Friday, April 10, 2009

Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Qur'an

ENAM PERIODA
PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
(Suatu Tafsir Kontemporer Al-Qur’an)

o l e h
DRS. H. IRFAN ANSHORY


ALLAH SWT menyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa alam semesta diciptakan-Nya dalam enam perioda (fi sittati ayyam). Informasi ini tercantum dalam Al-A`raf(7):54; Yunus(10):3; Hud(11):7; Al-Furqan(25):59; As-Sajdah(32):4; Qaf(50):38; dan Al-Hadid(57):4.

Kata yaum (pluralnya ayyam) dalam Al-Qur’an menyatakan waktu yang beraneka ragam: masa yang abadi dan tidak terhingga panjangnya (Al-Fatihah(1):4), atau 50.000 tahun (Al-Ma`arij(70):4), atau 1000 tahun (As-Sajdah(32):5), atau satu zaman (Ali Imran(3):140), atau satu hari (Al-Baqarah(2):184), atau sekejap mata (Al-Qamar (54):50), atau masa yang lebih singkat dari sekejap mata (An-Nahl(16):77), atau masa yang tidak terhingga singkatnya (Ar-Rahman(55):29).

Oleh karena itu sungguh tepat jika ungkapan fi sittati ayyam pada penciptaan alam semesta itu kita terjemahkan “dalam enam perioda”. Sudah tentu Allah tidak memerinci perioda demi perioda secara mendetail, sebab Al-Qur’an bukanlah kitab fisika atau astronomi. Sebagai petunjuk bagi umat manusia di segenap bidang kehidupan, Al-Qur’an hanya memuat garis besarnya saja. Jangankan perincian tentang terciptanya alam semesta, perincian tentang tatacara shalat pun tidak kita temui dalam Al-Qur’an.

Justru Allah memerintahkan kita untuk menalari alam semesta ini, termasuk proses penciptaannya dan hukum-hukum Ilahi (sunnatullah) yang berlaku padanya. Perintah Allah itu banyak kita temui dalam Al-Qur’an, misalnya Ali Imran(3):190-191, Yunus(10):101, Fusshilat(41):53, dan sebagainya. Dalam hal ini patut kita simak keterangan Prof. Dr. Hamka dalam Bab “Pendahuluan” buku karyanya, Tafsir Al-Azhar, Juz 1, sebagai berikut:

Bagian yang terbanyak daripada ayat-ayat Al-Qur’an ialah menyuruh manusia memperhatikan alam sekelilingnya, merenung dan memikirkannya. Ditekankan seruan agar kita mempergunakan akal. Dan setelah maju ilmu pengetahuan modern, bertambah jelas pula arti yang dikandung dalam ayat-ayat itu. Semuanya ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukanlah karangan Nabi Muhammad SAW, melainkan langsung turun dari Allah SWT.

Kalau ada beberapa penafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an memberikan tafsir yang tidak tepat berkenaan dengan alam tadi, bukanlah berarti bahwa ayat itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, melainkan penafsir itulah yang tidak ada ilmu pengetahuan. Maka di dalam menafsirkan ayat-ayat keadaan alam ini, adalah dua hal yang perlu. Pertama, pengetahuan tentang makna tiap lafazh yang tertulis dalam ayat itu. Kedua, pengetahuan tentang ilmu alam yang berkenaan dengan ayat itu.

Pendapat yang seirama telah dikemukakan pula oleh Prof. Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya, The Bible, The Qur’an, and Science (American Trust Publications, Indianapolis, 1982):

The Qur’an, while inviting us to cultivate science, itself contains many observations on natural phenomena and includes explanatory details which are seen to be in total agreement with modern scientific data. There is no equal to this in the Judeo-Christian revelations.

Unfortunately, passages from the Qur’an, especially those relating to scientific data, are badly translated and interpreted. They may be explained by the fact that modern translators often take up, rather uncritically, the interpretations given by older commentators.

Dengan mengutip keterangan Prof. Dr. Hamka dan Prof. Dr. Maurice Bucaille di atas, saya ingin mengemukakan dua hal. Pertama, banyak ayat Al-Qur’an tentang fenomena alam yang harus digali dan dikembangkan oleh para sarjana dan intelektual Muslim. Kedua, banyak ayat Al-Qur’an mengenai fenomena alam yang selama ini diterjemahkan dan ditafsirkan secara kurang tepat.



Enam Perioda

Enam perioda penciptaan alam semesta dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat Fusshilat(41) ayat 9 – 12 sebagai berikut:

(9) Katakanlah: Sungguhkah kamu ingkar kepada Yang menciptakan bumi dalam dua perioda dan kamu jadikan bagi-Nya sekutu? Itulah Tuhan alam semesta.

(10) Dia menjadikan rawasiya (peneguh) dari atasnya, dan Dia memberkahi serta menentukan kadar aqwat(daya penjagaan)nya dalam empat perioda. (Rawasiya itu) sama bagi para penanya (peneliti alam semesta).

(11) Sesudah itu Dia berkuasa kepada langit yang masih berwujud asap (partikel-partikel mikro), lalu bersabda kepada langit dan kepada bumi: “Datanglah kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa.” Kedua-duanya (langit dan bumi) menjawab: “Kami datang dengan sukarela.”

(12) Dia menggubah tujuh langit dalam dua perioda dan mewahyukan kepada setiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita dan perlindungan. Itulah takdir Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Oleh karena langit dan bumi tercipta secara bersama-sama (ayat 11), maka dua perioda penciptaan langit (ayat 12) identik dengan dua perioda penciptaan bumi (ayat 9), dan dua perioda penciptaan langit dan bumi itu berlangsung sesudah empat perioda penciptaan rawasiya (ayat 10), sebab ayat 10 dan ayat 11 dihubungkan oleh kata tsumma (“kemudian, selanjutnya, sesudah itu”). Jadi, enam perioda penciptaan alam semesta terdiri atas empat perioda penciptaan rawasiya (peneguh) dan dua perioda penciptaan materi (langit dan bumi).


R a w a s i y a

Kata rawasiya merupakan derivasi dari kata dasar rasaa (triliteral atau tiga huruf dasar ra-sin-alif) yang secara harfiah artinya “menambat, mengikat, meneguhkan”, dan satu akar kata dengan mirsa (jangkar) dan mursa (berlabuh, buang jangkar). Rawasiya berarti “penambat, pengikat, peneguh”. Untuk memahami arti rawasiya, marilah kita lihat keterangan Allah dalam Al-Qur’an: “Dan Kami jadikan di bumi rawasiya (peneguh) agar berpusing bersama mereka” (Al-Anbiya’(21):31). “Dia menciptakan langit dengan tanpa tiang yang kamu lihat, dan Dia meletakkan rawasiya (peneguh) di bumi agar berpusing bersama kamu” (Luqman(31):10).

