interkalasi &lt;/em&gt;(bulan tambahan; bulan ke-13), sehingga setahunnya 384 hari, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam (&lt;em&gt;sunset&lt;/em&gt;), dan awal setiap bulan (tanggal satu) adalah saat konjungsi (ijtima`) atau saat munculnya hilal. Pada kalender solar pergantian hari berlangsung tengah malam (&lt;em&gt;midnight&lt;/em&gt;), sedangkan awal setiap bulan tidak tergantung pada posisi bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Masehi, Iran dan Jepang merupakan kalender solar, sedangkan kalender Hijriyah, Jawa dan Sunda tergolong kalender lunar. Adapun contoh kalender lunisolar adalah kalender Saka, Buddha, Tionghoa, dan Yahudi. Silakan terka pemilik masing-masing angka tahun yang tercantum pada awal tulisan ini. Pada bagian pertama ini kita akan membahas kalender Masehi yang dipakai secara internasional. Kalender Hijriyah dan kalender-kalender lain akan dibahas pada bagian kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Romawi&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Masehi pada hakikatnya adalah kalender Romawi yang bermula sejak pendirian kota Roma, tujuh setengah abad sebelum Nabi Isa al-Masih a.s. dilahirkan. Ketika Romulus dan Remus mendirikan kota Roma tahun 753 SM menurut hitungan kita sekarang, mereka membuat kalender &lt;em&gt;lunisolar&lt;/em&gt;. Awal tahun adalah awal musim semi, dan tahun pembangunan Roma ditetapkan sebagai tahun 1 AUC (&lt;em&gt;ab urbi condita &lt;/em&gt;= “sejak kota dibangun”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan adalah &lt;em&gt;Martius &lt;/em&gt;(Mars, dewa perang), &lt;em&gt;Aprilus&lt;/em&gt; (Aprilia, dewi cinta), &lt;em&gt;Maius&lt;/em&gt; (Maya, dewi kesuburan), &lt;em&gt;Junis &lt;/em&gt;(Juno, istri dewa Jupiter), &lt;em&gt;Quintilis &lt;/em&gt;(bulan ke-5), &lt;em&gt;Sextilis&lt;/em&gt; (bulan ke-6), &lt;em&gt;September&lt;/em&gt; (bulan ke-7), &lt;em&gt;October&lt;/em&gt; (bulan ke-8), &lt;em&gt;November&lt;/em&gt; (bulan ke-9), &lt;em&gt;December&lt;/em&gt; (bulan ke-10), &lt;em&gt;Januari&lt;/em&gt; (Janus, dewa penjaga gerbang langit), dan &lt;em&gt;Februari&lt;/em&gt; (Februalia, dewi kesucian). Masing-masing bulan 30 hari, kecuali Februari sebagai bulan terakhir hanya 24 atau 25 hari, sehingga jumlah setahun 354 atau 355 hari. Agar tahun baru tanggal 1 Martius tetap jatuh pada awal musim semi, setiap tiga tahun disisipkan bulan interkalasi, &lt;em&gt;Mercedonius&lt;/em&gt;, setelah Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 708 AUC (tahun 46 SM, kata kita sekarang), kalender lunisolar Romawi berubah menjadi kalender &lt;em&gt;solar&lt;/em&gt; yang ditiru dari bangsa Mesir. Masyarakat Mesir purba menyembah dewa matahari dan kehidupan mereka sangat tergantung pada pasang dan surut Sungai Nil, sehingga mereka sejak tahun 4236 SM membuat kalender solar untuk menandai musim banjir, musim tanam dan musim panen. Penguasa Romawi saat itu, Julius Caesar, berpacaran dengan Cleopatra ratu Mesir. Untuk mengambil hati kekasihnya, Julius Caesar mengubah kalendernya menjadi kalender solar. Aneh tapi nyata: kalender berubah gara-gara cinta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Sosigenes, seorang ahli astronomi Yunani di Iskandariah, awal tahun Romawi serta jumlah hari dalam setiap bulan disesuaikan dengan kalender Mesir. Tahun baru digeser dari Martius (Maret) menjadi Januari. Akibatnya, September yang artinya “bulan ke-7” (&lt;em&gt;septem&lt;/em&gt; = tujuh) menjadi bulan ke-9. Nama bulan Quintilis diganti bulan &lt;em&gt;Julius&lt;/em&gt;, diambil dari namanya sendiri. Banyaknya hari dalam sebulan: Januari 31, Februari 28 atau 29, Martius 31, Aprilus 30, Maius 31, Junis 30, Julius 31, Sextilis 31, September 30, October 31, November 30, dan December 31. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 708 AUC itu ditetapkan oleh Julius Caesar menjadi tahun 1 Julian. Oleh karena merupakan tahun transisi dari sistem lunar ke sistem solar, tahun itu ditambah 90 hari: 67 hari diletakkan antara November dan December, dan 23 hari sesudah Februari. Jadi tahun 1 Julian berjumlah 445 hari, dan sering dijuluki &lt;em&gt;annus confusionis &lt;/em&gt;(“tahun campur-aduk”). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kaisar Romawi berikutnya, Octavianus Augustus, ingin juga mengabadikan namanya dalam kalender. Namanya, &lt;em&gt;Augustus&lt;/em&gt;, dipakai mengganti nama bulan Sextilis. Untunglah kaisar-kaisar selanjutnya tidak memiliki keinginan serupa, sehingga nama-nama bulan tidak lagi mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun Masehi (Anno Domini)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orang-orang Romawi memeluk agama Nasrani, kalender Julian tetap digunakan, bahkan makin meluas pemakaiannya di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Pada tahun 572 Julian, seorang pejabat tinggi kepausan di Roma, Dionisius Exiguus, menetapkan perhitungan tahun &lt;em&gt;Anno Domini &lt;/em&gt;(“Tahun Tuhan”). Berdasarkan perkiraan Dionisius bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. lahir pada tahun 47 Julian, maka tahun 47 Julian ditetapkan sebagai tahun 1 Anno Domini (AD), dan angka tahun 572 Julian diganti dengan memundurkannya menjadi 526 AD. Jadi sejak tahun 526 berlakulah hitungan tahun Anno Domini (AD) yang berlangsung sampai sekarang. Kita di Indonesia menyebutnya tahun &lt;em&gt;Masehi&lt;/em&gt; (M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Masehi atau kalender Julian memakai patokan 365,25 hari (365 hari 6 jam) setahun dengan kabisat empat tahun sekali, yaitu yang angka tahunnya habis dibagi empat. Patokan ini berlebih 11 menit 14 detik (0,0078 hari) dari yang seharusnya. Akibatnya terjadi kesalahan satu hari dalam setiap 128 tahun, atau tiga hari dalam 400 tahun. Ilmuwan Roger Bacon dari Inggris tahun 1270 menghimbau Paus Clementius IV agar merevisi kalender Julian, tetapi himbauan itu tidak digubris. Lalu pada tahun 1475 Paus Sixtus IV mengundang ahli astronomi Jerman, Regiomontanus, untuk mengoreksi kalender. Sayangnya ketika tiba di Roma ilmuwan itu meninggal kena wabah, sehingga perbaikan itu urung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Gregorian  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1582 kesalahan kalender mencapai sepuluh hari. Saat matahari melintasi khatulistiwa atau awal musim semi (&lt;em&gt;vernal equinox&lt;/em&gt;) jatuh pada 11 Maret, padahal seharusnya 21 Maret. Maka Paus Gregorius XIII membentuk komisi yang dipimpin Christophorus Clavius dan bertugas mengoreksi kalender berdasarkan naskah &lt;em&gt;Novae Restituendi Calendarium &lt;/em&gt;dari Luigi Giglio (dilatinkan: Aloysius Lilius), ahli astronomi dari Universitas Perugia. Hasil revisi komisi itu disahkan Paus Gregorius XIII melalui keputusan yang berjudul &lt;em&gt;Calendarium Gregorianum&lt;/em&gt;. Angka tanggal dilompatkan sepuluh: &lt;em&gt;Kamis 4 Oktober 1582 &lt;/em&gt;diikuti oleh &lt;em&gt;Jum’at 15 Oktober 1582&lt;/em&gt;. Untuk memperkecil kesalahan pada masa mendatang, tiga dari empat sentesimal (tahun peralihan abad) yang selalu kabisat dibuat sebagai tahun biasa. Jadi 1600 kabisat; 1700, 1800 dan 1900 tahun biasa; 2000 kabisat lagi, dan seterusnya. Sistem Gregorian ini ternyata cukup akurat, hanya berlebih 0,0003 hari per tahun. Untuk mencapai kesalahan satu hari diperlukan waktu 3333 tahun. Jadi, kalender Gregorian baru perlu dikoreksi pada awal abad ke-50!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada mulanya yang mengikuti keputusan Paus untuk mengubah kalender hanyalah negara-negara Eropa yang mayoritas Katolik. Hal ini pun menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat awam. Banyak orang yang ketakutan kalau-kalau usianya berkurang sepuluh hari, dan para pekerja menuntut upah bagi sepuluh hari yang dianggap hilang. Adapun negara-negara Protestan, Anglikan dan Ortodoks tetap memakai kalender Julian. Mereka mencurigai jangan-jangan keputusan Paus itu hanya taktik untuk mengembalikan otoritas Katolik Roma di bidang agama. Apalagi Paus Gregorius XIII sangat dibenci kaum Protestan, gara-gara merestui pembantaian ribuan umat Protestan di Paris pada Hari Santo Bartholomeus tahun 1572.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik adalah bahwa kalender Gregorian justru disambut baik oleh Sultan Muhammad IV dari kerajaan Turki Usmani, yang mulai tahun 1677 (1088 Hijriyah) memakai kalender itu di seluruh daerah kekuasaannya di Semenanjung Balkan. Akan tetapi almanak resmi kerajaan tetap kalender Hijriyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjelang akhir abad ke-17, tahun 1698, seorang ilmuwan Jerman yang sangat berwibawa saat itu, Prof. Erhard Weigel, berkirim surat kepada raja-raja Eropa yang beragama Protestan agar menerima kalender Gregorian. Kata Weigel, pemakaian kalender itu tidaklah berarti tunduk kepada Paus, sebab hal itu masalah ketepatan peredaran benda langit, bukan masalah agama. Weigel juga mengingatkan kacaunya kalender di Jerman sepanjang abad ke-17: seseorang dari Regensburg yang Katolik tanggal 1 Januari pergi cuma sejauh 50 mil dan tiba di Nuremberg yang Protestan pada 21 Desember &lt;em&gt;tahun sebelumnya&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka pada awal abad ke-18 negara-negara Protestan menerima kalender Gregorian. Inggris negara Anglikan mengikuti pada tahun 1752, dengan menyatakan tanggal 2 September 1752 langsung disusul oleh 14 September 1752. Hal ini juga berlaku untuk seluruh jajahan Inggris, termasuk Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada sekarang) yang saat itu belum merdeka. Akibatnya, George Washington, yang nantinya menjadi presiden pertama Amerika Serikat, terpaksa mengubah tanggal lahirnya dari 11 Februari 1732 menjadi 22 Februari 1732.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara Eropa Timur yang menganut Kristen Ortodoks baru menerima kalender Gregorian sesudah Perang Dunia I berakhir. Rusia memberlakukannya tahun 1918 dengan menyatakan bahwa 31 Januari langsung disusul 13 Februari. Hari penghapusan kekaisaran Rusia yang berlangsung tanggal 7 November 1917 sampai sekarang disebut “Revolusi Oktober”, sebab hari itu di Rusia masih berlaku kalender Julian tanggal 25 Oktober. Negara Eropa terakhir yang menerima kalender Gregorian adalah Yunani tahun 1923. Akan tetapi kalender Julian tetap digunakan oleh Gereja Ortodoks khusus untuk menentukan Hari Natal. Sampai sekarang mereka merayakan Natal pada tanggal 7 Januari (25 Desember menurut kalender Julian), dua minggu lebih lambat daripada umat Kristen lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, penyebaran kalender Gregorian dilakukan oleh negara-negara Eropa yang menjajahnya. Di Indonesia sampai awal abad ke-20 kalender Hijriyah masih dipakai oleh raja-raja Nusantara. Bahkan raja Karangasem yang beragama Hindu, Ratu Agung Ngurah, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang beragama Nasrani, Otto van Rees, pada tahun 1895 masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah. Kalender Gregorian secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 (tepat 100 tahun yang lalu) dengan berlakunya &lt;em&gt;Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap&lt;/em&gt;, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda. Maka tercapailah niat Octavianus Augustus yang ingin namanya abadi. Nama Kaisar Romawi ini senantiasa diucapkan ratusan juta orang Indonesia dengan khusyu` setiap tahun, tatkala mereka merayakan hari proklamasi kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 2010?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berapakah sekarang? Tahun 2010, jika kita mengikuti perkiraan Dionisius Exiguus bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. lahir tahun 47 Julian. Kalkulasi ini berdasarkan data Injil Lukas bahwa utusan Allah bagi Bani Israil itu memulai tugas kerasulan pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, yang bertahta dari tahun 60 Julian sampai 83 Julian (14-37 Masehi), sehingga kejadian yang diceritakan Lukas itu berlangsung tahun 75 Julian (29 Masehi). Oleh karena Lukas mengatakan usia Isa al-Masih saat itu “kira-kira 30 tahun” (&lt;em&gt;quasi annorum triginta&lt;/em&gt;), maka Dionisius memperkirakan putra suci Siti Maryam itu lahir tahun 47 Julian, yang ditetapkannya sebagai Tahun 1 Anno Domini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perkiraan Dionisius itu tidak tepat! Kenyataannya, baik Injil Lukas maupun Injil Matius mencatat kelahiran Isa al-Masih pada masa Raja Herodes di Palestina, yang berarti antara tahun 37 SM dan 4 SM (10 sampai 43 Julian). Lukas juga mengatakan bahwa Isa al-Masih lahir ketika gubernur Suriah Quirinius, atas perintah Kaisar Augustus (bertahta 27 SM sampai 14 Masehi), mengadakan sensus penduduk di Palestina. Sensus ini tentu berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 6 SM (41 Julian). Dengan demikian utusan Allah yang mulia itu sangat mungkin lahir tahun 5 SM (42 Julian). Jadi, kalau kita ingin konsekuen menghitung tahun sejak lahirnya Nabi Isa al-Masih a.s., seharusnya sekarang adalah tahun 2015.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAHUN  BERAPAKAH  SEKARANG ?&lt;br /&gt;(Bagian Kedua: Kalender Hijriyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o l e h&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM TULISAN terdahulu kita telah membicarakan kalender Masehi yang berdasarkan matahari (solar). Kini kita membahas kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan (lunar). Meskipun negara kita memakai kalender Masehi sebagai almanak resmi, kalender Hijriyah tidaklah mungkin kita abaikan, sebab mayoritas bangsa kita memeluk agama Islam yang menggunakan kalender Hijriyah untuk menentukan saat berlangsungnya puasa Ramadhan dan Idul Fitri, ibadah haji dan Idul Adha, masa iddah istri yang ditinggal suami, perhitungan zakat tahunan, dan sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Arab Pra-Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w., masyarakat Arab memakai kalender &lt;em&gt;lunisolar&lt;/em&gt;, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Awal tahun (&lt;em&gt;Ra’s as-Sanah &lt;/em&gt;= Kepala Tahun) selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar September. Bulan pertama dinamai &lt;em&gt;Muharram&lt;/em&gt;, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai &lt;em&gt;Shafar&lt;/em&gt; (“kuning”). Bulan November dan Desember pada musim gugur (&lt;em&gt;rabi`&lt;/em&gt;) berturut-turut dinamai &lt;em&gt;Rabi`ul-Awwal &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Rabi`ul-Akhir&lt;/em&gt;. Januari dan Februari adalah musim dingin (&lt;em&gt;jumad&lt;/em&gt; atau “beku”) sehingga dinamai &lt;em&gt;Jumadil-Awwal &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Jumadil-Akhir&lt;/em&gt;. Kemudian salju mencair (&lt;em&gt;Rajab&lt;/em&gt;) pada bulan Maret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan April di musim semi merupakan bulan &lt;em&gt;Sya`ban &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;syi`b&lt;/em&gt; = lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah tanah pertanian atau menggembala ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Inilah bulan-bulan &lt;em&gt;Ramadhan &lt;/em&gt;(“pembakaran”) dan &lt;em&gt;Syawwal&lt;/em&gt; (“peningkatan”). Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai &lt;em&gt;Dzulqa`dah &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;qa`id &lt;/em&gt;= duduk). Akhirnya, Agustus dinamai &lt;em&gt;Dzulhijjah&lt;/em&gt;, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender solar yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut &lt;em&gt;nasi’&lt;/em&gt; yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ternyata tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai tahun-tahun mana saja yang mempunyai bulan &lt;em&gt;nasi’&lt;/em&gt;. Masing-masing kabilah seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun yang lain cuma 12 bulan. Lebih celaka lagi jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu masih dalam bulan &lt;em&gt;nasi’&lt;/em&gt;, belum masuk Muharram, menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab yang saat itu masih dalam suasana jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemurnian Kalender Lunar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad s.a.w., maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi’. Hal ini tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 36 dan 37:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketentuan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, empat daripadanya bulan-bulan haram (Dzul-Qa`dah, Dzul-Hijjah, Muharram, Rajab). Itulah keputusan yang lurus (sesuai peredaran benda langit). Maka janganlah kamu menganiaya dirimu (dengan berperang) pada bulan-bulan haram itu. Dan (jika bulan-bulan haram telah lewat) perangilah kaum musyrikin seutuhnya sebagaimana mereka memerangimu secara utuh pula. Ketahuilah bahwa Allah menyertai orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesungguhnya bulan nasi’ (interkalasi) hanyalah tambahan bagi kekafiran. Orang-orang kafir tersesat oleh bulan nasi’ itu. Mereka menghalalkan tahun yang satu dan mengharamkan tahun yang lain untuk memanipulasi bilangan bulan yang diharamkan Allah, sehingga mereka menghalalkan (perang) yang diharamkan Allah. Dihiaskan kepada mereka keburukan perbuatan mereka. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan turunnya wahyu Allah di atas, maka Nabi Muhammad s.a.w. mengeluarkan dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi tergantung kepada perjalanan matahari. Hal ini lebih dipertegas dalam khutbah Nabi di Arafah tatkala beliau menunaikan haji. Meskipun nama-nama bulan dari Muharram sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan (“pembakaran”) tidak selalu di musim panas dan Jumadil-Awwal (“beku pertama”) tidak selalu di musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengapa harus kalender lunar murni? Hal ini disebabkan agama Islam bukanlah hanya untuk masyarakat Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya berbeda-beda. Sangatlah tidak adil jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan ibadah puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu di musim panas atau selalu di musim dingin. Sebaliknya, dengan memakai kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan atau umat Islam di London berpuasa 16 jam di musim panas, tetapi berbuka puasa pukul empat sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada suatu saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan pada saat yang lain merasakan sejuknya udara Makkah di musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perhitungan Tahun Hijriyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada masa Nabi Muhammad s.a.w. penyebutan tahun tidaklah memakai angka melainkan berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad s.a.w. lahir tanggal 12 Rabi`ul-Awwal Tahun Gajah (&lt;em&gt;`Am al-Fil&lt;/em&gt;), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka`bah. Nabi Muhammad s.a.w. mengalami Isra’-Mi`raj tanggal 27 Rajab Tahun Dukacita &lt;em&gt;(`Am al-Huzn&lt;/em&gt;), sebab pada tahun itu Khadijah (istri Nabi) dan Abu Talib (paman Nabi) wafat. Kelahiran Nabi dan peristiwa Isra’-Mi`raj masing-masing bertepatan dengan tanggal 23 April 571 dan 27 Februari 621 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638, gubernur Iraq Abu Musa al-Asy`ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (&lt;em&gt;`Am al-Fil&lt;/em&gt;, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama (&lt;em&gt;`Am al-Bi’tsah&lt;/em&gt;, 610 M). Tetapi akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah (&lt;em&gt;`Am al-Hijrah&lt;/em&gt;, 622 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ali ibn Abi Talib mengemukakan tiga argumentasi. Pertama, dalam Al-Qur’an sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (&lt;em&gt;al-ladziina haajaruu&lt;/em&gt;). Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah &lt;em&gt;Tahun Satu&lt;/em&gt;, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut &lt;em&gt;Tarikh Hijriyah&lt;/em&gt;. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan hari Jum’at 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriyah yang paling awal (mencantumkan &lt;em&gt;Sanah 17 &lt;/em&gt;= Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh penduduk kota Aelia (Jerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sistem Kalender Hijriyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muharram sampai Dzulhijjah, setiap bulan 30 atau 29 hari sehingga 354 hari setahun. Dalam setiap siklus 30 tahun, 11 tahun adalah kabisat (Dzul-Hijjah dijadikan 30 hari), yaitu tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29. Awal bulan (tanggal satu) ditandai dengan munculnya hilal (sehari atau dua hari sesudah konjungsi), yang dapat ditentukan dengan metode &lt;em&gt;hisab &lt;/em&gt;(perhitungan astronomis) atau metode &lt;em&gt;ru’yah&lt;/em&gt; (menyaksikan hilal dengan mata). Pada tanggal 18 Desember 2009, kita memulai tahun baru 1 Muharram 1431 Hijriyah, tahun ke-21 dalam siklus 1411-1440. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena peredaran bulan adalah sesuatu yang eksak, maka awal puasa dan Idul-Fitri pada masa mendatang sudah dapat kita hitung secara ilmiah! Kita akan memulai ibadah puasa Ramadhan tanggal 11 Agustus 2010 dan merayakan Idul-Fitri tanggal 10 September 2010. Kemudian kita akan berpuasa Ramadhan lagi mulai 1 Agustus 2011, lalu berlebaran pada 30 Agustus 2011. Mudah-mudahan nanti tidak ada perbedaan antara &lt;em&gt;hisab&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ru’yah&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap 32 atau 33 tahun, dalam satu tahun Masehi terjadi dua kali Idul Fitri (awal Januari dan akhir Desember) seperti pada tahun 2000 yang lalu. Para pegawai memperoleh THR dua kali, serta Idul Fitri berdekatan dengan Tahun Baru Masehi. Fenomena ini pernah terjadi pada tahun 1870, 1903, 1935, 1968, dan akan berlangsung lagi tahun 2033, 2065, 2098, 2130, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konversi Kalender Hijriyah ke Masehi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Muharram 100 H = 3 Agustus 718 &lt;br /&gt;1 Muharram 200 H = 11 Agustus 815 &lt;br /&gt;1 Muharram 300 H = 18 Agustus 912 &lt;br /&gt;1 Muharram 400 H = 25 Agustus 1009 &lt;br /&gt;1 Muharram 500 H = 2 September 1106 &lt;br /&gt;1 Muharram 600 H = 10 September 1203  &lt;br /&gt;1 Muharram 700 H = 17 September 1300 &lt;br /&gt;1 Muharram 800 H = 24 September 1397 &lt;br /&gt;1 Muharram 900 H = 2 Oktober 1494 &lt;br /&gt;1 Muharram 1000 H = 18 Oktober 1591 &lt;br /&gt;1 Muharram 1100 H = 26 Oktober 1688 &lt;br /&gt;1 Muharram 1200 H = 4 November 1785 &lt;br /&gt;1 Muharram 1300 H = 12 November 1882 &lt;br /&gt;1 Muharram 1400 H = 21 November 1979 &lt;br /&gt;1 Muharram 1500 H = 29 November 2076&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena 32 tahun kalender Masehi = 33 tahun kalender Hijriyah, maka konversi tahun Hijriyah ke tahun Masehi atau sebaliknya dapat dilakukan dengan memakai rumus:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;M  =  32/33  H   +   622&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H  =  33/32  ( M – 622 )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Hijriyah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil. Angka tahun Hijriyah pelan-pelan ‘mengejar’ angka tahun Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriyah. Saat itu kita entah sudah berada di mana. “Perhatikanlah waktu! Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian...” demikian pesan suci Al-Qur’an.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAHUN  BERAPAKAH  SEKARANG ?&lt;br /&gt;(Bagian Ketiga: Kalender-Kalender Lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o l e h&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SETELAH MEMBAHAS kalender Masehi dan kalender Hijriyah pada dua bagian terdahulu, kini kita akan membicarakan kalender-kalender Saka, Buddha, Jawa, Sunda, Iran, Tionghoa, Yahudi, dan Jepang. Kalender Jawa dan Sunda adalah kalender lunar (bulan), sedangkan kalender Iran dan Jepang kalender solar (matahari). Adapun kalender Saka, Buddha, Tionghoa dan Yahudi merupakan lunisolar (kalender bulan yang disesuaikan dengan matahari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Saka dan Buddha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalender Saka dimulai tahun 78 Masehi ketika kota Ujjayini (Malwa di India sekarang) direbut oleh kaum Saka (Scythia) di bawah pimpinan Maharaja Kaniska dari tangan kaum Satavahana. Tahun baru terjadi pada saat &lt;em&gt;Minasamkranti&lt;/em&gt; (matahari pada rasi Pisces) awal musim semi. Nama-nama bulan adalah &lt;em&gt;Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana, Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Phalguna&lt;/em&gt;. Agar sesuai kembali dengan matahari, bulan Asadha dan Srawana diulang secara bergiliran setiap tiga tahun dengan nama &lt;em&gt;Dwitiya Asadha&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Dwitiya Srawana&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awal setiap bulan adalah saat konjungsi, sehingga tanggal kalender Saka umumnya lebih dahulu sehari dari tanggal kalender Hijriyah yang diawali munculnya hilal. Setiap bulan dibagi menjadi dua bagian yaitu &lt;em&gt;suklapaksa &lt;/em&gt;(paro terang, dari bulan mati sampai purnama) dan &lt;em&gt;kresnapaksa&lt;/em&gt; (paro gelap, dari selepas purnama sampai menjelang bulan mati). Masing-masing bagian berjumlah 15 atau 14 hari (&lt;em&gt;tithi&lt;/em&gt;). Jadi kalender Saka tidak mempunyai tanggal 16. Misalnya, &lt;em&gt;tithi pancami suklapaksa &lt;/em&gt;adalah tanggal lima, sedangkan &lt;em&gt;tithi pancami kresnapaksa&lt;/em&gt; adalah tanggal dua puluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Konsep &lt;em&gt;sunya&lt;/em&gt; (kosong) dalam ajaran Hindu mendasari kalender Saka untuk menghitung tahun dari Nol. Tanggal 1 Caitra tahun Nol bertepatan dengan tanggal 14 Maret 78. Tahun baru 1 Caitra 1932 jatuh pada tanggal 16 Maret 2010. Di Indonesia kita mengenal tahun baru Saka sebagai &lt;em&gt;Hari Raya Nyepi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di daratan Asia Tenggara, dari Myanmar sampai Vietnam, berlaku kalender Buddha yang menghitung tahun dari 544 SM, tahun Siddharta Gautama dilahirkan. Sistem kalendernya sama dengan kalender Saka. Tahun baru 2554 jatuh pada tanggal 16 Maret 2010. Tetapi tanggal yang dimuliakan umat Buddha bukanlah tahun baru, melainkan malam purnama bulan Waisaka, saat kelahiran dan pencerahan Sang Buddha. Itulah &lt;em&gt;Hari Raya Waisak&lt;/em&gt; yang tahun ini jatuh pada tanggal 28 Mei 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Hijriyah-Jawa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nenek moyang kita memakai kalender Saka tatkala masih beragama Hindu. Bahkan ketika sudah memeluk Islam, kalender Saka tetap dipakai di Jawa sampai awal abad ke-17. Kesultanan Demak, Banten, dan Mataram menggunakan kalender Saka dan kalender Hijriyah secara bersama-sama. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender Saka dari Pulau Jawa, lalu menciptakan &lt;em&gt;Kalender Jawa &lt;/em&gt;yang mengikuti kalender Hijriyah. Cuma bilangan tahun 1555 tetap dilanjutkan. Jadi tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah adalah 1 Muharam 1555 Jawa, yang jatuh pada  hari Jum`at Legi (&lt;em&gt;Sweet Friday&lt;/em&gt;) tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Angka tahun Jawa selalu berselisih 512 dari angka tahun Hijriyah. Keputusan Sultan Agung ini disetujui dan diikuti oleh Sultan Abul-Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651) dari Banten. Dengan demikian kalender Saka tamat riwayatnya di seluruh Jawa, dan digantikan oleh kalender Jawa yang sangat bercorak Islam dan sama sekali tidak lagi berbau Hindu atau budaya India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah Jawa: &lt;em&gt;Muharam, Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Saban, Ramelan, Sawal, Dulkangidah, Dulkijah&lt;/em&gt;. Muharram juga disebut bulan &lt;em&gt;Sura&lt;/em&gt; sebab mengandung Hari Asyura 10 Muharram. Rabi`ul-Awwal dijuluki bulan &lt;em&gt;Mulud&lt;/em&gt;, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Rabi`ul-Akhir adalah &lt;em&gt;Bakdamulud&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Silihmulud&lt;/em&gt;, artinya “sesudah Mulud”. Sya`ban merupakan bulan &lt;em&gt;Ruwah&lt;/em&gt;, saat mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, dalam menyambut bulan &lt;em&gt;Puasa &lt;/em&gt;(Ramadhan). Dzul-Qa`dah disebut &lt;em&gt;Hapit&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Sela&lt;/em&gt; sebab terletak di antara dua hari raya. Dzul-Hijjah merupakan bulan &lt;em&gt;Haji&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Besar&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Rayagung&lt;/em&gt;), saat berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama hari kalender Saka dalam bahasa Sansekerta (&lt;em&gt;Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra, Sanaiscara&lt;/em&gt;) yang dianggap berbau penyembahan benda langit dihapuskan oleh Sultan Agung, diganti dengan nama-nama hari dalam bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa: &lt;em&gt;Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu&lt;/em&gt;. Tetapi hari-hari pasaran atau pancawara (&lt;em&gt;Pahing, Pon, Wage, Kaliwuan, Umanis&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Legi&lt;/em&gt;) tetap dilestarikan, sebab merupakan konsep asli masyarakat Jawa, bukan diambil dari kalender Saka atau budaya India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam siklus &lt;em&gt;satu windu &lt;/em&gt;(delapan tahun), tanggal 1 Muharam (Sura) berturut-turut jatuh pada hari ke-1, ke-5, ke-3, ke-7, ke-4, ke-2, ke-6 dan ke-3. Itulah sebabnya tahun-tahun dalam satu windu dinamai berdasarkan numerologi huruf Arab: &lt;em&gt;Alif&lt;/em&gt; (1), &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt; (5), &lt;em&gt;Jim Awwal &lt;/em&gt;(3), &lt;em&gt;Zai&lt;/em&gt; (7), &lt;em&gt;Dal &lt;/em&gt;(4), &lt;em&gt;Ba &lt;/em&gt;(2), &lt;em&gt;Waw &lt;/em&gt;(6) dan &lt;em&gt;Jim Akhir &lt;/em&gt;(3). Sudah tentu pengucapannya menurut lidah Jawa: &lt;em&gt;Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Jimakir&lt;/em&gt;. Tahun-tahun Ehe, Dal dan Jimakir ditetapkan sebagai kabisat. Jumlah hari dalam satu windu adalah (354 x 8) + 3 = 2835 hari, angka yang habis dibagi 35 (7 x 5). Itulah sebabnya setiap awal windu (1 Muharam tahun Alip) selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk dicatat bahwa jika umat Islam di luar Jawa hanya mengenal Senin 12 Rabi`ul-Awwal sebagai hari dan tanggal kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. maka umat Islam di Jawa menyebutkan saat lahirnya Junjungan kita yang mulia itu secara lebih komplit: Senin Pon 12 Rabingulawal (Mulud) Tahun Dal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena kabisat Jawa tiga dari delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan kabisat Hijriyah 11 dari 30 tahun (11/30 = 44/120), maka dalam setiap 15 windu (120 tahun), yang disebut &lt;em&gt;satu kurup&lt;/em&gt;, kalender Jawa harus &lt;em&gt;hilang satu hari&lt;/em&gt;, agar kembali sesuai dengan kalender Hijriyah. Sebagai contoh, kurup pertama berlangsung dari Jum`at Legi 1 Muharam tahun Alip 1555 sampai Kamis Kliwon 30 Dulkijah tahun Jimakir 1674. Di sini 30 Dulkijah dihilangkan. Dengan demikian Rabu Wage 29 Dulkijah 1674 akhir kurup pertama diikuti oleh awal kurup kedua Kamis Kliwon 1 Muharam tahun Alip 1675. Jadi, awal windu (1 Muharam tahun Alip) bergeser dari Jum`at Legi menjadi Kamis Kliwon. Setelah 120 tahun berikutnya, awal windu harus bergeser lagi menjadi Rabu Wage, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kurup (periode 120 tahun) dinamai menurut hari pertamanya. Periode 1555-1674 Jawa (1633-1749 Masehi) disebut &lt;em&gt;kurup jamngiah &lt;/em&gt;(Awahgi = tahun Alip mulai Jumuwah Legi), kemudian periode 1675-1794 Jawa (1749-1866 Masehi) disebut &lt;em&gt;kurup kamsiah&lt;/em&gt; (Amiswon = Alip-Kemis-Kliwon), dan periode 1795-1914 Jawa (1866-1982 Masehi) disebut &lt;em&gt;kurup arbangiah &lt;/em&gt;(Aboge = Alip-Rebo-Wage). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tanggal 1 Muharam tahun Alip 1915 (1 Muharram 1403 Hijriyah) yang bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1982, kita berada dalam &lt;em&gt;kurup salasiah &lt;/em&gt;(Asopon = Alip-Seloso-Pon), yaitu periode 1915-2034 Jawa (1982-2099 Masehi), di mana setiap 1 Muharam tahun Alip pasti jatuh pada hari Selasa Pon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Muharam Alip 1939 (1427 H) = Selasa Pon 31 Januari 2006&lt;br /&gt;1 Muharam Ehe 1940 (1428 H) = Sabtu Pahing 20 Januari 2007&lt;br /&gt;1 Muharam Jimawal 1941 (1429 H=Kamis Pahing 10 Januari 2008&lt;br /&gt;1 Muharam Je 1942 (1430 H) = Senin Legi 29 Desember 2008&lt;br /&gt;1 Muharam Dal 1943 (1431 H) = Jumat Kliwon 18 Desember 2009&lt;br /&gt;1 Muharam Be 1944 (1432 H) = Rabu Kliwon 8 Desember 2010&lt;br /&gt;1 Muharam Wawu 1945 (1433 H) = Ahad Wage 27 November 2011&lt;br /&gt;1 Muharam Jimakir 1946 (1434 H)=Kamis Pon 15 November 2012&lt;br /&gt;1 Muharam Alip 1947 (1435 H) = Selasa Pon 5 November 2013&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Pranata Mangsa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kalender Jawa yang identik dengan kalender Hijriyah, masyarakat Jawa mengenal juga kalender solar &lt;em&gt;Pranata Mangsa &lt;/em&gt;(“Pengaturan Bulan”) yang diciptakan Sunan Paku Buwana VII (1830-1858) dari Surakarta tahun 1855. Kalender Pranata Mangsa berawal tanggal 22 Juni dan disusun berdasarkan musim yang berlaku di Pulau Jawa! Itulah sebabnya jumlah hari dalam setiap bulan sangat bervariasi: &lt;em&gt;Kasa&lt;/em&gt; (41 hari, dari 22 Juni), &lt;em&gt;Karo&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Kalih&lt;/em&gt; (23 hari, dari 2 Agustus), &lt;em&gt;Katelu&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Katiga&lt;/em&gt; (24 hari, dari 25 Agustus), &lt;em&gt;Kapat&lt;/em&gt; (25 hari, dari 18 September), &lt;em&gt;Kalima&lt;/em&gt; (27 hari, dari 13 Oktober), &lt;em&gt;Kanem&lt;/em&gt; (43 hari, dari 9 November), &lt;em&gt;Kapitu&lt;/em&gt; (43 hari, dari 22 Desember), &lt;em&gt;Kawalu &lt;/em&gt;(26 atau 27 hari, dari 3 Februari), &lt;em&gt;Kasanga&lt;/em&gt; (25 hari, dari 1 Maret), &lt;em&gt;Kadasa&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Kasapuluh&lt;/em&gt; (24 hari, dari 26 Maret), &lt;em&gt;Desta &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;Hapit Lemah &lt;/em&gt;(23 hari, dari 19 April), serta &lt;em&gt;Sada &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;Hapit Kayu &lt;/em&gt;(41 hari, dari 12 Mei). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Kasa tahun 156 Pranata Mangsa jatuh pada 22 Juni 2010. Kalender Pranata Mangsa biasanya digunakan para petani hanya untuk menentukan musim tanam dan musim panen, dan jarang digunakan untuk menghitung waktu sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Sunda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang budayawan Sunda, Ali Sastramidjaja (1935-2009), pada awal tahun 2005 memperkenalkan &lt;em&gt;Kala Sunda&lt;/em&gt;, kalender lunar Sunda yang memulai perhitungan sejak tahun 122 Masehi. Belum jelas peristiwa bersejarah apakah yang terjadi saat itu sehingga diambil sebagai awal perhitungan tahun. Sistem perhitungan Kala Sunda sama seperti Hijriyah-Jawa. Dalam sewindu ada tiga tahun kabisat, sehingga jika misalnya awal windu (&lt;em&gt;indung poé&lt;/em&gt;) Ahad Manis, maka awal windu selanjutnya Ahad Manis juga. Setiap siklus besar 120 tahun (&lt;em&gt;tunggul taun&lt;/em&gt;) satu hari dihilangkan. Jadi setiap 120 tahun, indung poé bergeser dari Ahad Manis menjadi Sabtu Kliwon, kemudian menjadi Jumat Wage, dan seterusnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nama-nama bulan (&lt;em&gt;Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, Asuji&lt;/em&gt;), nama-nama hari (&lt;em&gt;Radite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek&lt;/em&gt;), serta pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu diambil dari kalender Saka, kecuali nama hari Tumpek (Sabtu) yang merupakan istilah asli Sunda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tetapi berbeda dengan kalender Saka, Kala Sunda menetapkan tanggal satu saat bulan berwujud setengah lingkaran. Istilah Sansekerta &lt;em&gt;suklapaksa &lt;/em&gt;(paroterang), yang pada kalender Saka berarti “separo bulan (&lt;em&gt;half-month&lt;/em&gt;) sampai purnama”, pada Kala Sunda mempunyai arti lain yaitu “bulan terlihat separo (&lt;em&gt;half-moon&lt;/em&gt;)”. Perbedaan lain: Kartika, bulan ke-8 kalender Saka, menjadi bulan pertama dalam Kala Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari-hari pasaran (pancawara) dalam Kala Sunda berselisih dua hari dengan kalender Jawa, misalnya Manis (Legi) dalam kalender Jawa menjadi Pon dalam Kala Sunda. Jika dalam kalender Jawa tahun dalam sewindu ditandai menurut numerologi huruf Arab (Alif-Ba-Jim-Dal-Ha-Waw-Zai), dalam Kala Sunda ditandai dengan nama hewan: &lt;em&gt;Kebo &lt;/em&gt;(1), &lt;em&gt;Keuyeup&lt;/em&gt; (2), &lt;em&gt;Hurang &lt;/em&gt;(3), &lt;em&gt;Embé &lt;/em&gt;(4), &lt;em&gt;Monyét &lt;/em&gt;(5), &lt;em&gt;Cacing &lt;/em&gt;(6), dan &lt;em&gt;Kalabang&lt;/em&gt; (7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang merupakan &lt;em&gt;tunggul taun &lt;/em&gt;ke-17, periode 1921-2040 Kala Sunda (1985-2102 Masehi), di mana &lt;em&gt;indung poé &lt;/em&gt;(1 Suklapaksa bulan Kartika Tahun Kebo) selalu jatuh pada hari Tumpek (Sabtu) Kaliwon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1945 Kebo       Tumpek (Sabtu) Kaliwon 6 Desember 2008&lt;br /&gt;1946 Monyét     Buda (Rabu) Wagé 25 November 2009&lt;br /&gt;1947 Hurang     Soma (Senin) Wagé 15 November 2010&lt;br /&gt;1948 Kalabang   Sukra (Jumat) Pon 4 November 2011&lt;br /&gt;1949 Embé       Anggara (Selasa) Pahing 23 Oktober 2012&lt;br /&gt;1950 Keuyeup    Radité (Ahad) Pahing 13 Oktober 2013&lt;br /&gt;1951 Cacing     Respati (Kamis) Manis 2 Oktober 2014&lt;br /&gt;1952 Hurang     Soma (Senin) Kaliwon 21 September 2015&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Persia (Hijriyah Solar)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari hubungan terhadap kalender Hijriyah, kalender Jawa berkebalikan dengan kalender Iran (Persia). Jika di Jawa kalender mengikuti Hijriyah tetapi angka tahun tidak berubah, maka di Iran kalender tidak berubah tetapi angka tahun dihitung dari hijrah Nabi. Jadi kalender Iran adalah kalender &lt;em&gt;Hijriyah Solar &lt;/em&gt;(kalender Hijriyah dengan perhitungan matahari). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di Afghanistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, lalu dibuat lebih akurat pada tahun 1087 M (480 H) oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan, Umar Khayyam (1048-1122), atas inisiatif Sultan Jalal ad-Dawlah Malik Syah dari Bani Saljuq, sehingga kalender itu dikenal sebagai &lt;em&gt;Kalender Jalali&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru (&lt;em&gt;Nawruz&lt;/em&gt;) selalu jatuh pada awal musim semi. Nama-nama bulan adalah &lt;em&gt;Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, Esfand&lt;/em&gt;. Enam bulan pertama 31 hari dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal 1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September (awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim dingin). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari. Tahun baru 1 Farwardin 1389 Hijriyah Solar jatuh pada 21 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Im-lek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalender &lt;em&gt;Im-lek &lt;/em&gt;(artinya “tahun bulan” atau &lt;em&gt;tarikh qamariyah&lt;/em&gt;) yang dipakai masyarakat Tionghoa diciptakan oleh Kaisar Shih Huang Ti (247-210 SM) dari Dinasti Chin. Kaisar inilah yang mempelopori pembangunan Tembok Besar (&lt;em&gt;Great Wall&lt;/em&gt;), dan dari nama dinasti Chin ini muncul istilah “China”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhitungan angka tahun dimulai sejak 551 SM, saat Kung Fu-tzu (Confucius) dilahirkan. Tahun baru (&lt;em&gt;Xin Nian&lt;/em&gt;) terjadi pada musim dingin ketika matahari pada Rasi Buaya (identik dengan Capricornus) antara 21 Januari sampai 19 Februari. Awal setiap bulan adalah saat konjungsi, sehingga tanggal kalender Im-lek umumnya lebih dahulu sehari (kadang-kadang dua hari) dari tanggal kalender Hijriyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Im-lek mempunyai siklus 12 tahun yang ditandai dengan nama-nama hewan: tikus (&lt;em&gt;shu&lt;/em&gt;), kerbau (&lt;em&gt;niu&lt;/em&gt;), harimau (&lt;em&gt;hu&lt;/em&gt;), kelinci (&lt;em&gt;tu&lt;/em&gt;), naga (&lt;em&gt;liong&lt;/em&gt;), ular (&lt;em&gt;she&lt;/em&gt;), kuda (&lt;em&gt;ma&lt;/em&gt;), kambing (&lt;em&gt;yang&lt;/em&gt;), monyet (&lt;em&gt;hou&lt;/em&gt;), ayam (&lt;em&gt;chi&lt;/em&gt;), anjing (&lt;em&gt;kou&lt;/em&gt;), dan babi (&lt;em&gt;chu&lt;/em&gt;). Agar sesuai kembali dengan matahari, tahun-tahun kerbau, naga, kambing dan anjing mempunyai 13 bulan. Dua belas hewan ini secara bergiliran dipengaruhi oleh lima “unsur”: &lt;em&gt;tanah, logam, air, kayu,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;api&lt;/em&gt;. Masing-masing unsur akan berpengaruh selama dua tahun. Dengan demikian, kombinasi suatu unsur dengan hewan tertentu akan berulang setiap 60 tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada perayaan tahun baru Im-lek, orang-orang Tionghoa saling mengucapkan &lt;em&gt;gong xi, fa chai&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;congratulations, get fortune&lt;/em&gt;! Selamat, semoga dapat untung!). Warna merah (&lt;em&gt;ang&lt;/em&gt;) mendominasi, mulai dari pakaian merah sampai pemberian hadiah uang kepada anak-anak dalam amplop merah. Warna merah melambangkan api yang konon dapat mengusir nasib yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru Harimau-Logam (&lt;em&gt;Metal-Tiger&lt;/em&gt;) 2561 jatuh pada tanggal 14 Februari 2010. Tahun-tahun berikutnya adalah Kelinci-Logam 2562 (3 Februari 2011), Naga-Air 2563 (23 Januari 2012), Ular-Air 2564 (10 Februari 2013), Kuda-Kayu 2565 (31 Januari 2014), dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Yahudi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Umat Yahudi menggunakan kalender &lt;em&gt;Anno Mundi &lt;/em&gt;(Tahun Dunia) yang memulai perhitungan tahun sejak 3760 SM, tahun penciptaan langit dan bumi (&lt;em&gt;Genesis&lt;/em&gt;) menurut keyakinan umat Yahudi. Tahun baru (&lt;em&gt;rosh ha-shanah &lt;/em&gt;= “kepala tahun”) terjadi pada awal musim gugur (September atau Oktober). Sama dengan kalender Hijriyah, awal bulan ditandai oleh munculnya hilal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan adalah &lt;em&gt;Tishri, Heshvan, Kislev, Tebet, Shebat, Adar, Nisan, Iyyar, Sivan, Tammuz, Ab, Elul&lt;/em&gt;. Agar sesuai kembali dengan matahari, setiap tiga tahun ditambahkan bulan interkalasi sesudah Adar yang dinamai &lt;em&gt;Adar Sheni &lt;/em&gt;(Adar kedua). Tahun baru 1 Tishri 5769 jatuh pada tanggal 20 September 2009, bertepatan dengan 1 Syawwal 1430 Hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya terpenting bagi umat Yahudi adalah &lt;em&gt;Pesakh&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Paskah&lt;/em&gt; (artinya “lewat; bebas”), yaitu tanggal 14 Nisan, hari pembebasan Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa a.s. dari perbudakan Fir`aun di Mesir selama ratusan tahun. Pada hari Paskah 14 Nisan, yang jatuh pada tanggal 30 Maret 2010, umat Yahudi dianjurkan menyembelih hewan qurban berupa domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Umat Nasrani juga merayakan Paskah, tetapi dengan makna yang berbeda, yaitu pembebasan manusia dari dosa. Mereka tidak menyembelih domba, sebab Nabi Isa al-Masih a.s. mereka anggap sebagai “domba Paskah” yang sudah dikorbankan. Pada mulanya Paskah umat Nasrani sama dengan umat Yahudi, yaitu tanggal 14 Nisan. Sejak tahun 325 Masehi, melalui sidang Konsili di Nikea (Iznik di Turki sekarang), Paskah ditetapkan harus pada hari Minggu sesudah purnama selepas 21 Maret, agar cocok dengan perayaan &lt;em&gt;Easter Sunday &lt;/em&gt;warisan kepercayaan kafir Romawi purba. Itulah sebabnya Paskah umat Nasrani tahun ini jatuh pada tanggal 4 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalender Jepang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalender Jepang merupakan kalender solar yang dimulai tahun 660 SM, tatkala kaisar pertama, Jimmu Tenno, naik tahta. Pada mulanya tahun baru (&lt;em&gt;Oshogatsu&lt;/em&gt;) jatuh pada awal musim semi. Ketika Jepang memasuki era modernisasi pada masa Kaisar Meiji (Mutsuhito) abad ke-19, mereka meniru segala yang berbau Eropa, termasuk menyesuaikan kalender Jepang dengan kalender Gregorian (Masehi). Kaisar Meiji menetapkan bahwa 1 Januari 1873 Masehi adalah 1 Januari 2533. Sejak itu kalender Jepang identik dengan kalender Masehi, hanya angka tahunnya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu periode beralih ke periode yang lain pada saat pergantian kaisar. Masa Kaisar Hirohito (1926-1988 Masehi atau 2586-2648 Jepang) adalah periode &lt;em&gt;Showa&lt;/em&gt; (“kepeloporan”). Sejak Januari 1989 (2649) ketika Kaisar Akihito naik tahta, bangsa Jepang memasuki periode &lt;em&gt;Heisei &lt;/em&gt;(“kesejahteraan”). Kini kita memasuki tahun 2670 atau tahun ke-22 periode Heisei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Jepang berlaku di Indonesia pada masa pendudukan Jepang 1942-1945 Masehi (2602-2605). Dalam naskah proklamasi kemerdekaan yang ditandatangani Sukarno dan Hatta tertulis "&lt;em&gt;hari 17 boelan 8 tahoen 05&lt;/em&gt;". Angka 05 bukanlah karena Sayuti Melik salah ketik. Hari kemerdekaan bangsa dan negara kita memang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2605 (1945 Masehi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K E S I M P U L A N&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tahun berapakah sekarang? Silakan pilih sendiri jawabannya: 2010 Masehi, 1431 Hijriyah, 1388 Hijriyah Solar, 1943 Jawa, 1946 Sunda, 1931 Saka, 2553 Buddha, 2560 Im-lek, 2670 Jepang, dan 5769 Anno Mundi. Daftar ini boleh diperpanjang, misalnya sekarang tahun 65 Republik, tahun 101 Muhammadiyah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Dia (Allah) yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan memantulkan cahaya, dan Dia menentukan tahap-tahap peredarannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan hal itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang berpengetahuan&lt;/em&gt;”  (Al-Qur’an, Surat Yunus ayat 5).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 1 Januari 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-7985694348462911111?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/7985694348462911111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=7985694348462911111' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7985694348462911111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/7985694348462911111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2010/01/mengenal-berbagai-jenis-kalender.html' title='Mengenal Berbagai Jenis Kalender'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-5224360116499796978</id><published>2009-12-24T18:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T18:43:41.563-08:00</updated><title type='text'>Menelusuri Kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENELUSURI KELAHIRAN &lt;br /&gt;NABI ISA AL-MASIH A.S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERNYATA tidak ada catatan sama sekali mengenai peringatan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. (dilatinkan: &lt;em&gt;Jesus&lt;/em&gt; = Isa; &lt;em&gt;Kristus&lt;/em&gt; = Al-Masih) sampai abad ke-4 Masehi. Absennya perayaan Natal sebelum itu menunjukkan bahwa mungkin tidak ada yang tahu kapan utusan Allah yang mulia itu lahir. Kitab-kitab Injil yang empat tidak menyebutkan tahun kelahiran beliau, apalagi tanggal dan bulan yang eksak. Clement (150-215), seorang uskup di Iskandariah, menetapkan tanggal 18 November. Sebuah dokumen dari Afrika Utara tahun 243, berjudul &lt;em&gt;De Pascha Computus&lt;/em&gt;, menempatkan kelahiran Jesus Kristus tanggal 28 Maret pada awal musim semi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Nasrani pada masa-masa awal tidak tertarik merayakan Natal, sebab mereka memandang perayaan ulang tahun sebagai kebiasaan orang kafir. Tokoh gereja abad ke-3, Origenes, bahkan menyatakan bahwa merupakan suatu dosa jika mencari-cari tanggal kelahiran Jesus, sebab hal itu berarti menyamakan Kristus dengan seorang Fir’aun! Injil yang paling tua, Injil Markus, yang ditulis sekitar tahun 50, memulai uraian dari kisah permandian Isa Al-Masih yang sudah dewasa oleh Nabi Yahya bin Zakaria a.s. Fakta ini merupakan indikasi bahwa umat Nasrani pada masa-masa awal memang tidak memiliki interes terhadap kelahiran Jesus. Baru pada Injil Matius dan Injil Lukas, yang ditulis dua sampai empat dasawarsa kemudian, kita memperoleh kisah lahirnya Nabi agung yang merupakan putra suci Siti Maryam r.a. itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi paling awal mengenai perayaan Natal tercantum dalam &lt;em&gt;Philocalian calendar&lt;/em&gt;, suatu dokumen Romawi tahun 354, yang menyatakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Jesus Kristus. Dijelaskan dalam dokumen tersebut bahwa tanggal itu ditetapkan oleh Uskup Liberius dari Roma dan kemudian diresmikan oleh Gereja. Pada mulanya banyak yang tidak setuju dengan tanggal itu, sebab 25 Desember jatuh pada musim dingin, di mana hampir mustahil ada penggembala di padang rumput Palestina pada malam hari seperti diberitakan Injil! Tetapi Gereja sangat berkepentingan dengan tanggal 25 Desember, sebab penetapan tanggal itu diharapkan efektif untuk memikat hati orang Romawi yang mulai tertarik kepada ajaran Nasrani setelah Kaisar Konstantinus (bertahta 306-337) memeluk agama tersebut. Tanggal 25 Desember adalah saat &lt;em&gt;Natalis Solis Invicti &lt;/em&gt;(“Kelahiran Matahari Yang Tak Terkalahkan”), yang dirayakan orang Romawi dalam bentuk Festival Saturnalia, untuk menghormati kelahiran Mithra, dewa matahari mereka. Orang Romawi memang berduyun-duyun masuk Nasrani, tetapi Festival Saturnalia tanggal 25 Desember dilestarikan dalam bentuk perayaan Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama Nasrani tersebar di kawasan Eropa Barat, perayaan Natal dilengkapi dengan “pohon Natal” (&lt;em&gt;Christmas tree&lt;/em&gt;) yang dipuja oleh bangsa-bangsa kafir Jerman dan Skandinavia. Bangsa Inggris baru mengenal pohon Natal ketika Ratu Victoria menikahi Pangeran Albert, yang membawa tradisi itu ke Inggris dari daerah asalnya Jerman pada tahun 1840. Bagaimanakah dengan Santa Claus? Dia adalah Saint Nicholas, uskup abad ke-4 di Nicaea (sekarang Iznik, masuk wilayah Turki) yang gemar membagikan hadiah kepada anak-anak. Tradisi ini populer di Negeri Belanda dengan sebutan San Nicolaas. Ketika orang-orang Belanda berimigrasi ke Amerika—kota New York sekarang adalah bikinan Belanda, dulu namanya New Amsterdam—mereka memperkenalkan tradisi bagi-bagi hadiah dari San Nicolaas ini, yang oleh lidah anak-anak Amerika diucapkan Santa Claus. Akhirnya pada tahun 1863, kartunis terkenal Thomas Nast menggubah lukisan Santa Claus dengan berpakaian merah dan berjanggut putih, lengkap dengan ketawa ‘ho-ho-ho’nya, yang populer sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kapan Isa Al-Masih (Jesus Kristus) lahir?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Isa Al-Masih a.s. berlaku kalender Julian yang memulai perhitungan tahun dari 708 AUC (&lt;em&gt;ab urbi condita&lt;/em&gt;), yaitu 708 tahun sesudah pembangunan kota Roma, yang ditetapkan Julius Caesar sebagai tahun 1 Julian (tahun 46 SM menurut hitungan kita sekarang). Injil Lukas 3:1 mengatakan bahwa Jesus memulai tugas kerasulan pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus diangkat menjadi gubernur Judea. Tiberius bertahta dari tahun 60 Julian sampai 83 Julian (14-37 Masehi), sehingga kejadian yang diceritakan Lukas itu berlangsung tahun 75 Julian (29 Masehi). Informasi Lukas ini dijadikan dasar oleh Dionisius Exiguus, pejabat tinggi kepausan di Roma pada abad ke-6, untuk menetapkan perhitungan tahun &lt;em&gt;Anno Domini &lt;/em&gt;(AD atau Masehi). Oleh karena menurut Lukas 3:23 usia Jesus saat itu “kira-kira 30 tahun”, maka Dionisius memperkirakan Jesus lahir tahun 47 Julian, yang ditetapkannya sebagai Tahun 1 Anno Domini, dan tahun ketika menetapkan itu, yaitu 572 Julian, diganti angkanya menjadi 526 AD. Sejak tahun 526 berlakulah hitungan tahun Anno Domini (Masehi) sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi benarkah Nabi Isa Al-Masih a.s. lahir pada tahun 1 Masehi (47 Julian)? Tahun itu hanyalah perkiraan Dionisius. Kenyataannya, baik Injil Lukas (1:5) maupun Injil Matius (2:1) mencatat kelahiran Jesus pada masa Raja Herodes, yang berarti antara tahun 37 SM dan 4 SM (10 sampai 43 Julian). Lukas 2:1-2 juga mengatakan bahwa Jesus lahir ketika gubernur Suriah Quirinius, atas perintah Kaisar Augustus, mengadakan sensus penduduk di Palestina. Sensus ini tentu berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 6 SM (41 Julian). Maka sangat mungkin bahwa &lt;em&gt;Nabi Isa Al-Masih a.s. lahir sekitar tahun 5 SM (42 Julian).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tanggal dan bulan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. tidak dapat dipastikan, kita dapat menelusuri musim (&lt;em&gt;season&lt;/em&gt;) ketika beliau lahir. Injil Lukas 2:8 mencatat suasana malam kelahiran Isa Al-Masih: &lt;em&gt;Et pastores erant in regione eadem vigilantes et custodientes vigilias noctis super gregem suum &lt;/em&gt;(“Dan para gembala di padang rumput pada daerah itu sedang menjaga dan mengawasi pada waktu malam kawanan ternak mereka”). Ketika berkunjung ke Jerusalem, saya pernah bertanya kepada orang pribumi di sana: Pada bulan apa para gembala tinggal di padang rumput sampai malam hari? Dia menjawab bulan April atau bulan Mei pada musim semi (&lt;em&gt;spring season&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Al-Qur’an pun menceritakan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. dalam Surat Maryam, tetapi tidak dijelaskan kapan beliau lahir. Namun ada ayat yang memberikan indikasi bahwa Nabi Allah yang mulia itu lahir pada musim semi. Ketika Siti Maryam r.a. melahirkan putranya yang suci itu, malaikat Jibril berkata kepadanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Maryam ayat 25: &lt;em&gt;Wa huzzi ilaiki bi jidz`i n-nakhlah, tusaqith `alaiki ruthaban janiyya &lt;/em&gt;(“Dan goyanglah ke arahmu pohon kurma itu, ia akan menjatuhkan kepadamu buah masak dan segar”). Jadi kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. terjadi pada saat buah kurma cukup ranum, sehingga akan berjatuhan jika pohonnya digoyang. Sampai sekarang di daerah Timur Tengah panen kurma berlangsung pada musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Silsilah Nabi Isa Al-Masih a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Injil Matius 1:1-17 menelusuri silsilah secara menurun dari Nabi Ibrahim a.s. sampai Nabi Isa Al-Masih a.s., sedangkan Injil Lukas 3:23-38 menelusuri silsilah secara mendaki dari Nabi Isa Al-Masih a.s. sampai Nabi Adam a.s. Baik Matius maupun Lukas berusaha menjelaskan bahwa Nabi Isa Al-Masih a.s. adalah keturunan Nabi Daud a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matius menguraikan silsilah Nabi Daud ke bawah dengan menempuh jalur Solomon bin Daud (Nabi Sulaiman a.s.). Silsilah yang dimulai dari Nabi Ibrahim itu dikelompokkan Matius menjadi tiga bagian, masing-masing mencakup 14 generasi. Angka 14 ini agaknya diambil dari nama “Daud” (dalam huruf Ibrani menggunakan tiga konsonan D-W-D atau daleth-waw-daleth), yang dalam numerologi Ibrani dan Arab bernilai: daleth(4) + waw(6) + daleth(4) = 14. Apa boleh buat, banyak nama keturunan Nabi Sulaiman dalam Dibre Hayyamim (Chronicles; Tawarikh) yang terpaksa dibuang oleh Matius agar tidak melebihi angka 14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukas menempuh jalur berbeda dalam silsilah yang disusunnya. Menurut Lukas, Isa Al-Masih bukan keturunan Solomon bin Daud seperti kata Matius, tetapi keturunan Nathan bin Daud, abang Nabi Sulaiman (Dibre Hayyamim 3:5). Nama-nama dari Daud ke bawah yang disusun Lukas hampir semuanya berlainan dengan yang disusun Matius. Jumlah generasi pun tidak sama. Dari Daud sampai Isa Al-Masih, Lukas mencantumkan 42 generasi, sedangkan Matius cuma 27 generasi. Tetapi kedua penulis Injil ini bertujuan sama: Jesus Kristus adalah keturunan Daud!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata silsilah yang disusun oleh Matius dan Lukas tidak bersambung kepada Isa Al-Masih a.s.! Mereka berdua menguraikan silsilah yang menurunkan &lt;em&gt;Yusuf &lt;/em&gt;suami Maryam, bukan silsilah Maryam sendiri. Padahal Nabi Isa Al-Masih a.s. adalah putra suci Siti Maryam r.a. yang perawan, dan sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Yusuf. Meskipun suami Maryam, Yusuf tidak melakukan hubungan badaniah dengan istrinya sampai Isa Al-Masih lahir! Matius sendiri mengakui hal ini (1:25): &lt;em&gt;Et non cognoscebat eam donec peperit filium suum primogenitum &lt;/em&gt;(“Dan tidaklah dia ‘menyatu’ dengannya sampai melahirkan putra laki-lakinya yang sulung itu”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa &lt;em&gt;Nabi Isa Al-Masih a.s. bukanlah keturunan Nabi Daud&lt;/em&gt;, meskipun Matius dan Lukas jungkir-balik berusaha menjelaskan hal itu dengan silsilah yang berbeda-beda. Dengan kata lain, Isa Al-Masih bukanlah Bani Israil suku Yehuda (Judah)! Beliau adalah Bani Israil suku Lewi, sesuai dengan garis keturunan Siti Maryam r.a. yang serumpun dengan Nabi Musa dan Nabi Harun. Imam-imam Bani Israil umumnya memang dari suku Lewi. Menurut Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 33-35, Nabi Isa Al-Masih dan ibu beliau Siti Maryam adalah keturunan Imran, ayahanda Nabi Musa dan Nabi Harun, yang jelas merupakan keluarga Lewi, bukan keluarga Yehuda. Hal ini tercantum dalam We’elleh Shemoth (Exodus; Keluaran) 2:1. Juga dalam Surat Maryam ayat 28, Maryam dikatakan perempuan keluarga Harun (&lt;em&gt;ukhta Harun&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Lukas pun diam-diam mengakui bahwa Siti Maryam dan putranya Isa Al-Masih adalah suku Lewi. Dalam Lukas 1:5 tertulis bahwa Elisabeth istri Nabi Zakaria (ibunda Nabi Yahya) adalah keturunan Nabi Harun (&lt;em&gt;filiabus Aaron&lt;/em&gt;), sedangkan dalam Lukas 1:36 dijelaskan bahwa Elisabeth dan Maryam adalah sekeluarga (&lt;em&gt;cognatus&lt;/em&gt;). Juga estimasi Lukas (3:23) bahwa usia Jesus “kira-kira 30 tahun” (&lt;em&gt;quasi annorum triginta&lt;/em&gt;) ketika memulai tugas kerasulan merupakan indikasi bahwa Nabi Isa Al-Masih memang suku Lewi, sebab menurut Bemidbar (Numbers; Bilangan) 4:47 para imam dari suku Lewi baru wajib melakukan tugas imamatnya setelah berusia 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: &lt;br /&gt;(1) Nabi Isa Al-Masih a.s. mustahil lahir pada bulan Desember. Utusan Allah yang mulia itu mungkin lahir pada musim semi (April atau Mei). &lt;br /&gt;(2) Nabi Isa Al-Masih a.s. bukanlah keturunan Nabi Daud a.s. (suku Yehuda). Putra suci Siti Maryam r.a. itu jelas merupakan suku Lewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Quod erat demonstrandum &lt;/em&gt;(Q.E.D.) !***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-5224360116499796978?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/5224360116499796978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=5224360116499796978' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5224360116499796978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5224360116499796978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/12/menelusuri-kelahiran-nabi-isa-al-masih.html' title='Menelusuri Kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s.'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-2094891119479597409</id><published>2009-12-16T01:02:00.000-08:00</published><updated>2009-12-16T01:10:57.570-08:00</updated><title type='text'>Bahasa dan Aksara Lampung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BAHASA DAN AKSARA LAMPUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh &lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;br /&gt;(BATIN KESUMA NINGRAT)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. Herman Neubronner van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah &lt;em&gt;Tijdschrift Bataviaasch Genootschap&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;TBG&lt;/em&gt;), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam &lt;em&gt;TBG&lt;/em&gt;, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. Charles Adrian van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen”, dalam jurnal &lt;em&gt;Bijdragen Koninklijk Instituut &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;BKI&lt;/em&gt;), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. Oscar Louis Helfrich pada tahun 1891 menerbitkan kamus &lt;em&gt;Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst&lt;/em&gt;. Lalu ada tesis Ph.D. dari Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul &lt;em&gt;A Grammar of the Lampung Language&lt;/em&gt; (1973).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. C.A. van Ophuijsen, bahasa Lampung tergolong bahasa yang tua dalam rumpun Melayu-Austronesia, sebab masih banyak melestarikan kosakata Austronesia purba, seperti: &lt;em&gt;apui, bah, balak, bingi, buok, heni, hirung, hulu, ina, ipon, iwa, luh, pedom, pira, pitu, telu, tuha, tutung, siwa, walu, &lt;/em&gt;dsb. Prof. H.N. van der Tuuk meneliti kekerabatan bahasa Lampung dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Bahasa Lampung dan bahasa Sunda memiliki kata “&lt;em&gt;awi&lt;/em&gt;” (=bambu), bahasa Lampung dan bahasa Sumbawa memiliki kata “&lt;em&gt;punti&lt;/em&gt;” (=pisang), bahasa Lampung dan bahasa Batak memiliki kata “&lt;em&gt;bulung&lt;/em&gt;” (=daun), dsb. Hal ini membuktikan bahwa bahasa-bahasa Nusantara memang satu rumpun, yaitu rumpun Austronesia yang meliputi kawasan dari Madagaskar sampai pulau-pulau di Pasifik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aksara Lampung yang 19 huruf, dari &lt;em&gt;ka-ga-nga &lt;/em&gt;sampai &lt;em&gt;ra-sa-wa-ha&lt;/em&gt;, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, &lt;em&gt;Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten&lt;/em&gt; (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, &lt;em&gt;Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia&lt;/em&gt; (Leiden, 1975). Kata Prof. K.F.Holle, cuma sedikit suku-suku di Nusantara yang mempunyai aksara sendiri, dan salah satu di antaranya adalah aksara Lampung! Sebagian besar suku-suku tidak memiliki aksara, dan baru mengenal aksara setelah menerima Islam, yaitu huruf Arab-Melayu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aksara Lampung memiliki banyak kesamaan dengan aksara Batak, Bugis dan Sunda Kuna (yang sekarang mulai disosialisasikan kembali di Jawa Barat). Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara Dewanagari di India. Persis sama halnya dengan aksara Latin dan aksara Rusia yang sama-sama diturunkan dari aksara Yunani, yang pada mulanya berasal dari aksara Phoenisia. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perlu ditegaskan bahwa karya-karya ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung semuanya memakai “r” untuk menuliskan huruf atau fonem ke-16 aksara Lampung! Gelar (&lt;em&gt;adok&lt;/em&gt;) dan nama tempat harus dituliskan dengan ejaan “r”, meskipun dibaca mendekati bunyi “kh”, misalnya Pangiran Raja Purba, Batin Sempurna Jaya, Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, Marga Pertiwi, Buay Pernong, Bandar Negeri Ratu, dsb. Penulisan “&lt;em&gt;radu rua rani mak ratong&lt;/em&gt;” merupakan ejaan baku (ilmiah), sedangkan penulisan “&lt;em&gt;khadu khua khani mak khatong&lt;/em&gt;” tidaklah baku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya perlu dikemukakan bahwa dalam era sains dan teknologi sekarang, suatu bahasa jika mau berkembang harus mampu menyerap istilah-istilah modern dan kontemporer. Jadi bahasa Lampung perlu banyak menyerap kosakata baru, dan janganlah ada yang berpendapat bahwa bahasa Lampung merupakan bahasa “hibrid” atau “cangkokan”. Bahasa Indonesia, bahkan juga bahasa Inggris, banyak sekali menyerap kosakata dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Antak ija pai da pubalahan ram sa, dang kejung ga, kantu mak kebaca.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-2094891119479597409?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/2094891119479597409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=2094891119479597409' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2094891119479597409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2094891119479597409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/12/bahasa-dan-aksara-lampung.html' title='Bahasa dan Aksara Lampung'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-6568143451458598443</id><published>2009-10-30T06:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T06:37:56.518-07:00</updated><title type='text'>Makkah, Baitullah, dan Haji</title><content type='html'>&lt;em&gt;Artikel pada Harian "Pikiran Rakyat"&lt;br /&gt;Jum`at 30 Oktober 2009 :&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MAKKAH, BAITULLAH, DAN HAJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH ALLAH (&lt;em&gt;Baitullah&lt;/em&gt;) di Makkah sebagai pusat pengabdian manusia kepada Allah SWT telah direncanakan oleh Allah sendiri puluhan abad sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan. Sekitar 4000 tahun yang silam, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk membawa istrinya, Hajar, dan putra mereka, Isma`il, meninggalkan Kana’an (Palestina sekarang) ke arah selatan, menuju sebuah lembah yang bernama &lt;em&gt;Baka&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Bakkah&lt;/em&gt;. Oleh karena &lt;em&gt;mim&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ba&lt;/em&gt; sama-sama huruf bibir (bilabial), nama &lt;em&gt;Bakkah&lt;/em&gt; lama-kelamaan berubah menjadi &lt;em&gt;Makkah&lt;/em&gt;. Dalam bahasa anak-anak Ibrahim (Arab dan Ibrani), kata &lt;em&gt;baka&lt;/em&gt; mempunyai dua arti: ‘lembah air mata’ dan ‘pohon balsam’. Arti yang pertama berhubungan dengan gersangnya daerah itu sehingga seolah-olah tidak memberikan harapan, dan arti yang kedua berhubungan dengan banyaknya pohon balsam (genus &lt;em&gt;Commiphora&lt;/em&gt;) yang tumbuh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah keistimewaan lembah Bakkah? Ternyata lembah itu merupakan lokasi Rumah Allah yang didirikan generasi pertama umat manusia dari zaman Nabi Adam a.s., sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Surat Ali Imran 96: “Sesungguhnya Rumah Allah Pertama yang didirikan untuk manusia benar-benar terletak di Bakkah yang diberkati dan petunjuk bagi seluruh alam”. Pada masa Nabi Ibrahim a.s. lembah itu sudah ditelantarkan, tiada manusia yang menghuni, dan Rumah Allah yang pertama itu hanya tinggal fondasinya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Hajar dan Isma`il dikumpulkan dan ditulis oleh sejarawan Muhammad ibn Jarir ath-Thabari (wafat 310 H / 922 M) dalam bukunya yang termasyhur, &lt;em&gt;Tarikh ar-Rusul wa l-Muluk&lt;/em&gt;: “Ketika mendapat perintah dari Allah menuju Rumah-Nya, Ibrahim pergi bersama Hajar dan Isma`il disertai malaikat Jibril. Mereka sampai di Makkah yang cuma ditumbuhi pohon akasia, balsam dan semak berduri. Baitullah saat itu tinggal dasarnya berupa lempung merah. Jibril berkata, ‘Allah memerintahkan engkau untuk meninggalkan mereka.’ Ibrahim membawa Hajar dan Isma`il ke Hijir (di samping Ka`bah sekarang) dan membuat tenda di sana. Lalu Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku di lembah yang tiada tumbuhan berbuah, di samping Rumah-Mu yang suci, agar mereka tetap menegakkan shalat. Maka jadikanlah hati manusia berpaling kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur’ (Surat Ibrahim 37). Ketika Ibrahim akan pergi, Hajar bertanya, ‘Apakah perintah Allah yang membuatmu meninggalkan kami?’ Ibrahim menjawab, ‘Ya.’ Maka Hajar berkata, ‘Jika demikian tentu Allah tidak meninggalkan kami untuk binasa.’ Lalu Ibrahim kembali ke Kana’an, meninggalkan mereka berdua di Rumah Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kutipan dari Thabari: “Isma`il menangis karena sangat kehausan. Hajar memasang telinga untuk mendengar suara yang mungkin membantunya memperoleh air. Dia mendengar suara di bukit Safa, lalu pergi ke sana tetapi tidak menemukan air. Lalu dia mendengar suara di bukit Marwah. Dia pergi ke sana, juga tidak menemukan apapun. Hajar kembali ke Safa, lalu balik lagi ke Marwah, dengan tidak merasa letih supaya anaknya dapat minum. Ketika Hajar sampai di Marwah setelah tujuh kali bolak-balik, tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari lembah tempat dia meninggalkan Isma`il. Dia berlari menuju anaknya, dan mendapati mata air memancar dekat tempat dia berbaring. Hajar mengisikan air ke kirbat kulitnya sambil berseru, &lt;em&gt;‘Zummi, zummi’&lt;/em&gt;. Ada yang mengatakan bahwa itu bahasa Mesir purba yang artinya ‘Berkumpul, berkumpul.’ Mungkin juga itu hanya ucapan Hajar menirukan bunyi air yang memancar. Hanya Allah yang Maha Tahu, tetapi dari ucapan Hajar itulah asal nama telaga &lt;em&gt;Zamzam&lt;/em&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya sumber air berupa telaga Zamzam membuat tempat itu layak dihuni. Maka datanglah rombongan suku Jurhum memohon izin kepada Hajar dan Isma`il untuk menetap di sana. Lambat laun lembah Makkah itu tumbuh menjadi suatu pemukiman. Pada waktu-waktu tertentu, secara rutin Ibrahim dari Kana’an datang ke Makkah mengunjungi istri dan anak beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Isma`il berusia 13 tahun datanglah ujian dahsyat yang tiada tara. Allah memerintahkan Ibrahim agar berqurban menyembelih putranya yang satu-satunya itu! Sungguh suatu ujian yang sangat berat, namun karena itu perintah Allah maka Ibrahim menyanggupinya. Ketika perintah Allah itu disampaikan Ibrahim kepada sang anak, Isma`il yang masih remaja itu menjawab: “Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar”, sebagaimana tercantum dalam Surat Ash-Shaffat 102.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim membawa Isma`il ke suatu bukit di sebelah timur Makkah, tempat yang sekarang bernama Mina. Tiga kali Iblis menggoda Ibrahim untuk membatalkan rencananya, tiga kali pula Ibrahim menolak godaan Iblis dengan lontaran kerikil. Tindakan Ibrahim ini kelak diabadikan dalam salah satu manasik (tatacara) haji, yaitu melontar tiga jumrah di Mina. Setelah Isma`il direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang Ibrahim telah siap hendak menyentuh leher putranya, maka Allah berfirman agar Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba. Firman Allah dalam Ash-Shaffat 106-107: “Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim tidak kehilangan putra, bahkan putranya bertambah satu lagi, sebab setelah peristiwa ujian qurban itu Allah memberikan kabar gembira bahwa istri pertamanya, Sarah, akan memberinya putra yang bernama Ishaq, sebagaimana diterangkan dalam Ash-Shaffat 112: “Kami gembirakan dia dengan Ishaq, seorang nabi yang saleh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian turunlah perintah Allah kepada Ibrahim dan Isma`il untuk merenovasi Baitullah, dengan meninggikan fondasi yang memang sudah ada. Surat Al-Baqarah 127 memberikan informasi: “Ibrahim meningkatkan fondasi Al-Bait bersama Isma`il”. Oleh karena bangunan Rumah Allah yang didirikan Ibrahim dan Isma`il itu berbentuk ‘kubus’ (&lt;em&gt;ka`bah &lt;/em&gt;dalam bahasa Arab), Rumah Allah yang berukuran 12 x 10,5 x 15 meter itu dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;Ka`bah&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di depan Ka`bah, Nabi Ibrahim a.s. membuat &lt;em&gt;maqam&lt;/em&gt; (‘tempat berdiri’) untuk shalat menghadap Allah. Allah SWT mengabadikan tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. di depan Ka`bah itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Baitullah. “Ambillah Maqam Ibrahim menjadi tempat shalat”, demikian tercantum dalam Surat Al-Baqarah 125. Sebagai catatan, istilah &lt;em&gt;maqam&lt;/em&gt; (makam) dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut ‘kuburan’ (karena pengaruh ajaran tasawuf bahwa orang yang wafat telah mencapai &lt;em&gt;maqam&lt;/em&gt; tertinggi), sehingga ada jemaah haji yang menyangka Maqam Ibrahim sebagai ‘kuburan Nabi Ibrahim’, padahal kuburan beliau terletak di Al-Khalil (Hebron), daerah Tepi Barat, Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ka`bah rampung dibangun, barulah turun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. agar menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji. Istilah &lt;em&gt;hajj &lt;/em&gt;berarti ‘berkunjung ke Rumah Allah’. Surat Al-Hajj 27 merekam firman Allah kepada Nabi Ibrahim a.s.: “Panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan segala jenis kendaraan, datang dari segenap penjuru yang jauh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunjukkanlah kepada kami tatacara haji bagi kami”, demikian permohonan Nabi Ibrahim a.s. kepada Allah SWT yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah 128. Maka Allah mengajarkan tatacara (manasik) ibadah haji kepada Nabi Ibrahim a.s. Manasik haji yang pertama adalah &lt;em&gt;ihram&lt;/em&gt; (‘mengharamkan’ atau ‘mensucikan’), yaitu mengenakan pakaian ihram serta tidak melakukan larangan-larangan ihram. Begitu jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Haram (Tanah Suci), mereka harus sudah meninggalkan dan menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan menggantinya dengan kain ihram. Ini suatu perlambang bahwa di Rumah Allah manusia harus bersedia membebaskan diri dari segala atribut kekayaan, jabatan dan status sosial yang disandangkan orang kepadanya dalam kehidupan sehari-hari. Di hadapan Sang Khaliq semua manusia tanpa kecuali, baik penguasa maupun rakyat jelata, berstatus sama yaitu Hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian para jemaah haji harus melakukan &lt;em&gt;wuquf &lt;/em&gt;(‘berdiam, jambore’) di Padang Arafah, sekitar 25 km di sebelah timur Makkah. Inilah upacara geladi resik berkumpulnya umat manusia di Padang Mahsyar pada Hari Akhirat nanti, sekaligus para jemaah haji melakukan ‘reuni’ di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (&lt;em&gt;Jannatu `Adn&lt;/em&gt;). Itulah sebabnya tempat wuquf itu dinamai Padang Arafah, artinya ‘Padang Pengenalan’, agar manusia mengenali kembali persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah wuquf di Arafah tercantum dalam Al-Baqarah 199: &lt;em&gt;Afiidhuu min haitsu afaadha n-naas&lt;/em&gt; (“Membanjirlah kamu dari tempat membanjirnya manusia”). Arafah dijuluki Allah sebagai ‘tempat membanjirnya manusia’, tempat Adam dan Hawa pertama kali menurunkan generasi pertama umat manusia (&lt;em&gt;Homo sapiens&lt;/em&gt;) yang kemudian—seperti air keluar dari sumbernya—membanjir berkembang biak menjadi lebih dari 6 miliar jiwa pada awal abad ke-21 sekarang. Jadi, kepergian jemaah haji ke Arafah pada hakikatnya adalah ‘mudik ke kampung asal nenek moyang’! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan wuquf, jemaah haji diharapkan menyadari bahwa umat manusia yang bermacam-macam warna kulit, bahasa dan adat-istiadat ternyata adalah saudara sedarah dan seketurunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Hujurat 13: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (&lt;em&gt;li ta`aarafuu&lt;/em&gt;, satu akar kata dengan&lt;em&gt;`arafah&lt;/em&gt;). Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penegasan Allah SWT ini maka segala bentuk diskriminasi tidak mendapat tempat dalam masyarakat Islam. Agama Islam menentang habis-habisan faham rasialisme dan chauvinisme. Para penganut faham rasialisme memiliki rasa keunggulan ras dengan merendahkan ras-ras lainnya. Inilah yang dipraktekkan oleh bangsa Yahudi dan kaum Nazi, atau yang pernah diperbuat oleh orang Amerika terhadap Indian dan Negro, atau seperti pernah dilakukan orang kulit putih di Afrika Selatan dengan politik apartheidnya terhadap kulit berwarna. Yang identik dengan faham rasialisme adalah faham chauvinisme, yaitu faham kebangsaan yang sempit dan fanatik sehingga menganggap bangsanya lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain. Faham inilah yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme, penjajahan bangsa atas bangsa, serta menyeret manusia ke dalam dua kali Perang Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun ajaran Islam sejak semula meniadakan dinding rasial dan jenis manusia, lalu mengembalikan manusia itu kepada asal yang satu. Semua manusia berhak untuk berhimpun di bawah perlindungan ajaran Islam tanpa memandang warna kulit dan asal-usul keturunan, bahkan juga tanpa memandang agama dan keyakinan! Islam tidak mengenal batas teritorial, sebab bumi seluruhnya kepunyaan Allah dan segala isinya disediakan Allah untuk manusia. Namun hal ini tidaklah berarti Islam menghapuskan idea kebangsaan (nasionalisme). Menurut Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi, adanya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah kehendak Allah. Dalam ajaran Islam, faham nasionalisme dipelihara dengan makna yang baik, yaitu bersatu untuk mencapai tujuan bersama dari seluruh anggota bangsa itu, serta menjalin hubungan baik dan saling membantu dengan bangsa-bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya para jemaah haji harus melakukan &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;, yaitu mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh putaran. Inilah tarian kosmos, sebab seluruh isi alam semesta selalu dalam keadaan berthawaf. Jemaah haji meniru gerakan elektron-elektron yang berthawaf mengelilingi inti atom serta gerakan planet-planet yang berthawaf mengelilingi matahari. Alam semesta hanya eksis karena gerakan thawaf! Seluruh materi di jagat raya, dari partikel-partikel penyusun atom sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Ilahi yang mengatur mereka. Dengan melakukan thawaf, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Ali Imran 83: “Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi secara sukarela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah melakukan thawaf, jemaah haji harus melakukan &lt;em&gt;sa`i&lt;/em&gt;, meniru gerakan Hajar bolak-balik tujuh kali untuk mencari air antara bukit Safa dan bukit Marwah. Kata &lt;em&gt;sa`i&lt;/em&gt; berarti ‘usaha’. Ternyata Hajar baru memperoleh anugerah air Zamzam dari Allah setelah dia melakukan sa`i (usaha) yang maksimal. Dengan melakukan sa`i, diharapkan manusia menyadari bahwa kesuksesan dan kejayaan hanya dapat diraih melalui usaha atau perjuangan maksimal, bukan dengan sekadar berdoa sambil berpangku tangan tanpa aktivitas. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam An-Najm 39-40: “Bahwa manusia tidak memperoleh apa-apa kecuali apa yang diusahakannya (&lt;em&gt;maa sa`aa&lt;/em&gt;), dan bahwa usahanya (&lt;em&gt;sa`yahuu&lt;/em&gt;) akan segera terlihat nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa thawaf dan sa`i harus tujuh kali? Perlu diketahui, Nabi Ibrahim a.s. berasal dari Mesopotamia, yang masyarakatnya memakai sistem bilangan dasar enam. Dari merekalah kita mewarisi pembagian lingkaran menjadi 360 derajat, satu hari menjadi 24 jam, satu derajat dan satu jam menjadi 60 menit, dan satu menit menjadi 60 detik. Sistem ini menjadikan ‘tujuh’ sebagai bilangan yang istimewa. Itulah sebabnya satu pekan harus tujuh hari, dan sesuatu yang maksimal harus dinyatakan dalam jumlah tujuh. Oleh karena Allah berkomunikasi melalui wahyu-Nya dalam bahasa Nabi yang bersangkutan, maka manasik haji yang disyari`atkan kepada Nabi Ibrahim a.s. banyak melibatkan bilangan tujuh—sebagai perlambang hal yang maksimal—seperti tujuh putaran thawaf, tujuh bolak-balik sa`i, dan tujuh lontaran terhadap jumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a`lam bi sh-shawab&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PENULIS&lt;/strong&gt; Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-6568143451458598443?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/6568143451458598443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=6568143451458598443' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6568143451458598443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6568143451458598443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/10/makkah-baitullah-dan-haji.html' title='Makkah, Baitullah, dan Haji'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-3777424441886955396</id><published>2009-10-17T16:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T17:46:53.102-07:00</updated><title type='text'>Miqat Makani Jemaah Haji Indonesia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;DI MANAKAH MIQAT MAKANI &lt;br /&gt;JEMAAH HAJI INDONESIA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;DRS. H. IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SALAH SATU MASALAH manasik atau tatacara haji yang banyak diperbincangkan, bahkan diperdebatkan, adalah masalah &lt;em&gt;miqat makani&lt;/em&gt;, yaitu tempat jemaah haji mulai berihram (memakai pakaian ihram dan tidak melakukan larangan ihram). Perbedaan pendapat muncul lantaran interpretasi yang beraneka ragam terhadap hadits dalam &lt;em&gt;Shahih al-Bukhari&lt;/em&gt;, Volume ke-2, hadits No. 605, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Abdullah ibn Abbas r.a. yang berkata: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menetapkan miqat (&lt;em&gt;waqqata&lt;/em&gt;) Dzulhulaifah bagi warga Madinah, Juhfah bagi warga Syam, Qarnulmanazil bagi warga Najd, dan Yalamlam bagi warga Yaman. Tempat-tempat itu (&lt;em&gt;hunna&lt;/em&gt;) berlaku bagi warga masing-masing tempat itu (&lt;em&gt;lahunna&lt;/em&gt;) dan bagi yang datang ke tempat-tempat itu (&lt;em&gt;wa li man ataa `alaihinna&lt;/em&gt;) dari tempat-tempat lain (&lt;em&gt;min ghairihinna&lt;/em&gt;), yang ingin berhaji dan berumrah. Dan orang yang berada di luar tempat-tempat itu (&lt;em&gt;wa man kaana duuna dzaalika&lt;/em&gt;) berihram dari mana saja dia muncul (&lt;em&gt;min haitsu ansyaa’&lt;/em&gt;), sehingga warga Makkah berihram dari Makkah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesungguhnya empat lokasi yang disebutkan Nabi Muhammad s.a.w. itu, yaitu Dzulhulaifah, Juhfah, Qarnulmanazil dan Yalamlam, sama sekali tidak memiliki nilai historis yang perlu diistimewakan. Tempat-tempat itu pada zaman Nabi hanyalah merupakan &lt;em&gt;terminal persinggahan terakhir &lt;/em&gt;bagi kafilah-kafilah dari berbagai jurusan sebelum masuk Makkah, baik untuk beribadah maupun untuk sekadar berdagang. Sangatlah wajar jika Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan empat lokasi tersebut sebagai tempat persiapan berihram, sebab ada beberapa kegiatan pra-ihram yang perlu dilakukan, yaitu mandi, membersihkan badan, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan shalat sunnah ihram. Di daerah gurun pasir yang langka air &lt;em&gt;pada abad ketujuh&lt;/em&gt;, empat lokasi itulah yang ideal sebagai miqat makani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w., baik dalam sabda maupun perbuatan beliau, tidaklah memutlakkan keempat lokasi itu. Dari hadits di atas jelas sekali bahwa calon haji yang &lt;em&gt;tidak datang &lt;/em&gt;ke salah satu tempat tersebut boleh berihram &lt;em&gt;dari mana saja dia muncul&lt;/em&gt;. Yang penting, syarat sahnya ihram harus dipenuhi, yaitu &lt;em&gt;memasuki Tanah Haram dalam keadaan sudah berihram&lt;/em&gt;. Jika seseorang yang ingin berhaji atau berumrah menginjak Tanah Haram dengan belum berihram, maka dia harus keluar lagi ke salah satu tempat di luar Tanah Haram untuk memulai ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika pulang dari perang di Hunain pada bulan Syawwal 8 Hijri atau Februari 630 Masehi, Nabi Muhammad s.a.w. melakukan umrah dengan mengambil miqat atau tempat mulai berihram di &lt;strong&gt;Ji`ranah&lt;/strong&gt;, tempat di luar Tanah Haram yang hanya 20 km dari Ka`bah. Nabi Muhammad s.a.w. &lt;em&gt;tidak mengambil miqat di Qarnulmanazil&lt;/em&gt;, meskipun Hunain, daerah kaum Hawazin, berada di wilayah Najd!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad s.a.w. mengerjakan haji pada bulan Dzulhijjah 10 Hijri atau Maret 632 Masehi, istri beliau Aisyah r.a. kebetulan sedang haid. Maka setelah Aisyah r.a. berhenti haid, Nabi Muhammad s.a.w. menyuruhnya untuk menunaikan umrah bersama-sama adiknya Abdurrahman ibn Abi Bakar dengan mulai berihram dari &lt;strong&gt;Tan`im&lt;/strong&gt;, tempat di luar Tanah Haram yang paling dekat. Sekarang, perjalanan dari Tan`im ke Ka`bah hanya 10 menit dengan mengendarai mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kota Kufah dan Basrah di Iraq menerima Islam pada tahun 12 Hijri atau 634 Masehi, pada mulanya penduduk kedua kota itu yang ingin berhaji atau berumrah mengambil Qarnulmanazil sebagai tempat miqat, sebab mereka dianalogikan sebagai warga Najd. Oleh karena mereka merasa repot dengan harus berbelok ke tenggara (waktu itu transportasi dan jalan raya tidak secanggih sekarang), mereka menghadap Khalifah Umar ibn Khattab r.a. untuk meminta alternatif tempat miqat. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah ibn Umar r.a., putra Khalifah sendiri, yang tercantum dalam &lt;em&gt;Shahih al-Bukhari&lt;/em&gt;, mereka berkata: “Wahai Amirul-Mu’minin. Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menentukan Qarn sebagai miqat warga Najd, tetapi tempat itu menyimpang dari rute jalan kami (&lt;em&gt;jawrun `an thariiqinaa&lt;/em&gt;), dan jika kami ingin ke Qarn hal itu menyulitkan bagi kami (&lt;em&gt;syaqqa `alainaa&lt;/em&gt;).” Maka Khalifah Umar r.a. yang terkenal cerdas itu memberikan solusi bijaksana: “Telitilah &lt;em&gt;hadzwa&lt;/em&gt;-nya dari rute jalan kalian (&lt;em&gt;fanzhuruu hadzwahaa min thariiqikum&lt;/em&gt;).”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah matematika &lt;em&gt;hadzwa&lt;/em&gt; artinya titik-titik sepusat (&lt;em&gt;concentric points&lt;/em&gt;) atau berjarak sama jika diukur dari lokasi tertentu, seperti titik-titik pada keliling lingkaran atau seperti kita dengan bayangan di depan cermin. Oleh karena Qarnulmanazil berjarak dua marhalah (dua hari perjalanan unta) dari Makkah, maka Khalifah Umar r.a. menetapkan suatu tempat pada rute perjalanan dari Iraq, yang juga berjarak dua marhalah dari Makkah, sebagai lokasi miqat makani. Tempat itu lalu populer dengan nama &lt;em&gt;Dzatu Irq &lt;/em&gt;(“tempat miqat orang Iraq”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di mana miqat makani kita?  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan hadits-hadits serta data historis yang telah dibahas, kita dapat merumuskan jawaban terhadap masalah pokok kita: di manakah miqat makani jemaah haji Indonesia? &lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, jika kita berkesempatan untuk mampu &lt;em&gt;berada&lt;/em&gt; di Dzulhulaifah, Juhfah, Qarnulmanazil atau Yalamlam, tempat-tempat itulah miqat makani kita sesuai dengan hadits. &lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, jika kita &lt;em&gt;tidak mampu datang &lt;/em&gt;ke salah satu dari empat tempat tersebut, tempat mana saja boleh kita jadikan sebagai miqat makani, asalkan lokasinya &lt;em&gt;di luar Tanah Haram &lt;/em&gt;dan menyediakan fasilitas untuk persiapan berihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi jemaah haji &lt;em&gt;Gelombang Pertama &lt;/em&gt;yang ke Madinah dahulu sebelum ke Makkah, miqat makani mereka sudah tentu &lt;strong&gt;Dzulhulaifah&lt;/strong&gt;, tempat miqat Rasulullah s.a.w. ketika beliau menunaikan haji. Nama Dzulhulaifah tidak dipakai lagi, sebab tempat itu kini bernama &lt;em&gt;Bi’r (Abyar) Ali&lt;/em&gt;, sebagaimana nama Sunda Kalapa dan Batavia (Betawi) sekarang berubah menjadi Jakarta. Para jemaah haji mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian ihram pada pondokan masing-masing di Madinah. Kendaraan akan mampir di Bi’r Ali (Dzulhulaifah) kira-kira setengah jam, agar jemaah haji menunaikan shalat sunnah ihram. Di Bi’r Ali, ketika kendaraan mulai bergerak menuju Makkah, jemaah haji memulai umrah dengan mengucapkan “&lt;em&gt;Labbaik   Allahumma `Umrah&lt;/em&gt;.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi jemaah haji &lt;em&gt;Gelombang Kedua &lt;/em&gt;yang langsung ke Makkah, miqat makani mereka yang paling ideal sampai saat ini adalah &lt;strong&gt;Bandar Udara Raja Abdul Aziz&lt;/strong&gt;, yang populer dengan singkatan &lt;em&gt;KAA Airport &lt;/em&gt;(King Abdul Aziz Airport). Di bandara megah ini tersedia hamparan karpet tempat istirahat yang luas, fasilitas mandi dengan air yang berlimpah, serta para petugas orang Indonesia yang siap membantu, sehingga para jemaah haji dengan leluasa mandi, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan menunaikan shalat sunnah ihram. Kenyataannya, sebagian besar jemaah haji dari berbagai negara mulai berihram di KAA Airport. Sedikit sekali jemaah yang turun dari pesawat udara dalam keadaan berihram. Di KAA Airport, ketika kendaraan mulai bergerak menuju Makkah yang hanya satu jam perjalanan, jemaah haji memulai umrah dengan mengucapkan “&lt;em&gt;Labbaik Allahumma `Umrah&lt;/em&gt;.” &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;KAA Airport jelas berada &lt;em&gt;di luar Tanah Haram&lt;/em&gt;, dan jalur penerbangan kita dari tanah air sama sekali &lt;em&gt;tidak melewati Tanah Haram&lt;/em&gt;. Menurut ketentuan pemerintah Arab Saudi yang disahkan oleh ICAO (&lt;em&gt;International Civil Aviation Organization&lt;/em&gt;), badan PBB yang mengatur penerbangan sipil antarbangsa, setiap pesawat udara dari kawasan Asia dan Pasifik harus datang dari arah timur laut, melewati kota Dafinah (23 16’ N, 41 51’ E), lalu menurunkan ketinggian di atas kota Nasir (22 14’ N, 40 04’ E), dan mendarat di KAA Airport (21 41’ N, 39 10’ E). Bandara ini terletak di utara Jeddah (21 29’ N, 39 10’ E), dan cukup jauh dari Makkah (21 28’ N, 39 55’ E). Di sekitar garis &lt;em&gt;Tropic of Cancer&lt;/em&gt;, 1 N = 111 km (1’ = 1,85 km) dan 1 E = 108 km (1’ = 1,80 km). Maka dengan eksak dapat kita hitung bahwa KAA Airport berjarak lurus 22 km di utara Jeddah dan berjarak lurus 84,5 km di barat laut Makkah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur penerbangan dari tanah air kita ke KAA Airport juga sama sekali &lt;em&gt;tidak lewat di atas&lt;/em&gt; salah satu dari empat tempat miqat yang disebutkan dalam hadits. Dari empat tempat miqat tersebut, yang relatif paling dekat dengan jalur penerbangan adalah &lt;em&gt;Qarnulmanazil&lt;/em&gt; (21 37’ N, 40 25’ E). Seperti nama Dzulhulaifah, nama Qarnulmanazil tidak dipakai lagi. Tempat itu kini bernama &lt;em&gt;As-Sayl al-Kabir&lt;/em&gt;, dan ternyata &lt;em&gt;sangat jauh dari jalur penerbangan&lt;/em&gt;. Garis lurus dari Qarnulmanazil ke jalur penerbangan membentuk sudut siku-siku tepat pada kota Nasir. Dengan demikian, jarak dari Qarnulmanazil ke jalur penerbangan (kota Nasir) secara eksak dapat kita hitung, yaitu 78,2 km, lebih jauh dari jarak lurus Qarnulmanazil ke Makkah yang cuma 56,5 km. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memulai ihram di pesawat udara?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah pendapat yang mengatakan bahwa jemaah haji kita harus berpakaian ihram di tempat embarkasi di Indonesia, lalu mulai berihram di pesawat udara? Pendapat tersebut sah-sah saja dan tidak ada salahnya. Tapi apa gunanya kita menyiksa diri seperti itu dengan membiarkan tubuh kita kedinginan selama 10 jam di pesawat udara. Mereka yang memulai ihram dari pesawat udara pada umumnya berdasarkan hal-hal berikut: Pertama, mereka beranggapan mengambil miqat di Qarnulmanazil. Kedua, mereka ragu dan waswas kalau-kalau jalur penerbangan melewati batas Tanah Haram. Ketiga, mereka berpendapat bahwa KAA Airport tidak sah sebagai miqat makani sebab tidak tersebut dalam hadits. Keempat, mereka hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh para pembimbing karena memang masih awam dan baru belajar manasik ketika akan pergi haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seperti telah kita bahas, pesawat udara kita &lt;em&gt;tidak lewat di atas Qarnulmanazil&lt;/em&gt; serta sama sekali &lt;em&gt;tidak melewati Tanah Haram&lt;/em&gt;. Memulai ihram dari pesawat udara tidaklah salah, tetapi janganlah menipu diri sendiri dengan berkhayal mengambil miqat di Qarnulmanazil, apalagi sambil menyalahkan atau menganggap tidak sah yang mengambil miqat di KAA Airport. Bandara yang baru dipakai tahun 1979 ini sudah tentu tidak ada dalam hadits, sebagaimana pesawat udara, awang-awang dan langit juga tidak pernah disebutkan dalam hadits untuk menjadi tempat miqat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata mereka yang ingin memulai ihram di pesawat udara sering bingung mengenai &lt;em&gt;kapan&lt;/em&gt; saat yang tepat untuk itu. Ada yang mengatakan kira-kira seperempat jam sebelum landing, ada yang mengatakan kira-kira 20 menit, atau kira-kira 25 menit, dan ada juga pendapat kira-kira 30 menit sebelum pesawat mendarat di KAA Airport. Semuanya &lt;em&gt;kira-kira&lt;/em&gt;! Dengan kecepatan rata-rata (&lt;em&gt;ground speed&lt;/em&gt;) pesawat udara 575 mil atau 920 km per jam, selisih waktu semenit saja dapat menyebabkan perbedaan lebih dari 15 km. Sudah tentu pelaksanaan ibadah dengan metode “kira-kira” tidaklah dapat dipertanggungjawabkan baik secara diniyah maupun secara ilmiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada yang mengatakan bahwa “lokasi Qarnulmanazil akan diumumkan oleh pilot”! Dari beberapa kali penerbangan ke tanah suci, baik umrah maupun haji, saya menyimpulkan bahwa pilot pesawat udara dan kru-krunya &lt;em&gt;tidak tahu apa-apa mengenai lokasi Qarnulmanazil&lt;/em&gt;. Pada salah satu penerbangan, terdengar pengumuman bahwa pesawat berada di atas Qarnulmanazil dan para jemaah haji yang ingin memulai ihram segera bersiap-siap. Merasa penasaran saya bertanya bagaimana cara menentukan koordinat Qarnulmanazil dari udara. Mereka mengaku tidak tahu lokasi Qarnulmanazil sebab tidak ada dalam peta, dan hanya melaksanakan &lt;em&gt;instruksi pihak Garuda&lt;/em&gt; agar mengumumkan hal itu 30 menit sebelum mendarat. Pada penerbangan yang lain, terdengar pengumuman bahwa pesawat berada di atas miqat makani kota Nasir. Ketika saya mengomentari bahwa tidak ada tempat miqat bernama Nasir, sang petugas mengatakan bahwa &lt;em&gt;menurut orang Depag &lt;/em&gt;Nasir adalah nama baru Qarnulmanazil. Entah ‘orang Depag’ mana yang dia maksud. Padahal, seperti telah kita hitung, jarak antara Nasir dan Qarnulmanazil (yang nama barunya As-Sayl al-Kabir) adalah 78,2 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengalaman ke Qarnulmanazil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya pernah mengunjungi Qarnulmanazil (As-Sayl al-Kabir) secara tidak sengaja ketika menunaikan umrah pada bulan Januari 1997. Niat saya adalah pergi ke Ta’if, berangkat naik taksi dari Makkah melalui Aziziyah. Ketika pulang dari Ta’if, supir taksi menawari saya agar kembali ke Makkah melalui jalur utara, tentu dengan tambahan riyal. Katanya, kita dapat melihat miqat di Sayl dan melihat &lt;em&gt;ustad &lt;/em&gt;(stadion olahraga) di Ji`ranah. Mendengar nama Sayl, saya langsung setuju sambil diam-diam menghitung sisa riyal di saku. Ternyata As-Sayl al-Kabir itu memang lokasi miqat resmi seperti Dzulhulaifah (Bi’r Ali). Di sana terdapat tugu miqat, mesjid megah tempat persiapan berihram, dan lapangan parkir yang luas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu jam sebelum mencapai Sayl dari arah timur, ada lapangan terbang domestik. Kelihatannya semacam pangkalan udara militer. Menurut supir taksi, daerah itu bernama Wadi Mahram. Saya langsung berharap sambil berdoa, semoga pemerintah Arab Saudi segera meningkatkan status lapangan terbang di Wadi Mahram menjadi bandara internasional, setidak-tidaknya bandara khusus haji. Dengan demikian, jemaah haji dari arah timur yang ingin langsung ke Makkah dapat mengambil miqat makani di Qarnulmanazil sesuai dengan bunyi hadits. Tidak seperti sekarang, banyak yang &lt;em&gt;mengaku &lt;/em&gt;berihram dari Qarnulmanazil, tetapi tidak tahu di mana dan belum pernah ke sana. Aneh tapi nyata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin mengambil miqat di Qarnulmanazil (As-Sayl al-Kabir), kita harus naik pesawat udara yang rutenya Jakarta-Riyadh, bukan Jakarta-Jeddah, seperti pernah saya alami bersama beberapa teman pada bulan Juli 2002. Setelah mendarat di Bandara Internasional Raja Khalid, Riyadh, kita pergi ke terminal bis SAPTCO (&lt;em&gt;Saudi Arabian Public Transportation Company&lt;/em&gt;, “DAMRI”-nya Arab Saudi) yang tidak jauh dari bandara. Kita naik bis Riyadh-Jeddah yang setiap 30 menit berangkat, tetapi jangan keterusan sampai Jeddah, melainkan turun di Ta’if atau di Halban (sebelum Ta’if dari arah timur). Dari Ta’if atau dari Halban kita menyewa taksi ke Makkah &lt;em&gt;lewat Sayl&lt;/em&gt;. Jangan naik bis, sebab bis ke Makkah semuanya lewat Aziziyah. Di kompleks miqat As-Sayl al-Kabir, kita berwudu’ (atau mandi kalau mau), mengenakan pakaian ihram (di sana ada toko yang menjual pakaian ihram), menunaikan shalat sunnah ihram, mengucapkan “Labbaik Allahumma `Umrah”, lalu berangkat ke Makkah. Nah, ini baru asli Qarnulmanazil, bukan ‘Qarnulmanazil khayal’ di awang-awang yang tidak jelas koordinatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh uraian di atas, kita mengharapkan agar para jemaah haji Indonesia mantap dan tidak ragu-ragu dalam menetapkan miqat makani (tempat memulai ihram), yaitu &lt;strong&gt;Dzulhulaifah&lt;/strong&gt; (Bi’r Ali) bagi yang ke Madinah dahulu (&lt;em&gt;Gelombang Pertama&lt;/em&gt;), serta &lt;strong&gt;Bandar Udara Raja Abdul Aziz &lt;/strong&gt;(KAA Airport) bagi yang langsung ke Makkah (&lt;em&gt;Gelombang Kedua&lt;/em&gt;).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a`lam bi sh-shawab&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-3777424441886955396?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/3777424441886955396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=3777424441886955396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/3777424441886955396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/3777424441886955396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/10/miqat-makani-jemaah-haji-indonesia.html' title='Miqat Makani Jemaah Haji Indonesia'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-6127955319917370950</id><published>2009-09-19T05:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T06:09:14.180-07:00</updated><title type='text'>Khutbah Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;em&gt;KHUTBAH IDUL FITRI  &lt;br /&gt;1 SYAWWAL 1430 H (Ahad 20 September 2009)&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;WUJUDKAN TAQWA DENGAN TINDAKAN NYATA&lt;br /&gt;BUKAN HANYA SEKADAR SEMBOYAN SEMATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o l e h&lt;br /&gt;DRS. H. IRFAN ANSHORY &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.&lt;br /&gt;Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.&lt;br /&gt;Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah.&lt;br /&gt;Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii    wa shahbihii wa man waalah.&lt;br /&gt;`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji dan puja kita panjatkan ke hadirat Allah SWT semata-mata, satu-satuNya Dzat tempat kita mengabdi dan tempat kita berserah diri. Shalawat dan Salam, kesejahteraan dan kedamaian, semoga dilimpahkan Allah kepada Pemimpin Besar kita, Nabi Muhammad Rasulullah SAW, serta para keluarga dan shahabat beliau yang setia. Melalui pribadi yang mulia Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Terakhir, sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama yang haqq dan sempurna untuk mengatur umat manusia, agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi, dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tanggal 1 Syawwal, umat Islam di seluruh dunia, yang kini berjumlah 1,5 miliar jiwa dan merupakan hampir seperempat penduduk planet Bumi, bergembira merayakan Festival Kemenangan atau Idul Fitri, setelah sebulan penuh berlatih dalam pengendalian diri. Selama bulan Ramadhan kita telah menunaikan ibadah puasa, menegakkan shalat tarawih, memperdalam kajian Al-Qur’an, memperbanyak infaq dan shadaqah, serta amalan lainnya yang diperintahkan agama. Mudah-mudahan Allah SWT menerima segala aktivitas Ramadhan kita sebagai amal shaleh yang menambah neraca kebajikan kita pada Hari Perhitungan di akhirat nanti. &lt;em&gt;Taqabbala l-Laahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allaahu akbar, Allaahu akbar.&lt;br /&gt;Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.&lt;br /&gt;Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah puasa yang telah kita laksanakan merupakan ibadah yang sangat personal. Pujangga termasyhur dari Pakistan, Muhammad Iqbal, melukiskan hubungan seseorang yang berpuasa dengan Sang Pencipta sebagai hubungan antara “Aku-dan-Engkau”, sebab ibadah puasa tidak dapat dipamerkan kepada orang lain. Yang mengetahui bahwa kita berpuasa hanyalah diri kita sendiri beserta Allah, tidak ada pihak ketiga. Dengan menghayati ibadah puasa, seorang makhluq merasakan kedekatan atau suasana akrab dengan Khaliqnya, sesuai dengan firman Allah yang berkaitan dengan kewajiban puasa, dalam Surat al-Baqarah ayat 186: &lt;em&gt;Wa idzaa sa’alaka `ibaadii `annii fa innii qariib. Ujiibu da`wata d-daa`i idzaa da`aan. Falyastajiibuu lii walyu’minuu bii la`allahum yarsyuduun&lt;/em&gt; (“Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Akan Kukabulkan permohonan orang yang mendo’a tatkala ia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka merespons panggilan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran selalu.