Sambil berpusing pada sumbunya sendiri (rotasi) dengan kecepatan 1667 km/jam, bumi beserta planet-planet lainnya berpusing mengelilingi matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam atau 30 km/detik. Matahari bersama-sama seluruh anggota tatasurya berpusing mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti (Milky Way) dengan kecepatan 225 km/detik. Galaksi Bimasakti itu sendiri (terdiri dari 100 miliar matahari) bersama galaksi-galaksi tetangganya berpusing mengelilingi pusat Superkluster (Adigugus) Virgo. Total jenderal, bumi kita berpusing dengan kecepatan 300 km/detik terhadap pusat Superkluster. Dengan kecepatan yang fantastis ini, kenyataannya kita berpusing bersama bumi dengan aman sentosa, malahan seolah-olah tidak bergerak.

Apakah rawasiya (peneguh) yang mengikat kita pada permukaan bumi? Apakah rawasiya yang menjaga benda-benda langit yang “tanpa tiang” (ghairi `amadin) tetap pada orbit masing-masing? Pertanyaan serupa dapat kita tujukan kepada dunia mikro: Apakah rawasiya yang membuat elektron-elektron tidak terlepas dari atom? Apakah rawasiya yang mengikat proton dan netron dalam inti atom? Semua pertanyaan itu kita gabungkan menjadi pertanyaan tunggal: Apakah rawasiya yang mengatur seluruh proses di alam semesta ciptaan Allah ini?

Para ilmuwan kini memahami bahwa semua proses yang berlangsung di alam semesta ini diatur dan diteguhkan oleh empat macam interaksi (gaya, force), yaitu:

Pertama, Interaksi Gravitasi, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi.

Kedua, Interaksi Elektromagnetik, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berfikir dalam otak manusia.

Ketiga, Interaksi Kuat (Strong Interaction), yaitu gaya yang mengikat partikel-partikel (zarrah-zarrah) proton dan netron yang menyusun inti atom.

Keempat, Interaksi Lemah (Weak Interaction), yaitu gaya yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, mulai dari proses keradioaktifan (transmutasi inti) sampai kepada perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang sehingga tetap memancarkan cahaya.

Dalam kebanyakan tafsir Al-Qur`an, kata rawasiya yang secara harfiah berarti “peneguh” sering ditafsirkan “gunung”. Memang benar bahwa salah satu fungsi gunung adalah peneguh, tetapi janganlah semua kata rawasiya diterjemahkan “gunung”. Kenyataannya, orang-orang Arab tidak pernah menyebut gunung dengan istilah rawasiya! Rawasiya (peneguh) yang disediakan Allah bagi alam semesta ciptaan-Nya ini tiada lain adalah empat macam interaksi yang mengatur seluruh mekanisme langit dan bumi, yaitu gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya kuat, dan gaya lemah. Penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa keempat macam gaya tersebut merupakan manifestasi dari sebuah “gaya tunggal” yang sama, dan memisah satu sama lain melalui empat tahapan penciptaan.

Firman Allah “Dia menentukan kadar daya penjagaannya dalam empat perioda, sama bagi para peneliti” (Fusshilat(41):10) yang diwahyukan pada abad ke-7 ternyata baru jelas artinya pada abad ke-20! Kata aqwat (plural dari qut) pada ayat ini sering diterjemahkan “makanan”. Padahal arti yang tepat adalah “daya penjaga”, dan hal ini berhubungan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu Al-Muqit (Maha Penjaga), sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nisa’(4):85.


Big Bang (Dentuman Akbar)

Dalam Al-Qur’an, Al-Anbiya’(21):30, Allah berfirman: “Tidakkah orang orang kafir itu tahu bahwa langit dan bumi mulanya berpadu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Tidakkah mereka percaya ?”.

Informasi Allah bahwa semua makhluk hidup dijadikan dari air mudah kita fahami, sebab kenyataannya 70–75% penyusun sel-sel makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme) adalah air. Kehidupan baru terbentuk di muka bumi setelah adanya air. Banyak makhluk hidup yang tidak memerlukan oksigen, tetapi tidak ada makhluk hidup yang survive tanpa air. Yang perlu mendapat perhatian adalah informasi bahwa langit dan bumi dahulunya padu lalu dipisahkan-Nya. Ini sangat erat dengan tema pokok kita: menalari terciptanya alam semesta!

Pada tahun 1929, seorang ahli astronomi Amerika, Edwin Powell Hubble, mengamati bahwa garis spektrum cahaya dari galaksi-galaksi di luar Bimasakti bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih besar, atau bergeser ke arah “merah” (red shift). Berdasarkan hukum fisika yang dikenal sebagai Efek Doppler, hal itu berarti bahwa galaksi-galaksi saling menjauhi satu sama lain. Kemudian diketahui bahwa makin jauh galaksi tersebut, makin besar pula kecepatan menjauhnya. Dengan perkataan lain, alam semesta sekarang berada dalam keadaan berekspansi (mengembang). Lebih dari 14 abad yang silam, tatkala ilmu astronomi modern belum ada, Firman Suci telah berkumandang: "Dan langit Kami membangunnya dengan kekuasaan dan sesungguhnya Kami yang mengembangkannya (wa inna lamusi`un)" dalam Adz-Dzariyat(51) : 47.

Konsekuensinya, alam semesta di masa silam tentu lebih rapat daripada sekarang. Maka pada tahun 1946, George Gamow dari Universitas George Washington, dengan dibantu Ralph Alpher dari Universitas Johns Hopkins dan Hans Bethe dari Universitas Cornell, menyusun hipotesis: pada mulanya seluruh isi alam semesta ini berpadu dalam tingkat kepadatan yang tidak terhingga (infinite density), lalu dengan proses Dentuman Akbar (Big Bang) maka terciptalah alam semesta ini.

Pada tahun 1964, James Peebles dan Robert Dicke dari Universitas Princeton memprediksi bahwa jika benar alam semesta tercipta melalui proses Big Bang, tentu sisa radiasi dentuman akbar itu masih bisa diamati sekarang. Dan menurut perhitungan mereka, sisa radiasi itu setara dengan suhu sekitar tiga sampai lima derajat Kelvin. Setahun kemudian, Arno Penzias dan Robert Wilson dari Laboratorium Bell, New Jersey, berhasil menangkap sisa radiasi Big Bang itu dengan antena yang supersensitif, yaitu radiasi yang tersebar secara seragam di segala penjuru jagad raya (dikenal sebagai cosmic microwave background) pada tingkat sekitar tiga derajat Kelvin, tepatnya 2,726 K. Atas penemuan yang sangat berharga ini, Penzias dan Wilson meraih hadiah Nobel bidang fisika pada tahun 1978.

Kini, peristiwa Big Bang yang memulai penciptaan alam semesta itu bukan hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi paradigma ilmu fisika dan astronomi modern. Bilakah peristiwa Big Bang itu terjadi? Atau, berapakah usia alam semesta sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu berkenalan dengan apa yang disebut Tetapan Hubble (H), yaitu kecepatan galaksi-galaksi saling menjauh: 70 kilometer per detik per megaparsec. Satu megaparsec adalah 3,26 juta tahun-cahaya, dan satu tahun-cahaya adalah 9,4605 x 10(12) km atau sekitar 10 triliun km (sebagai bandingan, keliling bumi cuma 40.000 km, jarak matahari-bumi cuma 150 juta km). Artinya galaksi-galaksi dengan jarak 3,26 juta tahun-cahaya saling menjauh dengan kecepatan 70 km/detik. Oleh karena kecepatan cahaya 300.000 km/detik, dan waktu adalah jarak dibagi kecepatan (jika Anda mengendarai mobil sejauh 300 km dengan kecepatan 60 km/jam, waktu yang Anda perlukan adalah 5 jam), maka usia alam semesta = 3,26 x 10(6) x 3 x 10(5) dibagi 70, yaitu 1,397 x 10(10) tahun atau sekitar 14 miliar tahun.



Hakikat Materi

Alam semesta ini pada hakikatnya merupakan ikatan atom-atom, yang setiap saat mengalami penyusunan ulang (rearrangement) dengan diatur oleh empat macam rawasiya (peneguh), sehingga segala sesuatu di alam semesta senantiasa berubah secara terus-menerus. Bunga mekar dan layu, air menguap, warna memudar, kayu melapuk, logam berkarat, kita makin dewasa dan tua, serta matahari dan bintang suatu saat akan padam karena kehabisan bahan bakar hidrogen. Panta rhei, kata orang Yunani, “semuanya mengalir”, semuanya fana. Hanya Allah SWT, Sang Pencipta Materi, yang tetap abadi.

Suatu atom tersusun dari inti atom dan elektron-elektron, yang diteguhkan oleh rawasiya elektromagnetik. Untuk memisahkan elektron-elektron dari inti atom, diperlukan energi satu elektron-volt (1 eV) yang setara dengan suhu 10(4) K (sepuluh ribu derajat). Suhu rata-rata alam semesta sekarang, yaitu suhu ruangan antar bintang, adalah tiga Kelvin atau minus 270 derajat Celcius. Pada masa silam, suhu alam semesta tentu jauh lebih tinggi. Menurut perhitungan, alam semesta bersuhu 10(4) K (pada suhu setinggi ini perbedaan skala Kelvin dan Celcius dapat diabaikan) pada saat alam semesta berusia 1,2 x 10(13) detik atau sekitar 380.000 tahun sesudah “Waktu Nol” (Time Zero). Yang dimaksudkan dengan “Waktu Nol” adalah saat terjadinya Big Bang yang memulai penciptaan alam semesta.

Jadi, atom baru tercipta ketika alam semesta berusia 380.000 tahun. Sebelum itu, alam semesta hanya merupakan kumpulan inti-inti atom dan elektron-elektron, yang belum mampu bergabung membentuk atom, sebab suhu masih terlampau tinggi.

Inti atom tersusun dari nukleon-nukleon (partikel-partikel inti). Ada dua jenis nukleon, yaitu proton-proton dan netron-netron, yang bergabung membentuk inti atom dengan diteguhkan oleh rawasiya gaya kuat (strong interaction). Untuk menguraikan inti atom menjadi proton-proton dan netron-netron yang bebas, diperlukan energi satu juta eV, yang setara dengan suhu 10(10) K (sepuluh miliar derajat), yaitu suhu pada saat 180 detik atau tiga menit sesudah Waktu Nol. Dengan perkataan lain, inti atom baru tercipta ketika alam semesta berusia tiga menit. Sebelum itu, energi dan suhu masih sangat tinggi, sehingga proton-proton dan netron-netron belum mampu bergabung membentuk inti atom.

Sejak tahun 1963 (atas penemuan Murray Gell-Mann dari Institut Teknologi California yang meraih Nobel fisika tahun 1969), diketahui bahwa proton dan netron tersusun dari partikel-partikel yang dinamai quark. Untuk menguraikan proton dan netron menjadi quark-quark, diperlukan energi satu miliar eV, yang setara dengan suhu 10(13) K (sepuluh triliun derajat), yaitu suhu alam semesta ketika berusia 10(-6) detik (sepersejuta detik sesudah Waktu Nol). Jadi, proton dan netron baru tercipta ketika alam semesta berusia 10(-6) detik. Sebelum itu, alam semesta hanya berupa kumpulan quark-quark dan lepton-lepton. Yang dimaksudkan dengan “lepton” adalah partikel-partikel yang sangat ringan (massa sangat kecil), yaitu elektron beserta “saudara-saudaranya”. Perbedaan utama antara quark dan lepton adalah jenis interaksi yang bekerja pada mereka. Quark mengalami interaksi gaya kuat dan gaya lemah, lepton hanya mengalami interaksi gaya lemah saja.


Jenis Quark Massa (gram) Muatan

up (u) 5,57 x 10(-25) +2/3
down (d) 5,59 x 10(-25) -1/3
strange (s) 9,00 x 10(-25) -1/3
charm (c) 2,67 x 10(-24) +2/3
beauty (b) 9,00 x 10(-24) -1/3
truth (t) 3,20 x 10(-23) +2/3

Jenis Lepton Massa (gram) Muatan

elektron 9,11 x 10(-28) -1
muon
2,00 x 10(-25) -1
tauon
3,20 x 10(-24) -1
netrino tak bermassa 0

Catatan : 1 skala muatan = 1,6 x 10-19 coulomb




Teori Kemanunggalan

Pada tahun 1950, Albert Einstein mengemukakan konsep bahwa gravitasi dan elektromagnetik hanyalah dua manifestasi dari sebuah “gaya tunggal”. Tetapi sampai akhir hayatnya tahun 1955, konsep Einstein itu tetap sekedar hipotesis. Baru pada dasawarsa 1970-an, dengan adanya akselerator partikel yang mampu menghasilkan energi sangat tinggi, teori kemanunggalan gaya itu memperoleh titik terang.

Antara tahun 1967 dan 1974, tiga orang fisikawan secara terpisah, yaitu Steven Weinberg dari Institut Teknologi Massachusetts, Sheldon Glashow dari Universitas Harvard, dan Abdus Salam dari Imperial College, London, menemukan bahwa gaya elektromagnetik dan gaya lemah ternyata merupakan gaya yang identik pada energi 10(11) eV atau suhu 10(15) K (seribu triliun derajat). Energi sebesar itu hanya mampu dihasilkan oleh akselerator mutakhir. Menurut perhitungan, alam semesta memiliki suhu 10(15) K ketika berusia 10(-10) detik (sepersepuluh miliar detik sesudah Waktu Nol). Atas penemuan ini ketiga-tiganya meraih Nobel bidang fisika tahun 1979.

Teori Weinberg-Glashow-Salam meramalkan adanya partikel yang dinamai boson madya (intermediate bosons), yaitu partikel-partikel W dan Z yang merupakan pembawa gaya lemah. Kedua partikel ini ditemukan tahun 1983 oleh Carlo Rubbia dari Pusat Riset Nuklir Eropa (CERN), Jenewa. Rubbia meraih Nobel fisika tahun 1984, sebab telah membuktikan kebenaran teori Weinberg-Glashow-Salam.