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan, mudah-mudahan kita dapat memetik buah yang lezat dari ibadah shaum tersebut, dengan senantiasa menyadari kemahahadiran Allah dalam setiap gerak langkah dan aktivitas kita sehari-hari. Kita senantiasa menghayati firman Allah dalam Surat al-Hadid ayat 4: &lt;em&gt;Wa huwa ma`akum ainamaa kuntum. Wal-Laahu bimaa ta`maluuna bashiir&lt;/em&gt; (“Dia bersamamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Melihat terhadap yang kamu perbuat.”) Juga firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 115: &lt;em&gt;Wa li l-Laahi l-masyriqu wa l-maghrib. Fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhu l-Laah. Inna l-Laaha waasi`un `aliim &lt;/em&gt;(“Kepunyaan Allah timur dan barat. Ke mana jua engkau berpaling, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas JangkauanNya serta Maha Mengetahui.”) Dengan demikian diharapkan kita selalu memelihara diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. Inilah tujuan akhir (&lt;em&gt;the ultimate goal&lt;/em&gt;) dari ibadah puasa, &lt;em&gt;la`allakum tattaquun&lt;/em&gt;, “agar kamu sekalian bertaqwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pribadi taqwa seperti inilah yang pantas untuk menjadi pemimpin, bahkan mengelola negara. Jika dia menjadi presiden, gubernur, bupati atau walikota, niscaya dia akan menggunakan kekuasaannya untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, dan sekali-kali tidaklah dia memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta kekayaan mumpung dia masih berkuasa, karena dia yakin bahwa kepemimpinannya itu tiada lain adalah amanat Ilahi yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pemberi Mandat, yaitu Allah&lt;em&gt;`Aziizu l-Hakiim&lt;/em&gt;, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sebaliknya, jika pribadi yang bertaqwa ini hidup sebagai rakyat, maka dia akan taat dan patuh kepada pemimpin selama pemimpin itu menjalankan tugasnya di atas jalan yang diridhai Allah. Sekiranya dia melihat pemimpinnya menyeleweng atau keluar dari ajaran agama, maka dia tidak segan dan ragu untuk menegur dan memperingatkan pemimpinnya itu. Ternyata pribadi-pribadi bertaqwa seperti inilah yang mampu menjadi demokrat-demokrat sejati, karena mampu melihat manusia sebagai ‘manusia’. Dia tidak meninggikan seseorang sehingga mengkultuskannya, dan dia tidak merendahkan seseorang sehingga memperhambanya. Sikap hidup Ketuhanan Yang Maha Esa memancar dalam Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, atau dalam bahasa Al-Qur’an: &lt;em&gt;hablun mina l-Laahi wa hablun mina n-naas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin dan hadirat yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebulan penuh lamanya kita menempuh latihan menahan diri, dengan tidak melakukan makan dan minum, serta tidak melakukan hubungan badani suami-istri, dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Menahan lapar dan dahaga dalam puasa sama sekali bukanlah untuk menghilangkan naluri yang ada pada makhluk hidup, yaitu nafsu makan dan minum, melainkan untuk menumbuhkan kemampuan pengendalian atas nafsu-nafsu tersebut. Inilah salah satu perbedaan manusia dengan hewan, sebab manusia berpotensi untuk mengendalikan nafsu sedangkan hewan tidak. Lebih penting lagi, pengendalian nafsu tersebut sangat penting untuk memelihara nilai-nilai dan norma-norma hidup bermasyarakat. Jika manusia tidak mampu mengendalikan nafsu makan dan minumnya, maka timbullah keinginan pemenuhan kebutuhan secara tidak wajar, sehingga muncul kejahatan-kejahatan yang sering kita saksikan: penipuan, pencurian, perjudian, prostitusi, korupsi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikian juga menahan diri dari kegiatan seksual, bukanlah untuk membunuh syahwat yang merupakan naluri manusia, melainkan menumbuhkan kemampuan pengendalian atas naluri seksual tersebut dan menempatkannya pada proporsi yang wajar. Tidak berlebih-lebihan seperti anggapan ahli psikoanalisis dari Austria, Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia dirangsang oleh nafsu seksual bawah-sadar. Tidak pula merendahkannya dengan menganggap nafsu seksual sebagai salah satu bentuk ketidaksucian seperti ajaran agama tertentu. Ajaran Islam justru menyalurkan naluri seksual melalui ikatan tali Allah berupa pernikahan, dengan tujuan mencapai ketenteraman rumah tangga serta menurunkan generasi yang shaleh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengendalian hawa nafsu ini sangat erat hubungannya dengan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLA L-LAAH (Tiada ilah kecuali Allah) yang setiap saat kita ikrarkan dalam shalat. Janganlah kita terjerumus kepada kemusyrikan terselubung yang mungkin tidak kita sadari, sebagaimana diperingatkan Allah dalam Surat al-Furqan ayat 43: &lt;em&gt;Ara’aita manittakhadza ilaahahuu hawaah?&lt;/em&gt; (“Apakah engkau memperhatikan bahwa banyak manusia yang mengambil hawa nafsunya menjadi ilahnya?”).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam era modern dewasa ini, bentuk kemusyrikan yang tradisional, seperti menyembah patung, memandikan keris atau meminta berkah ke kuburan, hanya masih kita jumpai pada masyarakat yang tidak berpendidikan. Manusia modern tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan primitif semacam itu. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa manusia modern sudah terbebas dari bahaya syirik. Disadari atau tidak, pada zaman modern ini lebih banyak bermunculan “berhala-berhala” baru yang tidak kurang bahayanya dalam menjerumuskan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekeliling kita bertebaran “Lata dan Uzza” dalam bentuk materi dan kedudukan, yang setiap saat merayu manusia supaya bertuhan kepadanya. Betapa banyak orang yang menjadikan tahta atau kedudukan sebagai ilahnya, sehingga dia rela berkorban dengan segala cara untuk mencapai atau mempertahankan kedudukannya. Betapa sering kita mendengar orang yang menumpuk harta kekayaan dengan tidak peduli apakah cara yang ditempuh halal atau haram. Mudah-mudahan ibadah shaum Ramadhan meningkatkan kemampuan kita dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga kita dapat memelihara kemurnian pengabdian kita kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semakin jelas bagi kita bahwa mengaplikasikan ikrar LAA ILAAHA ILLA L-LAAH tidaklah segampang mengucapkannya. Hal ini memerlukan latihan dan ujian. Memang benar ungkapan simbolis yang mengatakan bahwa titian &lt;em&gt;Shiraath al-Mustaqiim &lt;/em&gt;itu sangat halus laksana “rambut dibelah tujuh.” Artinya melangkah pada jalan yang diridhai Allah itu tidaklah mudah, karena sepanjang hidup kita akan berdatangan ujian dan cobaan dari sekeliling kita. Marilah kita renungkan firman Allah dalam Surat al-Ankabut ayat 2–3: &lt;em&gt;Ahasiba n-naasu ayyutrakuu ayyaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun. Wa laqad fatanna l-ladziina min qablihim falaya`lamanna l-Laahu l ladziina shadaquu walaya`lamanna l-kaadzibiin&lt;/em&gt; (“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan berkata ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Sungguh telah diuji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui mereka yang benar dan mereka yang dusta.”) Semoga Allah memasukkan kita kepada golongan yang disebutkan dalam Surat al-Ahqaf ayat 13-14: &lt;em&gt;Inna l-ladziina qaaluu rabbuna l-Laahu tsumma staqaamuu fa laa khaufun `alaihim wa laa hum yahzanuun. Ulaa’ika ashhaabu l-jannati khaalidiina fihaa jazaa’am bimaa kaanuu ya`maluun &lt;/em&gt;(“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’, lalu mereka konsisten dengan pernyataan itu, maka tidaklah ada kecemasan dan kesusahan bagi mereka. Mereka itulah penghuni surga, kekal mereka di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allaahu akbar, Allaahu akbar.&lt;br /&gt;Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.&lt;br /&gt;Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita merayakan “festival kesucian” atau Idul Fitri. Kata&lt;em&gt;`id &lt;/em&gt;berarti “kembali atau berulang”, satu akar kata dengan &lt;em&gt;`adah&lt;/em&gt;, yang diindonesiakan menjadi adat, yaitu kebiasaan atau tradisi yang senantiasa terus berulang. Juga kata &lt;em&gt;`id &lt;/em&gt;berarti “hari raya atau festival”. Dengan demikian,`id memiliki arti lengkap sebagai hari raya yang berulang secara periodik setiap tahun. Adapun kata &lt;em&gt;fithri&lt;/em&gt; seakar dengan &lt;em&gt;fithrah&lt;/em&gt;, yang berarti “sifat atau kejadian asal yang suci”. Menurut ajaran Islam, manusia terikat dalam suatu perjanjian primordial dengan Tuhan. Manusia sejak dari kehidupannya dalam alam ruhani dahulu telah berjanji untuk menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Marilah kita perhatikan firman Allah dalam Surat al-A`raf ayat 172: &lt;em&gt;Wa idz akhadza rabbuka mim banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum `alaa anfusihim ‘alastu birabbikum’, qaaluu ‘balaa syahidnaa’. An taquuluu yauma l-qiyaamati innaa kunnaa `an haadzaa ghaafiliin&lt;/em&gt; (“Ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari sulbi anak-anak Adam keturunan mereka, dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Ya, kami bersaksi’. Demikianlah agar kamu tidak berkata pada Hari Kiamat bahwa ketika itu kami lalai.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, manusia dilahirkan ke dunia dalam kejadian asal yang suci (&lt;em&gt;fithrah&lt;/em&gt;), dan diasumsikan bahwa dia akan tumbuh dalam kesucian itu seandainya tidak ada pengaruh lingkungannya. Firman Allah dalam Surat ar-Rum ayat 30: &lt;em&gt;Fa aqim wajhaka li d-diini haniifaa. Fithrata l-Laahi l-latii fathara n-naasa `alaihaa. Laa tabdiila li khalqi l-Laah. Dzaalika d-diinu l-qayyim. Wa laakinna aktsara n-naasi laa ya`lamuun&lt;/em&gt; (“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama secara benar, menurut fitrah Allah yang atas itu pula Allah menciptakan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang baku, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.”) Juga Sabda Nabi SAW bahwa “setiap manusia dilahirkan dalam kesucian”. Kesucian asal itu bersemayam dalam hati nurani dan mendorong manusia untuk senantiasa mencari, berpihak dan berbuat yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akan tetapi, meskipun dasarnya suci, manusia adalah makhluk yang lemah, mudah membuat kesalahan, sehingga tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak suci lagi. Manusia mudah tertarik kepada hal-hal yang sepintas lalu menawarkan kesenangan, padahal dalam jangka panjang membawa malapetaka. Itulah sebabnya dalam agama kita ada ritus-ritus penyucian diri, dan ibadah puasa merupakan ritus yang utama untuk membakar habis dosa-dosa kita. Bukanlah suatu kebetulan jika bulan yang baru saja kita lalui bernama Ramadhan, yang secara harfiah berarti “bulan pembakaran”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti Idul Fitri adalah bersihnya kita dari segala dosa. Kesucian diri ini perlu terus kita pelihara dan tumbuhkan, karena pada hakikatnya proses penyucian diri ini merupakan &lt;em&gt;jihad an-nafs&lt;/em&gt;, proses yang terus-menerus harus kita jalani sepanjang hidup. Betapa sulitnya proses ini sehingga Al-Qur’an menyebutnya sebagai &lt;em&gt;al-`aqabah &lt;/em&gt;atau “jalan mendaki”. Sebagai langkah awal dalam menyongsong masa depan, pada hari raya Idul Fitri ini kita bermaaf-maafan satu sama lain, menghapus segala dosa dan permusuhan. Sebagai makhluk yang lemah, kita mungkin pernah tergelincir dalam kesalahan terhadap orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dalam pergaulan sehari-hari sering terjadi pertikaian ataupun kesalahfahaman antara sesama anggota masyarakat, bahkan sering terjadi perselisihan dalam satu keluarga, antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, antara kakak dan adik. Marilah kita jadikan hari 1 Syawal 1430 Hijri ini sebagai momentum untuk menghabisi perasaan dendam dan amarah yang mungkin tumbuh pada saat kita lalai dan terbawa oleh emosi. Menurut firman Allah dalam Ali Imran ayat 134, salah satu ciri orang bertaqwa adalah &lt;em&gt;kaazhimiina l-ghaizha wa l-`aafiina `ani n-naas &lt;/em&gt;(“menahan amarah dan memaafkan manusia”). Marilah kita buka lembaran kehidupan yang baru, yang lebih akrab, yang bersih dari suasana pertikaian, sesuai dengan kesucian Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi kita bangsa Indonesia, bulan Ramadhan juga merupakan bulan proklamasi kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara kita pada hari Jum`at tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi. Kita secara tegas menyatakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa kemerdekaan bangsa dan negara kita semata-mata “atas berkat rahmat Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang terlupa dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Fatahillah dari Pasai menjadi panglima balatentara Demak, lalu mendirikan kota Jakarta. Ki Geding Suro dari Demak mendirikan Kesultanan Palembang. Syaikh Yusuf dari Makassar menjadi mufti Kesultanan Banten. Beberapa sultan Aceh adalah keturunan suku Melayu dan Bugis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi contoh yang lain. Pada zaman pra-Islam hal ini belum pernah terjadi, sebab belum ada rasa persaudaraan antar suku. Itulah sebabnya mengapa di kota-kota seluruh Tatar Sunda ada Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung, tapi tidak kita jumpai Jalan Gajah Mada!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berabad-abad sebelum lahir faham nasionalisme, rasa satu bangsa pertama kali ditanamkan oleh Islam. Perhatikan saja nama ulama-ulama termasyhur kita zaman dahulu: Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (Pansur), Syaikh Abdussamad al-Jawi al-Falimbani (Palembang), Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Arsyad al-Jawi al-Banjari (Banjar), Syaikh Syamsuddin al-Jawi as-Sumbawi (Sumbawa), Syaikh Yusuf al-Jawi al-Maqashshari (Makassar), Syaikh Abdulkamil al-Jawi at-Tiduri (Tidore). Semua mengaku &lt;em&gt;Jawi&lt;/em&gt; (‘bangsa Jawa’), dari suku mana pun dia berasal. Berabad-abad sebelum istilah ‘Indonesia’ diciptakan oleh ahli geografi James Richardson Logan tahun 1850, nenek moyang kita menamakan diri ‘bangsa Jawa’, sebab orang Arab menyebut kepulauan kita &lt;em&gt;Jaza’ir al-Jawa &lt;/em&gt;(Kepulauan Jawa). Sampai hari ini, jemaah haji kita masing sering dipanggil ‘Jawa’ oleh orang Arab. “&lt;em&gt;Samathrah, Sundah, Sholibis, kulluh Jawi&lt;/em&gt;!” demikian kata seorang pedagang di Pasar Seng, Makkah. “Sumatera, Sunda, Sulawesi, semuanya Jawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum Islam datang ke Indonesia, bahasa Melayu hanya dipakai di Sumatera. Bahasa Melayu baru tersebar di Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam. Para ulama, di samping menyebarkan agama Islam, juga menyebarkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sebagai huruf persatuan digunakan &lt;em&gt;Huruf Arab-Melayu &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;Huruf Jawi&lt;/em&gt;), yang dilengkapi tanda-tanda bunyi yang tidak ada dalam huruf Arab aslinya. Huruf &lt;em&gt;`ain &lt;/em&gt;diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nga&lt;/em&gt;; huruf &lt;em&gt;nun&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;; huruf &lt;em&gt;jim&lt;/em&gt; diberi tiga titik menjadi &lt;em&gt;ca&lt;/em&gt;; dan huruf &lt;em&gt;kaf&lt;/em&gt; diberi satu titik menjadi &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;. Alhasil, masyarakat dari Aceh sampai Ternate mampu berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama, dan hal ini belum pernah terjadi pada zaman Hindu-Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh data dan fakta yang telah kita bahas, jelas sekali betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan, maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian, sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya bersaudara.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin dan hadirat yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering ma`shiyat kepada-Mu. Telah banyak Engkau penuhi kenikmatan hidup kami dengan kemurahan-Mu, namun kami sering ingkar dan tidak bersyukur kepada-Mu. Telah banyak Engkau tutupi aib dan kekurangan kami dengan kemuliaan-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, betapa beratnya siksa yang akan kami tanggung, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu. Karena itu Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami, angkatlah bangsa kami Ya Allah dari jurang kehinaan, berilah kami pemimpin yang mampu membimbing kami ke arah kebaikan, dan tunjukkan bagi kami jalan keselamatan dunia dan akhirat agar kami tidak tersesat. Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allaahumma innaa nas’aluka l-`afwa wa l-`aafiyah, wa l-mu`aafaata d-daa’imah, fi d-diini wa d-dunyaa wa l-aakhirah, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.&lt;br /&gt;Allaahumma innaa nas’aluka muujibaati rahmatik, wa `azaa’ima maghfiratik, wa s-salaamata min kulli itsm, wa l-ghaniimata min kulli birr, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.&lt;br /&gt;Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan kaamilaa, wa yaqiinan shaadiqaa, wa `ilman naafi`aa, wa rizqan waasi`aa, wa qalban khaasyi`aa, wa lisaanan dzaakiraa, wa halaalan thayyibaa, wa taubatan nashuuhaa, wa taubatan qabla l-mauut, wa raahatan `inda l-mauut, wa maghfiratan wa rahmatan ba`da l-mauut, wa l-`afwa `inda l-hisaab, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.&lt;br /&gt;Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar,wa adkhilna l-jannata ma`a l-abraar, yaa `aziiz, yaa ghaffaar, yaa rabba l-`aalamiin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-6127955319917370950?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/6127955319917370950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=6127955319917370950' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6127955319917370950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6127955319917370950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/09/khutbah-idul-fitri.html' title='Khutbah Idul Fitri'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-96677514412630639</id><published>2009-09-13T01:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T01:41:40.622-07:00</updated><title type='text'>Tuntunan Shalat `Id</title><content type='html'>&lt;strong&gt;TUNTUNAN SHALAT `ID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirangkum oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TAK TERASA Idul Fitri kembali di ambang pintu. Meskipun ibadah shalat `id setiap tahun selalu kita lakukan, ada baiknya kita rangkum kembali tuntunan shalat `id yang diajarkan oleh Junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (1) Shalat Idul Fitri dilakukan setelah matahari berketinggian dua penggalah (sekitar pukul 7.00), berbeda dengan shalat Idul Adha yang waktunya lebih awal ketika matahari meninggi satu penggalah (sekitar pukul 6.30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (2) Shalat `id diselenggarakan di lapangan, bukan di mesjid. Rasulullah s.a.w. shalat `id di lapangan yang jaraknya 1000 dzira’ (612 meter) dari Masjid Nabawi. Hanya satu kali beliau shalat `id di mesjid, yaitu tanggal 1 Syawal 7 H (1 Februari 629 M), karena hari hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (3) Shalat `id dikerjakan dua rakaat secara berjamaah, tanpa azan dan qamat, dan tanpa shalat sunnat baik sebelum maupun sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (4) Pada rakaat pertama, sesudah takbiratul-ihram, bertakbirlah tujuh kali, dan pada rakaat kedua, sesudah takbiratul-qiyam (intiqal), bertakbirlah lima kali. Pada semua takbir itu kedua tangan diangkat setentang telinga sebagaimana lazimnya. Tidak ada tuntunan Nabi s.a.w. tentang bacaan di sela takbir-takbir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (5) Ketika menjadi imam shalat `id, Rasulullah s.a.w. sering membaca ayat Surat al-A`la (87) pada rakaat pertama dan Surat al-Ghasyiyah (88) pada rakaat kedua. Beliau juga pernah membaca ayat Surat Qaf (50) pada rakaat pertama dan Surat al-Qamar (54) pada rakaat kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (6) Sesudah shalat `id, imam langsung berkhutbah satu kali, yaitu tidak diselingi duduk antara dua khutbah. Khutbah dimulai dengan tahmid sebagaimana lazimnya, bukan dengan takbir. Bagian-bagian khutbah barulah diselingi dengan takbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, sebaiknya kita melakukan beberapa sunnah Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (1) Perbanyaklah takbir pada malam Idul Fitri, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, sejak terbenam matahari sampai pagi hari ketika shalat `id segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (2) Pada pelaksanaan shalat `id Rasulullah s.a.w. selalu berhias, memakai pakaian bagus dan wangi-wangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Rasulullah s.a.w. makan pagi atau sarapan sebelum shalat Idul Fitri. (Ketika Idul Adha, justru beliau makan sesudah shalat `id.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Pulang dari shalat `id Rasulullah s.a.w. selalu melewati jalan lain dari yang beliau lewati ketika pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Anak-anak dan wanita haid dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk berkumpul di lapangan. Tentu mereka tidak ikut shalat `id, tetapi hanya ikut mendengarkan khutbah.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-96677514412630639?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/96677514412630639/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=96677514412630639' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/96677514412630639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/96677514412630639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/09/tuntunan-shalat-id.html' title='Tuntunan Shalat `Id'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-1672085275338711036</id><published>2009-09-05T00:39:00.001-07:00</published><updated>2009-09-05T01:44:42.220-07:00</updated><title type='text'>Lagu "Terang Bulan" Siapa Punya?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;LAGU "TERANG BULAN" SIAPA PUNYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR-AKHIR INI di berbagai media massa terdapat wacana bahwa irama lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" diambil dari irama lagu "Terang Bulan" karya Saiful Bahri yang populer pada tahun 1950-an. Memang kedua lagu di atas memiliki irama yang persis sama. Tetapi belum tentu "Negaraku" mengambilnya dari "Terang Bulan", sebab irama lagu yang dihebohkan itu ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang komponis Perancis, Pierre-Jean de Beranger (1780-1857), yang berdiam di Kepulauan Seychelles, Samudera Hindia, pada tahun 1815 mencipta lagu "LA ROSALIE". Irama lagu itu enak disenandungkan, sehingga populer ke mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pertengahan abad ke-20, masalah hak paten belumlah ketat seperti sekarang, sehingga dahulu orang bebas mengambil suatu irama lagu karya orang lain, lalu diberi lirik baru yang berbeda dan tidak ada hubungan dengan lirik lagu aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1888, irama lagu "La Rosalie" diambil oleh Sultan Idris dari Negara Perak, Semenanjung Malaka, menjadi lagu kebangsaan "Allah Lanjutkan Usia Sultan". Kemudian pada tahun 1936 Paul Lombart di Amerika Serikat mengambil juga irama lagu "La Rosalie" menjadi lagu "Mamula Moon". Baik lagu "Allah Lanjutkan Usia Sultan" maupun lagu "Mamula Moon" sudah tentu memiliki irama yang 100% sama dengan lagu "La Rosalie", hanya kata-katanya saja yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, irama lagu "Mamula Moon" diambil oleh komponis Indonesia, Saiful Bahri, pada awal tahun 1940-an menjadi irama lagu "Terang Bulan" :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terang bulan, terang bulan di kali&lt;br /&gt;Buaya timbul disangka t'lah mati&lt;br /&gt;Jangan percaya mulutnya lelaki&lt;br /&gt;B'rani sumpah tapi takut mati &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika Persekutuan Tanah Melayu merdeka dari Inggris tahun 1957, irama lagu "Allah Lanjutkan Usia Sultan" dari Perak diambil menjadi irama lagu kebangsaan "Negaraku" :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Negaraku, tanah tumpahnya darahku&lt;br /&gt;Rakyat hidup bersatu dan maju&lt;br /&gt;Rahmat bahagia Tuhan kurniakan&lt;br /&gt;Raja kita selamat bertakhta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghormati lagu kebangsaan negara serumpun, Presiden Sukarno menganjurkan agar rakyat Indonesia tidak lagi menyanyikan lagu "Terang Bulan". Komponis Saiful Bahri yang saat itu dianggap pencipta "Terang Bulan" juga dimohon kerelaan agar lagu "ciptaannya" itu dipakai sebagai irama lagu kebangsaan negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak usah diributkan jika irama lagu "Negaraku" persis sama dengan irama lagu "Terang Bulan", sebab irama kedua lagu itu merupakan "barang yang sama" dan sama-sama menjiplak irama lagu ciptaan Beranger abad ke-19.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-1672085275338711036?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/1672085275338711036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=1672085275338711036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1672085275338711036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/1672085275338711036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/09/lagu-terang-bulan-siapa-punya.html' title='Lagu &quot;Terang Bulan&quot; Siapa Punya?'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-6627157885371412040</id><published>2009-08-08T17:55:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T19:08:57.199-07:00</updated><title type='text'>Beberapa Sajak W.S.Rendra</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENGENANG WILLIBRODUS SURENDRA RENDRA (WAHYU SULAIMAN RENDRA)  1935 - 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allahumma'ghfirlahu wa'rhamhu wa`afihi wa`fu`anhu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku &lt;em&gt;Empat Kumpulan Sadjak&lt;/em&gt;, Pembangunan, Djakarta, 1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;W A K T U&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu seperti burung tanpa hinggapan&lt;br /&gt;melewat hari-hari rubuh tanpa ratapan&lt;br /&gt;sayap-sayap mujizat terkebar dengan cekatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu seperti butir-butir air&lt;br /&gt;dengan nyanyi dan tangis angin silir&lt;br /&gt;berpejam mata dan pelesir tanpa akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu juga seperti pawang tua&lt;br /&gt;menunjuk arah cinta dan arah keranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku &lt;em&gt;Blues Untuk Bonnie&lt;/em&gt;, Tjupumanik, Tjirebon, 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitti,&lt;br /&gt;kini aku makin ngerti keadaanmu&lt;br /&gt;Tak 'kan lagi aku membujukmu&lt;br /&gt;untuk nikah padaku&lt;br /&gt;dan lari dari lelaki yang miaramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibmu sudah lumayan&lt;br /&gt;Dari babu dari selir kepala jawatan&lt;br /&gt;Apalagi?&lt;br /&gt;Nikah padaku merusak keberuntungan&lt;br /&gt;Masa depanku terang repot&lt;br /&gt;Sebagai copet nasibku untung-untungan&lt;br /&gt;Ini bukan ngesah&lt;br /&gt;Tapi aku memang bukan bapak yang baik&lt;br /&gt;untuk bayi yang lagi kau kandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu padaku tak pernah kusangsikan&lt;br /&gt;Tapi cinta cuma nomor dua&lt;br /&gt;Nomor satu carilah keslametan&lt;br /&gt;Hati kita mesti ikhlas&lt;br /&gt;berjuang untuk masa depan anakmu&lt;br /&gt;Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu&lt;br /&gt;Kuraslah hartanya&lt;br /&gt;Supaya hidupmu nanti sentosa&lt;br /&gt;Sebagai kepala jawatan lelakimu normal&lt;br /&gt;suka disogok dan suka korupsi&lt;br /&gt;Bila ia ganti kau tipu&lt;br /&gt;itu sudah jamaknya&lt;br /&gt;Maling menipu maling itu biasa&lt;br /&gt;Lagi pula&lt;br /&gt;di masyarakat maling kehormatan cuma gincu&lt;br /&gt;Yang utama kelicinan&lt;br /&gt;Nomor dua keberanian&lt;br /&gt;Nomor tiga keuletan&lt;br /&gt;Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta&lt;br /&gt;Inilah ilmu hidup masyarakat maling&lt;br /&gt;Jadi janganlah ragu-ragu&lt;br /&gt;Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan selalu menanjak kedudukanmu&lt;br /&gt;Usahakan kenal satu menteri&lt;br /&gt;dan usahakan jadi selirnya&lt;br /&gt;Sambil jadi selir menteri&lt;br /&gt;tetaplah jadi selir lelaki yang lama&lt;br /&gt;Kalau ia menolak kau rangkap&lt;br /&gt;sebagaimana ia telah merangkapmu dengan isterinya&lt;br /&gt;itu berarti ia tak tahu diri&lt;br /&gt;Lalu depak saja dia&lt;br /&gt;Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan&lt;br /&gt;asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya&lt;br /&gt;Ini selalu menarik seorang menteri&lt;br /&gt;Ngomongmu ngawur tak jadi apa&lt;br /&gt;asal bersemangat, tegas, dan penuh keyakinan&lt;br /&gt;Kerna begitulah cermin seorang menteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti&lt;br /&gt;Siang malam jagalah ia&lt;br /&gt;Kemungkinan besar dia lelaki&lt;br /&gt;Ajarlah berkelahi&lt;br /&gt;dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang&lt;br /&gt;Jangan boleh menilai orang dari wataknya&lt;br /&gt;Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan&lt;br /&gt;Kawan bisa baik sementara&lt;br /&gt;Sedang lawan selamanya jahat nilainya&lt;br /&gt;Ia harus diganyang sampai sirna&lt;br /&gt;Inilah hakikat ilmu selamat&lt;br /&gt;Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi&lt;br /&gt;Jangan boleh ia nanti jadi propesor atau guru&lt;br /&gt;itu celaka, uangnya tak ada&lt;br /&gt;Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara&lt;br /&gt;supaya tak usah beli beras&lt;br /&gt;kerna dapat dari negara&lt;br /&gt;Dan dengan pakaian seragam&lt;br /&gt;dinas atau tak dinas&lt;br /&gt;haknya selalu utama&lt;br /&gt;Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu&lt;br /&gt;dan wataknya licik seperti saya--nah!&lt;br /&gt;Ini kombinasi sempurna&lt;br /&gt;Artinya ia berbakat masuk politik&lt;br /&gt;Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen&lt;br /&gt;Atau bahkan jadi menteri&lt;br /&gt;Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku &lt;em&gt;Sajak-Sajak Sepatu Tua&lt;/em&gt;, Pustaka Jaya, Jakarta, 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DATANGLAH, YA ALLAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang kepadaMu, ya Allah&lt;br /&gt;dengan tangan terentang dan muka ke tanah&lt;br /&gt;Aku datang kepadaMu, ya Allah&lt;br /&gt;bila habis segala daya&lt;br /&gt;dan jiwa terpesona&lt;br /&gt;Datanglah pula Kau padaku, ya Allah&lt;br /&gt;Datanglah Kau padaku, wahai,&lt;br /&gt;Tanya Dari Segala Tanya!&lt;br /&gt;Lihatlah tanganku yang terpesona&lt;br /&gt;Lihatlah jantungku yang berdebar dengan gemas&lt;br /&gt;Wahai, berdaginglah Engkau&lt;br /&gt;maka tanganku akan meremasMu&lt;br /&gt;Adakah mataMu mentari atau bulan?&lt;br /&gt;Adakah Kau dendam atau Pengampunan?&lt;br /&gt;Adakah Kau pembalasan atau Ciuman?&lt;br /&gt;Menataplah Kau padaku, ya Allah!&lt;br /&gt;Lihatlah kerinduanku untuk mengerti&lt;br /&gt;gemetar kakiku menahan guyah&lt;br /&gt;dan keakraban bagiku&lt;br /&gt;adalah damba dari segala damba&lt;br /&gt;Allah! Allah! Allah!&lt;br /&gt;Engkaulah kijang emas&lt;br /&gt;menyelinap antara pohonan di hutan&lt;br /&gt;Engkaulah keindahan dan kegesitan&lt;br /&gt;Lihatlah, jantungku berdebar dengan gemas&lt;br /&gt;Engkaulah bulan di balik cemara&lt;br /&gt;burung penyanyi di dalam belukar&lt;br /&gt;dan puteri Cina yang jelita&lt;br /&gt;bersembunyi di balik kipasnya&lt;br /&gt;Lihatlah, kerinduanku, ya Allah&lt;br /&gt;Kerinduan, kegemasan, damba dan pesona&lt;br /&gt;Ungkapkanlah diriMu padaku, wahai,&lt;br /&gt;Tanya Dari Segala Tanya&lt;br /&gt;Sedemikian agung dan besarMu&lt;br /&gt;Sehingga tetap menjadi Tanya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-6627157885371412040?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/6627157885371412040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=6627157885371412040' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6627157885371412040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6627157885371412040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/08/beberapa-sajak-wsrendra.html' title='Beberapa Sajak W.S.Rendra'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-4603108204391790967</id><published>2009-07-10T21:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T16:55:59.985-07:00</updated><title type='text'>SBY in TIME Magazine</title><content type='html'>&lt;strong&gt;INDONESIA ELECTIONS: A WIN FOR DEMOCRACY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It hardly looked like a vision of democratic perfection. One presidential candidate was the nationalist daughter of a former strongman, while the incumbent was a retired general whose in-law was just jailed for corruption. Two of the vice-presidential nominees had been accused of directing human-rights abuses during their military careers. Yet the election that took place in Indonesia on July 8 was, in fact, testament to the remarkable political experiment unfolding in the world's fourth most populous nation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upwards of 100 million voters scattered across 920-plus permanently inhabited islands went to the voting booth. Susilo Bambang Yudhoyono was picked for a second term by roughly 60% of the voting populace, according to unofficial results, outpacing rivals Megawati Sukarnoputri and Jusuf Kalla, who garnered around 27% and 13% respectively. Yudhoyono, popularly known among Indonesians by his initials SBY, was expected to win, not least because his first five-year term wasn't syncopated by the constant drumbeat of political and economic scandals that had marred previous Presidents' tenures. Yet the electoral outcome served as much as a vote of confidence for Indonesia's emerging democracy as a referendum on SBY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Little more than a decade ago, tens of thousands of Indonesians joined together in a people-power overthrow of dictator Suharto, who had ruled for 32 years. Since then, the country has had four Presidents, with peaceful transitions of power between each leader. Indonesia's success at the ballot box has silenced skeptics who doubted whether Indonesia — with its diversity of islands, religions and ethnicities — could mature into a democratic state. Indeed, compared to countries such as Malaysia and Thailand, where democratic institutions are stagnating if not backsliding, Indonesia has cemented its status as Southeast Asia's political role model. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the world's largest Muslim-majority nation, Indonesia proves that democracy and Islam need not be incompatible. Even though many leaders of Indonesian Islamic political parties first gained inspiration from the Iranian revolution in 1979, Indonesia today is hardly in danger of hardening into a theocracy willing to gun down unarmed protesters. True, Shari'a-based initiatives have proliferated on a local level, and more Indonesian women wear the veil today than three decades ago. But on a national level, Islamic parties fared poorly in April's legislative polls, winning nine percentage points fewer than they did in 2004. In this month's presidential race, attempts by third-place finisher Kalla to court an Islamic vote backfired. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course, many Indonesians feel that change hasn't come fast enough. Around 15% of the country subsists below the poverty line. Corruption still corrodes efforts to increase foreign investment and degrades daily life for everyone from pedicab drivers to entrepreneurs. On its graft-perception index that assigns the cleanest country a rank of 1, global corruption watchdog Transparency International rates Indonesia a dismal 126th out of 180 nations, worse than Nigeria and Nepal. But Yudhoyono made tackling corruption a pillar of his first term. In a country where leaders are expected to protect their own family or clan even at the expense of the state, SBY didn't stand in the way of the corruption conviction last month of a prominent banker whose daughter is married to the President's own son.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia has also been surprisingly unscathed by the global financial crisis. Though exports are down, the country recorded 4.4% growth in the first quarter of this year. Local banks are unburdened with the kind of debt crippling financial institutions in other countries. A monthly consumer-confidence survey elicited the second highest level of optimism since August 2006. Buoying hopes is SBY's choice for Vice President, principled former Central Bank governor Boediono. Investment bank Morgan Stanley is so impressed that it wondered in a June report whether the country should be added to the so-called BRIC club of economic up-and-comers composed of Brazil, Russia, India and China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Susilo Bambang Yudhoyono: &lt;br /&gt;The Man Behind Indonesia's Rise&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On July 8, voters on the more than 17,000 islands that make up the vast archipelago nation of Indonesia went to the polls to elect the country's President. A final count has yet to be completed, but all signs suggest Susilo Bambang Yudhoyono, the incumbent candidate, notched up a resounding victory. Since winning the country's first competitive elections in 2004, the former general has been a cool steward of Indonesia's young and often chaotic democracy, denting the country's grim legacy of corruption, cracking down on radical Islamist groups and rebuilding a nation that suffered the brunt of 2005's devastating Indian Ocean tsunami. SBY — Yudhoyono is widely referred to by his initials — is seen as a moderate and honest figure in a nation still emerging from decades of cronyism under the deceased military dictator Suharto. When his triumph is certified, he will become the first President to be re-elected in what is the world's most populous Muslim democracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fast Facts:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;• Born in 1949 into a lower-middle class military family in eastern Java, Indonesia's most densely populated island. &lt;br /&gt;• After graduating at the top of his class in the Indonesian national military academy in 1973, he went on to join the army's top brass, and ultimately served as a military observer for U.N. peacekeeping operations in Bosnia during the mid-1990s.&lt;br /&gt;• First shone politically in 2001, when he stood up to then President Abdurrahman Wahid — who was facing impeachment charges — by refusing an order to declare a state of emergency. For supporters, the act sealed his reputation as a man of integrity.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;During his presidency, a lasting peace deal has been negotiated with insurgents in the tsunami-struck province of Aceh. Has also drawn praise for blunting the influence of the Jemaah Islamiyah, an al-Qaeda-linked terrorist organization, with a steady string of arrests and detentions.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;In the July 8 election, SBY's two main opponents fielded running mates who were also prominent generals under Indonesia's military dictator Suharto. SBY, though, was the only one of the three not being pursued on charges of human-rights abuses. &lt;br /&gt;His choice of Boedino — an astute banker and political newcomer — as his running mate has been hailed as a sign that he intends to cut through some of the bureaucratic red tape that has been a hallmark of Indonesia's murky politics and has stalled the nation's growth in the past.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Though considered to be an even-tempered, if not altogether unexciting, politician, he has a stated affection for music and has composed his own love songs. The latest compilation is titled &lt;em&gt;My Longing for You.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Quotes By:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;"I love the United States, with all its faults. I consider it &lt;strong&gt;my second country&lt;/strong&gt;."&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;International Herald Tribune&lt;/em&gt;, Aug. 8, 2003)&lt;br /&gt;"God willing, in the next five years, the world will say, 'Indonesia is something, Indonesia is rising.' "&lt;br /&gt;— Speaking at a huge election rally in Jakarta. (&lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt;, July 4, 2009) &lt;br /&gt;"Today is the people's day."&lt;br /&gt;— After casting his vote on July 8. (&lt;em&gt;South China Morning Post&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-4603108204391790967?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/4603108204391790967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=4603108204391790967' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/4603108204391790967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/4603108204391790967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/07/sby-in-time-magazine.html' title='SBY in TIME Magazine'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-2674655635962580065</id><published>2009-07-04T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T20:09:07.205-07:00</updated><title type='text'>Adityawarman dan Pagaruyung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ADITYAWARMAN DAN PAGARUYUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;Irfan Anshory&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam membicarakan sejarah kuna Minangkabau, kita pasti berjumpa dengan tokoh Adityawarman, seorang bangsawan Melayu yang dibesarkan di istana Majapahit dan pernah memegang jabatan tinggi dalam kerajaan Hindu-Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hubungan Jawa dan Sumatera telah terjalin sebelum Majapahit berdiri. Menurut kitab Pararaton, raja Kertanagara dari Singhasari pada tahun 1275 (1197 Saka) melakukan ekspedisi &lt;em&gt;pamalayu&lt;/em&gt;, yaitu mengirimkan balatentara ke kerajaan Malayu yang berpusat di Dharmasraya, Jambi, untuk mengantisipasi kemungkinan ekspansi Mongol ke Nusantara. Kemudian pada tahun 1286, Kertanagara mengirimkan hadiah arca Amoghapasa kepada raja Malayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, sebagai lambang persahabatan kedua kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika kerajaan Majapahit pada tahun 1294 didirikan oleh Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya), menantu Kertanagara, pulanglah tentara Singhasari dari Malayu membawa dua putri kakak-adik, Dara Petak dan Dara Jingga, putri raja Malayu. Dara Petak diambil sebagai istri oleh Kertarajasa, sedangkan Dara Jingga dinikahkan dengan Adwayabrahma yang merupakan putra dari Wiswarupakumara, adik Kertanagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Dara Petak, Kertarajasa berputra Jayanagara, sedangkan dari Gayatri putri Kertanagara, Kertarajasa berputri Tribhuwana Wijayottunggadewi. Adapun Adwayabrahma dan Dara Jingga berputra Adityawarman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semasa pemerintahan raja Jayanagara (1309-1328) dan ratu Tribhuwana (1328-1350), Adityawarman diberi jabatan Mantri Praudhara (semacam menko polkam). Dua kali dia menjadi utusan Majapahit ke negeri Cina, 1325 dan 1332. Kemudian tahun 1338 Adityawarman bersama-sama Mahamantri Gajah Mada memimpin laskar Majapahit menaklukkan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 1343 Adityawarman meninggalkan Majapahit pergi ke Sumatera, kembali ke daerah asal ibunya. Dia bermaksud mendirikan kerajaan baru di Minangkabau. Pada masa itu di Ranah Minang telah ada &lt;em&gt;nagari-nagari &lt;/em&gt;serta dua tokoh terkemuka: Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rencana Adityawarman mendirikan negara disetujui kedua datuk itu yang memang berniat mempersatukan nagari-nagari. Hanya saja datuk yang berdua itu berbeda pendapat mengenai bentuk negara. Datuk Ketumanggungan menyetujui Adityawarman yang ingin negara kerajaan (dikepalai seorang raja), sedangkan Datuk Perpatih Nan Sabatang menginginkan negara federasi yang dikelola badan perwakilan penghulu-penghulu nagari. Polarisasi pendapat ini diabadikan dalam ungkapan yang populer di kalangan masyarakat Minangkabau sampai sekarang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;anggang datang dari lauik&lt;br /&gt;ditembak datuk nan baduo&lt;br /&gt;badia sadatuih duo dantamnyo&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Adityawarman dan Datuk Ketumanggungan saja yang mendirikan kerajaan pada tahun 1350. Kerajaan tersebut diberi nama &lt;strong&gt;Pagaruyung&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;paga&lt;/em&gt; = pagar; &lt;em&gt;ruyung&lt;/em&gt; = kekuasaan). Pada prasasti Bukit Gombak bertarikh 1278 Saka (1356 Masehi)tercantum gelar lengkap Maharaja Adityawarman Parakramarajendra Mauliwarmadewa. Sebagai raja yang berdaulat, Adityawarman mengirimkan utusan ke negeri Cina pada tahun 1375. Raja Pagaruyung yang pertama ini wafat tahun 1376.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagari-nagari di Minangkabau terbagi menjadi dua daerah hukum. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, daerah &lt;strong&gt;Luhak&lt;/strong&gt; yang mengikuti paham Datuk Perpatih Nan Sabatang. Semua nagari dalam lingkungan luhak diperintah oleh masing-masing penghulu. Luhak-luhak ini tersusun dalam tiga kelompok: Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak Limapuluh Kota. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, daerah &lt;strong&gt;Rantau&lt;/strong&gt; yang mengikuti paham Datuk Ketumanggungan. Semua nagari dalam lingkungan rantau takluk ke bawah kedaulatan raja Pagaruyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;luhak bapanghulu&lt;br /&gt;rantau barajo&lt;br /&gt;tagak samo indak tasundak&lt;br /&gt;malenggang samo indak tapepeh&lt;br /&gt;rajo bajalan badaulat&lt;br /&gt;panghulu tagak baandiko&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agama Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-15, dengan semangat ajaran Al-Qur'an "sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara" (&lt;em&gt;innama l-mu'minuna ikhwah&lt;/em&gt;), pihak Luhak dan pihak Rantau mengadakan pendekatan satu sama lain, dan akhirnya dibentuklah "Rajo Tigo Selo, Basa Ampek Balai" sebagai lambang perpaduan antara Agama Islam dan Adat Minangkabau. Persenyawaan adat dan agama ini diperkokoh dengan rumusan Piagam Bukit Marapalam: &lt;em&gt;syara' mangato, adat mamakai; adat babuhua sintak, syara' babuhua mati; adat basandi syara', syara' basandi kitabullah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;panggirik pisau sirauik&lt;br /&gt;patungkek batang lintabung&lt;br /&gt;salodang ambiak ka nyiru&lt;br /&gt;satitik jadikan lauik&lt;br /&gt;sakapa jadikan gunung&lt;br /&gt;alam takambang jadi guru&lt;/em&gt;.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-2674655635962580065?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/2674655635962580065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=2674655635962580065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2674655635962580065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/2674655635962580065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/07/adityawarman-dan-pagaruyung.html' title='Adityawarman dan Pagaruyung'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-6901702371514545308</id><published>2009-06-20T04:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T04:57:32.404-07:00</updated><title type='text'>SBY Presiden Keberapa?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Artikel pada Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT"&lt;br /&gt;Sabtu, 20 Juni 2009 &lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SBY PRESIDEN KEBERAPA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;IRFAN ANSHORY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  MENJELANG pilpres bulan depan, saya ingin mengemukakan satu soal pilihan berganda kepada para pembaca “PR”, baik pendukung SBY maupun yang bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Susilo Bambang Yudhoyono merupakan presiden Republik Indonesia yang ke &lt;br /&gt;A. 4  &lt;br /&gt;B. 5  &lt;br /&gt;C. 6&lt;br /&gt;D. 7&lt;br /&gt;E. 8&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menjawab C, jawaban Anda salah, sebab jawaban yang benar adalah E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua orang presiden Republik Indonesia yang sering terlupakan, entah karena ketidaktahuan atau karena alasan politis, yaitu Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sjafruddin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer ke-2 dengan menduduki ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta, dan menawan Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, serta beberapa tokoh republik seperti Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Mohamad Rum. “Republik Indonesia sudah tidak ada lagi,” demikian kata Jenderal Spoor, panglima tentara Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menyerah kepada Belanda, Bung Karno dan Bung Hatta mengadakan rapat kabinet yang memberikan mandat melalui radiogram kepada Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi, untuk mendirikan pemerintahan darurat. Maka pada tanggal 22 Desember 1948, di Bukittinggi berdirilah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan Ketua Sjafruddin Prawiranegara dan wakilnya Tengku Muhammad Hasan yang saat itu menjabat gubernur Sumatera. Meskipun memakai istilah “Ketua PDRI”, pada hakekatnya Sjafruddin adalah presiden Republik Indonesia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PDRI memainkan peranan penting dalam mempersatukan kembali kekuatan Republik yang bercerai-berai, terutama di Jawa dan Sumatera. Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang kecewa dengan menyerahnya Sukarno-Hatta kepada Belanda, menyatakan kesetiaan kepada PDRI dan siap memimpin perang gerilya dalam keadaan sakit parah sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi PDRI via India kepada dunia internasional menegaskan bahwa “Republik Indonesia masih ada”, dan membuat kemenangan militer Belanda menjadi tidak berarti. Dewan Keamanan PBB pada tanggal 28 Januari 1949 mengeluarkan resolusi yang mengecam agresi Belanda dan menyerukan pembebasan pemimpin RI yang ditawan serta pengembalian ibukota Yogyakarta kepada RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita selanjutnya sudah banyak kita dengar: Serangan Umum 1 Maret, persetujuan Rum-Royen 7 Mei, dan kembalinya Sukarno-Hatta ke Yogya 6 Juli. Maka pada tanggal 13 Juli 1949, Ketua PDRI Sjafruddin menyerahkan kembali mandat kepresidenan kepada Bung Karno. Meskipun usia PDRI hanya tujuh bulan, janganlah lupa bahwa Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi presiden Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Assaat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag dari 23 Agustus sampai 29 Oktober 1949, berdirilah Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan 16 negara bagian, di mana Republik Indonesia (RI) hanyalah merupakan salah satu negara bagian RIS. Oleh karena Bung Karno dan Bung Hatta masing-masing menjadi presiden RIS dan perdana menteri RIS, maka Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mengangkat Mr.Assaat menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 27 Desember 1949 terjadilah dua transfer kekuasaan secara serentak: di Amsterdam penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RIS, dan di Yogyakarta penyerahan kedaulatan dari RI kepada RIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun usia Republik Indonesia (RI) sebagai negara bagian RIS hanya delapan bulan, Presiden RI Mr.Assaat dengan Perdana Menteri RI Dr. Abdul Halim telah melakukan usaha yang signifikan dalam memperjuangkan kembali negara kesatuan yang meliputi seluruh kepulauan Indonesia. Dengan keluarnya Mosi Integral yang dipelopori Mohammad Natsir di DPR-RIS, banyak negara bagian RIS yang menggabungkan diri pada Republik Indonesia pimpinan Mr.Assaat, dengan menggunakan Pasal 44 UUD RIS bahwa suatu negara bagian RIS dapat menggabungkan diri dengan negara bagian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya jumlah negara bagian RIS hanya tinggal tiga, yaitu Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, dan Negara Sumatera Timur. Maka pada bulan Juli 1950 pemerintah dari ketiga negara bagian itu memutuskan untuk mengubah bentuk Negara Federasi RIS menjadi negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mulai tanggal 17 Agustus 1950. Ketiga presiden negara bagian tadi, termasuk Presiden RI Mr.Assaat, menyerahkan mandat kepresidenan kepada Bung Karno sebagai presiden NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi janganlah lupa bahwa Mr.Assaat pernah menjadi presiden Republik Indonesia. Dan perlu diketahui bahwa statuta pendirian Universitas Gajah Mada di Yogyakarta tahun 1950 ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Mr.Assaat, bukan oleh Presiden RIS Ir.Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sampai sekarang Republik Indonesia sudah mempunyai delapan presiden: Sukarno, Sjafruddin Prawiranegara, Assaat, Muhammad Suharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnaputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bulan depan kita mempunyai presiden ke-9 ataukah tetap presiden ke-8, hal ini terserah pilihan Anda, pembaca.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Direktur Pendidikan "Ganesha Operation"&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-6901702371514545308?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/6901702371514545308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=6901702371514545308' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6901702371514545308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/6901702371514545308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/06/sby-presiden-keberapa.html' title='SBY Presiden Keberapa?'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-816102684197026069</id><published>2009-06-04T09:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T22:55:14.523-07:00</updated><title type='text'>Obama's Speech to the Muslim World</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Full Text: President Barack Obama's Speech to the Muslim World&lt;br /&gt;Thursday, Jun. 04, 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Remarks of Barack Obama in the Grand Hall of Cairo University on June 4, 2009&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am honored to be in the timeless city of Cairo, and to be hosted by two remarkable institutions. For over a thousand years, Al-Azhar has stood as a beacon of Islamic learning, and for over a century, Cairo University has been a source of Egypt's advancement. Together, you represent the harmony between tradition and progress. I am grateful for your hospitality, and the hospitality of the people of Egypt. I am also proud to carry with me the goodwill of the American people, and a greeting of peace from Muslim communities in my country: &lt;em&gt;assalaamu alaykum&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;We meet at a time of tension between the United States and Muslims around the world — tension rooted in historical forces that go beyond any current policy debate. The relationship between Islam and the West includes centuries of co-existence and cooperation, but also conflict and religious wars. More recently, tension has been fed by colonialism that denied rights and opportunities to many Muslims, and a Cold War in which Muslim-majority countries were too often treated as proxies without regard to their own aspirations. Moreover, the sweeping change brought by modernity and globalization led many Muslims to view the West as hostile to the traditions of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Violent extremists have exploited these tensions in a small but potent minority of Muslims. The attacks of September 11th, 2001 and the continued efforts of these extremists to engage in violence against civilians has led some in my country to view Islam as inevitably hostile not only to America and Western countries, but also to human rights. This has bred more fear and mistrust.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So long as our relationship is defined by our differences, we will empower those who sow hatred rather than peace, and who promote conflict rather than the cooperation that can help all of our people achieve justice and prosperity. &lt;em&gt;This cycle of suspicion and discord must end&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have come here to seek a new beginning between the United States and Muslims around the world; one based upon mutual interest and mutual respect; and one based upon the truth that &lt;em&gt;America and Islam are not exclusive, and need not be in competition. Instead, they overlap, and share common principles — principles of justice and progress; tolerance and the dignity of all human beings&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I do so recognizing that change cannot happen overnight. No single speech can eradicate years of mistrust, nor can I answer in the time that I have all the complex questions that brought us to this point. But I am convinced that in order to move forward, we must say openly the things we hold in our hearts, and that too often are said only behind closed doors. There must be a sustained effort to listen to each other; to learn from each other; to respect one another; and to seek common ground. As the Holy Koran tells us, "Be conscious of God and speak always the truth." That is what I will try to do — to speak the truth as best I can, humbled by the task before us, and firm in my belief that the interests we share as human beings are far more powerful than the forces that drive us apart. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part of this conviction is rooted in my own experience. I am a Christian, but my father came from a Kenyan family that includes generations of Muslims. As a boy, I spent several years in Indonesia and heard the call of the azan at the break of dawn and the fall of dusk. As a young man, I worked in Chicago communities where many found dignity and peace in their Muslim faith.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;As a student of history, I also know civilization's debt to Islam. It was Islam — at places like Al-Azhar University — that carried the light of learning through so many centuries, paving the way for Europe's Renaissance and Enlightenment. It was innovation in Muslim communities that developed the order of algebra; our magnetic compass and tools of navigation; our mastery of pens and printing; our understanding of how disease spreads and how it can be healed. Islamic culture has given us majestic arches and soaring spires; timeless poetry and cherished music; elegant calligraphy and places of peaceful contemplation. And throughout history, Islam has demonstrated through words and deeds the possibilities of religious tolerance and racial equality.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I know, too, that &lt;em&gt;Islam has always been a part of America's story&lt;/em&gt;. The first nation to recognize my country was Morocco. In signing the Treaty of Tripoli in 1796, our second President John Adams wrote, "The United States has in itself no character of enmity against the laws, religion or tranquility of Muslims." And since our founding, American Muslims have enriched the United States. They have fought in our wars, served in government, stood for civil rights, started businesses, taught at our Universities, excelled in our sports arenas, won Nobel Prizes, built our tallest building, and lit the Olympic Torch. And when the first Muslim-American was recently elected to Congress, he took the oath to defend our Constitution using the same Holy Koran that one of our Founding Fathers — Thomas Jefferson — kept in his personal library. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So I have known Islam on three continents before coming to the region where it was first revealed. That experience guides my conviction that partnership between America and Islam must be based on what Islam is, not what it isn't. And I consider it part of &lt;em&gt;my responsibility as President of the United States to fight against negative stereotypes of Islam wherever they appear&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;But that same principle must apply to Muslim perceptions of America. Just as Muslims do not fit a crude stereotype, America is not the crude stereotype of a self-interested empire. The United States has been one of the greatest sources of progress that the world has ever known. We were born out of revolution against an empire. We were founded upon the ideal that all are created equal, and we have shed blood and struggled for centuries to give meaning to those words — within our borders, and around the world. We are shaped by every culture, drawn from every end of the Earth, and dedicated to a simple concept: &lt;em&gt;E pluribus unum&lt;/em&gt;: "Out of many, one." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Much has been made of the fact that an African-American with the name Barack Hussein Obama could be elected President. But my personal story is not so unique. The dream of opportunity for all people has not come true for everyone in America, but its promise exists for all who come to our shores — that includes &lt;em&gt;nearly seven million American Muslims&lt;/em&gt; in our country today who enjoy incomes and education that are higher than average. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moreover, freedom in America is indivisible from the freedom to practice one's religion. That is why there is a mosque in every state of our union, and over 1,200 mosques within our borders. That is why the U.S. government has gone to court to protect the right of women and girls to wear the hijab, and to punish those who would deny it.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So let there be no doubt: &lt;em&gt;Islam is a part of America&lt;/em&gt;. And I believe that America holds within her the truth that regardless of race, religion, or station in life, all of us share common aspirations — to live in peace and security; to get an education and to work with dignity; to love our families, our communities, and our God. These things we share. This is the hope of all humanity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course, recognizing our common humanity is only the beginning of our task. Words alone cannot meet the needs of our people. These needs will be met only if we act boldly in the years ahead; and if we understand that the challenges we face are shared, and our failure to meet them will hurt us all.  For we have learned from recent experience that when a financial system weakens in one country, prosperity is hurt everywhere. When a new flu infects one human being, all are at risk. When one nation pursues a nuclear weapon, the risk of nuclear attack rises for all nations. When violent extremists operate in one stretch of mountains, people are endangered across an ocean. And when innocents in Bosnia and Darfur are slaughtered, that is a stain on our collective conscience. That is what it means to share this world in the 21st century. That is the responsibility we have to one another as human beings. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is a difficult responsibility to embrace. For human history has often been a record of nations and tribes subjugating one another to serve their own interests. Yet in this new age, such attitudes are self-defeating. Given our interdependence, any world order that elevates one nation or group of people over another will inevitably fail. So whatever we think of the past, we must not be prisoners of it. Our problems must be dealt with through partnership; progress must be shared. That does not mean we should ignore sources of tension. Indeed, it suggests the opposite: we must face these tensions squarely. And so in that spirit, let me speak as clearly and plainly as I can about some specific issues that I believe we must finally confront together.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;The first issue that we have to confront is violent extremism in all of its forms.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Ankara, I made clear that &lt;em&gt;America is not — and never will be — at war with Islam&lt;/em&gt;. We will, however, relentlessly confront violent extremists who pose a grave threat to our security. Because we reject the same thing that people of all faiths reject: the killing of innocent men, women, and children. And it is my first duty as President to protect the American people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The situation in Afghanistan demonstrates America's goals, and our need to work together. Over seven years ago, the United States pursued al Qaeda and the Taliban with broad international support. We did not go by choice, we went because of necessity. I am aware that some question or justify the events of 9/11. But let us be clear: al Qaeda killed nearly 3,000 people on that day. The victims were innocent men, women and children from America and many other nations who had done nothing to harm anybody. And yet Al Qaeda chose to ruthlessly murder these people, claimed credit for the attack, and even now states their determination to kill on a massive scale. They have affiliates in many countries and are trying to expand their reach. These are not opinions to be debated; these are facts to be dealt with.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Make no mistake: we do not want to keep our troops in Afghanistan. We seek no military bases there. It is agonizing for America to lose our young men and women. It is costly and politically difficult to continue this conflict. We would gladly bring every single one of our troops home if we could be confident that there were not violent extremists in Afghanistan and Pakistan determined to kill as many Americans as they possibly can. But that is not yet the case.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;That's why we're partnering with a coalition of forty-six countries. And despite the costs involved, America's commitment will not weaken. Indeed, none of us should tolerate these extremists. They have killed in many countries. They have killed people of different faiths — more than any other, they have killed Muslims. Their actions are irreconcilable with the rights of human beings, the progress of nations, and with Islam. The Holy Koran teaches that whoever kills an innocent, it is as if he has killed all mankind; and whoever saves a person, it is as if he has saved all mankind. The enduring faith of over a billion people is so much bigger than the narrow hatred of a few. Islam is not part of the problem in combating violent extremism — it is an important part of promoting peace.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;We also know that military power alone is not going to solve the problems in Afghanistan and Pakistan. That is why we plan to invest $1.5 billion each year over the next five years to partner with Pakistanis to build schools and hospitals, roads and businesses, and hundreds of millions to help those who have been displaced. And that is why we are providing more than $2.8 billion to help Afghans develop their economy and deliver services that people depend upon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let me also address the issue of Iraq. Unlike Afghanistan, Iraq was a war of choice that provoked strong differences in my country and around the world. Although I believe that the Iraqi people are ultimately better off without the tyranny of Saddam Hussein, I also believe that events in Iraq have reminded America of the need to use diplomacy and build international consensus to resolve our problems whenever possible. Indeed, we can recall the words of Thomas Jefferson, who said: "I hope that our wisdom will grow with our power, and teach us that the less we use our power the greater it will be." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, America has a dual responsibility: to help Iraq forge a better future — and to leave Iraq to Iraqis. I have made it clear to the Iraqi people that we pursue no bases, and no claim on their territory or resources. Iraq's sovereignty is its own. That is why I ordered the removal of our combat brigades by next August. That is why we will honor our agreement with Iraq's democratically-elected government to remove combat troops from Iraqi cities by July, and to remove all our troops from Iraq by 2012. We will help Iraq train its Security Forces and develop its economy. But we will support a secure and united Iraq as a partner, and never as a patron. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And finally, just as America can never tolerate violence by extremists, we must never alter our principles. 