Kini para ilmuwan dalam fisika berambisi untuk menyatukan gaya elektromagnetik-lemah dengan gaya kuat. Inilah yang disebut Teori Kemanunggalan Agung (Grand Unification Theory). Gabungan ketiga gaya ini akan terwujud jika tersedia energi 10(24) eV atau suhu 10(28) K (sepuluh ribu triliun triliun derajat). Sampai kini belum ada akselerator yang mampu menghasilkan energi seakbar itu. Suhu 10(28) K dimiliki alam semesta ketika berusia 10(-35) detik (seperseratus miliar triliun triliun detik sesudah Waktu Nol). Akhirnya, gaya gravitasi pun dapat dipersatukan dengan ketiga gaya lainnya (Super Unification Theory) pada suhu 10(32) K (seratus juta triliun triliun derajat), yaitu suhu alam semesta ketika berusia 10(-43) detik (sepersepuluh juta triliun triliun triliun detik sesudah Waktu Nol).

Jika perjalanan dahsyat ini kita teruskan sampai saat Waktu Nol, kita mendapati keadaan yang disebut singularitas, yaitu keadaan “tiada ruang dan waktu”. Pertanyaan di mana dan bilamana sama sekali tidak berarti, sebab ruang dan waktu belum ada, seperti tidak berartinya pertanyaan "apakah dan di manakah utara" ketika kita berada di Kutub Utara. Yang Ada dan Yang Eksis hanyalah Sang Pencipta Ruang dan Waktu, Allah SWT. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir (tidak terikat pada waktu), serta Yang Lahir dan Yang Batin (tidak terikat pada ruang). Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (Al-Hadid(57):3).



Tahap-Tahap Penciptaan

Perioda Pertama

Tepat pada Waktu Nol, dengan perintah Allah “Kun” (Jadilah), maka terciptalah ruang dan waktu pun bermula melalui proses Big Bang. Dalam Al-Qur’an, Allah selalu memakai kalimat kun fa yakun (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk present tense atau fi`il mudhari`, dan tidak pernah kita jumpai kalimat kun fa kana (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk past tense atau fi`il madhi. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan alam ini melalui suatu proses evolusi atau tahap yang berkesinambungan, bahkan sampai sekarang “Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki” (Fathir(35):1).

Pada Perioda Pertama, alam semesta masih berwujud energi dengan sebuah gaya tunggal. Berekspansinya “sang bayi” alam semesta menyebabkan suhu menjadi turun. Perioda Pertama berakhir pada saat 10(-43) detik sesudah Waktu Nol (alam semesta berdiameter 10(-30) meter dengan kerapatan 10(96) kg/liter dan suhu 10(32) K), yaitu ketika rawasiya gravitasi muncul sebagai gaya tersendiri.

Perioda Kedua

Perioda Kedua dimulai pada saat 10(-43) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(32) K), tatkala mulai terdapat dua gaya: gravitasi dan gabungan elektromagnetik-lemah-kuat. Oleh karena gravitasi bekerja terhadap sesuatu yang bermassa, maka pada Perioda Kedua sebagian energi mengalami transformasi menjadi partikel-partikel mikro (dukhan), sesuai dengan Hukum Einstein: E = m c(2). Quark dan lepton masih belum dapat dibedakan, sebab gaya kuat dan gaya lemah masih identik.

Perioda Ketiga

Perioda Ketiga dimulai pada saat 10(-35) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(28) K), tatkala rawasiya gaya kuat merupakan gaya tersendiri. Kini ada tiga gaya di alam semesta: gravitasi, gaya kuat, dan gabungan elektromagnetik-lemah. Pada Perioda Ketiga, alam semesta mengalami inflasi (volume mendadak berekspansi) dan mulailah dikenal partikel-partikel quark yang mengalami interaksi gaya kuat.

Perioda Keempat

Perioda Keempat dimulai pada saat 10(-10) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(15) K), tatkala rawasiya gaya lemah memisah dari rawasiya gaya elektromagnetik. Dan mulailah dikenal partikel-partikel lepton yang mengalami interaksi gaya lemah. Pada Perioda Keempat, lengkaplah sudah empat macam gaya yang berfungsi sebagai rawasiya (peneguh) bagi semua proses di alam semesta.

Alam semesta terus berekspansi sampai suhu “mendingin” hingga 10(13) K. Empat perioda penciptaan rawasiya segera disusul oleh dua perioda penciptaan atom, yang merupakan partikel dasar dari seluruh materi di langit dan di bumi.

Perioda Kelima

Perioda Kelima dimulai pada saat 10(-6) detik sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(13) K), tatkala quark-quark mampu bergabung untuk membentuk hadron-hadron. Yang disebut “hadron” adalah partikel yang tersusun dari quark-quark. Ada dua jenis hadron, yaitu baryon (tersusun dari tiga butir quark) dan meson (tersusun dari dua butir quark). Kemudian baryon ada dua macam: nukleon (baryon penyusun inti atom) dan hiperon (baryon bukan penyusun inti atom). Lalu nukleon pun ada dua spesies, yaitu proton (tersusun dari dua quark u dan satu quark d) serta netron (tersusun dari satu quark u dan dua quark d).

Hiperon-hiperon dan meson-meson merupakan partikel yang tidak stabil dan berumur sangat singkat (berubah menjadi partikel lain dalam waktu kurang dari 10(-7) detik), sehingga hanya ditemukan pada sinar kosmik atau dihasilkan oleh akselerator berenergi tinggi. Itulah sebabnya hadron yang berperan dalam pembentukan inti atom hanyalah nukleon-nukleon (proton dan netron). Dari enam jenis quark (u, d, s, c, b, t), quark u dan quark d merupakan penyusun proton dan netron.

Nukleon Quark Massa (gram) Muatan

proton u u d 1,673 x 10(-24) +1
netron u d d 1,675 x 10(-24) 0

Perioda Keenam

Perioda Keenam dimulai pada saat tiga menit sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(10) K), tatkala proton dan netron mampu bergabung untuk membentuk inti atom. Inti-inti atom yang terbentuk pertama kali adalah hidrogen-1 (satu proton), hidrogen-2 (satu proton dan satu netron), hidrogen-3 (satu proton dan dua netron), helium-3 (dua proton dan satu netron), serta helium-4 (dua proton dan dua netron).

Inti-inti atom tersebut bermuatan positif sebab mengandung proton. Mereka siap untuk “menangkap” lepton yang bermuatan negatif dan yang stabil, yaitu elektron-elektron. Lepton-lepton yang lain “tidak memenuhi syarat”: muon dan tauon berumur pendek (paling lama 10(-5) detik), sedangkan netrino tidak bermuatan.

Perioda Keenam berakhir pada saat 380.000 tahun sesudah Waktu Nol (suhu alam semesta 10(4) K), tatkala inti atom mampu bergabung dengan elektron-elektron untuk membentuk atom hidrogen dan atom helium. Dengan demikian selesailah sudah tahap-tahap penciptaan alam semesta.




Pertumbuhan Alam Semesta

Setelah selesai tahap penciptaan atom hidrogen dan helium, maka Allah dengan segala kemahakuasaan-Nya (istawa `ala l-`arsy, “berkuasa di atas `Arasy” sebagaimana tercantum dalam Surat Yunus(10):3) mengatur pertumbuhan alam semesta (yudabbiru l-amr) melalui empat macam rawasiya. Gaya kuat meneguhkan inti atom. Gaya elektromagnetik meneguhkan atom dan mengatur ikatan antar-atom melalui reaksi-reaksi kimia. Gaya lemah menyebabkan terbentuknya atom-atom selain hidrogen dan helium. Atom-atom yang beraneka ragam jenisnya itu berikatan satu sama lain, membentuk seluruh zat di alam semesta ini: superkluster (adigugus), kluster (gugus), galaksi (kumpulan bintang), bintang (matahari), planet beserta seluruh isinya, yang diteguhkan dalam kelompok-kelompok oleh gaya gravitasi.

Sampai tahun 2009 dikenal 116 jenis atom, yang semuanya merupakan turunan dari hidrogen dan helium. Sekarang, kira-kira 14 miliar tahun sesudah alam semesta mulai tercipta (suhu rata-rata alam semesta tiga K atau -270 C), komposisi alam semesta relatif tetap tidak berubah: 92% dari seluruh atom di alam semesta adalah atom-atom hidrogen, dan hampir 8% adalah atom-atom helium. Atom-atom lain (karbon, nitrogen, oksigen, logam-logam, dan sebagainya) hanya meliputi sekitar 0,1% dari seluruh atom di alam semesta.

Prof. Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, dalam bukunya The Dragons of Eden (Random House, New York, 1988), mengemukakan bahwa jika usia alam semesta kita kompres menjadi satu tahun cosmic year, maka penciptaan alam semesta berlangsung tanggal 1 Januari, galaksi Bimasakti baru terbentuk tanggal 1 Mei, tatasurya kita muncul tanggal 9 September, bumi kita yang kecil ini baru ada tanggal 14 September, makhluk hidup pertama di bumi berupa mikroorganisme bersel tunggal eksis tanggal 9 Oktober, zaman dinosaurus berlangsung dari 24 sampai 28 Desember, manusia baru tampil ke pentas sejarah pada tanggal 31 Desember pukul 23.00 tengah malam menjelang tahun baru, dan Nabi Isa Al-Masih a.s. lahir empat detik yang lalu.


Komposisi Alam Semesta

Alam Semesta tersusun dari puluhan superkluster (adigugus), antara lain (sekedar menyebut beberapa nama) Virgo, Hydra, Perseus, Opiuchus, Hercules. Kita berada dalam Superkluster Virgo, yang berdiameter 100 juta tahun-cahaya (satu tahun-cahaya adalah sekitar 10 triliun kilometer!) dan meliputi ratusan kluster (gugus), antara lain Kluster Lokal, Centaurus, Fornax, Puppis, Coma. Kita berada dalam Kluster Lokal, yang berdiameter tiga juta tahun-cahaya dan meliputi sekitar 30-an galaksi, antara lain Bimasakti (Milky Way), Andromeda, Awan Magellan, Sagittarius Cebol, Triangulum.

Kita berada dalam Galaksi Bimasakti, galaksi berbentuk spiral yang berdiameter 120 ribu tahun-cahaya dan terdiri atas 100 miliar bintang-bintang. Satu butir dari 100 miliar butir bintang itu bernama Matahari, menempati lengan Orion dengan jarak 28 ribu tahun-cahaya dari pusat galaksi. Matahari bertawaf mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan 225 km/detik, sekali keliling lamanya 250 juta tahun.

Bintang-bintang tetangga Matahari di lengan Orion antara lain Alpha Centauri (tetangga terdekat yang berjarak 4,3 tahun-cahaya), Barnard (6 tahun-cahaya), Sirius (8,7 tahun-cahaya), Altair (16 tahun-cahaya), Vega (25 tahun-cahaya), Capella (41 tahun-cahaya), Aldebaran (60 tahun-cahaya), Betelguese (500 tahun-cahaya), Rigel (815 tahun-cahaya).

Matahari berdiameter 1.393.200 km dengan massa 2 x 10(30) kg dan memiliki pengikut 8 planet, 3 planet kerdil, 166 bulan (data sementara awal 2009), serta ribuan asteroid, meteorid dan komet. Planet-planet itu adalah Merkurius, Venus, Bumi (dengan 1 bulan), Mars (2 bulan), Yupiter (63 bulan), Saturnus (56 bulan), Uranus (27 bulan), dan Neptunus (13 bulan). Ada juga tiga “planet kerdil”, yaitu Ceres, Pluto (3 bulan), dan Eris (1 bulan). Bumi kita berdiameter khatulistiwa 12.756 km dengan massa 6 x 10(24) kg, terletak 150 juta km (8 menit-cahaya) dari matahari, beredar mengelilingi matahari dengan kecepatan 30 km per detik, sehingga sekali keliling perlu waktu 365,25 hari (satu tahun).

Matahari kita merupakan “gas raksasa” yang tersusun dari 90% hidrogen dan 10% helium. Setiap detik, 657 juta ton hidrogen diubah menjadi 653 juta ton helium. Empat juta ton massa yang hilang berubah menjadi energi (dapat dihitung dengan rumus E = mc(2)) sebesar 3,6 x 10(26) joule berupa sinar yang terpancar ke segenap tatasurya. Bumi kita setiap detik hanya menerima 1,6 x 10(17) joule (kurang dari seperdua miliar dari total cahaya matahari), dan sebagian besar energi matahari yang sampai ke bumi itu belum dimanfaatkan oleh manusia.



Ayat-Ayat Kauni

Di samping ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an (ayat-ayat Qur’ani), terdapat lebih banyak lagi ayat-ayat Kauni, yaitu hukum-hukum Ilahi yang mengatur seluruh isi alam semesta, yang kita kenal dengan “hukum-hukum alam” (the laws of nature), sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surat Fusshilat(41):53 yang berbunyi: “Akan Kami perlihatkan kepada manusia ayat-ayat Kami di seluruh ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar (haqq)”.

Seluruh isi jagad raya, tanpa kecuali, tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah. Dan Allah memerintahkan manusia agar menggunakan daya nazhar (diindonesiakan menjadi nalar) dalam mengamati fenomena alam semesta, dengan tujuan-tujuan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi.

Pertama, agar manusia menyadari status mereka sebagai hamba Allah, yang berkewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya, dengan tunduk-patuh kepada Ilahi, sebagaimana tunduk-patuhnya alam semesta ini. “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam perioda, kemudian Dia berkuasa di atas `Arasy mengatur urusan alam semesta. Tiada yang lestari kecuali sesudah izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka mengabdilah kamu kepada-Nya. Tidakkah kamu ingat ?” (Yunus(10):3).


Kedua, agar manusia menyadari tugas mereka sebagai khalifah Allah, yang berkewajiban memakmurkan bumi serta menjadi rahmat bagi alam sekelilingnya, dengan menggali, meneliti dan memanfaatkan hukum-hukum Allah bagi alam ciptaan-Nya ini. “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menyediakan bagimu segala yang di langit dan di bumi, serta menyempurnakan untukmu nikmat-Nya baik yang terlihat (materi) maupun yang tidak terlihat (energi) ? Di antara manusia masih ada yang membantah tentang Allah dengan tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa Kitab yang memberikan penerangan” (Luqman(31):20).