9/11 was an enormous trauma to our country. The fear and anger that it provoked was understandable, but in some cases, it led us to act contrary to our ideals. We are taking concrete actions to change course. I have unequivocally prohibited the use of torture by the United States, and I have ordered the prison at Guantanamo Bay closed by early next year. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So America will defend itself respectful of the sovereignty of nations and the rule of law. And we will do so in partnership with Muslim communities which are also threatened. The sooner the extremists are isolated and unwelcome in Muslim communities, the sooner we will all be safer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The second major source of tension that we need to discuss is the situation between Israelis, Palestinians and the Arab world. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;America's strong bonds with Israel are well known. This bond is unbreakable. It is based upon cultural and historical ties, and the recognition that the aspiration for a Jewish homeland is rooted in a tragic history that cannot be denied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Around the world, the Jewish people were persecuted for centuries, and anti-Semitism in Europe culminated in an unprecedented Holocaust. Tomorrow, I will visit Buchenwald, which was part of a network of camps where Jews were enslaved, tortured, shot and gassed to death by the Third Reich. Six million Jews were killed — more than the entire Jewish population of Israel today. Denying that fact is baseless, ignorant, and hateful. Threatening Israel with destruction — or repeating vile stereotypes about Jews — is deeply wrong, and only serves to evoke in the minds of Israelis this most painful of memories while preventing the peace that the people of this region deserve.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;On the other hand, it is also undeniable that the Palestinian people — Muslims and Christians — have suffered in pursuit of a homeland. For more than sixty years they have endured the pain of dislocation. Many wait in refugee camps in the West Bank, Gaza, and neighboring lands for a life of peace and security that they have never been able to lead. They endure the daily humiliations — large and small — that come with occupation. So let there be no doubt: the situation for the Palestinian people is intolerable. America will not turn our backs on the legitimate Palestinian aspiration for dignity, opportunity, and a state of their own.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;For decades, there has been a stalemate: two peoples with legitimate aspirations, each with a painful history that makes compromise elusive. It is easy to point fingers — for Palestinians to point to the displacement brought by Israel's founding, and for Israelis to point to the constant hostility and attacks throughout its history from within its borders as well as beyond. But if we see this conflict only from one side or the other, then we will be blind to the truth: &lt;em&gt;the only resolution is for the aspirations of both sides to be met through two states, where Israelis and Palestinians each live in peace and security&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;That is in Israel's interest, Palestine's interest, America's interest, and the world's interest. That is why I intend to personally pursue this outcome with all the patience that the task requires. The obligations that the parties have agreed to under the Road Map are clear. For peace to come, it is time for them — and all of us — to live up to our responsibilities. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestinians must abandon violence. Resistance through violence and killing is wrong and does not succeed. For centuries, black people in America suffered the lash of the whip as slaves and the humiliation of segregation. But it was not violence that won full and equal rights. It was a peaceful and determined insistence upon the ideals at the center of America's founding. This same story can be told by people from South Africa to South Asia; from Eastern Europe to Indonesia. It's a story with a simple truth: that violence is a dead end. It is a sign of neither courage nor power to shoot rockets at sleeping children, or to blow up old women on a bus. That is not how moral authority is claimed; that is how it is surrendered.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Now is the time for Palestinians to focus on what they can build. The Palestinian Authority must develop its capacity to govern, with institutions that serve the needs of its people. Hamas does have support among some Palestinians, but they also have responsibilities. To play a role in fulfilling Palestinian aspirations, and to unify the Palestinian people, Hamas must put an end to violence, recognize past agreements, and recognize Israel's right to exist.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;At the same time, Israelis must acknowledge that just as Israel's right to exist cannot be denied, neither can Palestine's. The United States does not accept the legitimacy of continued Israeli settlements. This construction violates previous agreements and undermines efforts to achieve peace. It is time for these settlements to stop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel must also live up to its obligations to ensure that Palestinians can live, and work, and develop their society. And just as it devastates Palestinian families, the continuing humanitarian crisis in Gaza does not serve Israel's security; neither does the continuing lack of opportunity in the West Bank. Progress in the daily lives of the Palestinian people must be part of a road to peace, and Israel must take concrete steps to enable such progress. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, the Arab States must recognize that the Arab Peace Initiative was an important beginning, but not the end of their responsibilities. The Arab-Israeli conflict should no longer be used to distract the people of Arab nations from other problems. Instead, it must be a cause for action to help the Palestinian people develop the institutions that will sustain their state; to recognize Israel's legitimacy; and to choose progress over a self-defeating focus on the past. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;America will align our policies with those who pursue peace, and say in public what we say in private to Israelis and Palestinians and Arabs. We cannot impose peace. But privately, many Muslims recognize that Israel will not go away. Likewise, many Israelis recognize the need for a Palestinian state. It is time for us to act on what everyone knows to be true. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Too many tears have flowed. Too much blood has been shed. All of us have a responsibility to work for the day when the mothers of Israelis and Palestinians can see their children grow up without fear; when the Holy Land of three great faiths is the place of peace that God intended it to be; when Jerusalem is a secure and lasting home for Jews and Christians and Muslims, and a place for all of the children of Abraham to mingle peacefully together as in the story of Isra, when Moses, Jesus, and Mohammed (peace be upon them) joined in prayer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The third source of tension is our shared interest in the rights and responsibilities of nations on nuclear weapons. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This issue has been a source of tension between the United States and the Islamic Republic of Iran. For many years, Iran has defined itself in part by its opposition to my country, and there is indeed a tumultuous history between us. In the middle of the Cold War, the United States played a role in the overthrow of a democratically-elected Iranian government. Since the Islamic Revolution, Iran has played a role in acts of hostage-taking and violence against U.S. troops and civilians. This history is well known. Rather than remain trapped in the past, I have made it clear to Iran's leaders and people that my country is prepared to move forward. The question, now, is not what Iran is against, but rather what future it wants to build.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;It will be hard to overcome decades of mistrust, but we will proceed with courage, rectitude and resolve. There will be many issues to discuss between our two countries, and we are willing to move forward without preconditions on the basis of mutual respect. But it is clear to all concerned that when it comes to nuclear weapons, we have reached a decisive point. This is not simply about America's interests. It is about preventing a nuclear arms race in the Middle East that could lead this region and the world down a hugely dangerous path. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I understand those who protest that some countries have weapons that others do not. No single nation should pick and choose which nations hold nuclear weapons. That is why I strongly reaffirmed America's commitment to seek a world in which no nations hold nuclear weapons. And any nation — including Iran — should have the right to access peaceful nuclear power if it complies with its responsibilities under the nuclear Non-Proliferation Treaty. That commitment is at the core of the Treaty, and it must be kept for all who fully abide by it. And I am hopeful that all countries in the region can share in this goal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The fourth issue that I will address is democracy. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know there has been controversy about the promotion of democracy in recent years, and much of this controversy is connected to the war in Iraq. So let me be clear: no system of government can or should be imposed upon one nation by any other.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;That does not lessen my commitment, however, to governments that reflect the will of the people. Each nation gives life to this principle in its own way, grounded in the traditions of its own people. America does not presume to know what is best for everyone, just as we would not presume to pick the outcome of a peaceful election. But I do have an unyielding belief that all people yearn for certain things: the ability to speak your mind and have a say in how you are governed; confidence in the rule of law and the equal administration of justice; government that is transparent and doesn't steal from the people; the freedom to live as you choose. Those are not just American ideas, they are human rights, and that is why we will support them everywhere. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no straight line to realize this promise. But this much is clear: governments that protect these rights are ultimately more stable, successful and secure. Suppressing ideas never succeeds in making them go away. America respects the right of all peaceful and law-abiding voices to be heard around the world, even if we disagree with them. And we will welcome all elected, peaceful governments — provided they govern with respect for all their people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This last point is important because there are some who advocate for democracy only when they are out of power; once in power, they are ruthless in suppressing the rights of others. No matter where it takes hold, government of the people and by the people sets a single standard for all who hold power: you must maintain your power through consent, not coercion; you must respect the rights of minorities, and participate with a spirit of tolerance and compromise; you must place the interests of your people and the legitimate workings of the political process above your party. Without these ingredients, elections alone do not make true democracy.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;The fifth issue that we must address together is religious freedom.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Islam has a proud tradition of tolerance. We see it in the history of Andalusia and Cordoba. I saw it firsthand as a child in Indonesia, where devout Christians worshiped freely in an overwhelmingly Muslim country. That is the spirit we need today. People in every country should be free to choose and live their faith based upon the persuasion of the mind, heart, and soul. This tolerance is essential for religion to thrive, but it is being challenged in many different ways.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Among some Muslims, there is a disturbing tendency to measure one's own faith by the rejection of another's. The richness of religious diversity must be upheld — whether it is for Maronites in Lebanon or the Copts in Egypt. And fault lines must be closed among Muslims as well, as the divisions between Sunni and Shia have led to tragic violence, particularly in Iraq.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Freedom of religion is central to the ability of peoples to live together. We must always examine the ways in which we protect it. For instance, in the United States, rules on charitable giving have made it harder for Muslims to fulfill their religious obligation. That is why I am committed to working with American Muslims to ensure that they can fulfill zakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Likewise, it is important for Western countries to avoid impeding Muslim citizens from practicing religion as they see fit — for instance, by dictating what clothes a Muslim woman should wear. We cannot disguise hostility towards any religion behind the pretence of liberalism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed, faith should bring us together. That is why we are forging service projects in America that bring together Christians, Muslims, and Jews. That is why we welcome efforts like Saudi Arabian King Abdullah's Interfaith dialogue and Turkey's leadership in the Alliance of Civilizations. Around the world, we can turn dialogue into Interfaith service, so bridges between peoples lead to action — whether it is combating malaria in Africa, or providing relief after a natural disaster.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;The sixth issue that I want to address is women's rights. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know there is debate about this issue. I reject the view of some in the West that a woman who chooses to cover her hair is somehow less equal, but I do believe that a woman who is denied an education is denied equality. And it is no coincidence that countries where women are well-educated are far more likely to be prosperous.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Now let me be clear: issues of women's equality are by no means simply an issue for Islam. In Turkey, Pakistan, Bangladesh and Indonesia, we have seen Muslim-majority countries elect a woman to lead. Meanwhile, the struggle for women's equality continues in many aspects of American life, and in countries around the world.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Our daughters can contribute just as much to society as our sons, and our common prosperity will be advanced by allowing all humanity — men and women — to reach their full potential. I do not believe that women must make the same choices as men in order to be equal, and I respect those women who choose to live their lives in traditional roles. But it should be their choice. That is why the United States will partner with any Muslim-majority country to support expanded literacy for girls, and to help young women pursue employment through micro-financing that helps people live their dreams.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Finally, I want to discuss economic development and opportunity.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I know that for many, the face of globalization is contradictory. The Internet and television can bring knowledge and information, but also offensive sexuality and mindless violence. Trade can bring new wealth and opportunities, but also huge disruptions and changing communities. In all nations — including my own — this change can bring fear. Fear that because of modernity we will lose of control over our economic choices, our politics, and most importantly our identities — those things we most cherish about our communities, our families, our traditions, and our faith.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;But I also know that human progress cannot be denied. There need not be contradiction between development and tradition. Countries like Japan and South Korea grew their economies while maintaining distinct cultures. The same is true for the astonishing progress within Muslim-majority countries from Kuala Lumpur to Dubai. In ancient times and in our times, Muslim communities have been at the forefront of innovation and education. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is important because no development strategy can be based only upon what comes out of the ground, nor can it be sustained while young people are out of work. Many Gulf States have enjoyed great wealth as a consequence of oil, and some are beginning to focus it on broader development. But all of us must recognize that education and innovation will be the currency of the 21st century, and in too many Muslim communities there remains underinvestment in these areas. I am emphasizing such investments within my country. And while America in the past has focused on oil and gas in this part of the world, we now seek a broader engagement.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;On education, we will expand exchange programs, and increase scholarships, like the one that brought my father to America, while encouraging more Americans to study in Muslim communities. And we will match promising Muslim students with internships in America; invest in on-line learning for teachers and children around the world; and create a new online network, so a teenager in Kansas can communicate instantly with a teenager in Cairo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On economic development, we will create a new corps of business volunteers to partner with counterparts in Muslim-majority countries. And I will host a Summit on Entrepreneurship this year to identify how we can deepen ties between business leaders, foundations and social entrepreneurs in the United States and Muslim communities around the world.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;On science and technology, we will launch a new fund to support technological development in Muslim-majority countries, and to help transfer ideas to the marketplace so they can create jobs. We will open centers of scientific excellence in Africa, the Middle East and Southeast Asia, and appoint new Science Envoys to collaborate on programs that develop new sources of energy, create green jobs, digitize records, clean water, and grow new crops. And today I am announcing a new global effort with the Organization of the Islamic Conference to eradicate polio. And we will also expand partnerships with Muslim communities to promote child and maternal health.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;All these things must be done in partnership. Americans are ready to join with citizens and governments; community organizations, religious leaders, and businesses in Muslim communities around the world to help our people pursue a better life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The issues that I have described will not be easy to address. But we have a responsibility to join together on behalf of the world we seek — a world where extremists no longer threaten our people, and American troops have come home; a world where Israelis and Palestinians are each secure in a state of their own, and nuclear energy is used for peaceful purposes; a world where governments serve their citizens, and the rights of all God's children are respected. Those are mutual interests. That is the world we seek. But we can only achieve it together.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I know there are many — Muslim and non-Muslim — who question whether we can forge this new beginning. Some are eager to stoke the flames of division, and to stand in the way of progress. Some suggest that it isn't worth the effort — that we are fated to disagree, and civilizations are doomed to clash. Many more are simply skeptical that real change can occur. There is so much fear, so much mistrust. But if we choose to be bound by the past, we will never move forward. And I want to particularly say this to young people of every faith, in every country — you, more than anyone, have the ability to remake this world.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;All of us share this world for but a brief moment in time. The question is whether we spend that time focused on what pushes us apart, or whether we commit ourselves to an effort — a sustained effort — to find common ground, to focus on the future we seek for our children, and to respect the dignity of all human beings.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;It is easier to start wars than to end them. It is easier to blame others than to look inward; to see what is different about someone than to find the things we share. But we should choose the right path, not just the easy path. There is also one rule that lies at the heart of every religion — that we do unto others as we would have them do unto us. This truth transcends nations and peoples — a belief that isn't new; that isn't black or white or brown; that isn't Christian, or Muslim or Jew. It's a belief that pulsed in the cradle of civilization, and that still beats in the heart of billions. It's a faith in other people, and it's what brought me here today.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;We have the power to make the world we seek, but only if we have the courage to make a new beginning, keeping in mind what has been written.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Holy Koran tells us, "O mankind! We have created you male and a female; and we have made you into nations and tribes so that you may know one another."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Talmud tells us: "The whole of the Torah is for the purpose of promoting peace."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Holy Bible tells us, "Blessed are the peacemakers, for they shall be called sons of God."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The people of the world can live together in peace. We know that is God's vision. Now, that must be our work here on Earth. Thank you. And may God's peace be upon you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-816102684197026069?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/816102684197026069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=816102684197026069' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/816102684197026069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/816102684197026069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/06/obamas-speech-to-muslim-world.html' title='Obama&apos;s Speech to the Muslim World'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-8349903483531833143</id><published>2009-05-02T06:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T17:13:41.924-07:00</updated><title type='text'>Prasasti Persumpahan Sriwijaya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PRASASTI-PRASASTI PERSUMPAHAN SRIWIJAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;NIA KURNIA SHOLIHAT IRFAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERLEBIH DAHULU perlu dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan “prasasti” (&lt;em&gt;inscription&lt;/em&gt;) ialah sumber-sumber sejarah dari masa lampau yang tertulis di atas batu atau logam. Sampai saat ini di daerah Sumatera bagian selatan telah ditemukan enam buah prasasti dari Kerajaan Sriwijaya. Tiga di antaranya ditemukan di Palembang, yaitu prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuwo, dan prasasti Telaga Batu. Ketiga prasasti lainnya adalah prasasti Kota Kapur di Bangka, prasasti Karang Berahi di Jambi, dan prasasti Palas Pasemah di Lampung. Di samping keenam prasasti di atas, telah ditemukan pula lima buah pecahan prasasti (fragmen prasasti yang tidak utuh) di Palembang. Perlu juga diketahui bahwa semua prasasti Sriwijaya memakai huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini kita hanya akan membicarakan “prasasti-prasasti persumpahan”, yaitu prasasti-prasasti yang berisikan kutukan dan ancaman bagi mereka yang menentang atau tidak mau berbakti kepada raja Sriwijaya. Istilah “parsumpahan” memang berasal dari raja Sriwijaya sendiri, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti semacam itu. Prasasti Sriwijaya yang tergolong prasasti persumpahan adalah prasasti-prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah. Barangkali pada masa mendatang masih akan ditemukan prasasti persumpahan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti TELAGA BATU ditemukan pada tahun 1935 di Telaga Batu, Sabukingking 2 Ilir, Palembang. Terdiri dari 28 baris, dihiasi lambang negara Sriwijaya berupa naga berkepala tujuh. Kini tersimpan di Museum Pusat, Jakarta, dengan nomor D.155. Prasasti ini untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Prof. Dr. Johannes Gijsbertus de Casparis dalam buku: J.G. de Casparis, &lt;em&gt;Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D.&lt;/em&gt;, Dinas Purbakala Republik Indonesia, Masa Baru, Bandung, 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti KOTA KAPUR ditemukan pada tahun 1892 di Kota Kapur, Pangkal Mundo, pantai barat Pulau Bangka. Terdiri dari 10 baris, dan di Museum Pusat bernomor D.90. Prasasti ini pertama kali dibahas oleh Prof. Dr. Hendrik Kern dalam artikel: H. Kern, “De Inscriptie van Kota Kapur”, &lt;em&gt;Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI)&lt;/em&gt;, deel 67, 1913.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti KARANG BERAHI ditemukan pada tahun 1904 di daerah Karang Berahi, Jambi. Terdiri dari 16 baris, mula-mula ditranskripsikan oleh Prof. Dr. Nicholaas Johannes Krom dalam artikel: N.J. Krom, “De Inscriptie van Karang Brahi”, &lt;em&gt;Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG)&lt;/em&gt;, deel 59, 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti PALAS PASEMAH ditemukan pada tahun 1957 di Palas Pasemah, daerah Kalianda, Lampung. Terdiri dari 13 baris, namun baris ke-1 sampai ke-3 hilang. Isi prasasti mula-mula dibahas oleh Prof. Dr. Buchari dalam artikel: Buchari, “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, &lt;em&gt;Pra Seminar Penelitian Sriwijaya&lt;/em&gt;, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keempat buah prasasti persumpahan di atas, hanya satu yang berangka tahun, yaitu prasasti Kota Kapur yang dipahat pada tahun 608 Saka (686 Masehi). Oleh karena isi prasasti-prasasti ini hampir sama, maka sangat mungkin semua prasasti persumpahan tersebut dipahat pada tahun yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah raja Sriwijaya yang mengeluarkan prasasti-prasasti persumpahan itu? Marilah kita lihat isi prasasti Talang Tuwo yang dipahat dua tahun sebelumnya. Prasasti Talang Tuwo diawali dengan kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;swasti çri. çakawarsatita 606 dim dwitiya çuklapaksa wulan caitra, sana tatkalanya parlak çriksetra ini niparwuat, parwan dapunta hyang çri jayanaça.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan dalam bahasa sekarang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 606 hari kedua paroterang bulan Caitra (= 23 Maret 684), itu waktunya taman Sriksetra ini diperbuat, titah Dapunta Hyang Sri Jayanasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita memperoleh nama lengkap raja Sriwijaya: &lt;strong&gt;Dapunta Hyang Sri Jayanasa&lt;/strong&gt;. Jika antara tahun 684 dan 686 tidak ada pergantian raja, maka kiranya dia itulah yang mengeluarkan prasasti-prasasti persumpahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada baris terakhir prasasti Kota Kapur tercantum keterangan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;çakawarsatita 608 dim pratipada çuklapaksa wulan waiçakha, tatkalanya yang mangmang sumpah ini nipahat, di welanya yang wala çriwijaya kaliwat manapik yang bhumi jawa tida bhakti ka çriwijaya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun Saka berlalu 608 hari pertama paroterang bulan Waisaka (= 28 Februari 686), waktunya mantra sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berlewat menyerbu Tanah Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan di atas menunjukkan latar belakang dan motivasi pengeluaran prasasti-prasasti persumpahan oleh raja Sriwijaya. Rupanya Dapunta Hyang Sri Jayanasa kuatir kalau-kalau timbul pemberontakan dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya pada saat tentara Sriwijaya sedang dikerahkan menyerbu Pulau Jawa. Sebagai tindakan preventif, Dapunta Hyang mengeluarkan peringatan tegas di seantero wilayah kekuasaannya, sebagaimana dapat kita baca pada semua prasasti persumpahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kadaci yang urang di dalamnya bhumi ajnyanya kadatuan ini parawis, drohaka wangun, samawuddhi lawan drohaka, mangujari drohaka, niujari drohaka, tahu dim drohaka, tida ya marpadah, tida ya bhakti, tida ya tatwarjawa di aku dangan di yang nigalarku sanyasa datua, dhawa wuatnya urang inan, niwunuh ya sumpah, nisuruh tapik ya mulang parwandan datu çriwijaya, talu muah ya dangan gotrasantananya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manakala ada orang di dalam daerah kekuasaan kerajaan ini seluruhnya, membangun kedurhakaan (pemberontakan), kerjasama dengan pendurhaka, menegur pendurhaka, ditegur pendurhaka, sepaham dengan pendurhaka, dia tidak patuh, dia tidak berbakti, dia tidak setia kepadaku dengan kepada yang kugelari pemimpin wilayah, jahatlah perbuatan orang itu, dia akan dibunuh sumpah, dia akan disuruh gempur atas perintah raja Sriwijaya, akan ditumpas dia dengan segenap keluarganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca isi prasasti persumpahan di atas, dapatlah dibayangkan bahwa Dapunta Hyang merupakan seorang politikus ulung. Sebelum dia melancarkan perluasan wilayah ke mancanegara, stabilitas dalam negeri sangat diperhatikannya. Sudah tentu prasasti-prasasti persumpahan itu ditempatkan di negeri-negeri yang memungkinkan timbulnya pemberontakan. Sampai saat ini prasasti persumpahan baru ditemukan di Palembang, Bangka, Jambi, dan Lampung. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 686 kekuasaan Sriwijaya sekurang-kurangnya sudah meliputi daerah-daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya prasasti persumpahan Telaga Batu di Palembang menyebabkan Prof. Dr. Sukmono menolak lokasi ibukota Sriwijaya di Palembang. Dalam tulisannya “Tentang Lokalisasi Sriwijaya”, &lt;em&gt;Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama&lt;/em&gt;, Volume 5, Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djakarta, 1958, Sukmono mengajukan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan EYD 1972): “Kalau Palembang memanglah ibukota Sriwijaya, dapatkah masuk akal bahwa kutukan-kutukan yang berupa ancaman sangat mengerikan itu justru diabadikan di ibukota? Mungkinkah warga ibukota sendiri diancam secara demikian oleh rajanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Prof. Sukmono ini perlu dijawab dengan pertanyaan juga: “Tidakkah masuk akal bahwa pemberontakan dapat terjadi di ibukota? Bukankah saat itu ibukota kosong tanpa kekuatan, lantaran tentara sedang dikerahkan untuk menyerbu Tanah Jawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan di ibukota justru lebih berbahaya daripada pemberontakan di negeri-negeri bawahan, karena mungkin dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan Dapunta Hyang dan langsung menyangkut pusat pemerintahan. Dapunta Hyang tentu tidak mengabaikan adanya semacam kudeta dari “koalisi besar” para pejabat tinggi kerajaan. Itulah sebabnya dia memandang perlu untuk memberikan peringatan dan ancaman di ibukota Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah banyak kita jumpai bahwa seorang penguasa ditikam oleh musuh dalam selimut, ketika penguasa itu sibuk memikirkan masalah “luar negeri”. Hal ini terjadi, misalnya, pada raja Kertanagara dari Kerajaan Singhasari abad ke-13. Kertanagara mengirimkan tentara Singhasari besar-besaran ke Malayu (Jambi) untuk mengantisipasi kemungkinan serangan tentara Mongol dari Cina ke Nusantara, tetapi dia lalai memperhatikan keamanan di Singhasari sendiri. Raja bawahannya, Jayakatwang dari Kadiri, memanfaatkan situasi untuk menggulingkan Kertanagara dari tahta kerajaan. Inilah akibatnya jika seorang penguasa mengabaikan keamanan di ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti Telaga Batu justru membuktikan bahwa &lt;strong&gt;Kerajaan Sriwijaya memang beribukota di Palembang&lt;/strong&gt;, sebab prasasti itu menyebutkan banyak jabatan dalam pemerintahan yang hanya mungkin terdapat di ibukota suatu negara. Isi prasasti Telaga Batu baris ketiga sampai kelima adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kamu wanyakmamu, rajaputra, prostara, bhupati, senapati, nayaka, pratyaya, hajipratyaya, dandanayaka, ....murddhaka, tuhaan watakwuruh, addhyaksi nijawarna, wasikarana, kumaramatya, çatabatha, adhikarana, karmma...., kayastha, sthapaka, puhawang, waniyaga, pratisara, kamu marsi haji, hulun haji, wanyakmamu urang, niwunuh sumpah dari mangmang kamu kadaci tida bhakti di aku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu semua: putra raja, menteri, bupati, panglima, pembesar, pegawai, pegawai istana, hakim, ....murddhaka, ketua buruh, pengawas rakyat jelata, ahli senjata, pengurus pemuda, olahragawan, petugas bangunan, karmma..., jurutulis, arsitek, nakhoda, pedagang, kepala pasukan, kamu pelayan istana, penghuni istana, semua orang, dibunuh sumpah dari mantra kamu manakala tidak berbakti kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan-jabatan di atas hanya tercantum pada prasasti Telaga Batu, dan tidak disinggung atau disebutkan pada prasasti-prasasti persumpahan yang lain. Oleh karena jabatan-jabatan itu merupakan jabatan tinggi dalam suatu pemerintahan, sudah tentu para pejabatnya tinggal di ibukota. Dengan sendirinya prasasti itu pasti dipasang pada lingkungan yang didiami para pejabat tersebut. Atas dasar itu dapatlah disimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya sangat mungkin berlokasi di sekitar daerah Telaga Batu, Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wal-Laahu a`lam bi sh-shawaab.