Ketiga, agar manusia menyadari bahwa alam semesta ini mempunyai awal dan akhir, serta sesudah kehidupan dunia ini akan datang kehidupan akhirat yang abadi. “Allah telah meninggikan langit dengan tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia berkuasa di atas `Arasy. Dia menyediakan matahari dan bulan. Setiap benda langit beredar sampai waktu yang ditentukan. Dia mengatur urusan alam semesta. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu” (Ar-Ra`d(13):2).


Dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah dengan berbagai fenomena alam, sekaligus memerintahkan manusia untuk memperhatikan dan menalari hal-hal yang dikemukakan dalam sumpah Allah tersebut. Ada beberapa fenomena alam yang menarik untuk dikaji, sebab sampai kini belum jelas tafsiran dan pemahamannya, yaitu Surat An-Nazi`at(79):1–8; Al-`Adiyat(100):1–5; Adz-Dzariyat(51):1–6; serta Al-Mursalat(77):1–15. Kita menyadari bahwa ilmu yang diberikan Allah kepada manusia sangat sedikit (Al-Isra’(17):85). Tetapi ilmu pemberian Allah itu harus kita gunakan semaksimal mungkin untuk menafakkuri alam semesta ciptaan-Nya ini.



Tafsir An-Nazi`at(79) : 1 – 8

(1) Demi yang tercabut dahsyat!
(2) Demi energi yang energetik!
(3) Demi yang beredar di garis edar,
(4) lalu berlomba saling menjauhi!
(5) Demi yang mengatur Urusan!
(6) Masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar,
(7) lalu diikuti oleh masa pengganti,
(8) yaitu masa di saat hati berdebar-debar.

Pada awal Surat, Allah bersumpah dengan penciptaan alam semesta yang dilukiskan sebagai sesuatu yang tercabut (nazi`at) dengan dahsyat (gharqan), melalui proses Big Bang yang melibatkan energi (nasyithat) yang luar biasa hebatnya. Kemudian Allah memerintahkan kita untuk merenungi komponen alam semesta, yaitu galaksi-galaksi yang beredar (sabihat) pada orbit masing-masing serta saling menjauhi (sabiqat) satu sama lain, dan seluruh urusan (amran) alam semesta ini diatur oleh Allah melalui empat macam interaksi yang telah kita bahas di muka.

Diawali oleh pemikiran Max Planck (1900) dan Albert Einstein (1905), serta melalui penalaran Louis de Broglie (1924), Werner Heisenberg (1926) dan Erwin Schrodinger (1927), kini para ilmuwan mengetahui bahwa seluruh partikel di alam semesta ternyata merupakan ar-rajifah (sesuatu yang memiliki sifat gelombang atau getaran, dari kata kerja rajafa = “bergetar”). Inilah tafsir dari pernyataan Allah bahwa masa dunia fana ini merupakan “masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar” (yauma tarjufur-rajifah). Lalu Allah menegaskan bahwa masa dunia fana ini akan diikuti oleh masa pengganti (radifah), yaitu masa kehidupan akhirat, pada saat hati berdebar-debar menantikan keputusan Pengadilan Ilahi atas kondite selama berada di dunia fana.


Tafsir Al-`Adiyat(100) : 1 – 5

(1) Demi yang berlawanan melesat cepat,
(2) lalu bunga-bunga api terpancar,
(3) lalu sesuatu yang lain (materi baru) terjadi,
(4) lalu berhamburan dengannya bagian yang kecil,
(5) lalu ke tengah dengannya massa yang besar.

Ketika ilmu pengetahuan modern belum berkembang, benda yang paling mudah dikenali sebagai sesuatu yang melesat cepat (dhabhan) adalah kuda, sehingga kebanyakan penafsir Al-Qur’an mengartikan `adiyat dengan kuda, meskipun orang Arab dari dahulu sampai sekarang tidak pernah menyebutkan hewan itu dengan istilah `adiyat dalam bahasa sehari-hari.

Kata `adiyat secara harfiah berarti “yang berlawanan”, berasal dari tiga huruf dasar `ain-dal-alif, dan satu akar dengan kata `aduw (lawan, musuh), a`da’an (bersengketa), dan `udwan (perseteruan), yang juga dipakai dalam Al-Qur’an. Pada Surat Al-`Adiyat, Allah mewacanakan penciptaan alam semesta, agar manusia yang “tidak tahu diri” (kanud) segera menyadari bahwa kecintaan (hubb) mereka kepada dunia fana secara berlebihan (syadid) tidaklah berarti apa-apa tatkala mereka dibangkitkan kembali di hari akhirat nanti.

Telah kita bahas bahwa pada Perioda Pertama tahap penciptaan (dalam fisika disebut Planck Time, selama 10(-43) detik) partikel materi belum tercipta. Alam semesta masih berwujud energi murni. Baru pada Perioda Kedua sebagian energi bertransformasi menjadi partikel dan antipartikel (berlawanan muatan dengan partikel). Pada Perioda Ketiga mulai dikenal quark dan antiquark, sedangkan lepton dan antilepton, terutama elektron dan positron (positive electron), muncul pada Perioda Keempat. Setiap proses menghasilkan pasangan partikel dengan muatan yang berlawanan. Inilah partikel-partikel al-`adiyat yang kemudian saling berbenturan dengan kecepatan melesat (dhab-han), sehingga bunga-bunga api (al-muriyat), yaitu panas dan cahaya, terpancar (qad-han).

Kemudian pada Perioda Kelima terjadilah (shub-han, dari kata shabaha, “menjadi”) partikel-partikel baru (al-mughirat, dari kata ghayara, “berubah”, atau ghayr, “lain”), yaitu hadron-hadron, terutama proton dan netron, yang terbentuk dari quark-quark. Lalu pada awal Perioda Keenam proton dan netron membentuk al-mughirat berupa inti atom, dan pada akhir Perioda Keenam inti atom dan elektron membentuk al-mughirat berupa atom (partikel dasar seluruh materi).

Pada pembentukan atom, elektron-elektron yang bermassa ringan (naq`an) berhamburan (atsar) menempati lintasan-lintasan tertentu (tingkat-tingkat energi atau “kulit-kulit”), sedangkan inti atom (tersusun dari proton dan netron) sebagai kumpulan massa terbesar (jam`an) menempati posisi di tengah-tengah (wasath). Dengan diatur oleh rawasiya elektromagnetik, elektron-elektron yang bermuatan negatif senantiasa melakukan thawaf, terus-menerus beredar mengelilingi inti atom yang bermuatan positif.

Formulasi “fa atsarna bihi naq`an, fa wasathna bihi jam`an” ini ternyata merupakan pola grand design Allah dalam pembentukan struktur seluruh isi jagad raya. Sebagai contoh, pada pembentukan tatasurya (solar system), planet-planet sebagai naq`an (komponen-komponen yang kecil) berhamburan menempati orbit-orbit tertentu dan harus melakukan thawaf mengelilingi matahari sebagai jam`an (kumpulan massa terbesar) yang menempati posisi di tengah-tengah tatasurya.