&lt;/em&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-8349903483531833143?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/8349903483531833143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=8349903483531833143' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8349903483531833143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/8349903483531833143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/05/prasasti-persumpahan-sriwijaya.html' title='Prasasti Persumpahan Sriwijaya'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-5686222023262430702</id><published>2009-04-20T04:56:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T05:12:03.840-07:00</updated><title type='text'>Kala Sunda 1945-1953</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KALA SUNDA 1945 - 1953&lt;br /&gt;(2009 – 2017 Maséhi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihisab oléh:&lt;br /&gt;Drs. H. Irfan Anshory&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Kala Sunda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang budayawan Sunda, Ali Sastramidjaja (Abah Ali), pada awal tahun 2005 memperkenalkan &lt;em&gt;Kala Sunda&lt;/em&gt;, kalénder lunar yang sistem perhitungannya persis sama seperti kalénder Hijriyah-Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sewindu ada tiga tahun kabisat (&lt;em&gt;taun panjang&lt;/em&gt;), sehingga jumlah hari dalam satu windu (delapan tahun) adalah (354 x 8) + 3 = 2835 hari, angka yang habis dibagi 35 (7 x 5). Itulah sebabnya setiap awal windu (&lt;em&gt;indung poé&lt;/em&gt;) selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama. Jika misalnya awal windu jatuh pada Ahad Manis, maka awal windu selanjutnya pasti Ahad Manis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena kabisat Kala Sunda tiga dari delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan kabisat kalénder lunar yang akurat adalah 11 dari 30 tahun (11/30 = 44/120), maka dalam setiap 15 windu (120 tahun), yang disebut satu &lt;em&gt;tunggul taun&lt;/em&gt; (idéntik dengan satu &lt;em&gt;kurup&lt;/em&gt; dalam kalénder Hijriyah-Jawa), kalénder Kala Sunda (seperti juga kalénder Jawa) harus &lt;em&gt;hilang satu hari&lt;/em&gt;, agar akurat dengan perédaran bulan yang sesungguhnya. Jadi setiap 120 tahun, &lt;em&gt;indung poé&lt;/em&gt; bergésér dari Ahad Manis menjadi Sabtu Kaliwon, kemudian menjadi Jumat Wagé, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan dalam Kala Sunda (&lt;em&gt;Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Sétra, Wésaka, Yésta, Asada, Srawana, Badra, Asuji&lt;/em&gt;), nama-nama hari (&lt;em&gt;Radité, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek&lt;/em&gt;), serta pembagian bulan menjadi &lt;em&gt;suklapaksa&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kresnapaksa &lt;/em&gt;sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu diambil dari kalénder Saka, kecuali nama hari Tumpek (Sabtu) yang merupakan istilah asli Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berbéda dengan kalénder Saka, Kala Sunda menetapkan tanggal satu saat bulan berwujud setengah lingkaran. Istilah Sansekerta &lt;em&gt;suklapaksa&lt;/em&gt; (paroterang), yang pada kalénder Saka berarti “separo bulan (&lt;em&gt;half-month&lt;/em&gt;) sampai purnama”, pada Kala Sunda mempunyai arti lain yaitu “bulan terlihat separo (&lt;em&gt;half-moon&lt;/em&gt;)”. Perbédaan lain: Kartika, bulan ke-8 kalénder Saka, menjadi bulan pertama dalam Kala Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pasaran (pancawara) dalam Kala Sunda berselisih dua hari dengan kalénder Jawa, misalnya Manis (Legi) dalam kalénder Jawa menjadi Pon dalam Kala Sunda. Jika dalam kalénder Jawa tahun dalam sewindu ditandai menurut numerologi huruf Arab: &lt;em&gt;Alif&lt;/em&gt; (1), &lt;em&gt;Ba&lt;/em&gt; (2), &lt;em&gt;Jim&lt;/em&gt; (3), &lt;em&gt;Dal&lt;/em&gt; (4), &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt; (5), &lt;em&gt;Waw&lt;/em&gt; (6), dan &lt;em&gt;Zai&lt;/em&gt; (7), dalam Kala Sunda ditandai dengan nama héwan: &lt;em&gt;Kebo&lt;/em&gt; (1), &lt;em&gt;Keuyeup&lt;/em&gt; (2), &lt;em&gt;Hurang&lt;/em&gt; (3), &lt;em&gt;Embé&lt;/em&gt; (4), &lt;em&gt;Monyét&lt;/em&gt; (5), &lt;em&gt;Cacing&lt;/em&gt; (6), dan &lt;em&gt;Kalabang&lt;/em&gt; (7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala Sunda memulai perhitungan dari &lt;em&gt;dinten Soma-Haryang-Manis kaping Hiji Suklapaksa sasih Kartika Taun Hiji Caka Sunda&lt;/em&gt;, yang bertepatan dengan &lt;em&gt;Senin 27 Oktober 122 Maséhi&lt;/em&gt;. Belum jelas peristiwa apakah gerangan yang terjadi di Tatar Sunda pada masa tersebut sehingga ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang merupakan &lt;em&gt;tunggul taun&lt;/em&gt; ke-17, periode 1921-2040 Kala Sunda (1985-2102 Maséhi), di mana &lt;em&gt;indung poé&lt;/em&gt; (awal windu, yaitu tanggal satu suklapaksa bulan Kartika Tahun Kebo) selalu jatuh pada hari &lt;em&gt;Tumpek&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Sabtu&lt;/em&gt;) &lt;em&gt;Kaliwon.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kala Sunda 1945 - 1953&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1945  KEBO  (INDUNG POÉ)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kartika (Tumpek Kaliwon 6 Désémber 2008); Margasira (Soma Kaliwon 5 Januari 2009); Posya(Anggara Wagé 3 Februari 2009); Maga (Respati Wagé 5 Maret 2009); Palguna (Sukra Pon 3 April 2009); Sétra (Radité Pon 3 Méi 2009); Wésaka (Soma Pahing 1 Juni 2009); Yésta(Buda Pahing 1 Juli 2009); Asada (Respati Manis 30 Juli 2009); Srawana (Tumpek Manis 29 Agustus 2009); Badra (Radité Kaliwon 27 Séptémber 2009); Asuji (Anggara Kaliwon 27 Oktober 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1946  MONYÉT  (TAUN PANJANG)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kartika (Buda Wagé 25 Novémber 2009); Margasira (Sukra Wagé 25 Désémber 2009); Posya (Tumpek Pon 23 Januari 2010); Maga (Soma Pon 22 Fébruari 2010); Palguna (Anggara Pahing 23 Maret 2010); Sétra (Respati Pahing 22 April 2010); Wésaka (Sukra Manis  21 Méi 2010); Yésta (Radité Manis 20 Juni 2010); Asada (Soma Kaliwon 19 Juli 2010); Srawana (Buda Kaliwon 18 Agustus 2010); Badra (Respati Wagé 16 Séptémber 2010); Asuji (Tumpek Wagé 16 Oktober 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1947  HURANG&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;br /&gt;Kartika (Soma Wagé 15 Novémber 2010); Margasira (Buda Wagé 15 Désémber 2010); Posya (Respati Pon 13 Januari 2011); Maga (Tumpek Pon 12 Fébruari 2011); Palguna (Radité Pahing 13 Maret 2011); Sétra (Anggara Pahing 12 April 2011); Wésaka (Buda Manis 11 Méi 2011); Yésta (Sukra Manis 10 Juni 2011); Asada (Tumpek Kaliwon 9 Juli 2011); Srawana (Soma Kaliwon 8 Agustus 2011); Badra (Anggara Wagé 6 Séptémber 2011); Asuji (Respati Wagé 6 Oktober 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1948  KALABANG&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;   &lt;br /&gt;Kartika (Sukra Pon 4 Novémber 2011); Margasira (Radité Pon 4 Désémber 2011); Posya (Soma Pahing 2 Januari 2012); Maga (Buda Pahing 1 Fébruari 2012); Palguna (Respati Manis 1 Maret 2012); Sétra (Tumpek Manis 31 Maret 2012); Wésaka (Radité Kaliwon 29 April 2012); Yésta (Anggara Kaliwon 29 Méi 2012); Asada (Buda Wagé 27 Juni 2012); Srawana Sukra Wagé 27 Juli 2012); Badra (Tumpek Pon 25 Agustus 2012); Asuji (Soma Pon 24 Séptémber 2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1949  EMBÉ  (TAUN PANJANG)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kartika (Anggara Pahing 23 Oktober 2012); Margasira (Respati Pahing 22 Novémber 2012); Posya (Sukra Manis 21 Désémber 2012); Maga (Radité Manis 20 Januari 2013); Palguna (Soma Kaliwon 18 Fébruari 2013); Sétra (Buda Kaliwon 20 Maret 2013); Wésaka (Respati Wagé 18 April 2013); Yésta (Tumpek Wagé 18 Méi 2013); Asada (Radité Pon 16 Juni 2013); Srawana (Anggara Pon 16 Juli 2013); Badra (Buda Pahing 14 Agustus 2013); Asuji (Sukra Pahing 13 Séptémber 2013).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1950 KEUYEUP&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kartika (Radité Pahing 13 Oktober 2013); Margasira (Anggara Pahing 12 Novémber 2013); Posya (Buda Manis 11 Désémber 2013); Maga (Sukra Manis 10 Januari 2014); Palguna (Tumpek Kaliwon 8 Fébruari 2014); Sétra (Soma Kaliwon 10 Maret 2014); Wésaka (Anggara Wagé 8 April 2014); Yésta (Respati Wagé 8 Méi 2014); Asada (Sukra Pon 6 Juni 2014); Srawana (Radité Pon 6 Juli 2014); Badra (Soma Pahing 4 Agustus 2014); Asuji (Buda Pahing 3 Séptémber 2014).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1951 CACING&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kartika (Respati Manis 2 Oktober 2014); Margasira (Tumpek Manis 1 Novémber 2014); Posya (Radité Kaliwon 30 Novémber 2014); Maga (Anggara Kaliwon 30 Désémber 2014); Palguna (Buda Wagé 28 Januari 2015); Sétra (Sukra Wagé 27 Fébruari 2015); Wésaka (Tumpek Pon 28 Maret 2015); Yésta (Soma Pon 27 April 2015); Asada (Anggara Pahing 26 Méi 2015); Srawana (Respati Pahing 25 Juni 2015); Badra (Sukra Manis 24 Juli 2015); Asuji (Radité Manis 23 Agustus 2015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1952  HURANG  (TAUN PANJANG)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kartika (Soma Kaliwon 21 Séptémber 2015); Margasira (Buda Kaliwon 21 Oktober 2015); Posya (Respati Wagé 19 Novémber 2015); Maga (Tumpek Wagé 19 Désémber 2015); Palguna (Radité Pon 17 Januari 2016); Sétra (Anggara Pon 16 Fébruari 2016); Wésaka (Buda Pahing 16 Maret 2016); Yésta (Sukra Pahing 15 April 2016); Asada (Tumpek Manis 14 Méi 2016); Srawana (Soma Manis 13 Juni 2016); Badra (Anggara Kaliwon 12 Juli 2016); Asuji (Respati Kaliwon 11 Agustus 2016).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1953  KEBO  (BALIK KA INDUNG POÉ)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kartika (Tumpek Kaliwon 10 Séptémber 2016); Margasira (Soma Kaliwon 10 Oktober 2016); Posya (Anggara Wagé 8 Novémber 2016); Maga (Respati Wagé 8 Désémber 2016); Palguna (Sukra Pon 6 Januari 2017); Sétra (Radité Pon 5 Fébruari 2017); Wésaka (Soma Pahing 6 Maret 2017); Yésta (Buda Pahing 5 April 2017); Asada (Respati Manis 4 Méi 2017); Srawana (Tumpek Manis 3 Juni 2017); Badra (Radité Kaliwon 2 Juli 2017); Asuji (Anggara Kaliwon 1 Agustus 2017).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7049241277244321506-5686222023262430702?l=irfananshory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irfananshory.blogspot.com/feeds/5686222023262430702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7049241277244321506&amp;postID=5686222023262430702' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5686222023262430702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7049241277244321506/posts/default/5686222023262430702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irfananshory.blogspot.com/2009/04/kala-sunda-1945-1953.html' title='Kala Sunda 1945-1953'/><author><name>irfan anshory</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08102507934688381243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7049241277244321506.post-7064399453714154976</id><published>2009-04-10T18:08:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T20:24:33.398-07:00</updated><title type='text'>Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ENAM PERIODA&lt;br /&gt;PENCIPTAAN ALAM SEMESTA&lt;br /&gt;(Suatu Tafsir Kontemporer Al-Qur’an)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o l e h&lt;br /&gt;DRS. H. IRFAN ANSHORY&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLAH SWT menyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa alam semesta diciptakan-Nya dalam enam perioda (&lt;em&gt;fi sittati ayyam&lt;/em&gt;). Informasi ini tercantum dalam Al-A`raf(7):54; Yunus(10):3; Hud(11):7; Al-Furqan(25):59; As-Sajdah(32):4; Qaf(50):38; dan Al-Hadid(57):4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;em&gt;yaum&lt;/em&gt; (pluralnya &lt;em&gt;ayyam&lt;/em&gt;) dalam Al-Qur’an menyatakan waktu yang beraneka ragam: masa yang abadi dan tidak terhingga panjangnya (Al-Fatihah(1):4), atau 50.000 tahun (Al-Ma`arij(70):4), atau 1000 tahun (As-Sajdah(32):5), atau satu zaman (Ali Imran(3):140), atau satu hari (Al-Baqarah(2):184), atau sekejap mata (Al-Qamar (54):50), atau masa yang lebih singkat dari sekejap mata (An-Nahl(16):77), atau masa yang tidak terhingga singkatnya (Ar-Rahman(55):29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sungguh tepat jika ungkapan &lt;em&gt;fi sittati ayyam&lt;/em&gt; pada penciptaan alam semesta itu kita terjemahkan “dalam enam perioda”. Sudah tentu Allah tidak memerinci perioda demi perioda secara mendetail, sebab Al-Qur’an bukanlah kitab fisika atau astronomi. Sebagai petunjuk bagi umat manusia di segenap bidang kehidupan, Al-Qur’an hanya memuat garis besarnya saja. Jangankan perincian tentang terciptanya alam semesta, perincian tentang tatacara shalat pun tidak kita temui dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru Allah memerintahkan kita untuk menalari alam semesta ini, termasuk proses penciptaannya dan hukum-hukum Ilahi (&lt;em&gt;sunnatullah&lt;/em&gt;) yang berlaku padanya. Perintah Allah itu banyak kita temui dalam Al-Qur’an, misalnya Ali Imran(3):190-191, Yunus(10):101, Fusshilat(41):53, dan sebagainya. Dalam hal ini patut kita simak keterangan Prof. Dr. Hamka dalam Bab “Pendahuluan” buku karyanya, &lt;em&gt;Tafsir Al-Azhar&lt;/em&gt;, Juz 1, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagian yang terbanyak daripada ayat-ayat Al-Qur’an ialah menyuruh manusia memperhatikan alam sekelilingnya, merenung dan memikirkannya. Ditekankan seruan agar kita mempergunakan akal. Dan setelah maju ilmu pengetahuan modern, bertambah jelas pula arti yang dikandung dalam ayat-ayat itu. Semuanya ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukanlah karangan Nabi Muhammad SAW, melainkan langsung turun dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau ada beberapa penafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an memberikan tafsir yang tidak tepat berkenaan dengan alam tadi, bukanlah berarti bahwa ayat itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, melainkan penafsir itulah yang tidak ada ilmu pengetahuan. Maka di dalam menafsirkan ayat-ayat keadaan alam ini, adalah dua hal yang perlu. Pertama, pengetahuan tentang makna tiap lafazh yang tertulis dalam ayat itu. Kedua, pengetahuan tentang ilmu alam yang berkenaan dengan ayat itu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang seirama telah dikemukakan pula oleh Prof. Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya, &lt;em&gt;The Bible, The Qur’an, and Science&lt;/em&gt; (American Trust Publications, Indianapolis, 1982):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The Qur’an, while inviting us to cultivate science, itself contains many observations on natural phenomena and includes explanatory details which are seen to be in total agreement with modern scientific data. There is no equal to this in the Judeo-Christian revelations.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Unfortunately, passages from the Qur’an, especially those relating to scientific data, are badly translated and interpreted. They may be explained by the fact that modern translators often take up, rather uncritically, the interpretations given by older commentators.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dengan mengutip keterangan Prof. Dr. Hamka dan Prof. Dr. Maurice Bucaille di atas, saya ingin mengemukakan dua hal. Pertama, banyak ayat Al-Qur’an tentang fenomena alam yang harus digali dan dikembangkan oleh para sarjana dan intelektual Muslim. Kedua, banyak ayat Al-Qur’an mengenai fenomena alam yang selama ini diterjemahkan dan ditafsirkan secara kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Enam Perioda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam perioda penciptaan alam semesta dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat Fusshilat(41) ayat 9 – 12 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Katakanlah: Sungguhkah kamu ingkar kepada Yang menciptakan &lt;strong&gt;bumi&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;dua perioda&lt;/strong&gt; dan kamu jadikan bagi-Nya sekutu? Itulah Tuhan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10) Dia menjadikan &lt;strong&gt;rawasiya&lt;/strong&gt; (peneguh) dari atasnya, dan Dia memberkahi serta menentukan kadar aqwat(daya penjagaan)nya dalam &lt;strong&gt;empat perioda&lt;/strong&gt;. (Rawasiya itu) &lt;strong&gt;sama bagi para penanya&lt;/strong&gt; (peneliti alam semesta).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(11) &lt;strong&gt;Sesudah itu&lt;/strong&gt; Dia berkuasa kepada langit yang masih berwujud asap (partikel-partikel mikro), lalu bersabda kepada &lt;strong&gt;langit &lt;/strong&gt;dan kepada &lt;strong&gt;bumi&lt;/strong&gt;: “Datanglah kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa.” Kedua-duanya (langit dan bumi) menjawab: “Kami datang dengan sukarela.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12) Dia menggubah &lt;strong&gt;tujuh langit&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;dua perioda&lt;/strong&gt; dan mewahyukan kepada setiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita dan perlindungan. Itulah takdir Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena langit dan bumi tercipta secara bersama-sama (ayat 11), maka dua perioda penciptaan langit (ayat 12) identik dengan dua perioda penciptaan bumi (ayat 9), dan dua perioda penciptaan langit dan bumi itu berlangsung sesudah empat perioda penciptaan &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; (ayat 10), sebab ayat 10 dan ayat 11 dihubungkan oleh kata &lt;em&gt;tsumma&lt;/em&gt; (“kemudian, selanjutnya, sesudah itu”). Jadi, enam perioda penciptaan alam semesta terdiri atas &lt;strong&gt;empat perioda penciptaan rawasiya&lt;/strong&gt; (peneguh) dan &lt;strong&gt;dua perioda penciptaan materi&lt;/strong&gt; (langit dan bumi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;R a w a s i y a&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; merupakan derivasi dari kata dasar &lt;em&gt;rasaa&lt;/em&gt; (triliteral atau tiga huruf dasar ra-sin-alif) yang secara harfiah artinya “menambat, mengikat, meneguhkan”, dan satu akar kata dengan &lt;em&gt;mirsa&lt;/em&gt; (jangkar) dan &lt;em&gt;mursa&lt;/em&gt; (berlabuh, buang jangkar). &lt;em&gt;Rawasiya&lt;/em&gt; berarti “penambat, pengikat, peneguh”. Untuk memahami arti &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt;, marilah kita lihat keterangan Allah dalam Al-Qur’an: “Dan Kami jadikan di bumi &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; (peneguh) agar berpusing bersama mereka” (Al-Anbiya’(21):31). “Dia menciptakan langit dengan tanpa tiang yang kamu lihat, dan Dia meletakkan &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; (peneguh) di bumi agar berpusing bersama kamu” (Luqman(31):10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berpusing pada sumbunya sendiri (rotasi) dengan kecepatan 1667 km/jam, bumi beserta planet-planet lainnya berpusing mengelilingi matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam atau 30 km/detik. Matahari bersama-sama seluruh anggota tatasurya berpusing mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti (&lt;em&gt;Milky Way&lt;/em&gt;) dengan kecepatan 225 km/detik. Galaksi Bimasakti itu sendiri (terdiri dari 100 miliar matahari) bersama galaksi-galaksi tetangganya berpusing mengelilingi pusat Superkluster (Adigugus) Virgo. Total jenderal, bumi kita berpusing dengan kecepatan 300 km/detik terhadap pusat Superkluster. Dengan kecepatan yang fantastis ini, kenyataannya kita berpusing bersama bumi dengan aman sentosa, malahan seolah-olah tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah rawasiya (peneguh) yang mengikat kita pada permukaan bumi? Apakah rawasiya yang menjaga benda-benda langit yang “tanpa tiang” (&lt;em&gt;ghairi `amadin&lt;/em&gt;) tetap pada orbit masing-masing? Pertanyaan serupa dapat kita tujukan kepada dunia mikro: Apakah rawasiya yang membuat elektron-elektron tidak terlepas dari atom? Apakah rawasiya yang mengikat proton dan netron dalam inti atom? Semua pertanyaan itu kita gabungkan menjadi pertanyaan tunggal: Apakah rawasiya yang mengatur seluruh proses di alam semesta ciptaan Allah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan kini memahami bahwa semua proses yang berlangsung di alam semesta ini diatur dan diteguhkan oleh empat macam interaksi (gaya, &lt;em&gt;force&lt;/em&gt;), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, &lt;strong&gt;Interaksi Gravitasi&lt;/strong&gt;, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, &lt;strong&gt;Interaksi Elektromagnetik&lt;/strong&gt;, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berfikir dalam otak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;strong&gt;Interaksi Kuat&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Strong Interaction&lt;/em&gt;), yaitu gaya yang mengikat partikel-partikel (zarrah-zarrah) proton dan netron yang menyusun inti atom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, &lt;strong&gt;Interaksi Lemah&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Weak Interaction&lt;/em&gt;), yaitu gaya yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, mulai dari proses keradioaktifan (transmutasi inti) sampai kepada perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang sehingga tetap memancarkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebanyakan tafsir Al-Qur`an, kata &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; yang secara harfiah berarti “peneguh” sering ditafsirkan “gunung”. Memang benar bahwa salah satu fungsi gunung adalah peneguh, tetapi janganlah semua kata &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt; diterjemahkan “gunung”. Kenyataannya, orang-orang Arab tidak pernah menyebut gunung dengan istilah &lt;em&gt;rawasiya&lt;/em&gt;! Rawasiya (peneguh) yang disediakan Allah bagi alam semesta ciptaan-Nya ini tiada lain adalah empat macam interaksi yang mengatur seluruh mekanisme langit dan bumi, yaitu &lt;em&gt;gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya kuat,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;gaya lemah&lt;/em&gt;. Penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa keempat macam gaya tersebut merupakan manifestasi dari sebuah “gaya tunggal” yang sama, dan memisah satu sama lain melalui empat tahapan penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah “Dia menentukan kadar daya penjagaannya dalam empat perioda, sama bagi para peneliti” (Fusshilat(41):10) yang diwahyukan pada abad ke-7 ternyata baru jelas artinya pada abad ke-20! Kata &lt;em&gt;aqwat&lt;/em&gt; (plural dari &lt;em&gt;qut&lt;/em&gt;) pada ayat ini sering diterjemahkan “makanan”. Padahal arti yang tepat adalah “daya penjaga”, dan hal ini berhubungan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu &lt;em&gt;Al-Muqit&lt;/em&gt; (Maha Penjaga), sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nisa’(4):85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Big Bang (Dentuman Akbar)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an, Al-Anbiya’(21):30, Allah berfirman: “Tidakkah orang orang kafir itu tahu bahwa langit dan bumi mulanya berpadu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Tidakkah mereka percaya ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Allah bahwa semua makhluk hidup dijadikan dari air mudah kita fahami, sebab kenyataannya 70–75% penyusun sel-sel makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme) adalah air. Kehidupan baru terbentuk di muka bumi setelah adanya air. Banyak makhluk hidup yang tidak memerlukan oksigen, tetapi tidak ada makhluk hidup yang &lt;em&gt;survive&lt;/em&gt; tanpa air. Yang perlu mendapat perhatian adalah informasi bahwa langit dan bumi dahulunya padu lalu dipisahkan-Nya. Ini sangat erat dengan tema pokok kita: menalari terciptanya alam semesta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1929, seorang ahli astronomi Amerika, Edwin Powell Hubble, mengamati bahwa garis spektrum cahaya dari galaksi-galaksi di luar Bimasakti bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih besar, atau bergeser ke arah “merah” (&lt;em&gt;red shift&lt;/em&gt;). Berdasarkan hukum fisika yang dikenal sebagai Efek Doppler, hal itu berarti bahwa galaksi-galaksi saling menjauhi satu sama lain. Kemudian diketahui bahwa makin jauh galaksi tersebut, makin besar pula kecepatan menjauhnya. Dengan perkataan lain, alam semesta sekarang berada dalam keadaan &lt;em&gt;berekspansi&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;mengembang&lt;/em&gt;). Lebih dari 14 abad yang silam, tatkala ilmu astronomi modern belum ada, Firman Suci telah berkumandang: "Dan langit Kami membangunnya dengan kekuasaan dan sesungguhnya Kami yang mengembangkannya (&lt;em&gt;wa inna lamusi`un&lt;/em&gt;)" dalam Adz-Dzariyat(51) : 47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, alam semesta di masa silam tentu lebih rapat daripada sekarang. Maka pada tahun 1946, George Gamow dari Universitas George Washington, dengan dibantu Ralph Alpher dari Universitas Johns Hopkins dan Hans Bethe dari Universitas Cornell, menyusun hipotesis: pada mulanya seluruh isi alam semesta ini berpadu dalam tingkat kepadatan yang tidak terhingga (&lt;em&gt;infinite density&lt;/em&gt;), lalu dengan proses Dentuman Akbar (&lt;em&gt;Big Bang&lt;/em&gt;) maka terciptalah alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1964, James Peebles dan Robert Dicke dari Universitas Princeton memprediksi bahwa jika benar alam semesta tercipta melalui proses Big Bang, tentu sisa radiasi dentuman akbar itu masih bisa diamati sekarang. Dan menurut perhitungan mereka, sisa radiasi itu setara dengan suhu sekitar tiga sampai lima derajat Kelvin. Setahun kemudian, Arno Penzias dan Robert Wilson dari Laboratorium Bell, New Jersey, berhasil menangkap sisa radiasi Big Bang itu dengan antena yang supersensitif, yaitu radiasi yang tersebar secara seragam di segala penjuru jagad raya (dikenal sebagai &lt;em&gt;cosmic microwave background&lt;/em&gt;) pada tingkat sekitar tiga derajat Kelvin, tepatnya 2,726 K. Atas penemuan yang sangat berharga ini, Penzias dan Wilson meraih hadiah Nobel bidang fisika pada tahun 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, peristiwa Big Bang yang memulai penciptaan alam semesta itu bukan hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi paradigma ilmu fisika dan astronomi modern. Bilakah peristiwa Big Bang itu terjadi? Atau, berapakah usia alam semesta sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu berkenalan dengan apa yang disebut &lt;em&gt;Tetapan Hubble (H),&lt;/em&gt; yaitu kecepatan galaksi-galaksi saling menjauh: 70 kilometer per detik per megaparsec. Satu megaparsec adalah 3,26 juta tahun-cahaya, dan satu tahun-cahaya adalah 9,4605 x 10(12) km atau sekitar 10 triliun km (sebagai bandingan, keliling bumi cuma 40.000 km, jarak matahari-bumi cuma 150 juta km). Artinya galaksi-galaksi dengan jarak 3,26 juta tahun-cahaya saling menjauh dengan kecepatan 70 km/detik. Oleh karena kecepatan cahaya 300.000 km/detik, dan waktu adalah jarak dibagi kecepatan (jika Anda mengendarai mobil sejauh 300 km dengan kecepatan 60 km/jam, waktu yang Anda perlukan adalah 5 jam), maka usia alam semesta = 3,26 x 10(6) x 3 x 10(5) dibagi 70, yaitu 1,397 x 10(10) tahun atau sekitar &lt;strong&gt;14 miliar tahun&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakikat Materi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam semesta ini pada hakikatnya merupakan ikatan &lt;em&gt;atom-atom&lt;/em&gt;, yang setiap saat mengalami penyusunan ulang (&lt;em&gt;rearrangement&lt;/em&gt;) dengan diatur oleh empat macam rawasiya (peneguh), sehingga segala sesuatu di alam semesta senantiasa berubah secara terus-menerus. Bunga mekar dan layu, air menguap, warna memudar, kayu melapuk, logam berkarat, kita makin dewasa dan tua, serta matahari dan bintang suatu saat akan padam karena kehabisan bahan bakar hidrogen. &lt;em&gt;Panta rhei&lt;/em&gt;, kata orang Yunani, “semuanya mengalir”, semuanya fana. Hanya Allah SWT, Sang Pencipta Materi, yang tetap abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu atom tersusun dari &lt;em&gt;inti atom&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;elektron-elektron&lt;/em&gt;, yang diteguhkan oleh rawasiya elektromagnetik. Untuk memisahkan elektron-elektron dari inti atom, diperlukan energi satu elektron-volt (1 eV) yang setara dengan suhu 10(4) K (sepuluh ribu derajat). Suhu rata-rata alam semesta sekarang, yaitu suhu ruangan antar bintang, adalah tiga Kelvin atau minus 270 derajat Celcius. Pada masa silam, suhu alam semesta tentu jauh lebih tinggi. Menurut perhitungan, alam semesta bersuhu 10(4) K (pada suhu setinggi ini perbedaan skala Kelvin dan Celcius dapat diabaikan) pada saat alam semesta berusia 1,2 x 10(13) detik atau sekitar &lt;em&gt;380.000 tahun&lt;/em&gt; &lt;em&gt;sesudah “Waktu Nol”&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Time Zero&lt;/em&gt;). Yang dimaksudkan dengan “Waktu Nol” adalah saat terjadinya Big Bang yang memulai penciptaan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, atom baru tercipta ketika alam semesta berusia 380.000 tahun. Sebelum itu, alam semesta hanya merupakan kumpulan inti-inti atom dan elektron-elektron, yang belum mampu bergabung membentuk atom, sebab suhu masih terlampau tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti atom tersusun dari &lt;em&gt;nukleon-nukleon&lt;/em&gt; (partikel-partikel inti). Ada dua jenis nukleon, yaitu &lt;em&gt;proton-proton&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;netron-netron&lt;/em&gt;, yang bergabung membentuk inti atom dengan diteguhkan oleh rawasiya gaya kuat (&lt;em&gt;strong interaction&lt;/em&gt;). Untuk menguraikan inti atom menjadi proton-proton dan netron-netron yang bebas, diperlukan energi satu juta eV, yang setara dengan suhu 10(10) K (sepuluh miliar derajat), yaitu suhu pada saat 180 detik atau &lt;em&gt;tiga menit sesudah Waktu Nol&lt;/em&gt;. Dengan perkataan lain, inti atom baru tercipta ketika alam semesta berusia tiga menit. Sebelum itu, energi dan suhu masih sangat tinggi, sehingga proton-proton dan netron-netron belum mampu bergabung membentuk inti atom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1963 (atas penemuan Murray Gell-Mann dari Institut Teknologi California yang meraih Nobel fisika tahun 1969), diketahui bahwa proton dan netron tersusun dari partikel-partikel yang dinamai &lt;em&gt;quark&lt;/em&gt;. Untuk menguraikan proton dan netron menjadi quark-quark, diperlukan energi satu miliar eV, yang setara dengan suhu 10(13) K (sepuluh triliun derajat), yaitu suhu alam semesta ketika berusia 10(-6) detik (&lt;em&gt;sepersejuta detik sesudah Waktu Nol&lt;/em&gt;). Jadi, proton dan netron baru tercipta ketika alam semesta berusia 10(-6) detik. Sebelum itu, alam semesta hanya berupa kumpulan &lt;em&gt;quark-quark&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;lepton-lepton&lt;/em&gt;. Yang dimaksudkan dengan “lepton” adalah partikel-partikel yang sangat ringan (massa sangat kecil), yaitu elektron beserta “saudara-saudaranya”. Perbedaan utama antara quark dan lepton adalah jenis interaksi yang bekerja pada mereka. Quark mengalami interaksi gaya kuat dan gaya lemah, lepton hanya mengalami interaksi gaya lemah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jenis Quark&lt;/strong&gt;   Massa (gram)&lt;em&gt;   &lt;strong&gt;Muatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;up (u)&lt;/strong&gt;   5,57 x 10(-25)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;+2/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;down (d)&lt;/strong&gt;   5,59 x 10(-25)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;-1/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;strange (s)&lt;/strong&gt;   9,00 x 10(-25)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;-1/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;charm (c)&lt;/strong&gt;   2,67 x 10(-24)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;+2/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beauty (b)&lt;/strong&gt;   9,00 x 10(-24)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;-1/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;truth (t)&lt;/strong&gt;   3,20 x 10(-23)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;+2/3&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jenis Lepton&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;   &lt;/em&gt;Massa (gram)&lt;em&gt;    &lt;strong&gt;Muatan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;elektron&lt;/strong&gt;   9,11 x 10(-28)    &lt;strong&gt;&lt;em&gt;-1&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;muon&lt;/strong&gt;   2,00 x 10(-25)    &lt;strong&gt;&lt;em&gt;-1&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;tauon&lt;/strong&gt;   3,20 x 10(-24)    &lt;em&gt;&lt;strong&gt;-1&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;netrino    &lt;/strong&gt;tak bermassa    &lt;strong&gt;0&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : 1 skala muatan = 1,6 x 10-19 coulomb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teori Kemanunggalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada tahun 1950, Albert Einstein mengemukakan konsep bahwa gravitasi dan elektromagnetik hanyalah dua manifestasi dari sebuah “gaya tunggal”. Tetapi sampai akhir hayatnya tahun 1955, konsep Einstein itu tetap sekedar hipotesis. Baru pada dasawarsa 1970-an, dengan adanya akselerator partikel yang mampu menghasilkan energi sangat tinggi, teori kemanunggalan gaya itu memperoleh titik terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1967 dan 1974, tiga orang fisikawan secara terpisah, yaitu Steven Weinberg dari Institut Teknologi Massachusetts, Sheldon Glashow dari Universitas Harvard, dan Abdus Salam dari Imperial College, London, menemukan bahwa gaya elektromagnetik dan gaya lemah ternyata merupakan gaya yang identik pada energi 10(11) eV atau suhu 10(15) K (seribu triliun derajat). Energi sebesar itu hanya mampu dihasilkan oleh akselerator mutakhir. Menurut perhitungan, alam semesta memiliki suhu 10(15) K ketika berusia 10(-10) detik (&lt;em&gt;sepersepuluh miliar detik sesudah Waktu Nol&lt;/em&gt;). Atas penemuan ini ketiga-tiganya meraih Nobel bidang fisika tahun 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Weinberg-Glashow-Salam meramalkan adanya partikel yang dinamai boson madya (&lt;em&gt;intermediate bosons&lt;/em&gt;), yaitu partikel-partikel &lt;em&gt;W&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Z&lt;/em&gt; yang merupakan pembawa gaya lemah. Kedua partikel ini ditemukan tahun 1983 oleh Carlo Rubbia dari Pusat Riset Nuklir Eropa (CERN), Jenewa. Rubbia meraih Nobel fisika tahun 1984, sebab telah membuktikan kebenaran teori Weinberg-Glashow-Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini para ilmuwan dalam fisika berambisi untuk menyatukan gaya elektromagnetik-lemah dengan gaya kuat. Inilah yang disebut Teori Kemanunggalan Agung (&lt;em&gt;Grand Unification Theory&lt;/em&gt;). Gabungan ketiga gaya ini akan terwujud jika tersedia energi 10(24) eV atau suhu 10(28) K (sepuluh ribu triliun triliun derajat). Sampai kini belum ada akselerator yang mampu menghasilkan energi seakbar itu. Suhu 10(28) K dimiliki alam semesta ketika berusia 10(-35) detik (&lt;em&gt;seperseratus miliar triliun triliun detik sesudah Waktu Nol&lt;/em&gt;). Akhirnya, gaya gravitasi pun dapat dipersatukan dengan ketiga gaya lainnya (&lt;em&gt;Super Unification Theory&lt;/em&gt;) pada suhu 10(32) K (seratus juta triliun triliun derajat), yaitu suhu alam semesta ketika berusia 10(-43) detik (&lt;em&gt;sepersepuluh juta triliun triliun triliun detik sesudah Waktu Nol&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perjalanan dahsyat ini kita teruskan sampai saat Waktu Nol, kita mendapati keadaan yang disebut &lt;em&gt;singularitas&lt;/em&gt;, yaitu keadaan “tiada ruang dan waktu”. Pertanyaan &lt;em&gt;di mana&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;bilamana&lt;/em&gt; sama sekali tidak berarti, sebab ruang dan waktu belum ada, seperti tidak berartinya pertanyaan "apakah dan di manakah utara" ketika kita berada di Kutub Utara. Yang Ada dan Yang Eksis hanyalah Sang Pencipta Ruang dan Waktu, Allah SWT. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir (tidak terikat pada waktu), serta Yang Lahir dan Yang Batin (tidak terikat pada ruang). Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (Al-Hadid(57):3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahap-Tahap Penciptaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Pertama&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada Waktu Nol, dengan perintah Allah “&lt;em&gt;Kun&lt;/em&gt;” (Jadilah), maka terciptalah ruang dan waktu pun bermula melalui proses Big Bang. Dalam Al-Qur’an, Allah selalu memakai kalimat &lt;em&gt;kun fa yakun&lt;/em&gt; (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk &lt;em&gt;present tense&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;fi`il mudhari&lt;/em&gt;`, dan tidak pernah kita jumpai kalimat &lt;em&gt;kun fa kana&lt;/em&gt; (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk &lt;em&gt;past tense&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;fi`il madhi&lt;/em&gt;. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan alam ini melalui suatu proses evolusi atau tahap yang berkesinambungan, bahkan sampai sekarang “Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki” (Fathir(35):1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Perioda Pertama, alam semesta masih berwujud energi dengan sebuah gaya tunggal. Berekspansinya “sang bayi” alam semesta menyebabkan suhu menjadi turun. Perioda Pertama berakhir pada saat 10(-43) detik sesudah Waktu Nol (alam semesta berdiameter 10(-30) meter dengan kerapatan 10(96) kg/liter dan suhu 10(32) K), yaitu ketika rawasiya gravitasi muncul sebagai gaya tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Kedua&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perioda Kedua dimulai pada saat 10(-43) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(32) K), tatkala mulai terdapat dua gaya: gravitasi dan gabungan elektromagnetik-lemah-kuat. Oleh karena gravitasi bekerja terhadap sesuatu yang bermassa, maka pada Perioda Kedua sebagian energi mengalami transformasi menjadi partikel-partikel mikro (&lt;em&gt;dukhan&lt;/em&gt;), sesuai dengan Hukum Einstein: &lt;em&gt;E = m c(2)&lt;/em&gt;. Quark dan lepton masih belum dapat dibedakan, sebab gaya kuat dan gaya lemah masih identik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Ketiga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perioda Ketiga dimulai pada saat 10(-35) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(28) K), tatkala rawasiya gaya kuat merupakan gaya tersendiri. Kini ada tiga gaya di alam semesta: gravitasi, gaya kuat, dan gabungan elektromagnetik-lemah. Pada Perioda Ketiga, alam semesta mengalami &lt;em&gt;inflasi&lt;/em&gt; (volume mendadak berekspansi) dan mulailah dikenal partikel-partikel quark yang mengalami interaksi gaya kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Keempat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perioda Keempat dimulai pada saat 10(-10) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(15) K), tatkala rawasiya gaya lemah memisah dari rawasiya gaya elektromagnetik. Dan mulailah dikenal partikel-partikel lepton yang mengalami interaksi gaya lemah. Pada Perioda Keempat, lengkaplah sudah empat macam gaya yang berfungsi sebagai &lt;em&gt;rawasiya &lt;/em&gt;(peneguh) bagi semua proses di alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam semesta terus berekspansi sampai suhu “mendingin” hingga 10(13) K. Empat perioda penciptaan rawasiya segera disusul oleh dua perioda penciptaan atom, yang merupakan partikel dasar dari seluruh materi di langit dan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Perioda Kelima dimulai pada saat 10(-6) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(13) K), tatkala quark-quark mampu bergabung untuk membentuk &lt;em&gt;hadron-hadron&lt;/em&gt;. Yang disebut “hadron” adalah partikel yang tersusun dari quark-quark. Ada dua jenis hadron, yaitu &lt;em&gt;baryon&lt;/em&gt; (tersusun dari tiga butir quark) dan &lt;em&gt;meson&lt;/em&gt; (tersusun dari dua butir quark). Kemudian baryon ada dua macam: &lt;em&gt;nukleon&lt;/em&gt; (baryon penyusun inti atom) dan &lt;em&gt;hiperon&lt;/em&gt; (baryon bukan penyusun inti atom). Lalu nukleon pun ada dua spesies, yaitu &lt;em&gt;proton&lt;/em&gt; (tersusun dari dua quark &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt; dan satu quark&lt;strong&gt; d&lt;/strong&gt;) serta &lt;strong&gt;netron&lt;/strong&gt; (tersusun dari satu quark &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt; dan dua quark &lt;strong&gt;d&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiperon-hiperon dan meson-meson merupakan partikel yang tidak stabil dan berumur sangat singkat (berubah menjadi partikel lain dalam waktu kurang dari 10(-7) detik), sehingga hanya ditemukan pada sinar kosmik atau dihasilkan oleh akselerator berenergi tinggi. Itulah sebabnya hadron yang berperan dalam pembentukan inti atom hanyalah nukleon-nukleon (proton dan netron). Dari enam jenis quark (&lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;d&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;s&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;c&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;b&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;t&lt;/strong&gt;), quark &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt; dan quark &lt;strong&gt;d&lt;/strong&gt; merupakan penyusun proton dan netron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nukleon&lt;/strong&gt;   &lt;em&gt;Quark&lt;/em&gt;   &lt;strong&gt;Massa (gram)&lt;/strong&gt;   Muatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;proton&lt;/strong&gt;   &lt;em&gt;u u d&lt;/em&gt;   &lt;strong&gt;1,673 x 10(-24)&lt;/strong&gt;   +1&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;netron&lt;/strong&gt;   &lt;em&gt;u d d&lt;/em&gt;   &lt;strong&gt;1,675 x 10(-24)&lt;/strong&gt;   0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perioda Keenam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perioda Keenam dimulai pada saat tiga menit sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(10) K), tatkala proton dan netron mampu bergabung untuk membentuk inti atom. Inti-inti atom yang terbentuk pertama kali adalah hidrogen-1 (satu proton), hidrogen-2 (satu proton dan satu netron), hidrogen-3 (satu proton dan dua netron), helium-3 (dua proton dan satu netron), serta helium-4 (dua proton dan dua netron).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti-inti atom tersebut bermuatan positif sebab mengandung proton. Mereka siap untuk “menangkap” lepton yang bermuatan negatif dan yang stabil, yaitu elektron-elektron. Lepton-lepton yang lain “tidak memenuhi syarat”: muon dan tauon berumur pendek (paling lama 10(-5) detik), sedangkan netrino tidak bermuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perioda Keenam berakhir pada saat 380.000 tahun sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(4) K), tatkala inti atom mampu bergabung dengan elektron-elektron untuk membentuk atom hidrogen dan atom helium. Dengan demikian selesailah sudah tahap-tahap penciptaan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertumbuhan Alam Semesta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai tahap penciptaan atom hidrogen dan helium, maka Allah dengan segala kemahakuasaan-Nya (&lt;em&gt;istawa `ala l-`arsy&lt;/em&gt;, “berkuasa di atas `Arasy” sebagaimana tercantum dalam Surat Yunus(10):3) mengatur pertumbuhan alam semesta (&lt;em&gt;yudabbiru l-amr&lt;/em&gt;) melalui empat macam rawasiya. Gaya kuat meneguhkan inti atom. Gaya elektromagnetik meneguhkan atom dan mengatur ikatan antar-atom melalui reaksi-reaksi kimia. Gaya lemah menyebabkan terbentuknya atom-atom selain hidrogen dan helium. Atom-atom yang beraneka ragam jenisnya itu berikatan satu sama lain, membentuk seluruh zat di alam semesta ini: superkluster (adigugus), kluster (gugus), galaksi (kumpulan bintang), bintang (matahari), planet beserta seluruh isinya, yang diteguhkan dalam kelompok-kelompok oleh gaya gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 2009 dikenal 116 jenis atom, yang semuanya merupakan turunan dari hidrogen dan helium. Sekarang, kira-kira 14 miliar tahun sesudah alam semesta mulai tercipta (suhu rata-rata alam semesta tiga K atau -270 C), komposisi alam semesta relatif tetap tidak berubah: 92% dari seluruh atom di alam semesta adalah atom-atom hidrogen, dan hampir 8% adalah atom-atom helium. Atom-atom lain (karbon, nitrogen, oksigen, logam-logam, dan sebagainya) hanya meliputi sekitar 0,1% dari seluruh atom di alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, dalam bukunya &lt;em&gt;The Dragons of Eden&lt;/em&gt; (Random House, New York, 1988), mengemukakan bahwa jika usia alam semesta kita kompres menjadi satu tahun &lt;em&gt;cosmic year&lt;/em&gt;, maka penciptaan alam semesta berlangsung tanggal 1 Januari, galaksi Bimasakti baru terbentuk tanggal 1 Mei, tatasurya kita muncul tanggal 9 September, bumi kita yang kecil ini baru ada tanggal 14 September, makhluk hidup pertama di bumi berupa mikroorganisme bersel tunggal eksis tanggal 9 Oktober, zaman dinosaurus berlangsung dari 24 sampai 28 Desember, manusia baru tampil ke pentas sejarah pada tanggal 31 Desember pukul 23.00 tengah malam menjelang tahun baru, dan Nabi Isa Al-Masih a.s. lahir empat detik yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komposisi Alam Semesta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Semesta tersusun dari puluhan &lt;strong&gt;superkluster&lt;/strong&gt; (adigugus), antara lain (sekedar menyebut beberapa nama) Virgo, Hydra, Perseus, Opiuchus, Hercules. Kita berada dalam &lt;em&gt;Superkluster Virgo&lt;/em&gt;, yang berdiameter 100 juta tahun-cahaya (satu tahun-cahaya adalah sekitar 10 triliun kilometer!) dan meliputi ratusan &lt;strong&gt;kluster&lt;/strong&gt; (gugus), antara lain Kluster Lokal, Centaurus, Fornax, Puppis, Coma. Kita berada dalam &lt;em&gt;Kluster Lokal&lt;/em&gt;, yang berdiameter tiga juta tahun-cahaya dan meliputi sekitar 30-an &lt;strong&gt;galaksi&lt;/strong&gt;, antara lain Bimasakti (Milky Way), Andromeda, Awan Magellan, Sagittarius Cebol, Triangulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berada dalam &lt;em&gt;Galaksi Bimasakti&lt;/em&gt;, galaksi berbentuk spiral yang berdiameter 120 ribu tahun-cahaya dan terdiri atas 100 miliar &lt;strong&gt;bintang-bintang&lt;/strong&gt;. Satu butir dari 100 miliar butir bintang itu bernama &lt;em&gt;Matahari&lt;/em&gt;, menempati lengan Orion dengan jarak 28 ribu tahun-cahaya dari pusat galaksi. Matahari bertawaf mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan 225 km/detik, sekali keliling lamanya 250 juta tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang-bintang tetangga Matahari di lengan Orion antara lain Alpha Centauri (tetangga terdekat yang berjarak 4,3 tahun-cahaya), Barnard (6 tahun-cahaya), Sirius (8,7 tahun-cahaya), Altair (16 tahun-cahaya), Vega (25 tahun-cahaya), Capella (41 tahun-cahaya), Aldebaran (60 tahun-cahaya), Betelguese (500 tahun-cahaya), Rigel (815 tahun-cahaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari berdiameter 1.393.200 km dengan massa 2 x 10(30) kg dan memiliki pengikut 8 planet, 3 planet kerdil, 166 bulan (data sementara awal 2009), serta ribuan asteroid, meteorid dan komet. Planet-planet itu adalah &lt;em&gt;Merkurius&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Venus&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Bumi&lt;/em&gt; (dengan 1 bulan), &lt;em&gt;Mars&lt;/em&gt; (2 bulan), &lt;em&gt;Yupiter&lt;/em&gt; (63 bulan), &lt;em&gt;Saturnus&lt;/em&gt; (56 bulan), &lt;em&gt;Uranus&lt;/em&gt; (27 bulan), dan &lt;em&gt;Neptunus&lt;/em&gt; (13 bulan). Ada juga tiga “planet kerdil”, yaitu &lt;em&gt;Ceres&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Pluto&lt;/em&gt; (3 bulan), dan &lt;em&gt;Eris &lt;/em&gt;(1 bulan). Bumi kita berdiameter khatulistiwa 12.756 km dengan massa 6 x 10(24) kg, terletak 150 juta km (8 menit-cahaya) dari matahari, beredar mengelilingi matahari dengan kecepatan 30 km per detik, sehingga sekali keliling perlu waktu 365,25 hari (satu tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari kita merupakan “gas raksasa” yang tersusun dari 90% hidrogen dan 10% helium. Setiap detik, 657 juta ton hidrogen diubah menjadi 653 juta ton helium. Empat juta ton massa yang hilang berubah menjadi energi (dapat dihitung dengan rumus E = mc(2)) sebesar 3,6 x 10(26) joule berupa sinar yang terpancar ke segenap tatasurya. Bumi kita setiap detik hanya menerima 1,6 x 10(17) joule (kurang dari seperdua miliar dari total cahaya matahari), dan sebagian besar energi matahari yang sampai ke bumi itu belum dimanfaatkan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ayat-Ayat Kauni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di samping ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an (&lt;em&gt;ayat-ayat Qur’ani&lt;/em&gt;), terdapat lebih banyak lagi &lt;em&gt;ayat-ayat Kauni&lt;/em&gt;, yaitu hukum-hukum Ilahi yang mengatur seluruh isi alam semesta, yang kita kenal dengan “hukum-hukum alam” (&lt;em&gt;the laws of nature&lt;/em&gt;), sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surat Fusshilat(41):53 yang berbunyi: “Akan Kami perlihatkan kepada manusia ayat-ayat Kami di seluruh ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar (&lt;em&gt;haqq&lt;/em&gt;)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh isi jagad raya, tanpa kecuali, tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah. Dan Allah memerintahkan manusia agar menggunakan daya &lt;em&gt;nazhar&lt;/em&gt; (diindonesiakan menjadi &lt;em&gt;nalar&lt;/em&gt;) dalam mengamati fenomena alam semesta, dengan tujuan-tujuan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, agar manusia menyadari status mereka sebagai hamba Allah, yang berkewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya, dengan tunduk-patuh kepada Ilahi, sebagaimana tunduk-patuhnya alam semesta ini. “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam perioda, kemudian Dia berkuasa di atas `Arasy mengatur urusan alam semesta. Tiada yang lestari kecuali sesudah izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka mengabdilah kamu kepada-Nya. Tidakkah kamu ingat ?” (Yunus(10):3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, agar manusia menyadari tugas mereka sebagai khalifah Allah, yang berkewajiban memakmurkan bumi serta menjadi rahmat bagi alam sekelilingnya, dengan menggali, meneliti dan memanfaatkan hukum-hukum Allah bagi alam ciptaan-Nya ini. “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menyediakan bagimu segala yang di langit dan di bumi, serta menyempurnakan untukmu nikmat-Nya baik yang terlihat (materi) maupun yang tidak terlihat (energi) ? Di antara manusia masih ada yang membantah tentang Allah dengan tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa Kitab yang memberikan penerangan” (Luqman(31):20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, agar manusia menyadari bahwa alam semesta ini mempunyai awal dan akhir, serta sesudah kehidupan dunia ini akan datang kehidupan akhirat yang abadi. “Allah telah meninggikan langit dengan tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia berkuasa di atas `Arasy. Dia menyediakan matahari dan bulan. Setiap benda langit beredar sampai waktu yang ditentukan. Dia mengatur urusan alam semesta. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu” (Ar-Ra`d(13):2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah dengan berbagai fenomena alam, sekaligus memerintahkan manusia untuk memperhatikan dan menalari hal-hal yang dikemukakan dalam sumpah Allah tersebut. Ada beberapa fenomena alam yang menarik untuk dikaji, sebab sampai kini belum jelas tafsiran dan pemahamannya, yaitu Surat An-Nazi`at(79):1–8; Al-`Adiyat(100):1–5; Adz-Dzariyat(51):1–6; serta Al-Mursalat(77):1–15. Kita menyadari bahwa ilmu yang diberikan Allah kepada manusia sangat sedikit (Al-Isra’(17):85). Tetapi ilmu pemberian Allah itu harus kita gunakan semaksimal mungkin untuk menafakkuri alam semesta ciptaan-Nya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tafsir An-Nazi`at(79) : 1 – 8&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Demi yang tercabut dahsyat!&lt;br /&gt;(2) Demi energi yang energetik!&lt;br /&gt;(3) Demi yang beredar di garis edar,&lt;br /&gt;(4) lalu berlomba saling menjauhi!&lt;br /&gt;(5) Demi yang mengatur Urusan!&lt;br /&gt;(6) Masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar,&lt;br /&gt;(7) lalu diikuti oleh masa pengganti,&lt;br /&gt;(8) yaitu masa di saat hati berdebar-debar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal Surat, Allah bersumpah dengan penciptaan alam semesta yang dilukiskan sebagai sesuatu yang tercabut (&lt;em&gt;nazi`at&lt;/em&gt;) dengan dahsyat (&lt;em&gt;gharqan&lt;/em&gt;), melalui proses Big Bang yang melibatkan energi (&lt;em&gt;nasyithat&lt;/em&gt;) yang luar biasa hebatnya. Kemudian Allah memerintahkan kita untuk merenungi komponen alam semesta, yaitu galaksi-galaksi yang beredar (&lt;em&gt;sabihat&lt;/em&gt;) pada orbit masing-masing serta saling menjauhi (&lt;em&gt;sabiqat&lt;/em&gt;) satu sama lain, dan seluruh urusan (&lt;em&gt;amran&lt;/em&gt;) alam semesta ini diatur oleh Allah melalui empat macam interaksi yang telah kita bahas di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali oleh pemikiran Max Planck (1900) dan Albert Einstein (1905), serta melalui penalaran Louis de Broglie (1924), Werner Heisenberg (1926) dan Erwin Schrodinger (1927), kini para ilmuwan mengetahui bahwa seluruh partikel di alam semesta ternyata merupakan &lt;em&gt;ar-rajifah&lt;/em&gt; (sesuatu yang memiliki sifat gelombang atau getaran, dari kata kerja &lt;em&gt;rajafa&lt;/em&gt; = “bergetar”). Inilah tafsir dari pernyataan Allah bahwa masa dunia fana ini merupakan “masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar” (&lt;em&gt;yauma tarjufur-rajifah&lt;/em&gt;). Lalu Allah menegaskan bahwa masa dunia fana ini akan diikuti oleh masa pengganti (&lt;em&gt;radifah&lt;/em&gt;), yaitu masa kehidupan akhirat, pada saat hati berdebar-debar menantikan keputusan Pengadilan Ilahi atas kondite selama berada di dunia fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tafsir Al-`Adiyat(100) : 1 – 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(1) Demi yang berlawanan melesat cepat,&lt;br /&gt;(2) lalu bunga-bunga api terpancar,&lt;br /&gt;(3) lalu sesuatu yang lain (materi baru) terjadi,&lt;br /&gt;(4) lalu berhamburan dengannya bagian yang kecil,&lt;br /&gt;(5) lalu ke tengah dengannya massa yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ilmu pengetahuan modern belum berkembang, benda yang paling mudah dikenali sebagai sesuatu yang melesat cepat (&lt;em&gt;dhabhan&lt;/em&gt;) adalah kuda, sehingga kebanyakan penafsir Al-Qur’an mengartikan &lt;em&gt;`adiyat&lt;/em&gt; dengan kuda, meskipun orang Arab dari dahulu sampai sekarang tidak pernah menyebutkan hewan itu dengan istilah &lt;em&gt;`adiyat&lt;/em&gt; dalam bahasa sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;em&gt;`adiyat&lt;/em&gt; secara harfiah berarti “yang berlawanan”, berasal dari tiga huruf dasar `ain-dal-alif, dan satu akar dengan kata &lt;em&gt;`aduw&lt;/em&gt; (lawan, musuh), &lt;em&gt;a`da’an&lt;/em&gt; (bersengketa), dan &lt;em&gt;`udwan&lt;/em&gt; (perseteruan), yang juga dipakai dalam Al-Qur’an. Pada Surat Al-`Adiyat, Allah mewacanakan penciptaan alam semesta, agar manusia yang “tidak tahu diri” (&lt;em&gt;kanud&lt;/em&gt;) segera menyadari bahwa kecintaan (&lt;em&gt;hubb&lt;/em&gt;) mereka kepada dunia fana secara berlebihan (&lt;em&gt;syadid&lt;/em&gt;) tidaklah berarti apa-apa tatkala mereka dibangkitkan kembali di hari akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kita bahas bahwa pada Perioda Pertama tahap penciptaan (dalam fisika disebut &lt;em&gt;Planck Time&lt;/em&gt;, selama 10(-43) detik) partikel materi belum tercipta. Alam semesta masih berwujud energi murni. Baru pada Perioda Kedua sebagian energi bertransformasi menjadi partikel dan antipartikel (berlawanan muatan dengan partikel). Pada Perioda Ketiga mulai dikenal quark dan antiquark, sedangkan lepton dan antilepton, terutama elektron dan positron (&lt;em&gt;positive electron&lt;/em&gt;), muncul pada Perioda Keempat. Setiap proses menghasilkan pasangan partikel dengan muatan yang berlawanan. Inilah partikel-partikel &lt;em&gt;al-`adiyat&lt;/em&gt; yang kemudian saling berbenturan dengan kecepatan melesat (&lt;em&gt;dhab-han&lt;/em&gt;), sehingga bunga-bunga api (&lt;em&gt;al-muriyat&lt;/em&gt;), yaitu panas dan cahaya, terpancar (&lt;em&gt;qad-han&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada Perioda Kelima terjadilah (&lt;em&gt;shub-han&lt;/em&gt;, dari kata &lt;em&gt;shabaha&lt;/em&gt;, “menjadi”) partikel-partikel baru (&lt;em&gt;al-mughirat&lt;/em&gt;, dari kata &lt;em&gt;ghayara&lt;/em&gt;, “berubah”, atau &lt;em&gt;ghayr&lt;/em&gt;, “lain”), yaitu hadron-hadron, terutama proton dan netron, yang terbentuk dari quark-quark. Lalu pada awal Perioda Keenam proton dan netron membentuk &lt;em&gt;al-mughirat&lt;/em&gt; berupa inti atom, dan pada akhir Perioda Keenam inti atom dan elektron membentuk &lt;em&gt;al-mughirat&lt;/em&gt; berupa atom (partikel dasar seluruh materi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembentukan atom, elektron-elektron yang bermassa ringan (&lt;em&gt;naq`an&lt;/em&gt;) berhamburan (&lt;em&gt;atsar&lt;/em&gt;) menempati lintasan-lintasan tertentu (tingkat-tingkat energi atau “kulit-kulit”), sedangkan inti atom (tersusun dari proton dan netron) sebagai kumpulan massa terbesar (&lt;em&gt;jam`an&lt;/em&gt;) menempati posisi di tengah-tengah (&lt;em&gt;wasath&lt;/em&gt;). Dengan diatur oleh rawasiya elektromagnetik, elektron-elektron yang bermuatan negatif senantiasa melakukan thawaf, terus-menerus beredar mengelilingi inti atom yang bermuatan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi “&lt;em&gt;fa atsarna bihi naq`an, fa wasathna bihi jam`an&lt;/em&gt;” ini ternyata merupakan pola &lt;em&gt;grand design&lt;/em&gt; Allah dalam pembentukan struktur seluruh isi jagad raya. Sebagai contoh, pada pembentukan tatasurya (&lt;em&gt;solar system&lt;/em&gt;), planet-planet sebagai &lt;em&gt;naq`an&lt;/em&gt; (komponen-komponen yang kecil) berhamburan menempati orbit-orbit tertentu dan harus melakukan thawaf mengelilingi matahari sebagai &lt;em&gt;jam`an&lt;/em&gt; (kumpulan massa terbesar) yang menempati posisi di tengah-tengah tatasurya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alam semesta ini hanya eksis dan stabil lantaran gerakan thawaf! Itulah sebabnya manusia yang mengunjungi Baitullah (Rumah Allah) di Makkah, baik yang berhaji maupun yang berumrah, diperintahkan untuk melakukan thawaf, meniru tingkah laku elektron-elektron dan planet-planet, sebagai perlambang ketunduk-patuhan makhluk terhadap aturan-aturan Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tafsir Adz-Dzariyat(51) : 1 – 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(1) Demi yang halus teramat halus,&lt;br /&gt;(2) yang membawa beban,&lt;br /&gt;(3) yang mengalir (bertransmisi) mudah,&lt;br /&gt;(4) yang membagi-bagi Urusan!&lt;br /&gt;(5) Sungguh, yang dijanjikan kepadamu pasti benar,&lt;br /&gt;(6) dan sungguh Keputusan itu pasti berlangsung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab-kitab suci diwahyukan melalui para Rasul yang berupa manusia, maka ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (ayat-ayat Kauni) diwahyukan melalui para rasul yang berwujud partikel. Dalam Al-Qur’an, para Rasul dari kalangan manusia disebut &lt;em&gt;al-mursalin&lt;/em&gt; (plural dalam bentuk maskulin atau &lt;em&gt;mudzakkar&lt;/em&gt;), sedangkan para rasul dari kalangan partikel disebut &lt;em&gt;al-mursalat&lt;/em&gt; (plural dalam bentuk feminin atau &lt;em&gt;mu’annats&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat macam interaksi yang mengatur alam semesta ditransmisikan oleh partikel-partikel khusus yang disebut partikel kuantum. Interaksi elektromagnetik ditransmisikan oleh partikel foton yang ditemukan Albert Einstein tahun 1905. Interaksi kuat ditransmisikan oleh partikel gluon yang ditemukan tahun 1979. Interaksi lemah ditransmisikan oleh partikel-partikel W dan Z, secara umum disebut boson madya, yang ditemukan tahun 1983. Akhirnya, interaksi gravitasi ditransmisikan oleh partikel graviton yang baru dibuktikan adanya tahun 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partikel-partikel kuantum pembawa gaya (foton, gluon, boson madya, graviton) merupakan rasul-rasul (dalam fisika memang disebut &lt;em&gt;messenger particles&lt;/em&gt;) yang mengemban ayat-ayat Kauni, dan dalam Al-Qur’an mereka disebut &lt;em&gt;adz-dzariyat&lt;/em&gt; (“yang halus”, satu akar kata dengan &lt;em&gt;dzarrah&lt;/em&gt;, “partikel”). Partikel-partikel kuantum itu memang sangat halus, berukuran 10(-25) cm, jauh lebih halus dari quark dan lepton yang berukuran 10(-16) cm. Namun partikel-partikel kuantum itu membawa beban yang berat berupa interaksi atau gaya yang mengatur alam semesta sampai tingkatan superkluster yang berukuran 10(25) cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tingkatan isi alam semesta&lt;/strong&gt;      &lt;em&gt;Ukuran dalam cm &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partikel kuantum        10(-25)&lt;br /&gt;Quark dan lepton        10(-16)&lt;br /&gt;A t o m        10(-8)&lt;br /&gt;Sel makhluk hidup        10(-3)&lt;br /&gt;Tubuh manusia        10(2)&lt;br /&gt;Planet        10(9)&lt;br /&gt;Bintang        10(12)&lt;br /&gt;Galaksi        10(22)&lt;br /&gt;Superkluster        10(25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partikel-partikel kuantum (&lt;em&gt;adz-dzariyat&lt;/em&gt;) bertransmisi dengan mudah, serta membagi-bagi urusan dalam mengelola empat macam interaksi atau gaya, sesuai dengan kadar &lt;em&gt;aqwat&lt;/em&gt; (daya penjaga) mereka masing-masing. Jika keempat partikel kuantum ini kelak “dipanggil pulang” oleh Allah, maka keempat macam interaksi itu hilang pula kadar aqwatnya, dan terjadilah Hari Yang Dijanjikan atau Hari Keputusan berupa kemusnahan alam semesta yang fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Partikel Rasul&lt;/strong&gt;    &lt;em&gt;Jenis Interaksi&lt;/em&gt;    Kadar Aqwat    &lt;strong&gt;Obyek Penjagaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gluon&lt;/strong&gt;     &lt;em&gt;Gaya Kuat&lt;/em&gt;     1      &lt;strong&gt;quark&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Foton&lt;/strong&gt;     &lt;em&gt;Elektromagnetik&lt;/em&gt;      10(-2)      &lt;strong&gt;partikel bermuatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Boson madya&lt;/strong&gt;     &lt;em&gt;Gaya Lemah&lt;/em&gt;      10(-5)      &lt;strong&gt;lepton&lt;br /&gt;Graviton&lt;/strong&gt;     &lt;em&gt;Gravitasi &lt;/em&gt;     10(-39)         &lt;strong&gt;partikel bermassa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tafsir Al-Mursalat(77) : 1 – 15&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(1) Demi para rasul pembawa keteraturan,&lt;br /&gt;(2) lalu melaju dengan sangat laju!&lt;br /&gt;(3) Demi yang meluas seluas-luasnya,&lt;br /&gt;(4) lalu berkelompok-kelompok!&lt;br /&gt;(5) Demi yang menyampaikan peringatan,&lt;br /&gt;(6) memberikan alasan atau ancaman!&lt;br /&gt;(7) Sungguh, yang dijanjikan bagimu pasti berlangsung!&lt;br /&gt;(8) Ketika bintang dipadamkan,&lt;br /&gt;(9) ketika langit dikacaukan,&lt;br /&gt;(10) ketika gunung dilumatkan!&lt;br /&gt;(11) Ketika para rasul sampai waktunya!&lt;br /&gt;(12) Sampai hari manakah mereka ditangguhkan?&lt;br /&gt;(13) Sampai Hari Kepastian!&lt;br /&gt;(14) Dan tahukah engkau tentang Hari Kepastian?&lt;br /&gt;(15) Celaka pada Hari itu mereka yang mendustakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Demi para rasul pembawa keteraturan, lalu melaju dengan sangat laju&lt;/em&gt;”. Para rasul (&lt;em&gt;al-mursalat&lt;/em&gt;) itu adalah partikel-partikel kuantum yang mengatur interaksi di alam semesta. Mereka melaju dengan sangat laju, mengemban tugas Ilahi di jagad raya yang luas ini. Gluon membawa gaya kuat, foton membawa gaya elektromagnetik, boson madya membawa gaya lemah, dan graviton membawa gaya gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Demi yang meluas seluas-luasnya, lalu berkelompok-kelompok&lt;/em&gt;”. Akibat dari penciptaan alam semesta melalui proses Big Bang, alam semesta sekarang ini terus meluas atau berekspansi. Komponen-komponen alam semesta terbagi atas kelompok-kelompok, mulai dari planet-planet, bintang-bintang, galaksi-galaksi, kluster-kluster, superkluster-superkluster, dan mungkin masih ada satuan kelompok lebih besar yang belum diketahui manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Demi yang menyampaikan peringatan, memberikan alasan atau ancaman&lt;/em&gt;”. Sebagaimana alam semesta yang selalu tunduk-patuh kepada aturan Allah, manusia pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan Allah. Maka Allah mengutus Rasul-Rasul dari Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad s.a.w. untuk menyampaikan peringatan berupa alasan atau ancaman kepada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Sungguh, yang dijanjikan bagimu pasti berlangsung&lt;/em&gt;”. Para rasul yang berwujud partikel kuantum (&lt;em&gt;al-mursalat&lt;/em&gt;) serta para Rasul dari kalangan manusia (&lt;em&gt;al-mursalin&lt;/em&gt;) menyebarkan janji yang sama, yaitu Hari Kiamat (kemusnahan dunia fana) pasti akan berlangsung, yaitu ketika keempat macam rawasiya yang mengatur alam semesta sudah “habis” kadar aqwatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ketika bintang dipadamkan&lt;/em&gt;”. Pada bintang-bintang (termasuk matahari) berlangsung reaksi termonuklir, yaitu pengubahan hidrogen menjadi helium, yang diatur oleh gaya lemah. Jika gaya lemah berhenti berfungsi, maka reaksi termonuklir pun terhenti, dan bintang-bintang (termasuk matahari) akan padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Ketika langit dikacaukan&lt;/em&gt;”. Gaya yang meneguhkan benda-benda langit dalam orbit masing-masing (&lt;em&gt;ghairi `amadin taraunaha&lt;/em&gt;, “tanpa tiang yang kamu lihat”, firman Allah dalam Surat Luqman(31):10) adalah gaya gravitasi. Jika gaya ini berhenti berfungsi, tentu langit menjadi kacau porak-poranda, sebab tidak ada lagi mekanisme tarik-menarik di antara benda-benda langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ketika gunung dilumatkan&lt;/em&gt;”. Semua materi di jagad raya, tanpa kecuali, tersusun dari atom-atom. Inti atom dan elektron-elektron diteguhkan oleh gaya elektromagnetik, sedangkan gaya kuat meneguhkan proton dan netron dalam inti atom. Jika kedua gaya ini berhenti berfungsi, maka atom apa saja akan “bubar”, terurai menjadi quark-quark dan lepton-lepton yang bebas. Akibatnya, seluruh materi (termasuk gunung yang tinggi perkasa itu) akan menjadi lumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ketika para rasul sampai waktunya&lt;/em&gt;”. Keempat rawasiya yang mengatur alam semesta itu akan berhenti berfungsi (habis kadar aqwatnya), pada saat para rasul berupa partikel-partikel kuantum, yaitu gluon, foton, boson madya, dan graviton, habis masa dinasnya dan “dipanggil pulang” oleh Allah Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Sampai hari manakah mereka ditangguhkan? Sampai Hari Kepastian. Dan tahukah engkau tentang Hari Kepastian? Celaka pada Hari itu mereka yang mendustakan&lt;/em&gt;”. Partikel-partikel kuantum (&lt;em&gt;al-mursalat&lt;/em&gt;) masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengemban interaksi yang mengatur alam semesta sampai Hari Kepastian (&lt;em&gt;yaum al-fashl&lt;/em&gt;), yaitu masa di mana para pendusta kebenaran Islam akan celaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilakah Hari Kepastian atau masa kehancuran alam sem