Jadi, alam semesta ini hanya eksis dan stabil lantaran gerakan thawaf! Itulah sebabnya manusia yang mengunjungi Baitullah (Rumah Allah) di Makkah, baik yang berhaji maupun yang berumrah, diperintahkan untuk melakukan thawaf, meniru tingkah laku elektron-elektron dan planet-planet, sebagai perlambang ketunduk-patuhan makhluk terhadap aturan-aturan Ilahi.



Tafsir Adz-Dzariyat(51) : 1 – 6

(1) Demi yang halus teramat halus,
(2) yang membawa beban,
(3) yang mengalir (bertransmisi) mudah,
(4) yang membagi-bagi Urusan!
(5) Sungguh, yang dijanjikan kepadamu pasti benar,
(6) dan sungguh Keputusan itu pasti berlangsung!


Jika ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab-kitab suci diwahyukan melalui para Rasul yang berupa manusia, maka ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (ayat-ayat Kauni) diwahyukan melalui para rasul yang berwujud partikel. Dalam Al-Qur’an, para Rasul dari kalangan manusia disebut al-mursalin (plural dalam bentuk maskulin atau mudzakkar), sedangkan para rasul dari kalangan partikel disebut al-mursalat (plural dalam bentuk feminin atau mu’annats).

Keempat macam interaksi yang mengatur alam semesta ditransmisikan oleh partikel-partikel khusus yang disebut partikel kuantum. Interaksi elektromagnetik ditransmisikan oleh partikel foton yang ditemukan Albert Einstein tahun 1905. Interaksi kuat ditransmisikan oleh partikel gluon yang ditemukan tahun 1979. Interaksi lemah ditransmisikan oleh partikel-partikel W dan Z, secara umum disebut boson madya, yang ditemukan tahun 1983. Akhirnya, interaksi gravitasi ditransmisikan oleh partikel graviton yang baru dibuktikan adanya tahun 1995.

Partikel-partikel kuantum pembawa gaya (foton, gluon, boson madya, graviton) merupakan rasul-rasul (dalam fisika memang disebut messenger particles) yang mengemban ayat-ayat Kauni, dan dalam Al-Qur’an mereka disebut adz-dzariyat (“yang halus”, satu akar kata dengan dzarrah, “partikel”). Partikel-partikel kuantum itu memang sangat halus, berukuran 10(-25) cm, jauh lebih halus dari quark dan lepton yang berukuran 10(-16) cm. Namun partikel-partikel kuantum itu membawa beban yang berat berupa interaksi atau gaya yang mengatur alam semesta sampai tingkatan superkluster yang berukuran 10(25) cm.


Tingkatan isi alam semesta Ukuran dalam cm

Partikel kuantum 10(-25)
Quark dan lepton 10(-16)
A t o m 10(-8)
Sel makhluk hidup 10(-3)
Tubuh manusia 10(2)
Planet 10(9)
Bintang 10(12)
Galaksi 10(22)
Superkluster 10(25)

Partikel-partikel kuantum (adz-dzariyat) bertransmisi dengan mudah, serta membagi-bagi urusan dalam mengelola empat macam interaksi atau gaya, sesuai dengan kadar aqwat (daya penjaga) mereka masing-masing. Jika keempat partikel kuantum ini kelak “dipanggil pulang” oleh Allah, maka keempat macam interaksi itu hilang pula kadar aqwatnya, dan terjadilah Hari Yang Dijanjikan atau Hari Keputusan berupa kemusnahan alam semesta yang fana.


Partikel Rasul Jenis Interaksi Kadar Aqwat Obyek Penjagaan

Gluon Gaya Kuat 1 quark
Foton Elektromagnetik 10(-2) partikel bermuatan
Boson madya Gaya Lemah 10(-5) lepton
Graviton
Gravitasi 10(-39) partikel bermassa



Tafsir Al-Mursalat(77) : 1 – 15

(1) Demi para rasul pembawa keteraturan,
(2) lalu melaju dengan sangat laju!
(3) Demi yang meluas seluas-luasnya,
(4) lalu berkelompok-kelompok!
(5) Demi yang menyampaikan peringatan,
(6) memberikan alasan atau ancaman!
(7) Sungguh, yang dijanjikan bagimu pasti berlangsung!
(8) Ketika bintang dipadamkan,
(9) ketika langit dikacaukan,
(10) ketika gunung dilumatkan!
(11) Ketika para rasul sampai waktunya!
(12) Sampai hari manakah mereka ditangguhkan?
(13) Sampai Hari Kepastian!
(14) Dan tahukah engkau tentang Hari Kepastian?
(15) Celaka pada Hari itu mereka yang mendustakan!


Demi para rasul pembawa keteraturan, lalu melaju dengan sangat laju”. Para rasul (al-mursalat) itu adalah partikel-partikel kuantum yang mengatur interaksi di alam semesta. Mereka melaju dengan sangat laju, mengemban tugas Ilahi di jagad raya yang luas ini. Gluon membawa gaya kuat, foton membawa gaya elektromagnetik, boson madya membawa gaya lemah, dan graviton membawa gaya gravitasi.

Demi yang meluas seluas-luasnya, lalu berkelompok-kelompok”. Akibat dari penciptaan alam semesta melalui proses Big Bang, alam semesta sekarang ini terus meluas atau berekspansi. Komponen-komponen alam semesta terbagi atas kelompok-kelompok, mulai dari planet-planet, bintang-bintang, galaksi-galaksi, kluster-kluster, superkluster-superkluster, dan mungkin masih ada satuan kelompok lebih besar yang belum diketahui manusia.

Demi yang menyampaikan peringatan, memberikan alasan atau ancaman”. Sebagaimana alam semesta yang selalu tunduk-patuh kepada aturan Allah, manusia pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan Allah. Maka Allah mengutus Rasul-Rasul dari Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad s.a.w. untuk menyampaikan peringatan berupa alasan atau ancaman kepada umat manusia.

Sungguh, yang dijanjikan bagimu pasti berlangsung”. Para rasul yang berwujud partikel kuantum (al-mursalat) serta para Rasul dari kalangan manusia (al-mursalin) menyebarkan janji yang sama, yaitu Hari Kiamat (kemusnahan dunia fana) pasti akan berlangsung, yaitu ketika keempat macam rawasiya yang mengatur alam semesta sudah “habis” kadar aqwatnya.

Ketika bintang dipadamkan”. Pada bintang-bintang (termasuk matahari) berlangsung reaksi termonuklir, yaitu pengubahan hidrogen menjadi helium, yang diatur oleh gaya lemah. Jika gaya lemah berhenti berfungsi, maka reaksi termonuklir pun terhenti, dan bintang-bintang (termasuk matahari) akan padam.

Ketika langit dikacaukan”. Gaya yang meneguhkan benda-benda langit dalam orbit masing-masing (ghairi `amadin taraunaha, “tanpa tiang yang kamu lihat”, firman Allah dalam Surat Luqman(31):10) adalah gaya gravitasi. Jika gaya ini berhenti berfungsi, tentu langit menjadi kacau porak-poranda, sebab tidak ada lagi mekanisme tarik-menarik di antara benda-benda langit.

Ketika gunung dilumatkan”. Semua materi di jagad raya, tanpa kecuali, tersusun dari atom-atom. Inti atom dan elektron-elektron diteguhkan oleh gaya elektromagnetik, sedangkan gaya kuat meneguhkan proton dan netron dalam inti atom. Jika kedua gaya ini berhenti berfungsi, maka atom apa saja akan “bubar”, terurai menjadi quark-quark dan lepton-lepton yang bebas. Akibatnya, seluruh materi (termasuk gunung yang tinggi perkasa itu) akan menjadi lumat.

Ketika para rasul sampai waktunya”. Keempat rawasiya yang mengatur alam semesta itu akan berhenti berfungsi (habis kadar aqwatnya), pada saat para rasul berupa partikel-partikel kuantum, yaitu gluon, foton, boson madya, dan graviton, habis masa dinasnya dan “dipanggil pulang” oleh Allah Sang Pencipta.

Sampai hari manakah mereka ditangguhkan? Sampai Hari Kepastian. Dan tahukah engkau tentang Hari Kepastian? Celaka pada Hari itu mereka yang mendustakan”. Partikel-partikel kuantum (al-mursalat) masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengemban interaksi yang mengatur alam semesta sampai Hari Kepastian (yaum al-fashl), yaitu masa di mana para pendusta kebenaran Islam akan celaka!

Bilakah Hari Kepastian atau masa kehancuran alam semesta ini terjadi? Hal ini merupakan rahasia Allah semata-mata yang tidak dapat dinalari ilmu pengetahuan. “Mereka bertanya kepadamu tentang Saat Kiamat, bilakah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang itu hanya pada Tuhanku. Tiada yang dapat menjelaskan waktunya kecuali Dia. Kiamat itu berat akibatnya bagi langit dan bumi, dan hanya datang kepadamu secara tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahui hal itu. Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang itu hanya pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Al-A`raf(7):187).

Yang perlu kita pikirkan bukanlah “bila kiamat terjadi”, melainkan “bagaimana nasib kita di hari kiamat nanti”. Setelah kita menelusuri usia alam semesta, masihkah kita akan menunda-nunda untuk mengisi hidup yang sangat singkat ini dengan fastabiqu l-khairat, “berlomba-lomba berbuat kebajikan”? Setelah kita memahami bahwa bumi hanyalah sebutir pasir di jagad raya, akan sebesar debu apakah gerangan amal shaleh yang nanti kita banggakan di hadapan Allah lalu dengan tidak tahu malu menuntut surga-Nya sebagai ganti? Siapakah yang tidak akan tunduk bersujud di hadapan keagungan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sambil memohon ampun agar dibebaskan dari azab neraka-Nya?

“Maka apakah selain agama Allah yang mereka cari? Padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi, dengan sukarela dan terpaksa, dan kepada-Nya semua akan dikembalikan” (Ali Imran(3):83).


Wallahu a`lam bi sh-shawab, wa ilaihi l-marji`u wa l-ma`ab.




P u s t a k a


Al-Qur’an al-Karim.
Muhammad Fu’ad `Abdul-Baqi, Al-Mu`jam al-Mufahras li alfazh al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikri, Bayrut, 1400/1980.
Maurice Bucaille, The Bible, The Qur’an, and Science, American Trust Publications, Indianapolis, 1982.
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984.
Robert Jastrow, Red Giants and White Dwarfs, Warner, New York, 1986.
Carl Sagan, The Dragons of Eden, Random House, New York, 1988.
Stephen Hawking, A Brief History of Time, Bantam, New York, 1990.
Paul Davies, The Mind of God, Simon and Schuster, New York, 1992.
Steven Weinberg, Dreams of A Final Theory, Random House, New York,1994.
John Gribbin, Companion to the Cosmos, Little and Brown, Boston, 1996.
Felix Pirani and Christine Roche, The Universe For Beginners, Icon Books, Cambridge, 1996.
Timothy Ferris, The Whole Shebang: A State-of-the-Universe Report, Simon and Schuster, New York, 1997.
Marcus Chown, The Magic Furnace: The Search for the Origin of Atoms, Vintage, London, 1998.
Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory, W.W.Norton, Berkeley, California, 1999.
Edward Harrison, Cosmology: The Science of the Universe, Second Edition, Cambridge University Press, Cambridge, 2000.
Mario Livio and Allan Sandage, The Accelerating Universe: Infinite Expansion, the Cosmological Constant, and the Beauty of the Cosmos, John Wiley & Sons, New York, 2000.
Lawrence M. Krauss, Atom: An Odyssey from the Big Bang to Life on Earth and Beyond, Little and Brown, New York, 2001.
Mark A. Garlick, The Expanding Universe, Essential Science Series, Dorling Kindersley, London, 2002.
David A. Rothery, Planets, Hodder & Stoughton, London, 2003.
“A Field Guide to the New Solar System”, Discover Magazine, Vol.25 No.11, November 2004.
“A Field Guide to the Entire Universe”, Discover Magazine, Vol.26 No.12, December 2005.

4 Comments:

Blogger The Azs Family said...

Terima kasih, artikel nya sangat bagus

July 16, 2009 at 2:19 AM  
Blogger mang tahya said...

Subhanallah, sungguh luar biasa uraiannya. Saya kagum. Jazakumullah, barakallahu fiikum.

January 2, 2011 at 9:04 PM  
Blogger Suprawoto Mertowijoyo said...

Assalamu'alaikum.
Yang anda ceriterakan ini hanya sebatas alam dzulumah (alam yang gelap)yang diciptakan Allah dalam dua masa. Sedang alam semesta terdiri dari tujuh alam. Bila anda mengetahui hubungan "nur" dan Benda gelap, pasti anda tidak pakai teori big bang. Jangan merubah terjemahan Al Qur'an menurut akal anda, sangat berbahaya.
Saya undang anda bicara mengenai teori penciptaan alam semesta, yang semula satu (satu macam zat) menjadi sekarang. Ada teori yang bukan dari barat yang bermula dari perbedaan hukum lavoisier dan einstein. Mari kita bangun teori Islam walau berbeda dari teori barat. wassalam

April 12, 2013 at 9:30 PM  
Blogger KanzunQALAM said...

Tulisan yang inspiratif.

Buat tambahan bacaan berkenaan dengan Teori Penciptaan Alam Semesta, berdasarkan dalil-dalil Al Qur'an, silahkan kunjungi...

Teori Big Bang (Hubble Baiquni) versus Teori Partikel Berproses (Behram Nazwar Syamsu)

http://kanzunqalam.wordpress.com/2013/04/02/teori-big-bang-hubble-baiquni-versus-teori-partikel-berproses-behram-nazwar-syamsu/

Diskusi di Facebook...
http://www.facebook.com/kanzun.qalam/posts/128037850720415

April 14, 2013 at 8:56 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home